Dreamy Magical

Dreamy Magical
Orphange


__ADS_3

Setelah peristiwa Kehancuran Kota Vesper dimata Azuna, Hikawa, Kelompok Alpha, Siswa-siswi Carmen, beserta Para penduduk Vesper yang selamat, Mereka kini berdiam sebentar sambil menunggu bala bantuan untuk mengevakuasi Penduduk Kota Vesper yang selamat.


Saat ini, Hikawa sedang menghubungi Mika menanyai Apakah ada Kota di Kerajaan Angel yang sekiranya dapat dihuni oleh Penduduk Kota Vesper yang selamat. Hal ini dikarenakan luas Kota Rella yang tidak mampu menampung orang-orang Kota Vesper. Belum lagi, Beberapa orang di Kota Rella mungkin akan memusuhi Pengungsi Kota Vesper karena menganggap mereka telah mengkhianati Kerajaan mereka.


"Aku mohon bantuanmu, Mika." Mohon Hikawa kemudian menutup Sambungan telepon.


"Bagaimana, Hikawa-san?." Tanya Hanada meminta kejelasan nasib Pengungsi Kota Vesper.


"Untuk sementara ini, Kalian semua akan kami ungsikan ke Kota Maribelle. Kota disana cukup asri. Sumber daya disana bisa kalian manfaatkan dengan mudah." Jelas Hikawa menjawab pertanyaan Hanada barusan.


"Kalian tidak kami izinkan untuk mendekati wilayah Kota Vesper. Karena kami khawatir apabila Tasan berusaha untuk menghancurkan Kota ini lagi." Lanjut Hikawa memperingatkan Pengungsi dari Kota Vesper. Hal ini dilakukan agar Pengungsi dari Kota Vesper tidak diserang oleh Tasan.


"Bagi anak-anak yang kehilangan orang tua, kami akan membawa kalian ke Panti Asuhan Kota Rella dimana Kalian dirawat dengan baik disana." Kata Azuna memberi tah anak-anak yatim piatu bahwa mereka akan tinggal di Panti Asuhan.


Hal ini dikarenakan Kota Rella hanya Kota satu-satunya yang memiliki Panti Asuhan berskala besar. Yang satu merupakan Panti Asuhan dimana Sasuke dulu pernah dibesarkan. Dan yang satunya lagi merupakan Panti Asuhan khusus putri.


...****************...


Setelah perjalanan panjang menuju Kota Rella, Akiko kini tiba untuk mengantarkan anak-anak yatim piatu pulang kerumah baru mereka. Sebuah Panti Asuhan dimana Sahabat kecilnya Dulu pernah dibesarkan.


"Selamat Siang." Kata Akiko mengucapkan salam pada Pengurus Panti Asuhan tersebut.


"Ah. Selamat siang." Balas Ibu Kepala Panti Asuhan bernama, Irene.


"Ibu Kepala, mungkin anda sudah lupa dengan Saya. Perkenalkan Nama Saya Akiko. Saya Teman Sasuke." Kata Akiko memperkenalkan dirinya mengantisipasi apabila Irene lupa padanya.


"Kamu Akiko-Chan?." Tanya Irene memastikan. Akiko kemudian menjawab dengan anggukan.


Irene kemudian menutup mulutnya tidak percaya. Ia tidak menyangka gadis kecil yang selalu mengajak Sasuke bermain kini sudah sebesar ini. "Ya tuhan. Kamu sudah tumbuh besar. Oh iya. Ada apa kamu kesini?." Tanya Irene masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Ibu Kepala. Saya mau menitipkan anak-anak yatim piatu dari Kota Vesper." Jawab Akiko sambil melihat anak-anak dari Kota Vesper yang akan dititipkan ke Panti Asuhan ini.


Irene yang melihat Anak-anak tersebut hanya merasa iba dan kasihan terhadap mereka.


"Aku sudah mendengar semuanya, Akiko-Chan." Kata Irene dengan lirih. Ia kemudian melihat staff Panti Asuhan yang lain agar ia mau membawa anak-anak yatim piatu ini untuk mendapatkan tempat tinggal.


"Yuna. Tolong siapkan Kamar untuk anak-anak ini." Perintah Irene pada Yuna.


"Baik." Balas Yuna lalu menggiring anak-anak tersebut untuk masuk kedalam.


Setelah anak-anak tersebut masuk, Akiko segera mengajak Irene berbincang mengenai Sasuke.


"Ibu Kepala." Panggil Akiko.


"Iya." Balas Irene sambil menoleh kearah Akiko.


"Ada yang ingin Saya tanyakan mengenai Sasuke." Ujar Akiko agar Irene mau meluangkan waktunya untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


Mengetahui apa maksud dari Akiko, Irene kemudian mengizinkan Akiko untuk mengobrol. "Kita bicarakan hal itu dikantorku." Ucap Irene menyuruh Akiko untuk berbincang di tempat lain.


...****************...


"Seperti yang kau tahu. Sasuke-kun adalah pribadi yang ceria dan suka sekali bermain dengan semua teman-temannya. Ia tidak memandang apakah dia laki-laki atau perempuan. Karena menurutnya, semua sama." Jelas Irene menceritakan masa lalu Sasuke semasa dia berada di Panti Asuhan.


Akiko tidak menepis semua hal itu. Karena dia tahu bahwa semua yang diucapkan oleh Irene memang benar. Tetapi, bukan hal itu yang menjadi topik pembicaraan Akiko.


"Kalau boleh saya tahu, apakah Sasuke pernah marah diluar batas?." Tanya Akiko mengganti topik pembicaraan.


"Pernah. Saat itu ada seorang anak yang meminjam buku yang dia baca. Tetapi karena bukunya sobek, Sasuke-kun marah dan mendorong hingga anak itu terluka. Setelah saat itu, Sasuke-kun tidak mau bermain dengan siapapun sampai anak yang dia luka mau mengajaknya untuk bermain." Jawab Irene jujur. Tetapi, Irene tidak begitu paham mengapa Akiko bertanya tentang hal sepele seperti itu.


"Apa alasan Sasuke tidak mau bermain?." Tanya Akiko pada Irene seolah-olah berusaha untuk mencari titik terang dari masalahnya ini.


"Dia takut kalau seandainya dia melukai teman-temannya lagi." Jawab Irene membuat Akiko terdiam.


Ternyata asumsi Akiko yang menyangka bahwa Sasuke sudah dikendalikan oleh Tasan sejak kecil memang benar.


"Sudah aku duga." Kata Akiko pelan membuat Irene penasaran.


"Memangnya ada apa, Akiko-Chan?." Tanya Irene tidak paham.


"Saya akan menjelaskannya. Tetapi, tolong persiapkan hati anda dengan baik." Pinta Akiko agar Irene tidak terlalu memikirkan berita yang akan dia katakan nanti.


"Baiklah." Balas Irene berusaha untuk menerima berita yang Akiko sampaikan dengan bijaksana.


"Mustahil. apa itu benar, Akiko-Chan?." Tanya Irene tidak percaya.


"Sasuke tidak memahami hal itu. Dia baru menyadarinya dua tahun yang lalu." Jawab Akiko memberitahu Irene. Sudah saatnya Irene tahu bahwa Sasuke sebenarnya telah dimanfaatkan oleh Tasan sejak ia masih kecil. Tetapi, Tasan mulai nekat menguasai tubuh Sasuke semenjak dua tahun yang lalu.


"Aku merasa bahwa setiap Sasuke marah, maka itu akan dimanfaatkan oleh Tasan untuk bertindak." Jelas Akiko mengambil kesimpulan dari penjelasan Irene sebelumnya.


"Kemungkinan besar itulah yang terjadi. Karena jika memang Sasuke-kun yang melakukan atas dirinya sendiri, maka Sasuke-kun tidak akan merasa begitu bersalah hingga mengurung diri di kamar." Balas Irene membenarkan perkataan Akiko.


"Akiko-chan." Panggil Irene membuat Akiko menoleh kearahnya.


"Ada satu buah surat yang ditinggalkan oleh Ayah Sasuke-kun sebelum dia meninggalkan Sasuke-kun dan Hino-kun di Panti Asuhan ini." Ujar Irene seraya memberikan Akiko secarik kertas yang berisi pesan untuk Sasuke.


"Untuk Putraku Sasuke.


Ayah minta maaf apabila selama ini Ayah telah melukai perasaanmu. Ayah tahu Kalau ayah bersalah. Tetapi, Ayah terpaksa melakukan ini demi melindungi dirimu dari seseorang yang jauh lebih mengerikan dari Ayah.


Apabila suatu saat nanti kamu membaca pesan ini. Ayah harap kau mau memaafkan Ayah.


Ryosuke."


"Seperti itulah pesan yang diberikan oleh Ryosuke-san untuk putranya." Kata Irene Menjelaskan isi pesan yang ditinggalkan oleh Ryosuke.

__ADS_1


"Itu artinya semua kekerasan yang dilakukan oleh Ryosuke-san hanyalah kamuflase demi menyelamatkan Sasuke dari Tasan." Kata Akiko menyimpulkan apa yang terjadi.


"Tapi sepertinya itu justru malah menyebabkan hal yang sebaliknya terjadi." Lanjut Akiko menyayangkan cara Ryosuke yang menggunakan kekerasan demi menolong Sasuke.


"Begitulah." Balas Irene membenarkan kesimpulan Akiko.


Akiko kemudian melipat surat tersebut dan memasukannya kedalam kantong sakunya. "Aku akan menyimpan surat ini dan akan aku berikan saat bertemu kembali dengan Sasuke." Ucap Akiko berjanji pada Irene.


"Saya mohon bantuannya, Akiko-Chan." Mohon Irene agar Akiko mau menyerahkan surat tersebut pada Sasuke. Ia tidak ingin Sasuke terus menerus berpikir bahwa ayahnya benci padanya.


"Tidak..." Balasan Akiko tiba-tiba terpotong oleh guncangan yang membuat semua orang diluar berlari ketakutan. Akiko dan Irene kemudian pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Sebelum mereka sampai diluar, Akiko melihat salah satu rumah terhantam oleh asteroid raksasa. Akiko dan Irene yang melihat peristiwa ini hanya bisa berkeringat dingin. "Apa yang sebenarnya terjadi, Akiko-Chan?." Tanya Irene yang tidak paham mengapa asteroid ini berada disini.


Akiko kemudian berpikir sejenak. Ia merasa bahwa Asteroid ini bukanlah karena faktor alam Tetapi serangan dari seseorang. "Jangan-Jangan." Ujar Akiko kemudian berlari keluar. Sepertinya ia tahu siapa pelaku dari penyerangan ini.


"Akiko-Chan?." Panggil Irene kebingungan.


"Ibu Kepala. Tolong jangan keluar dan tetap berlindung." Perintah Akiko semakin menjauh.


...****************...


"Akiko-Chan." Panggil Hanada dan Nina yang berlari kearah Akiko.


"Akiko." Dari belakang Hanada dan Nina, Azuna dan Igarashi bersamaan memanggil Akiko secara bersamaan.


"Hanada, Igarashi, Miss Azuna, Nina." Ucap Akiko setelah keempat orang tersebut berhenti didekatnya.


"Oh. Jadi inikah tempat dimana, Higashi Sasuke dibesarkan?." Kata Seseorang tiba-tiba membuat Akiko dan yang lainnya kaget.


"Black wings?." Ujar Hanada melihat siapa yang berbicara secara tiba-tiba tadi.


"Tempat yang bagus." Ucap Black wings tersebut.


"Tapi tidak lama lagi, tempat ini akan segera menjadi puing-puing tak berbekas." Lanjutnya tanpa menunjukkan sifat manusiawinya.


Akiko dan yang lain merasa kesal mulai mengeluarkan senjata andalan mereka.


"Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi." Balas Akiko geram. Ia tidak akan membiarkan Anak-anak yang baru saja dibawah kemari dihabisi begitu saja.


"Oh. Rupanya serangga-serangga kecil berusaha untuk melawan Rupanya." Balas Black Wings mengejek Akiko dan yang lainnya.


"Aku tidak akan membiarkan tempat ini hancur ditanganmu." Ujar Akiko dengan hati yang teguh.


"Karena itu, Bersiaplah untuk kalah." Lanjutnya telah bersiap dengan mace miliknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2