
Setelah kepergian Hino, Azuna kini mencoba untuk berbincang agar Apple mau menerima Sasuke.
"Nona Apple." Panggil Azuna pada Apple membuat dia melihat pada Mentor putrinya itu.
"Coba anda ingat-ingat. Pernahkah Sasuke menyakiti hari anda secara langsung?."
Pertanyaan Azuna membuat Apple kembali mengingat apa yang terjadi di masa lalu.
"Jujur. Sasuke tidak pernah menuntut anak anda untuk memanggilnya sebagai Kakak sepupu. Karena dia tahu Anda memaksa Zakuro untuk tidak menyebut Sasuke sebagai kakak." Azuna mengingat bagaimana dia tidak pernah melihat Zakuro memanggil Sasuke sebagai kakak. Meskipun teman-teman yang lain sudah memperingati dirinya.
"Dari cerita anda barusan, Meskipun anda membenci Sasuke. Dia tetap menyayangi anda karena anda adalah adik dari ibunya." Azuna memperhatikan dengan jelas dari cerita Apple barusan, Sasuke tidak pernah membenci Apple. Terlihat dari caranya mencoba untuk memberikan sang bibi air minum dan cemilan. meskipun pada Akhirnya ia berakhir dimarahi sang Ayah.
"Ketika anda mengacuhkan dirinya, dia tetap berdiam dan menunggu anda mengajak dia berbicara walaupun, anda melakukannya dengan terpaksa." Sebelum datang kesini, Azuna mendengar dari murid-muridnya yang lain kalau Sasuke tidak pernah diajak bicara oleh Apple. Dan yang selalu mengajaknya untuk ikut bergabung dalam pembicaraan adalah orang selain Apple.
"Hanya karena dia disebut sebagai pembawa sial, apakah anda begitu tega melukai perasaan seorang anak yang dirawat dan disayang oleh kakak anda?." Kini Azuna mulai mencoba mengingatkan Apple betapa sayangnya Kiku meskipun Sasuke bukanlah darah dagingnya sendiri.
Tanpa Apple sadari, Air mata telah membasahi pipinya. dia menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan Apakah dia sebegitu kejamnya pada Anak itu?.
"Tolong pikiran apa yang saya ucapkan ini." Kata Azuna sambil beranjak dari tempatnya
"Ayo pergi, Sakuraba." Kini Azuna mengajak Sakuraba untuk meninggalkan Apple sendirian menyesali apa yang sudah ia perbuat.
...****************...
"Akiko." Panggilan dengan familiar terdengar di telinga Akiko.
"Akiko." Panggil Suara tersebut lagi membuat Akiko perlahan-lahan membuka matanya.
"ng."
"Syukurlah kau sudah sadar." Ucap Suara tersebut yang ternyata berasal dari Sasuke.
Begitu terbangun, Akiko kaget mendapati Sasuke yang sekarang berada di balik jeruji dengan kedua tangan yang terborgol.
"Sasuke?." Panggil Akiko memastikan bahwa yang dihadapannya ini memang Sasuke.
"Iya ini aku." Balas Sasuke meyakinkan temannya ini kalau dia adalah Sasuke.
"Apa yang kau lakukan disini?. Bukankah saat ini Tasan sedang..."
"Dengar waktuku tidak banyak. Jadi tolong dengarkan Aku." Sasuke memotong perkataan Akiko karena menurutnya ada hal yang lebih penting ketimbang tubuhnya yang direbut paksa oleh Tasan dan mengurung jiwanya disini.
"Aku mengerti." Balas Akiko mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Sasuke.
"Meskipun Tasan telah mengambil tubuhku, Tapi aku ingin kau waspada terhadap. Seseorang yang lebih berbahaya daripada Tasan."
"Siapa Maksudmu?." Tanya Akiko tidak memahami siapa yang dimaksud oleh Sasuke.
"Aku tidak tahu siapa dia. Tetapi jelas Tasan berusaha untuk membangkitkan dia kembali." Balas Sasuke tidak mengetahui siapa orang tersebut.
"Bagaimana cara agar kami bisa menghentikannya?." Tanya Akiko apakah ada cara untuk mencegah kebangkitan seseorang tersebut.
__ADS_1
"Ada waktu dua tahun untuk dia bangkit. Tetapi dengan kekuatan kita yang sekarang, kita akan kalah." Jelas Sasuke mengenai situasi saat ini.
"Tap. Tap."
Suara langkah kaki mulai terdengar di telinga Sasuke dan Akiko.
"Siapa itu?." Tanya Akiko pada Sasuke yang sedang berkeringat dingin.
"Dia disini." Ujar Sasuke ketakutan.
"Eh."
"Cepat pergi." Dengan kekuatan yang ia punya, Sasuke berhasil membuat Akiko pergi dari tempat ini.
...****************...
"Ah."
Akiko kini terbangun dari tidur panjangnya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah ruangan serba putih layaknya kamar rumah sakit.
"Dimana aku?." Tanya Akiko Entah pada siapa.
"Akiko-Chan. Kau sudah sadar?." Tanya Seseorang yang membuka kamar rawatnya. ternyata dia adalah Nina.
"Nina?." Kata Akiko memastikan bahwa yang sekarang ada dihadapannya adalah Nina.
Nina yang sudah tidak sabar, kini memeluk Akiko dengan erat seolah-olah tidak ingin kehilangan.
"Maaf sudah membuatmu cemas." Balas Akiko sambil mengusap kepala Nina.
"kriet."
Pintu kamar kembali terbuka. Kini seluruh teman-teman dari kelas Margery datang untuk melihat kondisinya.
"Akiko-Chan." Panggil Hanada yang kini juga ikut memeluknya seperti Nina.
Begitu juga dengan Zakuro dan Annie yang juga ikut memeluknya.
"Syukurlah. Syukurlah." Ucap Hanada mengucap syukur karena temannya telah sadar kembali.
"Semuanya. Maafkan aku, ya." Maaf Akiko pada semua teman-temannya.
Akiko kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. mendapati bahwa seseorang tidak bersama mereka.
"Jadi kita gagal, ya." Ujar Akiko menyadari bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan Sasuke dari pengaruh Leah.
Semua hanya bisa menundukkan kepala mereka. membenarkan ucapan Akiko bahwa mereka gagal.
Sakuraba terdiam sebentar sebelum ia mengucapkan sesuatu yang ingin dia utarakan pada teman-temannya.
"Teman-teman ada yang ingin aku katakan pada kalian." Ucap Sakuraba membuat semuanya menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Ini mengenai Sasuke. Jadi kumohon dengarkan." Ujar Sakuraba menekankan setiap kata-katanya.
...****************...
Setelah mendengarkan cerita dari Sakuraba, semua anggota Kelas Margery mulai paham mengapa Zakuro tidak pernah memanggil Sasuke dengan sebutan Kakak. atau Sasuke yang tidak mempermasalahkan sifat Zakuro itu.
"Aku tidak begitu kaget akan hal itu." Kata Igarashi memecah keheningan.
"Bakasuke pernah bilang padaku kalau Ayah kandungnya tidak pernah sayang padanya. Dan yang menyayangi dirinya hanyalah Ibu yang bahkan tidak pernah melahirkannya dan Hino, kakaknya." Lanjut Igarashi mengingat perkataan Sasuke saat mereka masih kecil dulu.
Semua kembali terdiam sambil membayangkan bagaimana sulitnya Sasuke untuk bertahan dari siksaan ayahnya.
"Kau bilang Sasuke terlahir dari Kota Vesper?." Tanya Arashi pada Sakuraba.
"Begitulah yang aku dengar dari cerita Nona Apple." Jawab Sakuraba
"Aku baru ingat. Kota Vesper dianggap sebagai Kota sarang orang-orang berkelakuan buruk." Kata Nina memotong penjelasan Sakuraba.
"Kota berkelakuan buruk?." Kata Noel memastikan.
"Jujur tidak ada satupun penyihir disana yang memiliki sifat baik . Termasuk sang wali kota sendiri. Dan yang aku dengar hanya satu orang wanita saja yang dianggap baik layaknya permata." Jelas Nina pada semua temannya ini.
"Siapa dia?." Tanya Ichika penasaran.
"Dia adalah Nona Asahina, Ibu kandung Sasuke-Kun." Jawab Nina membuat semua orang kecuali Igarashi kaget mendengarnya.
"Nona Asahina adalah wanita yang cukup disegani oleh semua orang. Berkat dia, Kota Vesper yang dipandang sebelah mata oleh orang lain, kini berubah menjadi salah satu kota yang diunggulkan." Ujar Nina membangga-banggakan Ibu Sasuke.
"Tetapi, Semenjak kematian Asahina banyak orang yang kembali tidak mempercayai Kemampuan Kota Vesper." Ujar Kenichi yang memberi tahu bahwa Kota Vesper kembali menjadi Kota yang buruk.
"Teman-teman." Kata Akiko tiba-tiba membuat semua mata fokus padanya.
"Aku merasa kepalaku sedikit pusing akibat fakta yang kalian beberkan ini." Keluh Akiko sambil memegang kepalanya yang mulai terasa sakit.
"Maaf sudah membuatmu seperti ini, Akiko." Kata Sakuraba yang merasa menyesal membuat Akiko yang baru saja siuman, sakit kembali.
"Tidak apa-apa." Ujar Akiko memaafkan Sakuraba.
"Tapi..." Akiko menjeda ucapannya sebentar.
"Ketika aku sembuh nanti, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian dan juga King Regent." Lanjut Akiko sambil menoleh kearah Nina.
"Baiklah. Untuk sekarang, berisirahatlah terlebih dahulu. Agar kau bisa pulih kembali." Kata Igarashi kemudian meninggalkan kamar rawat Akiko yang kemudian diikuti oleh semua teman mereka.
Setelah seluruh Anggota Kelas Margery pergi, Akiko kini mencoba meminta bantuan Nina.
"Nina." Panggil Akiko kepada Nina. Nina hanya membalasnya dengan menoleh kearah Akiko.
"Aku minta tolong padamu untuk bisa bertemu dengan Ayahmu." Mohon Akiko agar Nina mau mempertemukan dia dengan Ayahnya.
"Baiklah." Jawab Nina bersedia membantu Akiko.
__ADS_1
TBC