Dosen Everest, I Love You

Dosen Everest, I Love You
kafe


__ADS_3

setelah kepergian Padil, Ardian dan Salsa diliputi kesunyian, hingga Salsa bersuara


"maaf ya pak untuk kejadian hari ini, Salsa permisi pak" ucap Salsa sambil mutar badannya kearah pintu


"kamu ngak salah, tunggu" jawab Ardian


"ada apa pak" tanya Salsa, melihat Ardian


"kenapa kamu bisa kenal dengan pak Padil" tanya Ardian


"oh it, om Padil itu dulu menikah sama Tante Rina, dulu ibunya tante Rina kerja dirumah Oma saya pak, setelah Tante Rina sukses dan lulus kuliah Tante Rina menikah dengan om Padil, mereka yang sering ngajarin saya waktu itu pak, tapi waktu om Padil keterimah kerja di, ngak tau dimana, mereka pindah, dan saya ngak perna ketemu lagi sama mereka pak" jelas Salsa


"kenapa kamu ngak kenal sama anaknya" tanya Ardian


"ya, mana saya tau pak, mungkin dia anak sambungnya om Padil, kan Tante Rina sudah meninggal pak, bapak kah kepo" ucap Salsa


"saya hanya binggung, kenapa kamu dekat sekali sama bapaknya sedangkan anaknya kamu aja ribut, bukan kepo " elak Ardian


"saya ngak tau kalo dia anak om Padil, dan saya jg ngak tau kalo Padil punya anak kayak dia" ucap salsa


"sudahkan pak, kalo gitu saya permisi pak" sambung Salsa


"iya" jawab Ardian


Salsapun berjalan kearah pintu, belum keluar dari ruangan Ardian, Haura masuk


"assalamualaikum" teriak Haura


"wa'alaikum salam, ngak usah teriak-teriak" ucap Ardian


"ehh ada Salsa" ucap Haura, bukanya menanggapi Ardian Haura malah menyapa Salsa dengan tersenyum jahil


"ehh, iya kak" jawab Salsa binggung


"duduk dulu yuk sal" ajak Haura


"Salsa mau kekantin kak" jawab Salsa


"oh gitu. kamu ada mata kuliah sudah ini sal" tanya Haura


"enggak ada kak" jawab Salsa


"oke, bang ayok bang kita pergi" ucap Haura sambil berjalan dan mengandeng Salsa


"ehh, kak" ucap Salsa kaget, tiba-tiba tangannya digandeng


"ayok, kamu pasti laperkan" tanya Haura


"iya kak, tapi kemana kak" tanya salsa balik


"ya cari makan dong, kamu gimana sih" jawab Haura


"aku kekantin aja kak" ucap Salsa


"udah ayok. tidak terimah penolakan" ucap Haura


"cepat" ucap Ardian menegahi perdebatan antara Haura dan Salsa


"eh pak, tapi saya ngak ikut pak" ucap Salsa


"udah ayok sal, ngak usah protes. entar bapak mu itu marah" ucap Haura sambil menunjuk Ardian dan Salsa pasra saja


merekapun berjalan keparkiran khusus dosen, dan merekapun mendekat kearah mobil Ardian


"masuk sal" ucap Haura


"iya kak" ucap Salsa lalu menarik pintu mobil penumpang


"ehh, kok disini. duduk depan sal" ucap Haura


"lah kan kakak yang duduk didepan" jawab Salsa


"aku naik mobil sendiri" ucap Haura sambil menunjuk ke arah mobilnya

__ADS_1


"cepat masuk sal" sambung Haura


dengan berat hati Salsa masuk kemobil dan duduk disamping Ardian


Ardian menghidupkan mobilnya dengan kecepatan sedang menujuh kesuatu tempat, didalam mobil hanya ada kesunyian dan akhirnya Salsa bersuara


"pak kita mau kemana" tanya Salsa


Ardian tak menjawab dia tetap fokus melihat kerah jalan, melihat respon Ardian Salsa langsung diam tak berani bertanya lagi


mobil Ardian berhenti disebuah kafe setelah melalui jalanan yang cukup padat


Ardian menoleh kearah Salsa, salsa tidak ada tanda-tanda akan keluar apa lagi beranjak dari duduknya


"kenapa"tanya Ardian


"engak apa-apa pak" jawab Salsa


"lalu" tanya Ardian


"apa" tanya Salsa binggung


"turun" jawab Ardian


"oh" jawab Salsa


salsa dan Ardian turun dari mobil, dan memasuki kafe dan duduk disalah satu kursi disana


"heyy" ucap Haura


"kak" jawab Salsa


"kenapa lama" tanya Ardian


"selow broo, ngak ape tuakan nungguin gue" jawab Haura sinis


"udah pesan sal" tanya Haura


"udah tadi kak, tapi punya kakak belum" jawab Salsa


"sal, ngak usah formal sama gue, biasa aja" sambung Haura


"iya kak" jawab Salsa


"Abang ngak pergi" tanya Haura kepada Ardian


"hmm" jawab Ardian malas


"iihh, mami nungguin loh" ucap Haura


"terserah" jawab Ardian


"loh yahh, emng anak durhaka" ucap Haura


Ardian tak mempedulikannya malah di sibuk mengotak-atik handphonenya, lalu pergi ke toilet


"kak, kakak ngak apa-apa" tanya Salsa kepada Haura


"enggak sal" jawab Haura


"emang kenapa sama bapak kak" tanya Salsa


"dia itu sudah tau sal, disuruh nikah, mau di kenalin sama calonnya, ehh dia ngak mau" jelas Haura


"coba kakak ngomongnya baik-baik" jawab Salsa


"ngak akan didengerin sal" ucap Haura


"entar Salsa bantu bilang sama bapak kak" ucap Salsa


"yakin sal" tanya Haura


"ngak takut bapak loe itu marah, nilai loe auto E loh sal, ngak tanggung jawab gue" sambung Haura

__ADS_1


"ehh, iy juga ya kak, tapi bapak ngak sejahat itu juga kali kak" jawab Sals


"terserah loe Sal" balas Haura


" oke kak" jawab Salsa


Ardianpun kembali ke meja, dengan Semua makan sudah ada di meja, merekapun makan dalam diam, ketika sudah makan semuanya Salsa bersuara


"pak, saya pulang dulu pak" ucap Salsa


Ardian yang binggung dengan perkataan Salsa binggung lalu mengangkat satu alisnya keatas


"bapakkan mau ketemu calon istri, saya takut ganggu pak" ucap Salsa yang di sambut tawa oleh Haura tapi masih ia tahan


"kata siapa" tanya Ardian


"kata saya pak, bapakkan udah tua. jadi wajar dong kalo bapak mau menikah" ucap Salsa asal


"saya belum setua itu Salsa" ucap Ardian dengan penuh penekanan


" terserah bapak, saya mau pulang" ucap Salsa


"silahkan" jawab Ardian


Salsapun berjalan keluar kafe dan meninggalkan Haura dan Ardian


"ngomong apa sama salsa" tanya Ardian


"enggak ngomong apa-apa" jawab Haura


"aku mau nyelesain S3, ngak usah sibuk masalah jodoh" ucap Ardian


"bang loh kenapa sihh, kan cuma tinggal temuin aja" jawab Haura


"ngak penting" ucap Ardian


"bang loh kapan sih bosen hidup sendiri, ngak iri gitu sama teman-teman loe, udah pada punya istri" tanya Haura


"enggak" jawab Ardian


"bang loe ngak usah sampe gini juga, tu cewek ngak baik untuk loh, biarin aja di pergi, dunia loe ngak berhenti karena loe ngak sama dia lagi bang" nasehat Haura


"tau" jawab Ardian masih sibuk dengan handphonenya


" kalau tau kenapa masih gitu-gitu aja hidup loe bang" tanya Haura


"udahlah ngak penting bahas beginian" jawab Ardian


"bang loe ngak bisa ngegampanggin soal teman hidup bang" balas Haura


"lalu" tanya Ardian


" loe move on dong bang, cari kehidupan baru ngak usah kayak es batu gini" jawab Haura


" gue ngak abis pikir sama loe bang, Bella ngejar loe bang, dia cantik, anak orang kaya. apalagi coba kurangnya" tanya Haura


"banyak" jawab Ardian


"apa bang, apa" tanya Haura


"cantik iya, tinggi iya, putih iya, body bagus banget, kaya iya,apa yang kurangnya bang" sambung Haura


"kalo yang loe sebutin cukup untuk buat rumah tangga, sudah pasti gue nikahin itu Bella" jawab Ardian


"nikah ngak butuh itu" sambung Ardian


mendengar jawaban Ardian Haura diam.


"nikah bukan untuk sehari, seminggu atau sebulan, tapi seumur hidup. nikah juga ngak mudah, ngak ngambang, banyak hal-hal yang harus diselesaikan dengan dewasa" ucap Ardian


"dan satu lagi, semua yang loe lihat belum tentu itu yang selalu dia lakukan, adakalanya orang pura-pura baik didepan kita hanya untuk menarik simpati kita" sambung Ardian


"dan yaa. berhenti menggap orang hanya sebatas uang, kekayaan dan popularitas" lanjut Ardian sambil meninggalkan kafe

__ADS_1


Haura masih terdiam mencerna semua perkataan Ardian, dia selalu menuntut Ardian untuk menikah tanpa perna berpikir dari sudut pandang Ardian, apa lagi berpikir seperti yang Ardian pikirkan, seketika Haura teringat dengan rumah tanggaborang tuanya yang hancur


__ADS_2