Dosen Everest, I Love You

Dosen Everest, I Love You
toko buku


__ADS_3

akhirnya Salsa dan Ardian sampai di toko buku XXX


"turun" ucap Ardian


Salsa hanya menganggukan Kepalanya


salsa dan Ardian memasuki toko buku tersebut


"kamu mau cari buku apa" tanya Ardian


"cari novel pak" jawab Salsa


Ardian mengangkat satu alisnya dan melihat Salsa dengan sedikit melotot


"hehehe, maaf pak. di tokoh buku tadi ngak ada novel yang aku cari, disini mungkin ada pak" jawab Salsa


Ardian tak menjawab apapun dari ucapan Salsa Ardian berjalan menujuh tempat buku yang mungkin akan dia dapatkan buku yang ia cari


"pak maaf, jangan marah ya pak" ucap Salsa


"pak jangan marah dong pak" ucap Salsa lagi


"iya" jawab Ardian singkat


"terimah kasih pak, aku cari dulu ya pak" ucap Salsa


Ardian hanya menggelengkan kepala melihat tinggkah Salsa


Ardian sibuk mencari buku yang ia cari dan Salsapun sibuk mencari novel yang ia cari


"sudah" tanya Ardian saat salsa mendekatinya


"iya pak, bapak sudah" tanya Salsa


Ardian menganggukan Kepalanya


"pak sudah ini, kita ke mini market depan ya pak" ucap Salsa


"ngapai" tanya Ardian


"beli makanan pak" jawab Salsa


"oh" balas Ardian


selesai membayar buku mereka Salsa dan Ardian berjalan ke mini market dan membeli makan ringan


"kamu tidak membeli bahan makanan" tanya Ardian ketika melihat semua makana yang Salsa ambil hanyalah makanan ringan


"hehehe, enggak pak" jawab Salsa cengengesan


"kenapa" tanya Ardian


"repot pak" jawab Salsa


mendengar jawaban dari Salsa Ardianpun melotot heran


"sudah pak, ngak usah dipikirin. ayok kita bayar kalo bapak sudah" ucap Salsa


Ardian hanya mengangguk


setelah membayar semua belanjaannya Ardian dan Salsa berjalan kemobil


saat mobil di jalankan Ardian semula fokus ke jalan, bertanya kepada Salsa


"tadi kamu beli novel tentang apa" tanya Ardian


"tentang detektif pak" jawab Salsa


"detekatif" tanya Ardian kaget


"iya pak" jawab Salsa


"kenapa" tanya Ardian


"apanya" tanya Salsa binggung


"kenapa beli novel tentang detektif" tanya Ardian


"ohh, harus punya alasan pak" tanya Salsa lagi


"iya" jawab Ardian


"pengen aja pak" jawab Salsa


Ardian menaikan satu alisnya


"kenapa pak, emang ngak boleh beli novel detektif" tanya Salsa


" ya boleh, tapi apa alasannya" tanya Ardian


"suka" lanjut Ardian


" iya pak, emang suka dari dulu" jawab Salsa


"kenapa suka" tanya Ardian


"seru aja pak, menarik ngak banyak drama terus kita bisa sekalian belajar juga pak" jelas Salsa

__ADS_1


"dari kapan suka" tanya Ardian yang masih memperhatikan jalan


"sejak SMP pak" jawab Salsa


Ardian hanya mengangguk


"bapak juga suka" tanya Salsa


"ya" jawab Ardian


"bearti bapak banyak buku tentang detektif dong" tanya Salsa


"ada" jawab Ardian


"wahh, boleh pinjam ngak pak" tanya Salsa


"ngak" jawab Ardian


"ohh, ya udah" jawab Salsa


setelah itu Ardian dan Salsa hanya diam hingga sampai ke kosan Salsa


"turun" ucap Ardian setelah sampai ke kosan Salsa


"iya pak, sabar" jawab salsa


Salsa mengambil barang belanjaannya dan turun dari mobil


ketika Ardian hendak melajukan mobilnya Salsa mengetuk jendela mobil


"kenapa" tanya Ardian sambil menurunkan kaca mobil


"terimah kasih ya pak, maaf merepotkan. hati-hati di jalan pak" ucap Salsa


Ardian sedikit tidak percaya bahwa Salsa yang mengatakan itu, tak mau salsa tau ia langsung menganggukan kepalanya dan melajukan mobilnya


~rumah Ardian~


"ura, ura" panggil mami Ardian sambil mengetuk pintu kamar Haura


" iya mi" jawab Haura


"kamu kenapa, kok di kamar terus" tanya mami Ardian.


"ura ngak apa-apa kok mii" jawab Haura


"tadi kamu ke kampus abangkan" tanya mami Ardian


"iya mii" jawab Haura


"Abang ada di kampus" tanya mami Ardian


"lalu kenapa Abang belum pulang sekarang" tanya mami Ardian


"Abang belum pulang mii" tanya Haura kaget


"apa Abang marah sama aku, jadi dia ngak mau pulang kerumah" tanya Haura dalam hati


"iya Abang belum pulang" jawab mami Ardian


"mungkin Abang lagi ada kerjaan mii, bentar lagi pulang" ucap Haura


"ayo kita tunggu di bawah mii" sambung Haura


"yok" jawab mami Ardian


Haura dan mami Ardian duduk di sofa ruang keluarga


"mii, gimana calon istri Abang mii" tanya Haura


"ngak jadi" jawab mami Ardian


"kenapa ngak jadi mii, karena Abang ngak Dateng ya mii" tanya Haura


"enggak, papi kurang cocok sama wanitanya. dan mami lihat dia minus sopan santun juga, jadi ngak mungkin abangmu suka" jelas mami Ardian


"mii gimana kalo kita biarin Abang nyelesain dulu pendidikannya" usul Haura


"lah emang kenapa ura?, abangkan masih tetap bisa lanjutin pendidikan walaupun sudah menikah" tanya mami Ardian


"emang ura ngak mau punya ponakan apa" sambung mami Ardian


"ya Mau mii" jawab Haura


"lalu" tanya mami Ardian


"ura tadi ngomong sama Abang tapi Abang bilang, menikah itu bukan tentang cantik, kekayaan dan popularitas mii" jelas Haura


"ura tadi bilang kalo Bella mau sama Abang dan siap untuk jadi istri Abang, Abang malah jawab kalau Bella itu baik untuk jadi istri pasti sudah lama Abang nikahin mii" sambung Haura


"abangmu memang tidak suka sama Bella dari dulu nak" jawab mami Ardian


"emang kenapa Abang ngak suka sama Bella mik?, Bellakan cantik, body goals dan kaya mii" tanya Haura


"Bella itu dulu kawan abangmu ra, abangmu tau betul sifat Bella itu, makanya abangmu tak perna mau sama Bella" jelas mami Ardian


"emang Bella salah apa mii sampai Abang ngak mau segitunya" tanya Haura

__ADS_1


"Bella perna buat abangmu keluar dari sekolahnya dulu Ra, dulu juga bela perna fitnah abangmu, dan Bella juga pergaulannya terlalu bebas" jawab mami Haura


"tapikan Abang sekolah di luar negeri mii" tanya Haura


"dulu abangmu perna sekolah di indo. abangmu pindah sekolah diluar karena Bella, dan Bella juga memfitnah abangmu dan membuat hubungan mami, papi dan abangmu renggang dulu" jelas mami Ardian


"kenapa Abang tidak perna cerita soal itu mii" tanya Haura


"abangmu tak mau lagi membahas soal itu apa lagi harus berurusan dengan Bella, cerita itu sudah tak perna abangmu ungkit walaupun hanya sedikit saja" jawab mami Ardian dengan raut yang sedih dan berusaha mengingat kejadian masa lalu


"terus kenapa mami dan papi tidak pernah menceritakan tentang itu" tanya Haura


"mami dan papi ngak mau abangmu marah dengan mengungkit masalah itu lagi, itu kesalahan mami dan papi. mami dan papi ngak mau abangmu marah sama kami lagi hingga membuat kami harus kehilangan abangmu Ra" jelas mami Ardian


"kenapa ura ngak perna tau mii" tanya Haura


"dulu kamu masih kecil, kedua orangtuamu masih baik-baik saja Ra" jawab mami


"mii apakah ura boleh tanya sesuatu" tanya Haura


"boleh. ura mau tanya apa" jawab mami Ardian


"kenapa mami dan papi mau ngebesarin ura dan ngajak ura hidup bareng mami, papi dan Abang mii" tanya Haura


mami Ardian kaget mendengar pertanyaan dari Haura, mami Ardian binggung dia tidak tau harus menjawab apa


"kenapa mii" tanya Haura yang penasaran tapi tak luput dari kesedihan


"emhh-" ucapan mami Ardian terpotong


"assalamualaikum" potong Ardian mengucap salam memasuki rumahnya


"wa'alaikum salam" jawab mami Ardian dan Haura barengan


"kamu kok baru pulang nak" tanya mami Ardian.


"habis ketoko buku " jawab Ardian


"kenapa belum tidur" tanya Ardian kepada Haura


"nungguin Abang pulang" jawab Haura ketus


"tumben" tanya Ardian, lebih tepatnya binggung


"ini mami tadi tanyain Abang kenapa belum pulang. takut putra satu-satunya hilang" jawab Haura yang sedikit meninggikan nada bicaranya


"ohh" jawab Ardian lalu berjalan melewati maminya dan Haura


"mii tau ngak tadi Abang jalan sama Salsa" ucap Haura sedikit berteriak agar Ardian dapat mendengarnya


mendengar itu Ardian langsung memberhentikan langkahnya dan mutar badannya


"ohh yaa? kapan Ra" tanya mami Ardian


"Salsa mahasiswa abangmu itu Ra" tanya papi Ardian, yang tiba-tiba muncul diruang tamu


"ehh papi" ucap Haura kaget


"hari ini mii, makan bareng lagi. iya pii mahasiswa Abang yang tempo hari Haura ceritain pii" sambung Salsa


"kapan kenalin sama papi dan mami" goda papi Ardian sambil melihat Ardian dan duduk di samping mami Ardian


"kita bakalan dapat mantu pii" ucap mami Ardian


"iya dong mii, mana Salsa cantik lagi" ucap Haura


"dia cuma mahasiswaku " jawab Ardian


"ngak ada aturannya kalo dosen sama mahasiswa menikahkan bang" goda Haura


"Haura" ucap Ardian dan meninggikan suaranya


"hahaha, selow bang. kiding" ucap Haura sambil mengangkat cari membentuk huruf V


"kenalilah sama mami dan papi" ucap mami menggoda Ardian


"dia mahasiswaku , CUMA MAHASISWA" jawab Ardian sambil mengulang dan menekan kata "cuma mahasiswa"


"kok sampe diajak makan?" tanya papi yang ikut-ikutan menggoda Ardian


"itu ura yang ajak " jawab Ardian


"ehhh, enggak kok. Abang bohong" elak Haura


"uraa" ucap Ardian meninggikan suaranya


"sudah-sudah cepat mandi" ucap mami Ardian


"sudah mandi temui papi diruangan papi" ucap papi Ardian


Ardian hanya menganggukan Kepalanya dan berjalan menaiki anak tangga


cklek


Ardian membuka pintu kamarnya dan menaruh tas beserta separuhnya di tempatnya, lalu membersikan diri dan meyelesaikan ritual mandinya


Ardian telah selesai mandi dan mengenakan pakai santainya

__ADS_1


cklek.....


pintu kamar Ardian di buka oleh Haura


__ADS_2