Dosen Everest, I Love You

Dosen Everest, I Love You
tugas


__ADS_3

"assalamualaikum pak" ucap Salsa sedikit mendorong pintu yang tak tertutup rapat


"wa'alaikum salam" jawab Ardian


"bapak memanggil saya" tanya Salsa sambil berdiri diambang pintu tanpa berniat untuk mendekati Ardian


"enggak" jawab Ardian cuek, Ardian malah fokus melihat ke arah ke kertas-kertas yang ada di genggamannya


"maks-maksudnya" Salsa binggung mau menjawab apa


"aduhhh, kok jadi gini sih suasananya" ucap salsa dalam hati mengerutuk kesalahan dirinya


"apa" tanya Ardian tanpa melihat kearah Salsa sedikitpun


"begini pak, saya kesini mau menanyakan tentang jam ganti pak Andre pak" ucap Salsa takut, Salsa takut ia akan salah bicara lagi dengan Ardian yang membuatnya berada di suhu badan yang panas dingin tak menentu


"bicara sama siapa" tanya Ardian, sambil melirik kearah Salsa sekilas, lalu kembali fokus menatap kertas-kertas


"sama Bapak, pak" jawab Salsa melihat kearah Ardian yang sepertinya Ardian yang ada depannya akan mengeluarkan puing-puing salju yang membuat sekujur tubuhnya membeku dan kaku


"yakin" tanya Ardian seperti menghamburkan kristal-kristal kedinginan yang dibawa dari gunung Everest


" iya pak" jawab Sabrina takut-takut, perasaannya sudah mulai tak enak


"ngapain disitu" tanya Ardian yang melirik Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan


"saya boleh masuk pak" tanya Salsa yang terlihat begitu bidah saat ini


"hmm" jawab Ardian cuman dengan deheman


suasana ruangan seketika menjadi dingin sekali ketika Salsa masuk ke ruangan Ardian. bagaimana tidak ruangan Ardian dilengkapi dengan AC yang mengunakan mode dingin maksimal, suasana diluar ruangan yang menampilkan panas matahari yang begitu menyengat seketika berubah menjadi 180° ketika melangkah keruangan Ardian, bagaimana Salsa tak merasa takut dan langsung gemetaran ketika memasuki ruangan Ardian, dan tak lupa pula jantung Salsa kini sedang maraton mengelilingi negeri dongeng yang tak berujung- ehh ralat mengelilingi bundaran yang tak ada titik akhirnya


"maaf pak mengganggu, saya mau bertanya tentang jam ganti pak Andre" ucap Salsa ketika ia sudah berhasil berdiri di depan meja Ardian dengan segala dingin yang menusuk-nusuk diri untuk ditinggal pergi


"duduk" titah Ardian yang masih fokus melihat kearah kertas-kertas, entah kertas-kertas apa itu salsa tidak tahu


"baik pak" jawab Salsa yang masih menahan ketakutan yang menghampirinya, emang rasa takut tak pernah punya kesopanan, masa datang semaunya, lagi seperti ini dia datang tanpa permisi menyerbuh diri salsa yang tak berdaya, hingga gemetaranlah yang menemani diri Salsa saat ini


Salsa duduk di kursi didepan meja Ardian yang membuat Salsa berada tepat dihadapan Ardian, sehingga bisa Salsa lihat wajah Ardian dari dekat yang terpahat dari es batu yang mengkristal


"baru kali ini aku lihat wajah manusia yang begitu indah seperti dipahat dari bongkahan es yang kadar ke bekuannya sudah benar-benar diatas rata-rata, ini karya yang begitu menakjubkan, mungkinkan wajah ini akan meleleh jika di komentari netizen" pikir Salsa dalam lamunannya yang sedari tadi tidak diajak Ardian bicara, atau Ardian sepatah katapun tak bersuarah

__ADS_1


rasanya Salsa ingin sekali meminjam mulut-mulut netizen yang begitu panas untuk diberikan kepada Ardian, biar kadar ketampanannya Ardian mencair dan Ardian tidak punya muka lagi untuk bertindak semena-mena seperti saat ini yaitu mengacuhkan Salsa


"pak" panggil Salsa memecah keheningan yang entah sampai kapan akan berhenti jika Salsa tak berinsiatif untuk memecah keheningannya


"hmm" jawab Ardian


"untuk jam ganti pak Andre, itu gimana pak" tanya Salsa melihat kearah Ardian tapi tak menatap Ardian, Salsa lebih memilih melihat kertas-kertas yang Ardian pegang


"saya besok ngak bisa" jawab Ardian melirik Salsa sebentar lalu kembali menatap kertas-kertas yang Ardian pegang


"aku kurang cantik apa, sampai-sampai bapak ngak mau melihat kearah ku, emang itu kertas lebih cantik dari muka aku apa" gerutuk Salsa dalam hati yang kesal akibat Ardian selalu menatap kearah kertas-kertas, seperti Salsa bukanlah kawan bicara Ardian


"kenapa" tanya Ardian yang sedari tadi menunggu respons dari mahasiswa yang tak kunjung memeberikan tanggapan, ketika Ardian melihat kearah Salsa ternyata mahasiswa, sedang melalun entah memikirkan apa


"ehh-- engak pak" jawab Salsa kaget


Ardian tak bertanya lagi, Ardian hanya mengangkat satu alisnya keatas


"kalau bapak ngak bisa besok, bisa Minggu depan kok pak, kan mata kuliah pak Andre Minggu depan pak" jawab Salsa yang tak tahan melihat pelototan Ardian


"saya pulangnya Minggu depan, mungkin" jawab Ardian santai


"kan bisa presentasi sama pak Andrenya langsung" ucap Ardian binggung melihat tingkah mahasiswa yang berada di depannya


"yahh, kalo waktu pak Andre masuk lagi, itu buka jadwal kelompok saya lagi pak, udah kelompok lain, mungkin entar nunggu sudah semua kelompok presentasi baru kelompok saya pak, itupun kalo waktunya masih ada pak, kalo ngak yahh, ngak ada nilai" jelas Salsa panjang lebar dengan sedikit lesu dan sedih yang berharap akan menerimah belas kasih dari dosen killer yang ada didepannya yang terkenal dengan antoleran ini


"oh" jawab Ardian


sudah berpuluh-puluh kosa kata Salsa keluarkan, cuma dapat jawaban ohh dari seorang dosen killer yang menurut Salsa mahluk dari Everest yang tak kenal dengan mahluk sosial yang minus kebaikan dan sangat-sangat kurang dalam segi pengertian


" jadi gimana pak" tanya Salsa takut dan masih berharap kalau dosen di depannya akan memberinya belas kasih


"lihat nanti" jawab Ardian singkat


"baik pak" jawab Salsa lesu dan berdiri hendak meninggalkan ruangan Ardian


belum Salsa berjalan Ardian berkata


"mau kemana" tanya Ardian ketika melihat salsa berdiri dari tempat duduknya


"mau pulang pak" jawab Salsa sambil melirik kearah Ardian

__ADS_1


"ngapain" tanya Ardian


"mau nelpon orang tua" jawab Salsa


"untuk apa" tanya Ardian


"untuk ngasih tau mereka, disini anaknya terzholimi" jawab Salsa


"oh" jawab Ardian


"kok cuma ohh sih pak" tanya Salsa


"lalu" tanya Ardian


"setidaknya bapak itu harus berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas mahasiswa pak, bukan mendzolimi mahasiswa" jawab salsa


"kapan saya mendzolimi mahasiswa" tanya Ardian


"tadi" jawab Salsa


mendengar jawaban dari Salsa Ardian hanya mengangkat satu alisnya keatas


"ngaka ada pak" jawab Salsa


"kalo ngak ada lagi yang ingin bapak beritahukan, saya undur diri pak" ucap Salsa


"tugas saya malam ini dikumpul" ucap Ardian


"bapak, bercanda" jawab Salsa


"pak kawan-kawan banyak yang belum selesai, bisa-bisa aku didemo oleh teman-teman pak" sambung Salsa


"masalahnya" tanya Ardian


"kasihlah keringan sedikit pak untuk teman-teman menyelesaikannya, jangan buat saya didemo teman-teman pak, pleas" ucap Salsa memohon kepada Ardian sambil menyatukan kedua tangganya di dada


"ya sudah, kamu saja yang kumpulkan malam ini tugas dari saya" ucap Ardian


"ini bapak, mau bikin gue mati deh kayaknya, kalo ada dendam, lebih baik omongin pak, kalo enggak bunuh pake pisau sekalian pak, biar ngak menderita" gerutuk Salsa dalam hati


"ngak usah ngedumel" ucap Ardian

__ADS_1


__ADS_2