Dreamy Magical

Dreamy Magical
Hinagiku and her (two) Son(s)


__ADS_3

13 Tahun yang lalu.


Hari ini merupakan hari yang cerah di kota Rella. Tentu saja dengan cuaca sebaik ini, Wanita pirang bermata biru ini juga tidak ingin menyia-nyiakannya. Dengan membawa baju yang sudah ia bilas, kini ia mengeringkannya di bawah terik matahari.


Semenjak gugurnya kandungannya dua minggu yang lalu, Wanita tersebut tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus bangkit demi suami serta putra semata wayangnya.


"Aku pulang." Teriak sang anak yang ternyata telah pulang.


"Selamat datang, Hino." Balas Wanita tersebut pada putranya yang baru saja pulang.


...****************...


Jika kalian bertanya siapa Wanita ini. Maka namanya adalah Hinagiku atau semua orang sering memanggil dia Kiku.


"Ibu kapan ayah akan pulang?." Tanya Hino masih bermain-main dengan mobil-mobilannya.


"Ayah bilang dua hari lagi, bukan?. Hino kamu harus bersabar, ya." Kata Kiku membawa keranjang bajunya kedalam.


"Ting-tong."


Suara bel pintu rumah berbunyi membuat Hino berlari kearah rumah berpikir bahwa ayah mereka sudah pulang lebih awal


"Ayah selamat da..."


Alangkah terkejutnya Hino bahwa yang datang bukan Ayahnya melainkan seorang wanita tua yang membawa bayi laki-laki yang sedang menangis.


"Hino ada apa?." Tanya Kiku yang penasaran kenapa anaknya terdiam begitu saja.


Ia kemudian melihat arah seseorang yang berada di pintu.


"Permisi. Apakah ini kediaman Tuan Ryosuke?." Tanya orang tersebut.


"Iya. Saya istrinya." Kata Kiku memperkenalkan dirinya.


"Saya adalah Tsubame dari Kota vesper." Kata Wanita bernama Tsubame tersebut.


"Bolehkah saya meminta tolong." Lanjut Tsubame yang diiyakan oleh Kiku.


"Putri Walikota Vesper, Nona Asahina pernah melakukan tugas bersama dengan Tuan Ryosuke. Tetapi, Akibat pengaruh sihir, Nona Asahina mengandung putra dari Tuan Ryosuke." Jelas Tsubame sambil menyodorkan bayi laki-laki tersebut pada Kiku.


Kiku kemudian mengambil bayi tersebut dari Tsubame.


"Lalu, apa yang terjadi pada Nona kalian sekarang."


"Empat hari yang lalu, Nona Asahina meninggal setelah kehilangan banyak darah akibat melahirkan bayi tersebut. Sementara, Kakek dan Nenek bayi ini tidak mau menerima anak ini. Jadi kami memutuskan untuk memberikan bayi itu kepada Tuan Ryosuke. agar dia mau merawat bayi ini meskipun ia terlahir karena kesalahan." Mohon Tsubame yang merasa kasihan pada bayi tersebut.


Kiku memandangi wajah Bayi tersebut. dia melihat bahwa bayi ini mirip sekali dengan sang suami. Dari rambut, bentuk mata, bahkan bentuk wajah dan bibirnya juga sama.


Kiku tersenyum melihat wajah anak tersebut. Meskipun ia bukanlah anak kandungnya, anak ini juga putranya. Dia merasa bahwa bayi ini adalah pengganti dari bayinya yang gugur dalam kandungannya.


"Aku dengan senang hati akan merawat bayi ini." Kata Kiku dengan senyum tulus diwajahnya.


"Terima kasih." Ujar Tsubame kemudian meninggalkan rumah Kiku.


...****************...


"Ibu apa dia adikku?." Tanya Hino yang masih menatap wajah tidur adiknya.


"Iya." Jawab Kiku masih memandangi wajah 'putranya' ini.


"Dia tampan sekali." Hino yang sangat gemas mencoba untuk menekan-nekan pipi adiknya ini.


"Hei jangan dipegang nanti dia bangun" Tegur Kiku agar Hino berhati-hati dan tidak membangunkan adiknya.


"Kenapa bu?. Apa dia tidak suka, ya?." Ujar Hino sedih.


"Bukan begitu. Tapi..."


"Ayah pulang." penuturan Kiku terpotong oleh suara pintu depan yang terbuka. memberi sinyal bahwa Sang kepala keluarga telah pulang.


"Ayah." Hino berteriak sambil menarik salah satu tangan ayahnya untuk bertemu dengan anggota baru keluarga mereka.


"Ada apa Hino?." Tanya sang kepala keluarga, Ryosuke pada sang putra.


"Lihat adik Hino. dia tampan kan?." Kata Hino sambil menunjuk adik bayinya itu.


Sementara itu, Kiku hanya tersenyum sambil memperlihatkan bayi tersebut.


"Hino pergilah kembali ke kamarmu." Perintah Ryosuke pada putranya.


"Eh?." Hino kaget bahwa ayahnya tiba-tiba menyuruh dia untuk pergi. Apakah ayahnya tidak senang dengan adik bayi?.


"Ini Perintah." Tidak ingin dibantah, Ryosuke kini memaksa anaknya untuk masuk kedalam kamarnya.


"Baiklah." Balas Hino kemudian meninggalkan Kedua orangtuanya dan adik barunya.


Setelah pintu sang Anak tertutup, Ryosuke kini melihat kearah sang istri yang tengah menggendong bayi asing tersebut.


"Siapa anak itu?." Tanya Ryosuke penuh selidik


"Dia putramu." Jawab Kiku yang masih sibuk mengelus rambut bayi tersebut.


"Putraku?. Jangan konyol!." Kata Ryosuke yang tidak percaya akan omongan Kiku.


"Dia adalah putramu. Ketika kau dan Nona Asahina berada dalam satu misi, Kalian terpengaruh sihir sehingga kalian memiliki anak." Jelas Kiku dengan sabar pada suaminya apa yang terjadi.


"Itu hanya omong kosong." Bantah Ryosuke sekali lagi


"Tapi aku tahu kalau ini memang putramu." Kiku yang tidak tahan dengan semua elakan Ryosuke kini berusaha melindungi bayi tersebut.


"Bagaimana kau bisa yakin?." Ryosuke kini bertanya bagaimana bisa istrinya mengatakan bahwa anak ini adalah anaknya. sementara mungkin saja banyak orang lain diluar sana yang memiliki ciri fisik yang sama dengan dirinya.


"Dia memiliki semua ciri-ciri fisik yang sama denganmu. bahkan dia memiliki tanda lahir berbentuk matahari sama seperti dirimu." Balas Kiku membeberkan bukti bahwa bayi yang ada di pelukannya ini adalah bayi Ryosuke.


Ryosuke yang sudah lelah berdebat dengan sang istri kini berusaha untuk mengambil bayi tersebut dari Kiku. Tetapi, Kiku langsung memeluk bayi itu lebih erat lagi seolah-olah tidak ingin dipisahkan.


"Apa yang ingin kau lakukan?." Tanya Kiku dengan nada protektif

__ADS_1


"Aku akan membuangnya." Ujar Ryosuke to the point membuat Kiku membelalakkan matanya. Apakah suaminya ini sudah gila?.


"Tidak akan aku biarkan kau melakukannya." Tolak Kiku masih mempertahankan bayi mungil itu.


"Kenapa kau begitu ingin merawatnya?. Apakah karena kau masih merasa bersalah atas keguguranmu itu." Ryosuke tidak habis pikir. Kenapa Kiku mau merawat bayi yang bahkan bukan darah dagingnya itu. Apakah Kiku masih mengharapkan seorang anak sampai-sampai anaknya dari wanita lainpun rela ia rawat.


"Tidak. aku hanya berpikir kalau meskipun bayi ini lahir dari sebuah kesalahan bukan berarti kita bisa menyamakan dia dengan barang yang bisa kita buang." Ya. Itulah yang ada dipikiran Kiku. Ia tahu bahwa suaminya berbuat salah. Tetapi, membenci anak ini bukanlah hal yang bisa ia lakukan.


Dia tidak pernah membeda-bedakan Hino dan bayi ini. mereka berdua adalah anaknya, meskipun Bayi ini tidaklah lahir dari dirinya.


Ryosuke yang mendengar hal itu hanya bisa pasrah. Ia sudah lelah dengan sikap istrinya ini.


"Terserah padamu." Ujar Ryosuke melenggang pergi ke kamar mereka


Melihat Itu, Kiku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Ryosuke mencoba membuang anaknya ini.


Bicara soal bayi, Kiku hampir saja melupakan hal yang simpel tetapi penting.


"Ah iya aku lupa belum memberikanmu nama." Ujar Kiku sambil melihat bayi mungilnya ini.


"Kira-kira siapa, ya?." Kiku kemudian berusaha berpikir hingga satu buah nama muncul di otaknya.


"Oh iya. Aku ingat ibumu merupakan putri Walikota vesper. Dan vesper juga berhubungan dengan arah Barat. Dan Arah Barat ada disebelah kiri. jadi namamu adalah Sasuke." Kata Kiku dengan nada penuh kasih sayang di dalamnya.


Hal tersebut membuat sang bayi menampakkan netra lapis lazulinya. Bayi itu tak lama kemudian tertawa riang dipelukan Kiku


"Kau menyukainya?. Syukurlah." Ujar Kiku yang masih senang bermain dengan putranya ini.


...****************...


3 tahun kemudian.


"Ibu." Panggil Hino dan Sasuke bersamaan.


"Eh. kalian sudah pulang." Melihat kedua anaknya telah kembali, Kiku kemudian memeluk kedua putranya itu


"Aku kangen ibu." Ucap Sasuke yang masih memeluk ibunya dengan erat.


"Ibu juga sayang padamu." Balas Kiku lalu kemudian melepaskan pelukannya


"Ibu." Panggil Hino pada ibunya


"Ada apa, Hino?." Tanya Kiku pada putra sulungnya.


"Bibi Apple datang berkunjung." Kata Hino memberi tahu ibunya.


"Suruh dia masuk, ya." Perintah Kiku dengan Sasuke yang masih setia mengekor di belakang ibunya.


Setelah Hino mempersilahkan sang bibi masuk, Kiku kini menyambut adiknya dengan senyum bahagia.


"Kakak. Apa kabar?." Tanya Apple saat melihat kakaknya telah ada di depan.


"Kakak baik-baik saja." Balas Kiku tersenyum.


Apple melihat kakaknya sekilas sebelum ia menoleh dan melihat Sasuke berdiri dibelakang Kiku.


Mengetahui bahwa ini pasti berhubungan dengan Sasuke, Kiku segera meminta kedua putranya untuk pergi ke kamar.


"Hino, Sasuke. kalian bermain di kamar ya." Perintah Kiku pada kedua putranya.


"Baik."


Tanpa membuang-buang waktu, kini kedua putra Kiku meninggalkan Ruang Tamu menuju kamar mereka.


...****************...


"Ada apa?." Tanya Kiku tanpa berbasa-basi


"Kak. kenapa kau masih saja merawat anak itu?." Ujar Apple yang merasa risih dengan kehadiran Sasuke.


"Dia keponakanmu, Apple." Kata Kiku masih berusaha membujuk adiknya agar mau menerima putra bungsunya.


"Tidak. Dia bukan keponakanku." Elak Apple tidak mau menganggap Sasuke keponakannya.


"Kau sama seperti kakak iparmu." Kiku kini membandingkan sang Adik dengan sang suami yang tidak mau menerima Sasuke.


"Kak aku mohon jangan merawat anak itu, dia pembawa masalah." pinta Apple yang tidak ingin Kakaknya dalam masalah


"Kakak tidak pernah merasa Sasuke seperti itu. Kau berlebihan, Apple." Balas Kiku yang merasa bahwa Apple berlebihan


"Kak. Dia tidak akan membuatmu bahagia." Apple masih bersikukuh pada keinginannya agar Kiku membuang Sasuke.


"Apple. sudah berapa kali kakak bilang kalau....:


"PRANG"


Sebuah piring pecah memotong percakapan Kiku dan Apple. Tidak ingin melihat masalah, Apple memutuskan untuk segera pulang


"Maafkan aku, Ayah." Mohon Sasuke agar sang ayah mau memaafkannya


"Ikut Aku sekarang." Paksa Ryosuke sambil menarik tangan anaknya.


"Aku mohon maafkan Sasuke Ayah. Dia hanya ingin menyuguhkan teh dan cemilan pada Bibi." Hino berharap agar ayahnya mau memaafkan adiknya. Namun sepertinya, sang ayah tidak akan pernah mau untuk memaafkan adiknya.


"Jangan ikut campur, Hino." Bentak Ryosuke pada putra sulungnya. Ia kemudian melihat kearah Sasuke yang masih ketakutan.


"Ayo ikut." Paksa Ryosuke yang masih menatap putranya dengan penuh amarah.


Tak lama kemudian, Kiku datang dan melihat apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?." Tanya Kiku saat ia berada di dapur. Alangkah terkejutnya ia melihat Ryosuke menarik paksa Sasuke hingga sang putra kesakitan.


"Ryosuke. jangan kasar pada putra kita." Ucap Kiku sambil melepaskan Sasuke dari genggaman Ryosuke.


"Ini semua karena anak ini. Dia hanya membawa sial saja." Umpat Ryosuke pada Putra bungsunya.


"RYOSUKE HENTIKAN." Teriak Kiku sambil melindungi telinga Sasuke dari ucapan kasar sang ayah.

__ADS_1


"Dengar sekali lagi kalau anak ini berbuat masalah maka aku tidak segan-segan menghukumnya." Ancam Ryosuke kemudian meninggalkan mereka bertiga sendirian.


...****************...


Berbulan-bulan kemudian, berbagai masalah bermunculan, dimulai dari Kiku yang terus-terusan sakit hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ibu." Isak Sasuke sambil meneteskan air matanya.


"Sasuke. Jangan menangis, ya." Ujar Kiku lemah. Ia menyekah air mata putra bungsunya tersebut.


"Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak pernah hadir dalam hidup ibu, ibu tidak akan menderita seperti ini." Ujar Sasuke menyalahkan dirinya sendiri.


"ini bukan salahmu, sayang." Balas Kiku meminta Sasuke untuk menyalahkan dirinya sendiri.


"T-Tapi."


"Sasuke." Kiku memohon ucapan Sasuke. sepertinya ini akan menjadi hal terakhir yang bisa ia lakukan pada putranya ini.


"Ibu sayang padamu. kau juga anak ibu. jadi jangan menangis." Ucap Kiku pada Sasuke untuk terakhir kalinya.


"Baik." Balas Sasuke mematuhi Perintah Kiku


"Hino." Panggil Kiku pada Hino.


"Baik." Balas Hino berusaha tetap tegar


"Tolong jaga adikmu, ya." Mohon Kiku pada Hino untuk menjaga Sasuke.


"Aku mengerti." Balas Hino dengan nada bergetar.


setelah mendengar jawaban itu, Kiku menutup matanya untuk selamanya.


"Ibu. Ibu?.IBUUUUU." Teriak Sasuke sambil mengguncang tubuh Kiku.


...****************...


Sementara itu, Ryosuke Tidak pernah pulang dan selalu pergi keluar kota bahkan kerajaan agar dia tidak bertemu dengan anak tersebut.


"Shawn. beri aku tugas sekarang." Perintah Ryosuke sedikit memaksa.


"Apa kau tidak ingin mengambil istirahat?." Tanya Shawn merasa bahwa Ryosuke terlalu memaksakan diri.


"Cepat beri aku misi lagi." Paksa Ryosuke.


"Baiklah." Jawab Shawn pasrah. Ia kemudian memberikan tugas pada Ryosuke.


...****************...


"Hino, Sasuke." Panggil Shawn setelah mengumpulkan Sasuke dan Hino ke kantornya.


"Ada apa?, King Regent." Tanya Hino penasaran. Tidak biasanya Shawn memanggil mereka kemari.


"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian."Ujar Shawn sambil mengambil nafas. sejujurnya, ia tidak ingin memberitahukan hal ini mengakibat ibu mereka baru saja meninggal. tetapi, ia harus memberitahu mereka karena Ryosuke adalah Ayah mereka.


"Apakah ada sesuatu?." Tanya Sasuke cemas.


"Ayah kalian meninggal saat ia bertugas." Umum Shawn.


Sasuke yang mendengar hal tersebut, terdiam. tetapi, raut matanya jelas menunjukkan kesedihan dan trauma.


"Sasuke." Panggil Hino yang mencemaskan Sasuke.


Sasuke tidak mendengarkan Panggilan kakaknya berlari meninggalkan Ruang kerja Shawn.


"Sasuke" Panggil Hino dan Shawn bersamaan.


Hino kemudian pamit dan segera menyusul adiknya.


"Sasuke. kau kenapa?." Tanya Hino setelah mampu menghentikan sang Adik berlari.


"Ini semua salahku." racau Sasuke menyalahkan dirinya sendiri.


"Sasuke." Panggil Hino berusaha untuk mendapatkan perhatian Sasuke yang masih menyalahkan dirinya sendiri.


'ini semua salahku. INI SEMUA SALAHKU." Teriak Sasuke yang masih terus menyalahkan dirinya.


"Sasuke." Panggil Hino berusaha untuk menenangkan adiknya.


"Aku membuat ayah dan ibu meninggal. Karena kehadiranku semua menderita." Sasuke menyalahkan dirinya atas kematian Kiku dan Ryosuke.


"Sasuke tenang." Hino masih Berusaha membujuk adiknya untuk tenang.


"AKU PEMBAWA SIAL."


"PLAK." Satu buah tamparan dilayangkan oleh Hino agar Sasuke mau mendengarkan dirinya.


"Maaf kakak sudah menamparmu. Tetapi Tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri." Kata Hino sambil meminta maaf pada Sasuke karena sudah menamparnya.


"Ibu dan Ayah meninggal karena sudah saatnya mereka untuk pergi. semua ini tidak ada hubungannya dengan dirimu. Jadi jangan menangis ya." Jelas Hino meminta Sasuke untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.


Sasuke hanya mengangguk. dia kemudian menangis di dada Hino. Hino hanya mengelus punggung Sasuke membiarkan Sasuke menangis sepuasnya hingga Sasuke bisa mengikhlaskan Semuanya.


...****************...


Present


"Kau sekarang mengerti bukan, Anak itu bukanlah Adikmu." Ucap Apple pada keponakannya.


"Dia tetaplah adikku. Berbeda ibu atau bukan. Sasuke adalah adikku." Balas Hino yang masih menganggap Sasuke adalah adiknya.


"Hino. Anak itu hanya membawa kehancuran. Karena kehadirannya, Ibumu mati ayahmu juga mati." Apple masih memperingatkan Hino untuk tidak dekat-dekat dengan Sasuke.


"Semuanya tidak akan terjadi kalau Ayah mau menerima Sasuke. Dan Bahkan ibu juga sudah mengatakan padaku kalau Apapun yang terjadi, Sasuke tetaplah adikku."


Ujar Hino kini pergi meninggalkan Apple, Azuna, dan Sakuraba.


TBC

__ADS_1


__ADS_2