Dosen Everest, I Love You

Dosen Everest, I Love You
rumah sakit


__ADS_3

"yakin mau pulang" tanya Ardian kepada Salsa, Ardian tidak yakin jika Salsa bisa pulang hari ini, karena kakinya terkilir


"iya pak, aku mau pulang" jawab Salsa dengan ekspresi yang memelas, Salsa enggan diam di rumah sakit, Salsa tidak suka dengan aroma obat-obatan rumah sakit


"tapi kamu masih sakit" ucap Ardian meyakinkan Salsa untuk tetap dirumah sakit paling tidak hari ini saja


"enggak kok pak, aku enggak sakit" Jawab Salsa masih kukuh dengan kemauannya untuk pulang, aroma obat-obatan yang sudah mulai menyerang aroma penciuman salsa membuat Salsa enggak berlama-lama disini


"sal, beneran mau pulang" tanya Haura sambil mengusap lengan kanan Salsa karena tidak yakin Salsa baik-baik saja


"iya kak, aku mau pulang. aku udah sembuh kok kak" jawab Salsa menyakinkan Haura dan Ardian sambil menunjuk senyum di wajahnya agar mereka menuruti kemauan Salsa


"ngak usah dipaksain sal, kalo emang masih sakit, disini aja dulu" saran Haura namun tak diindahkan oleh Salsa, Salsa langsung menggelengkan kepalanya setelah Haura berkata seperti itu


"ya sudah, ayo. saya antar kamu ke kos" ucap Ardian sambil berjalan kearah pintu karena enggan berdebat dengan Salsa yang masih kukuh untuk pulang


"bisa sal" tanya Haura ketika Salsa mencoba untuk bangun dari tempat tidur rumah sakit dengan menahan rasa sakit


"bisa kak" ucap Salsa, sambil mencoba menggerakan badannya yang terasa begitu sakit jika di gerakkan agar Ardian dan Haura mau mengantarnya pulang


"auuuhh" teriak Salsa, ketika dia menapakkan kakinya ke lantai rumah sakit, dan langsung kehilangan keseimbangan yang membuat Salsa hampir saja terjatuh kelantai


mendengar teriakan Salsa, Ardian langsung berbalik arah dan berlari kearah Salsa, sebelum Salsa jatuh ke lantai Ardian sudah menopang tubuh Salsa supaya tidak tidur dilantai yang membuat Salsa akan menangis lagi


"suka sekali tidur dilantai" ucap Ardian dengan nada yang marah, tapi bukan marah Ardian hanya khawatir tapi mengekspresikannya dengan nada seperti orang marah


"lebih empuk lantai dari pada kasur ya" sambung Ardian masih dengan nada yang sama, Ardian begitu takut jika Salsa lagi-lagi terjatuh yang akan membuat Salsa menanggung rasa sakit lagi


mendengar ucapan Ardian Salsa hanya menunduk, dia tak berani menatap Ardian maupun menjawab pertanyaan Ardian.


melihat tak ada jawaban dari Salsa, Ardian langsung menggangkat tubuh Salsa ke tempat tidur rumah sakit dengan begitu lembut tapi dengan ekspresi yang jika dilihat seperti orang marah


"maaf" ucap Salsa sambil menunduk ketika Ardian sudah meletakan tubuh Salsa ke atas tempat tidur rumah sakit

__ADS_1


"hmm, mau kemana tadi" tanya Ardian, setelah merasa Salsa mulai rileks, soalnya ketika Ardian menggangkat Salsa, tubuh Salsa kaki akibat kaget karena hampir terjatuh tadi


"mau pulang" jawab Salsa sambil menunduk, tak berani menatap Ardian, Salsa takut melihat wajah Ardian yang ketika dia lihat tadi terlihat begitu marah kepadanya


"Abang ninggalin Salsa, makanya Salsa berusaha jalan sendiri, padahal abangkan tau kaki Salsa masih sakit karena tergilir" protes Haura kepada Ardian yang terlihat marah kepada Salsa dengan pertanyaan yang tidak menyisipkan rasa peduli


"saya mau pinjam kursi roda dulu di depan, bukan mau ninggalin" jawab Ardian melihat kearah Salsa yang masih menunduk karena takut


"maaf pak, Salsa pikir bapak mau pergi langsung pulang" ucap Salsa sambil menunduk, merasa bersalah karena telah salah prasangka kepada Ardian


"sudah, ngak apa-apa. tunggu dulu sini" jawab Ardian sambil mengelus kepala Salsa, lalu Ardian berjalan keluar ruangan untuk mengambil kursi roda


"kak" panggil Salsa kepada Haura yang tidak jauh dari tempat tidur Salsa tapi Haura masih melihat kearah Ardian keluar


"iya sal" jawab Haura langsung menoleh kearah Salsa, lalu mendekat dan mengelus tangan Salsa


"maafin aku ya kak, aku ngerepotin kakak sams pak Ardian" ucap Salsa sambil memegang tangan Haura dan menatap Haura


"udah ngak apa-apa sal, ngak merasa terepotkan kok. tenang" jawab Haura untuk meyakinkan Salsa sambil memeluk Salsa yang matanya sudah berkaca-kaca


"kenapa marah" tanya Haura binggung dengan pertanyaan Salsa, yang menurut Haura sangat Tidka masuk akal


"karena Salsa ja-jadinya kakakkan ngak jadi berangkat ke ke-USA" ucap Salsa menangis karena sudah tidak bisa membendung air matanya lagi dan membuat baju Haura sedik lembab karena Salsa berada dalam dekapan Haura


"udah sal, jangan nangis lagi, kakak ngak merasa direpotkan, kalo soal keberangkatan kakak ngak apa-apa ngak berangkat, karena memang kakak ngak mau berangkat" Jawa. Haura sambil mengelus-elus punggung salsa yang berada dalam dekapannya


"entar pak Ardian marah kak, tadi aja bapak marah sama Salsa" ucap Salsa sambil mengurai pelukannya dan menatap Haura dengan air mata mengalir membasahi pipi Salsa yang putih


"hustt, udah. ngak akan dimarah" jawab Haura sambil menghapus air mata Salsa, yang sedari tadi tak ada berhentinya


drtt


drtt

__ADS_1


drtt


handphone Haura bergetar berkali-kali menandakan ada orang yang menelpon Haura


"kak, hp-nya bisa bunyi" ucap Salsa kepada Haura karena Haura tidak seolah-olah tidak mendengarnya


"kakak, angkat dulu ya sal" ucap Haura sambil melihat ke layar handphonenya dan langsung pergi keluar ruangan Salsa setelah diangguki oleh Salsa


tak lama kemudian pintu kamar Salsa terbuka dan menampilkan sosok Ardian yang sedang mendorong kursi roda.


"kamu kenapa sal?" tanya Ardian sambil berjalan maju dan mendorong kursi roda ke dekat tepat tidur Salsa


Salsa tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ardian


"kenapa menangis?" tanya Ardian ketika sudah berada disebelah tempat tidur Salsa dan menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipi putih Salsa


"ngak, apa-apa pak" jawab Salsa sambil melihat kearah Ardian dan mencoba menghapus sisa-sisa air matanya dengan kasar


"ngak usah bohong, kamu kenapa sal?, ada yang sakit?" tanya Ardian khawatir karena Salsa menangis, Ardian takut terjadi apa-apa kepada Salsa


"aku-aku-" jawab Salsa yang masih takut untuk memberi tahu Ardian dengan khas orang baru selesai menangis


"aku apa sal?, ngak usah takut?" ucap Ardian sambil mengelus kepala Salsa memberikan ketenangan


"aku takut bapak marah, karena tidak jadi berangkat" jawab Haura sambil bercucuran air mata karena tak tahan menahannya lagi


"saya tidak marah, kamu tidak perlu khawatir Salsa" ucap Ardian sambil menarik Salsa kedalam pelukannya


"jadi berhentilah menangis Salsa, saya tidak marah kepada mu" ucap Ardian karena sudah beberapa menit Salsa menangis didalam dekapannya


"bapak beneran enggak marah" tanya Salsa tidak yakin, karena tadi dia melihat Ardian begitu mata kepada-nya


"iya, saya tidak marah kepada mu, sudah tidak usah menangis lagi" ucap Ardian sambil mengurai pelukannya dan mencium kening Salsa

__ADS_1


"sudah ya, jangan menangis lagi" ucap Ardian sambil menghapus air mata yang ada di pipi Ardian


Salsa mengangguk dan berusah menghentikan tangisnya yang sudah dari tadi dia keluarkan


__ADS_2