
"Ayo mulai." Seru Igarashi sambil bersiap-siap dengan panahnya.
"AWAS KAU BOCAH." Balas éclater sambil mempersiapkan serangannya.
"Ellab ed emmalf erion."
"ehcèlf ed cegla."
Kedua serangan tersebut saling bertumbukan hingga membuat tempat disekitar mereka sedikit rusak.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan serangan itu?." Ucap éclater merendahkan kemampuan Igarashi.
"Kau pikir dengan kemampuanmu itu, kau bisa berbuat meremehkan dirimu?." Balas Igarashi tidak kalah sengit.
Merasa terpancing dengan balasan Igarashi, éclater mulai menyerang kembali Igarashi. "Kurang ajar kau bocah."
"Jangan seenaknya merendahkan diriku." Balas Igarashi yang sekali lagi menggunakan panah miliknya untuk menyerang.
Sementara itu, Hikawa terus melihat Igarashi dengan tatapan sendu. Ia melihat bahwa Igarashi memaksakan dirinya sendiri karena ingin terlepas dari bayangannya.
'Igarashi.' Batin Hikawa sedih.
...****************...
Flashback
"Ayah. Ayo main." Ajak Igarashi yang masih berusia lima tahun pada ayahnya. Namun Sepertinya itu tidak akan bisa. Dikarenakan Hikawa kini sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Maaf ya, Ayah sedang ada misi. nanti kita main lagi." Ujar Hikawa menolak permintaan Igarashi dengan halus.
Igarashi yang mengerti betapa sibuknya sang ayah, memutuskan untuk meninggalkan Ayahnya dan bermain sendiri...
...lagi.
...****************...
Setelah pulang dari kegiatan amal di Panti Asuhan bersama sang ibu, Igarashi berusaha untuk menemui sang Ayah dan menceritakan apa yang dia alami disana.
"Ayah denger nggak. Tadi aku ikut ibu ke Panti Asuhan. dan tadi aku bertemu...."
" Maaf ya, Igarashi. Ayah dapat panggilan dari King Regent. Jadi Ayah pergi dulu." Ucap Hikawa memotong cerita Igarashi.
Lagi-lagi. Igarashi kembali mendapat penolakan dari sang Ayah. Sudah berkali-kali ayahnya tidak mau mendengar ceritanya atau bahkan menerima ajakannya.
Dan Semenjak hari itu, Igarashi tidak pernah lagi meminta sang Ayah untuk menemani dirinya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk pergi ke Panti Asuhan dan bermain dengan teman barunya.
...****************...
Hari ini adalah hari dimana Hiyama Momoka lahir kedunia. Tetapi meskipun begitu, tidak merubah hubungan antara Sang Ayah dan Putra yang mulai merenggang.
"Igarashi. Lihatlah adikmu." Ajak Hikawa agar Igarashi mau melihat adik perempuannya yang baru lahir.
Tetapi, Igarashi tidak begitu peduli. Ia hanya meninggalkan Kedua orangtuanya dan juga adiknya pergi tanpa sepatah katapun.
"Igarashi." Panggil Hikawa sedikit Berteriak.
"Biarkan dia sendiri dulu." Ujar Mizumi agar Hikawa membiarkan Igarashi melakukan apa yang dia inginkan.
Hikawa hanya menuruti apa yang diucapkan oleh Mizumi karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada putranya.
...****************...
"Kemana Igarashi?." Tanya Hikawa tidak melihat kehadiran Igarashi dirumah.
"Dia pergi bermain dengan anak-anak Panti Asuhan." Jawab Mizumi yang sedang memasak.
"Oh. Iya kalau kau tidak sibuk, Bagaimana kalau kau bantu aku merawat Momoka?." Tanya Mizumi mengetahui bahwa karena hari ini Suaminya mendapatkan jatah liburan dari King Regent.
Sebelum mampu menjawab pertanyaan Mizumi, terdengar suara pintu terbuka. Tidak lama kemudian, Muncullah Igarashi yang masuk kedalam rumah dengan wajah datar.
"Igarashi kau sudah pulang?." Tanya Mizumi yang sedang menyiapkan makanan bagi suaminya.
"Ada barang yang ketinggalan." Kata Igarashi sambil mengambil boneka manusia salju serta boneka godzilla lalu kemudian pergi lagi kearah pintu.
"Aku pergi dulu. dah." Pamit Igarashi tidak mempedulikan tatapan bingung dari Hikawa.
"Entah kenapa aku merasa diabaikan olehnya." Gumam Hikawa melihat kelakuan sang putra.
__ADS_1
'Itu karena kau duluan yang mengabaikan dirinya.' Batin Mizumi membalas ucapan Hikawa.
...****************...
"Dia hebat." Puji salah seorang guru saat melihat Igarashi berhasil menjalankan ujian prakteknya dengan baik.
"Tentu saja dia hebat. Dia anak Hikawa-san. pasti hebat." Kata Guru lain memberikan alasan mengapa Igarashi bisa sehebat itu.
"Benar juga, ya." Kata guru yang memuji Igarashi membenarkan pernyataan rekannya.
Entah kenapa Igarashi yang mendengar hal tersebut merasa risih karena semua dikaitkan dengan ayahnya.
...****************...
"Lihat itu anak Hikawa-san, bukan?." Tanya Siswa dari Middle Class saat melihat Igarashi dan Sasuke yang sedang makan di kantin.
"Benar." Balas Siswi yang berada disampingnya.
"Aku dengar dia adalah peraih nilai tertinggi dalam Ujian awal semester." Lanjut Siswa yang lain memuji Igarashi.
"Benarkah itu?." Tanya Siswi yang tidak percaya akan hal tersebut.
"Tidak mengherankan. Ayahnya saja kuat apalagi anaknya." Kata Siswi yang lain lagi-lagi mengaitkan kemampuannya berkat sang ayah.
Igarashi yang mendengar hal tersebut tiba-tiba terdiam. Dia merenungkan apa yang diucapkan oleh kakak kelas mereka kini membuatnya merasa kecewa karena semua melihat kerja kerasnya berkat sang ayah.
'Kenapa mereka selalu menyamakan Ayah dengan aku.' Batin Igarashi yang merasa tidak senang dibandingkan lagi dengan ayahnya.
"Igarashi." Panggil Sasuke yang merasa Igarashi terus-terusan murung.
"Ada apa, Sasuke?." Balas Igarashi yang merasa dirinya dipanggil oleh sang sahabat.
"Apa ada yang membuatmu sedih?." Tanya Sasuke cemas. Dia tahu kalau ayah Igarashi adlh orang yang hebat. Tetapi, Dia tahu kalau Igarashi sangat kuat.
"Tidak ada apa-apa." Balas Igarashi berusaha untuk tidak membuat sahabatnya cemas.
"Ayo kita pergi bermain." Ajak Sasuke sambil menarik Tangan Igarashi untuk pergi meninggalkan kantin.
...****************...
"Bagaimana mungkin?." Ucap anak yang lain tidak percaya.
"Kenapa dia bisa kalah?. Seharusnya dia bisa menang, bukan?." Lanjut Anak-anak yang lain saat mengetahui bahwa Igarashi telah dikalahkan.
"Dia putra Hikawa-san. Seharusnya dia bisa mengalahkan anak itu." Kata Seorang anak yang Lagi-lagi membuat Igarashi merasa kesal.
Meskipun dia adalah anak seorang kepala pasukan Kerajaan, dia masihlah seorang anak dari kelas Junior. Dikalahkan oleh Anak yang dari Middle Class bukanlah hal yang asing. Tetapi kenapa Lagi-lagi ayahnya diikutkan.
Dia sudah benar-benar tidak tahan lagi.
...****************...
"Aku pulang." Ucap Igarashi setelah dia pulang dengan perasaan kesal.
"Selamat datang." Balas Mizumi mempersilakan Igarashi untuk duduk di Ruang tamu. Tidak lama setelah ia duduk, Sang Ayah datang dan berusaha untuk mengajaknya untuk berbincang.
"Igarashi." Panggil Hikawa berusaha mendapatkan perhatian sang anak. Tetapi Igarashi tidak mempedulikan sang ayah.
"Apa yang kau lakukan seharian ini?." Tanya Hikawa tidak menyerah mendapatkan perhatian sang ayah.
"Apa kau tidak ingin cerita pada Ayah?." Tanya Hikawa sambil mengajak putranya untuk bercerita padanya.
"Apakah ada sesuatu yang menganggumu?." Tanya Hikawa sekali lagi berusaha agar putranya mau berbicara padanya.
"Apa yang terjadi padaku bukan urusan Ayah. Ayah cukup fokus saja dengan pekerjaan Ayah." Jawab Igarashi meninggalkan Ayahnya serta ibunya pergi dari ruangan.
End Flashback
...****************...
"Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi padamu." Gumam Hikawa masih melihat Igarashi yang sedang berusaha sendirian.
"Kau yang dulu suka bermanja-manja dengan Ayah, kini berubah menjadi seorang anak yang mandiri." Masih jelas diingatan Hikawa Igarashi selalu menyambutnya dengan ramah dan selalu tersenyum setiap kali dia pulang.
"Entah karena keadaan, atau kau hanya ingin menutupi kesepianmu?." Ucap Hikawa mempertanyakan apakah berubahnya Igarashi berkaitan dengan reputasinya.
...****************...
__ADS_1
"Akh." Igarashi kini tersungkur akibat serangan yang ia terima dari éclater. Hal ini membuat éclater tertawa menghina dirinya.
"Kau pikir kau dengan kemampuan seperti itu, kau bisa menjatuhkanku?. Jangan membuatku tertawa." Kata éclater menyombongkan diri.
"Lihatlah. kebodohanmu itu membuatmu tidak berdaya melawanku." Ejek éclater yang melihat Igarashi yang berusaha untuk bangkit akibat serangan api hitam tadi.
"Andai saja kau kabur dan membiarkan Ayahmu bergerak, Semua akan lebih cepat. Hahahahahah." Kata éclater berusaha memancing emosinya dengan mengaitkannya dengan ayahnya lagi.
Cukup. Dia sudah lelah. Dia tidak mau lagi berada dalam bayang-bayang ayahnya lagi.
"Diam kau." Bentak Igarashi kesal.
"Oh. Kenapa?. Tidak terima?." Tanya éclater sedikit memancing emosi Igarashi.
"Aku bilang diam kau." Bentak Igarashi lagi berusaha menutup mulut besar éclater
"Kau tak tahu apa-apa soal diriku. Kau tidak pantas untuk menghina diriku hanya karena aku lemah." Sambung Igarashi sambil berusaha menekan emosinya.
"Tapi memang begitu kenyataan bukan?." Lagi-lagi éclater berusaha membuat Igarashi marah.
"Karena itulah, Kau tidak paham tentang diriku." Balas Igarashi berusaha untuk tidak terpengaruh dengan hinaan éclater.
"Terlahir dari seorang ayah yang terkenal. Ketika kau menang melawan seseorang mereka akan melihat bahwa itu semua karena kau adalah anak seseorang. Dan ketika kau dikalahkan, kau akan dihina karena kau tidak bisa seperti ayahmu." Kata Igarashi menjelaskan bahwa meskipun ucapan éclater benar, bukan berarti dia bisa dibanding-bandingkan dengan Hikawa.
"Pernahkah kau berpikir untuk lepas dari bayangan orang tuamu?." Tanya Igarashi berusaha membuat éclater sadar bagaimana kalau dia ada diposisinya.
"Pernahkah kau berusaha untuk bisa membuat semua orang percaya bahwa kau bisa karena kemampuanmu sendiri?." Tanya Igarashi sekali lagi. Berusaha membuat éclater sadar akan ucapannya.
Éclater yang tidak peduli, kini berlari kearah Igarashi. "Aku tidak peduli dengan semua omong kosongmu itu." Ujar éclater berusaha menyerang Igarashi.
"Dan yang lebih penting, Kau akan mati dan aku akan menyerahkan kepalamu pada Tasan Prince." Lanjutnya sudah bersiap dengan serangan api hitamnya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"egac à cegla."
Dengan tenang, Igarashi menyetuh tanah dengan tangannya. Tak lama kemudian, Sebuah kurungan es keluar dan memerangkap éclater didalamnya.
"Huh. kau pikir hanya dengan kurungan ini aku akan kalah?. Jangan Sombong." Kata éclater menyombongkan dirinya lagi.
Tetapi tak lama kemudian, Dia merasa ada hal yang aneh. Kurungan tersebut perlahan-lahan malah berusaha untuk membekukan dirinya.
"Apa?." Ujar éclater tidak percaya dengan apa yang telah menimpanya.
"Kurungan itu tidak hanya mengurungmu dengan es. Tetapi juga setelah kau masuk, maka hawa dingin didalamnya juga akan menurun drastis hingga mencapai absolute zero." Ujar Igarashi sambil menyiapkan panah miliknya.
"sengiv ed Cegla" Sebuah tanaman menjalar yang terbuat dari es kini membelit éclater dengan erat dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Akan ku akhirnya semua dengan serangan ini. Eiulp ed seroêtêm ed cegla." Igarashi melepas anak panahnya ke sebuah portal dan menghujani éclater dengan panah-panah es.
"AAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHHHH." Dengan itu, éclater tewas ditangan Igarashi.
" Dengan kekuatanku sendiri. Aku telah membuktikan kalau aku bisa mengalahkan dirimu." Ucap Igarashi berhasil membuktikan bahwa dia bisa menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri.
"clap-clap."
Suara tepukan tangan tersebut membuat Igarashi menoleh kearah Sang Ayah yang tersenyum bangga padanya.
"Kerja bagus." Puji Hikawa tersenyum. Tetapi Igarashi tidak mempedulikan hal itu dan segera bergegas menyusul teman-temannya.
"Ayo pergi." Ajak Igarashi agar mereka segera menyusul Akiko dan yang lainnya.
"Tunggu." Panggil Hikawa meminta putranya untuk mendengarkan dia sekali saja.
"Kita tidak punya banyak waktu." Tolak Igarashi yang sebenarnya berusaha untuk menghindari ayahnya.
"Igarashi dengarkan ayah sebentar saja." Paksa Hikawa yang berhasil membuat Igarashi menuruti keinginan Sang Ayah.
"Ayah tahu kalau kau merasa terbebani karena ketika kau menang atau kalah nama ayah selalu diikutkan sehingga kau tidak bisa membuktikan pada semua orang kalau ini hasil kerja kerasmu."
"Tetapi menurut ayah, kau justru telah membuktikan dirimu berbeda. Kau adalah dirimu sendiri, Igarashi." Lanjutnya berusaha menghibur Igarashi.
"Terima kasih." Ujar Igarashi membuat Hikawa senang.
Pada Akhirnya ayah dan anak kini segera menaiki Hover car milik Hikawa untuk menyusul akiko dan yang lainnya.
TBC
__ADS_1