
Walaupun Frans sedikit menyebalkan, pada dasarnya ia adalah pribadi yang baik dan cukup menyenangkan. Banyak pelajaran bermula dari sebuah pengalaman, kita akan bisa belajar suatu hal, itu pasti. Sama seperti kisah yang telah kulalui sejauh ini bersama Frans. Singkat cerita, tiga bulan telah berlalu, Frans telah kembali pulih dari cideranya. Dia segera melanjutkan penyelidikan. Namun kabar buruk menimpa kami.
Kabar itu datang dari salah satu anggota polisi yang mengabari Jason. Segera Jason meneleponku dan memberitahukan kabar kematian Agung.
“Agung ditemukan tewas. Pejalan kaki di pinggiran sungai yang menemukan jasadnya.” Ucap Jason. “Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa Agung baru saja pulang dari gereja. Dia sepertinya dihadang oleh orang asing, mungkin suruhan Mr. B. Pada jasadnya ditemukan enam luka bekas tusukan pisau. Salah satu tusukan mengenai jantung. Dia tewas seketika dan mayatnya ditinggalkan begitu saja di tepi sungai. Setelah dari gereja, dia sering pulang melalui jalan itu. Tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut.”
“Aku sungguh tak menyangka, semua itu terjadi secara mendadak.” Terima kasih atas informasinya.”
Klien kami telah tewas satu orang. Kenapa Agung harus mati, aku merasa marah dengan ulah Mr. B. Seseorang pasti telah disuruh untuk membunuh Agung. Setelah kusampaikan pada Frans, ia cukup kaget—kemudian ia langsung bersiap untuk menemui Jason yang telah tiba di lokasi. Jasad Agung langsung dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Aku tahu, Frans sangat marah.
“Bagaimana bisa dia dibunuh? Sialan. Harusnya dia tidak boleh lepas dari pengawasanku,” gerutu Frans.
“Tenanglah. Kita akan mengungkap semuanya,” Jason menukas.
Frans berjalan menyusuri jalanan setapak di pinggiran sungai itu. Ia membungkuk lalu berdiri tegak kembali. Matanya mengawasi sekeliling, mencari-cari sesuatu. Ia maju beberapa langkah lagi, kemudian berjongkok.
“Bekas sepatu boot, rumput ini terinjak-injak. Kemudian jasad itu diletakkan di sini dengan sengaja.” Ucap Frans. Ia mendongak menatap Jason. “Bagaimana posisi jasadnya saat ditemukan?”
“Ia dalam posisi tengkurap.”
“Tewas seketika.”
“Ya. Serahkan olah tempat kejadian ini pada kepolisian. Sekarang ikutlah denganku ke rumah sakit,” sahut Jason.
Frans kembali ke rumah sakit, kali ini bukan untuk dirawat lagi, tapi untuk mengetahui hasil autopsi jasad Agung. Dari waktu kematiannya, dia sudah tewas sekitar lima jam yang lalu. Jason telah memeriksa seluruh tubuh Agung sebelum dibawa petugas. Tidak ada tanda-tanda perlawan dari Agung, dia diserang secara mendadak.
Kematian Agung menambah deret panjang daftar korban yang telah tewas. Bocah bernama Eno dan Hartanti saja belum berhasil diungkap keberadaannya. Ketika Jason sedang serius dengan Frans, Yulia datang bersama Irfan. Seketika itu juga aku menjadi kesal karena melihat wajah wanita ****** itu.
Ingin kutampar sekeras mungkin sampai pipinya muncul warna merah. Aku juga ingin menjambak rambutnya sampai copot biar botak sekalian. Tanganku sangat gatal, tapi aku berusaha untuk menahan diri. Sudah dua bulan berlalu, aku tidak menegur Yulia yang membawa kabur Frans. Aku sebenarnya tahu apa yang dia lakukan, wanita itu tetap menampakkan wajah biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Frans berjalan mondar-mandir sambil menyilangkan dua tangan di depan dada—sesekali mengelus dagu. Kakinya telah sembuh total, dia bisa berdiri dengan kokoh. Aku merasa sangat bersyukur dengan kondisinya yang telah pulih.
Selama dua bulan masa penyembuhan. Aku juga telah menyelidiki kasus yang rumit ini. Kulakukan semua ini sendiri, semenjak pertengkaranku dengan Frans—aku tidak ingin membuatnya kecewa lagi, aku harus membantu sebisa mungkin. Namun, rasanya kemampuanku tidak bisa berguna dengan maksimal, jadi mungkin akan lebih baik jika melibatkan orang lain untuk membantuku.
__ADS_1
“Wah. Frans. Kau masih saja pendek, apa kau tidak bisa tumbuh lagi?” celetuk seorang pria tua.
Frans membalikkan badan lantas menatap pria tua itu. Tampak sosok pria tua yang memakai jas hitam. Frans melangkah dan masih terus memandangi pria tua tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kau siapa? Dasar keriput,” ucap Frans tiba-tiba.
“Dasar kurang ajar. Akan kubunuh kau bocah ingusan. Kau tidak mengingatku, hah?” ia menarik kerah baju Frans.
Pria tua itu bejenggot putih dan berambut lurus, dengan tubuh yang terbilang masih cukup tegap dan penuh dengan semangat. Frans menatap mata pria tua itu, dia lalu tekejut ketika menyadari siapa yang berdiri di depannya. Dia menggaruk kepalanya lalu tersenyum kecut.
“Sebentar. Siapa, ya? Aku belum bisa mengingatnya,” ucap Frans.
“Dasar kelinci botak!” bentak pria tua itu.
“Hah? Kau tahu panggilanku? Jangan-jangan, kau ini...?”
“Mulai ingat, bukan?” pria tua tersebut tersenyum penuh harap.
Si pria tua langsung kembali lagi memasang wajah kesal. “Dasar udang rebon! Otakmu harus diganti!”
“Udang rebon? Kau tahu nama panggilan itu juga? Orang yang memanggilku seperti itu hanya...” Seketika itu senyum lebar muncul di wajah Frans. “Kau ... kau Si Mockingbird dari lubang tahi? Hoi...! Bagaimana kau bisa menemukanku? Lama tidak bertemu.” Frans melompat dan merangkul pria tua tersebut.
“Dasar bocah kurang ajar! Siapa yang kau sebut dari lubang tahi, otakmu itu yang penuh tahi. Berani sekali kau melupakanku.” Pria yang dipanggil dengan nama Mockingbird tersebut tampak kesusahan karena dipeluk Frans.
“Maaf, maaf. Habisnya kau brewokan seperti itu.”
Aku pertama juga tidak tahu siapa pria tua itu. Setelah Frans menyebut Mockingbird, aku langsung tercengang. Dia adalah detektif legendaris yang selalu mengusut kasus dengan cara aneh. Pria tua itu tiba-tiba muncul dan ngobrol ngalor-ngidul dengan Frans. Apakah dia saudaranya? Pamannya, atau adik dari kakeknya Frans? Entah, aku belum tahu asal-usul pria dengan julukan Mockingbird itu. Setahuku, dia begitu populer di kalangan polisi serta para penyelidik di era reformasi.
Frans dan pria tua itu melangkah ke kursi panjang. Para suster berlalu lalang sambil membawa buku catatan, ada juga yang mendorong pasien berkursi roda. Pria tua itu masih melemparkan senyum sambil berbicara dengan Frans, sesekali memukul bahu Frans.
“Lama sekali kita tidak bertemu, wajar kalau kau lupa padaku.”
“Aku tidak lupa, aku hanya pangling. Penampilanmu telah jauh berubah,” Frans terkekeh.
__ADS_1
“Jadi semakin tua? Ya. Tidak ada obat awet muda di dunia ini.”
“Ada satu cara, operasi plastiklah. Niscaya kau akan terlihat muda lagi.”
“Itu bukan solusi. Lagi pula yang kubicarakan obat awet muda, bukan cara agar tetap muda.”
“Ya, terserah kau. Berdebat denganmu tidak akan selesai dalam sehari,” Frans menggerutu.
“Haha, kau tetap tidak berubah. Sifatmu selalu seperti itu sejak dulu.”
“Perkenalkan. Dia Irfan. Salah satu klienku, sama seperti Agung, sayangnya Agung kini tewas. Lalu pria jelek di sana bernama Jason.”
“Ya. Siapa dua wanita cantik itu? Tubuhnya bahenol sekali, brewokku rasanya mengeluarkan magnet yang kuat dan ingin menuju ke arah mereka.”
Tiba-tiba tua bangka bau lumpur comberan berbisik seperti itu kepada Frans. Meski lirih, aku masih bisa mendengarnya. Pria tua itu melirik ke arah Yulia dan aku, ia memandangi tubuhku dengan tatapan mesum. Dasar kakek cabul, awas saja kalau macam-macam. Frans sepertinya menanggapi dengan santai, dia pasti sudah tahu betul sifat pria tua itu. Mereka pun saling tertawa untuk beberapa saat. Hingga Frans mengakhiri pembicaraan tatkala aku melangkahkan kakiku.
“Kau pasti mau buang air besar.” celetuk Frans tiba-tiba.
Wajahku langsung memerah, Irfan juga terlihat menahan tawa. Sialan kau Frans, beraninya menanyakan pertanyaan seperti itu kepada wanita di depan umum. Akan kuhajar kau nanti, lihat saja.
“Bukan urusanmu!” jawabku sambil mengepalkan tangan.
Aku masih kesal dengan Frans. Tingkahnya biasa saja, dia seolah tidak menganggap serius apa yang telah terjadi dua bulan lalu. Masalah dengan Yulia dan kejadian terakhir ketika aku men... ah aku tidak mau menyebutnya lagi, mungkin untuk saat ini.
“Kalau kau mau ke toilet, akan kutemani...” Kalimat Frans berhenti. Aku jadi bergetar ketika pertama mendengar Frans mau menemaniku ke toilet. Jantungku langsung berdegub kencang karena dia berhenti mengucapkan kalimatnya. “Kalau tidak kutemani, kakek tjaboel ini akan mengintip dirimoe,” lanjutnya sambil tersenyum mengejek. Ternyata justru dilanjutkan dengan kalimat tidak mengenakkan. Telingaku gatal mendengar kalimat Frans, dia menyelingi dengan kata-kata ejaan lama Van Ophuijsen, ejaan yang digunakan di zaman Mbah Soekarno.
“Tidak perlu!” sahutku ketus lalu melanjtukan langkahku. Kalau kakek cabul itu mengintip, akan kucongkel bola matanya.
Catatan: Tokoh Mockingbird tidak ada di zaman reformasi, sekedar mengingatkan bahwa ini hanya cerita fiksi.
__ADS_1