
hari berlalu berjalan dengan indah
salsa dan Ardian bersama kini sedang menikmati sore yang tidak begitu cerah tapi cukup menyejukkan
"pak" panggil Salsa
"hmm" jawab Ardian
"kita naik perahu yuk pak" ajak Salsa tanpa melihat kearah Ardian
"berani?" tanya Ardian
"berani dong" jawab salsa dengan percaya diri
"kalau ada buaya gimana" tanya Ardian sambil memasang senyum yang sulit diartikan
"ihh, bapak mahh" jawab Salsa
"ya udah ngak jadi" sambung salsa dengan wajah cemberut
"ngak usah gitu, jelek" ucap Ardian sambil menarik tengan salsa untuk mendekat kearahnya
"biarin" jawab salsa sambil terus menekuk mukanya
"ayok" jawab Ardian sambil menggandeng tangan Salsa
"kemana?" tanya salsa binggung
"katanya mau naik perahu" jelas Ardian
"kan ngak jadi" balas Salsa sambil melihat kearah Ardian
"kenapa ngak jadi?" tanya Ardian, binggung
"tadi bapak bilang ada buayanya, Salsa belum mau mati sekarang ya pak" jawab Salsa dengan ekspresi takut
"haha, ngak ada salsa" jawab Ardian sambil tersenyum melihat kearah salsa
"tadi bapak bilang" ucap Salsa sembari mengingat Ardian Tetang ucapan yang tadi dia bilang
"saya cuma ngarang saja, mana ada buaya disini" Jawab Ardian sambil menahan senyum di wajahnya
"ada" jawab salsa antusias
"mana?" tanya Ardian dengan menarik satu alisnya keatas
"bapak, hahahaha" jawab salsa sambil tertawa terbahak-bahak
"kalau saya buaya sudah dari tadi kamu saya makan" jawab Ardian sedikit berekspresi
"jadi naik perahunya?" tanya Ardian
"ngak deh pak" jawab Salsa
"kenapa?" tanya Ardian
"kita duduk di pinggiran danau saja pak" usul Salsa
tanpa menjawab Ardian hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama salsa ketempat yang Salsa tunjuk
Salsa dan Ardian duduk di bangku dekat danau dengan hembusan angin yang semilir dan menenangkan
"pak" panggil Salsa masih tetap menatap danau yang ada di depannya
"hmm" jawab Ardian sambil melihat Salsa
__ADS_1
"bapak yakin kalau danau ini ngak ada buaya?" tanya Salsa
"maybe" jawab Ardian
"bapak tau pribahasa 'jangan kira air tenang tak ada buaya'? tanya salsa serius
"tau" jawab Ardian
"mungkin pribahasa itu berlaku untuk danau ini pak" ucap salsa sambil bergedik takut
"hahaha, nilai mata pelajaran bahasa Indonesia mu dulu berapa" tanya Ardian sambil memegang tangan Salsa
"bagus dong"jawab salsa dengan bangga
"sekarang minta maaf sama guru bahasa Indonesia, karena sudah memberi nilai yang tak bisa di pertanggung jawabkan oleh siswanya" perintah ardian yang lebih terdengar seperti nasehat
"kenapa?" tanya Salsa binggung
"ngak ada apa-apa" jawab Ardian
"lupakan saja" sambung Ardian
"ih bapak" kesal Salsa
"sal" panggil Ardian setelah diam beberapa saat
"iya pak" jawab Salsa sambil mengedarkan pandangannya ke arah Ardian
"kamu tau perasaan saya?" tanya Ardian senduh
"perasaan? perasaan apa pak" tanya Salsa berpura-pura tidak tahu
"tetap didekat saya dan jadi bagian dari hidup saya sal" ucap Ardian seperti permintaan yang sangat mendalam
"kamu mau berjanji sal" tanya Ardian
tanpa di perintah Salsa menggelengkan kepala yang membuat Ardian bersedih
"apa saya tidak layak untuk kamu sal?" tanya Ardian yang menyiratkan sakit hati yang amat mendalam
"bukan, bukan seperti itu pak" jawab salsa yang juga bersedih melihat kesedihan Ardian
"apa saya butuh melakukan sesuatu sal?" tanya Ardian yang lagi-lagi menyirat kesedihan
"pak, Salsa ngak bisa" ucap Salsa langsung menundukkan kepalanya dan cepat-cepat menghapus air mata yang mulai menetes
"apa saya tidak layak untuk seseorang salsa?" tanya Ardian yang hampir hilang suara karena sakit yang ia rasa
"bapak, bapak akan menemukan orang yang mencintai bapak, tapi itu bukan aku" jawab Salsa tanpa melihat Ardian dan mencoba menahan sakit hati yang ia buat akibat penolakan yang ia lakukan
"siapa yang pantas untuk saya?" tanya Ardian sambil mengangkat kepala Salsa untuk melihat kearahnya
"dia yang mampu mencintai bapak" Jawab Salsa berpura-pura tegar
"sebutkan ciri-cirinya sal?" pinta Ardian
" bapak akan menemukannya nanti" jawab Salsa mengalihkan pandangannya dan mencoba untuk tetap kuat diposisinya sekarang
"kapan?" tanya Ardian
tiba-tiba rintikan hujan turun dengan seketika yang cukup deras
"hujan pak" ucap Salsa sedikit berteriak
"biarkan" jawab Ardian
__ADS_1
"pak ini hujannya makin deras, nanti bapak sakit" ucap Salsa sambil berlari meninggalkan Ardian karena air matanya sudah hampir jatuh
'apakah aku tak berhak mencintai mahluk mu Tuhan' teriak Ardian di balut dengan hujan yang semakin deras
ketika mendengar ucapan Ardian Salsa tambah menagis di bawah guyuran hujan
"maafkan aku pak" ucap salsa pelan di bawah reruntuhan air yang jatuh dan terus berjalan menjauhi Ardian
"mengapa kau tidak mentakdirkan dia untuk ku tuhan" ucap Ardian kepada langit dengan suara yang keras tapi tak mampu melawan derasnya air hujan yang jatuh
"mengapa kau tidak memberi dia perasaan untuk mencintai ku tuhan" lagi-lagi Ardian berteriak di bawah guyuran hujan yang semakin deras
"apalagi yang kau mau rengut dari hidup ku tuhan" teriak Ardian dengan menjatuhkan tubuhnya dan berlutut dihadapan semesta di bawah air yang terus berjatuhan
"kebahagiaan satu persatu kau tarik dari hidupku" teriak Ardian dengan air mata yang terus turus seperti hujan yang membasahi bumi saat ini
"kapan kau cabut nyawaku tuhan" tanya Ardian yang terus marah pada kehidupannya
"kau hancurkan keluarga ku"
"kau ambil ibuku"
"kau biarkan aku menderita"
"kau ambil dia yang ku sayang"
"kau ambil kakek nenek ku"
"kau ambil orang baik padaku"
" dan disaat aku sudah mengikhlaskan semuanya, kau hadirkan salsa untuk ku"
"tapi mengapa kau tak menghadirkan rasa cinta untuknya kepada ku tuhan"
"belum cukup ujian ku tuhan"
"bagaimana aku bisa menerima ujian ini Tuhan"
"aku butuh sosok seseorang yang bisa aku aja bicara"
"aku menghormatimu tuhan, aku mencintai mu, aku mengimani mu Tuhan"
"tapi mengapa kau selalu menguji ku"
"mengapa aku yang selalu kau uji Tuhan"
"mau kau naikan berapa derajat lagi, derajat hidupku tuhan"
"tuhan, beri aku kekuatan"
"jangan jatuhan aku dari semua ketinggian yang engkau berikan" teriak Ardian yang membuat air matanya turun berkali-kali
"aku ingin berserah kepada Tuhan" ucap Ardian setelah yang hampir kehilangan suaranya
Ardian bangkit dan duduk di bangku danau, Salsa tidak tau tempatnya, hujan telah mulai redah
Ardian melihat kearah danau dengan pakaian yang semuanya sudah basah
hari sudah mulai gelap tapi Ardian masih betah duduk di bangku danau
seketika dalam lamunannya Ardian teringat dengan Salsa
"dimana salsa" tanya Ardian pada diri sendiri dan melihat keselilingnya
"mungkin salsa sudah pulang duluan" pikir Ardian dan kembali menatap danau di depannya
__ADS_1