Dosen Everest, I Love You

Dosen Everest, I Love You
ngak pake golok sekalian


__ADS_3

"ya sudah, kamu saja yang kumpulkan malam ini tugas dari saya" ucap Ardian


"ini bapak, mau bikin gue mati deh kayaknya, kalo ada dendam, lebih baik omongin pak, kalo enggak bunuh pake pisau sekalian pak, biar ngak menderita" gerutuk Salsa dalam hati


"ngak usah ngedumel" ucap Ardian


"ngak ngedumel kok pak" ucap Ardian kelagapan


"ngapain masih disini" tanya Ardian


"slow pak, entar bapak kangen" jawab Salsa, sambil meledek Ardian


"Salsa" ucap Ardian dengan suara sedikit meninggi


"iya pak, maaf, maaf pak" jawab Salsa sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V


"pak lusa aja ngak bisa apa pak, ngumpul tugasnya" tanya Salsa yang menampilkan raut sedihnya


"kenapa" tanya Ardian


"biar lebih bagus pak" jawab Salsa takut


"kenapa harus lusa" tanya Ardian


"karena teman-teman pasti akan selesai pak kalau lusa" jawab Salsa sambil memutar otak menemukan jawaban atas pertanyaan Ardian


"teman-teman mu lusa" jawab Ardian


Salsa akhirnya menarik napas lega, Salsa ingin menarik kedua sudut bibirnya keatas tapi langsung di batalkan akibat perkataan Ardian


"kamu nanti malam" lanjut Ardian yang berhasil membuat senyum salsa yang sempat mau mereka menjadi cemberut


"pak ngak sekalian pake pisau atau golok pak" tanya Salsa kesal mendengar lanjutan perkataan Ardian


"untuk apa" tanya Ardian binggung dengan anjuran yang diberikan Salsa


"biar cepat selesai" jawab Salsa masih dengan kesal kesalannya


Ardian mengangkat satu alisnya keatas, seperti pertanda Ardian tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Salsa


"bapak mau bunuh sayakan, sekalian pake golok pak biar cepat" jawab Salsa melihat kebingungan Ardian dengan rasa kesal yang menjadi-jadi


"ngapain saya harus pakai golok" ucap Ardian santai


"kalo saya mau bunuh kamu saya pakai racun saja, kan gampang" lanjut Ardian dengan wajah datarnya


"biar keliatan kalau bapak itu seorang psikopat" jawab Salsa dengan kesal yang masih sama


"kalau saya psikopat sudah lama kamu bertemu sama tetua kamu" jawab Ardian cuek tapi Ardian masih mau meladeni mahasiswanya


"pak, bapak segitu bencinya sama saya" tanya Salsa


"kenapa kamu selalu berpikiran buruk tentang saya" bukanya menjawab Ardian malah bertanya kembali kepada Salsa


"memang bapak membenci saya" jawab Salsa yang masih dengan kekesalan yang sama


"coba ruba pola pikirmu" ucap Ardian


"ruba bagaimana pak?, beranggapan bahwa bapak baik" tanya Salsa


"kenapa tidak" jawab Ardian


"pak dulu saya pikir saya orang paling kejam didunia dengan minimalisir pergaulan sosial saya, tapi saya salah ternyata bapak lebih kejam dari semua yang saya pikirkan" ucap Salsa


"Cuba ruba pola pikirmu" ucap Ardian


"ruba bagaimana pak" tanya Salsa

__ADS_1


"bukan kamu yang meminimalisir pertemanan, hanya saja pertemanan yang membuat mu keluar kendali yang seharusnya, kamu batasi" jawab Ardian


"bukan saya yang membenci kamu, tapi kamu yang tak mau mendengarkan nasehat saya" lanjut Ardian


"nasehat" tanya Salsa


"nasehat yang mana pak" lanjut Salsa


"mengumpulkan tugas nanti malam" jawab Ardian santai


"oke, baik pak. nanti malam saya kirimkan tugasnya kepada bapak" ucap Salsa menahan sesak di dalam diri, tapi Salsa tau berdebat dengan Ardian hanyalah mimpi jika akan menang melawan Ardian


"kalau dari tadi seperti ini kamu tidak akan berpikiran saya membencimu" jawab Ardian


"baik pak, maafkan saya" ucap Salsa, sambil menundukkan kepala, bukan merasa bersalah Salsa hanya malas harus berdebat dengan Ardian yang tak akan mungkin bisa dia menangi


"hmmm" jawab Ardian


"saya permisi pak" ucap Salsa sambil meninggalkan Ardian tanpa mau mendengar jawaban dari Ardian


setelah Salsa melangkah keluar pintu ruangannya, Ardian tersenyum melihat tingkah Salsa yang berani-beraninya memprotes keputusannya, tapi bukanya marah Ardian malah senang melihat tingkah Salsa barusan


Salsa berjalan dengan kekesalan yang masih ia rasakan, bagaiman tidak, kok bisa-bisanya dosen itu meringankan temannya tapi Salsanya malah dipersulit


"bang" teriak Haura mengagetkan Ardian


"apa" jawab Ardian setelah menetralkan keterkejutannya


"cie senyum-senyum, lagi senyumin siapa sih bang" goda Haura dan Haura berjalan masuk keruangan Ardian dan duduk di depan meja Ardian


"sudahlah, ngapain kesini" elak Ardian


"slow broo" ucap Haura


"ura mau cerita bang" sambung Haura


"mama mau ajak Haura tinggal di USA bang, bareng mereka disana" ucap Haura dan diiringi oleh kesedihan


"udah ngak usah sedih, tinggal tolakan" jawab Ardian


"tapi mama maksa bang" ucap Haura


"ya udah, besok Abang mau ke USA, sekalian ura lihat-lihat dulu kondisi disana" usul Ardian


"kalo ura ngak betah bang" tanya Haura


"pulang" jawab Ardian


"entar ngak boleh sama mama bang" tanya Haura yang sudah mengira jawaban dari mamanya nanti


"udah ngak usah di pusingin" ucap Ardian


"kalo ngak betah, pulang aja ke indo" lanjut Ardian


"Abang jadi lanjutin S3 Abang kemaren di USA bang" tanya Haura


"jadi" jawab Ardian


"Abang ngak kasian lihat papi bang" tanya Haura


"ngak" jawab Ardian


"Abang jahat" ucap Haura


"dari dulu" Jawab Ardian


"Abang ngak mikirin ura" ucap Haura

__ADS_1


"mau ke USA-kan" tanya Ardian


"iya" jawab Haura


"lalu" tanya Ardian


"tapi papi juga butuh Abang" jawab Haura


"ura" tanya Ardian


"ya, ura butuh Abang juga" jawab Haura


"tapi ngak apa-apa kok kalo Abang, lebih ngedahuluin papi" lanjut Haura


"besok kita berangkat ke USA" ucap Ardian


"lebih baik pulang sekarang, siap-siap" sambung Ardian


"abang emang ngak punya hati" ucap Haura


"sudah lama" jawab Ardian


"Abang kapan sih ngerti, kalo papi itu sayang sama Abang" ucap Haura


"ngak akan perna" jawab Ardian


"Abang egois" teriak Haura


"benar" jawab Ardian


"kenapa Abang egois" tanya Haura


"salah" tanya Ardian


"ya salahlah bang, papi sayang sama Abang, kenapa Abang harus egois seperti ini, Abang rela banget lihat papi sedih" ucap Haura


"ngak penting" ucap Haura


"bang papi kemarin sedih banget loh bang, papi sampe nangis tau ngak bang" teriak Haura


"ngak usah drama" jawab Ardian


"siapa yang lagi drama bang, siapa" tanya Haura


"kamu" jawab Ardian


"bang papi beneran nangis" ucap Haura


"apa urusannya sama Abang" tanya Ardian


"Abang jahat" ucap Haura


"apa perna Abang bilang, Abang baik" tanya Ardian


"abang memang jahat, jadi ngak usah ditanyakan lagi" sambung Ardian


"bang, orang jahat bisa berubah bang" usul Haura


"berubah? jadi apa? jadi power rangers" tanya Ardian


"iya bang jadi power rangers, biar Abang bisa baik ke semua orang, biar Abang bisa bantuin orang, dan timbul jiwa berbagi kasih Abang sesama manusia" jelas Haura


"ngak penting" jawab ardian


tanpa Ardian dan Haura sadari ternyata ada yang sedang menertawai keduanya di depan pintu (pintu yang tidak tertutup rapat bisa membuat orang dari luar bisa melihat keadaan didalam dan mendengar percakapan didalam), ya ......


🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2