
cklek...
pintu kamar Ardian dibuka oleh haura
"bang" panggil Haura membuka pintu kamar Ardian dan langsung masuk lalu duduk di tempat tidur Ardian
"kenapa" tanya Ardian sambil mengeringkan rambutnya
"emang ngak bisa apa, Abang ngak usah lanjutin S3-nya di luar, diindokan bisa bang" tanya Haura sedikit manja
"kenapa" tanya Ardian
"ura ngak mau jadi dosen bang, ura ngak mau" jawab Haura
"yang nyuruh kamu jadi dosen siapa" tanya Ardian
"papi" jawab Haura
"kok bisa" tanya Ardian
"ada pengalihan dana kampus yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab bang, jadi kalau Abang pergi lanjutin S3 mau ngak mau ura harus jadi dosen untuk memantau langsung kinerja dosen dan menyelidiki oknum yang tidak bertanggung jawab itu bang" jelas Haura
"kenapa ngak suruh orang lain aja" tanya Ardian
"ngak tau papi bang" jawab Haura manja dan bersedih
"yakin kamu mau jadi dosen, berapa generasi yang akan kamu sesatkan" tanya Ardian
"maka dari itu bang, biar ngak ada generasi yang ura sesatkan Abang ngak usah pergi atau ngak Abang bantu ura ngomong sama papi" jawab Haura bersemangat
"makanya waktu kuliah itu belajar yang benar, jangan main-main Mulu kerjaannya" ucap Ardian sambil mengetuk kepala Haura seperti pintu
"ihhh Abang mahh" jawab Haura kesal
"ngak cemberut aja jelek jangan ditambah cemberut tambah jelek" ucap Ardian
"jelek-jelek gini adek Abang loh" jawab Haura sewot
"iya,iya. ayok kita keruangan papi" ajak Ardian
"ngapain bang" tanya Haura
"metik bunga" jawab Ardian
"ya ngomong sama papilah, ngapain lagi" sambung Ardian
"bang" panggil Haura sedih
"hhmm" jawab Ardian
"mama sama papa kok ngak ada yang cariin ura ya bang" tanya Haura sedih
"udah ngak usah sedih mereka lagi sibuk" jawab Ardian sambil mengelus-elus kepala Haura
"tapikan Haura ngak perna minta duit sama mereka bang, kenapa mereka masih sibuk mencari duit bang" tanya Haura yang sedikit tersulit emosi
"sutth, ngak usah marah-marah. mereka punya keluarga yang juga butuh uang. urakan punya adik, adik-adik ura juga pasti butuh duit makanya mama dan papa ura sibuk kerja" jawab Ardian
"udah yok, kita keruangan papi" ajak Ardian
"bang" panggil Haura
"iya" jawab Ardian
__ADS_1
"Abang punya masalah apa sama Bella bang" tanya Haura
"enggak punya masalah apa-apa" jawab Ardian acuh
"Abang bohong" ucap Haura
"kenapa Abang harus bohong" jawab Ardian
"bang, Abang kalau punya masalah cerita sama ura bang, ura dengerin kok" ucap Haura
"iya" jawab Ardian
"bang jangan pernah tinggalin ura ya bang" ucap Haura sambil memeluk Ardian
"Abang ngak akan tinggalin Haura" ucap Ardian sambil mencium puncak rambut Haura
merekapun berjalan menuruni anak tangga dan menujuh keruang papi Ardian
tok..
tok....
tok....
cklek...
"masuk" ucap papi Ardian ketika melihat Ardian dan Haura membuka pintu
"kenapa pii" tanya Ardian
" papi akan limpahkan kekuasaan perusahan kampus, dan resort ketangan kamu" ucap papi Ardian kepada Ardian
"butik dan tempat makan akan papi limpahkan ke ura" ucap papi Ardian kepada Haura
"Ardian ngak mau, Ardian punya usaha sendiri" jawab Ardian
Haura hanya diam, dia kaget melihat tingkah dan sikap Ardian, Haura tak perna tau bagaimana Ardian bersikap kepada orang tuanya, pasalnya Ardian sudah lama tak tinggal bersama orang tuanya, Ardian menempuh pendidikannya jauh dari orang tua dan hampir tak pernah pulang kerumah orang tuanya, Ardian memang orang yang dingin tapi menurut Haura mungkin tidak akan bersikap dingin dengan orang tuanya, pasalnya Haura sudah lebih dari 5 tahun hidup bersama Ardian di negeri orang tapi sikat Ardian tak perna seperti itu, walaupun dia orang yang dingin tapi Ardian menjunjung tinggi kesopanan
"jika cuma mau membahas ini saya pergi" ucap Ardian
"tapi ini harus di bicarakan Ardian" ucap papi yang Ardian
"apa yang perlu di bicarakan" tanya Ardian
"saya tidak butuh semua ini" sambung Ardian
"tapi kamulah pewaris harta papi" ucap papi Ardian
"urus saja hartamu" jawab Ardian sambil berjalan menujuh kamarnya
"Haura" panggil papi Ardian
"ehhh iya pii" jawab Haura
"kamu tidak apa-apa nak" tanya papi Ardian
"enggak apa-apa kok pii" jawab Haura
"begitulah Ardian nak, setelah kejadian di masa lalu dia sangat berubah" ucap papi Ardian yang bersedih
"apakah Abang tak pernah baik sama papi dan mami" tanya Haura
papi Ardian hanya mengangguk
__ADS_1
"apakah ini alasan Abang selalu menolak jika diajak pulang keindo pii" tanya Haura
papi Ardian menggangguk
"ini sudah malam, lebih baik kamu tidur nak" ucap papi Ardian
"iya pii" jawab Haura dan meninggalkan papi Ardian sendirian
di jalan menujuh kamarnya Haura berbicara dalam hatinya "ini alasannya Abang selalu menolak jika diajak pulang ke indo dan selalu beralasan. tapi mengapa, apa masalahnya. dan kenapa sekarang Abang mau pulang ke indo"
Haura masih bertanya-tanya dalam hatinya hingga di tak melihat kearah depan, hingga akhirnya Haura menabrak pintu kamarnya
"auhhh" teriak haura
"kenapa harus ada pintu disini" gerutuk Haura sambil memegang jidatnya
"kami ngak apa-apa" tanya Ardian
"enggak apa-apa bang, cuma kejedot sedikit" jawab Haura
"makanya jalan pakai mata jangan merem" ucap Ardian sambil menepuk jidat Haura
"auhhh, Abang" teriak Haura
"apa" jawab Ardian
"sakit tau bang" ucap Haura
"terus" tanya Ardian
"Abang mahhh, ngak ada sayang-sayangnya sama adem sendiri" jawab Haura
"jadi kamu mau di apain, disayang-sayang hemm" Tanya Ardian
"bukan gitu juga bang" jawab Haura
"jadi" tanya Ardian
"setidaknya sedikit berempatilah bang, melihat ura kesakitan" jawab Haura
"salah kamu sendiri" jawab Ardian
"issshh, Abang" ucap Haura kesal
"ngak usah gitu mukanya jelek" jawab Ardian sambil meninggalkan Haura
Ardian masuk ke kamarnya dan meninggalkan Haura sendiri
"punya Abang kok gini amat" gerutuk Haura
"amat aja kalo punya Abang ngak gini juga" sambung Haura sambil masuk kedalam kamarnya
Haura duduk di sisi tempat tidurnya sambil memijat jidatnya tapi bukan di area yang kejedot
Haura minum air yang ada dinakas dan melihat handphonenya menyala
"siapa yang menelpon ku" ucap Haura saat melihat handphonenya menyalah dan yang tertera adalah nomer yang tak ada namanya, Haura sengaja mengheningkan handphone miliknya, takutnya mengganggu
Haura tak menjawabnya dia masih sibuk memijat jidatnya
"kenapa sakit sekali, apa pintu itu terbuat dari beton" gerutuk Haura lagi
Haura binggung, kenapa nomor yang sama terus-menerus menelponnya, layar handphonenya kembali menyala dan memperlihatkan nomer yang sama.
__ADS_1
"tidak ada kerjaan sekali orang ini, apa dia tidka tau aku lagi kesakitan " gerutuk Haura
Haura lagi-lagi mengabaikan handphonenya hingga akhirnya Haura tertidur karena sakit akibat kejedot pintu tadi.