Dreamy Magical

Dreamy Magical
declaration of wars


__ADS_3

Ketika Tasan telah kembali ke Kerajaan Deimos, ia segera mencari keberadaan Vera. ini semua harus segera diluruskan. Ia menyuruh Dwarf, Black wings milik Vera untuk menghancurkan Panti Asuhan tempat HigashiSasuke dulu tinggal, bukan untuk membunuh Rella. Ia terus berjalan hingga akhirnya menemukan Vera sedang berada di kuil Black fire.


"Vera." Panggil Tasan dengan Nada penuh amarah.


"Ada apa, Prince?." Tanya Vera dengan nada penasaran. Tasan segera melepar mayat Black wingsnya tepat di hadapan Vera yang berdiri dihadapannya.


"Apa kau yang menyuruh Dwarf untuk menyerang Panti Asuhan itu?." Tanya Tasan sambil menunjuk mayat Dwarf.


"Itu memang benar." Jawab Vera membenarkan pertanyaan Tasan.


"Lalu apakah kau juga yang meminta Dwarf untuk menghabisi Rella?." Tanya Tasan sekali lagi meminta kepastian pada Vera apakah dia juga yang memberi perintah Dwarf untuk menghabisi Rella.


"Aku tidak mungkin melakukan hal itu, Prince. Kau bahkan melihatku memberi perintah pada Dwarf." Jawab Vera seolah-olah dia tidak pernah memberi perintah tersebut. Iapun juga mengingatkan Tasan bahwa Tasan juga ada disana ketika dia memberi perintah.


Tasan terdiam sebentar. Ia kembali mengingat-ingat saat Vera memberi perintah pada Dwarf. Memang benar, saat itu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Vera memberi perintah Dwarf untuk menyerang Panti Asuhan, bukan membunuh Rella. Tetapi jika bukan Vera, siapa yang memberi perintah?. Tasan terdiam berpikir hingga satu nama terlintas di kepalanya.


"LEAH." Panggil Tasan berteriak. Tidak lama kemudian, Leahpun muncul dihadapan mereka.


"Aku disini, Prince." Balas Leah sambil berjalan menuju kearah Tasan dan Vera. Di belakangnya, Raye masih setia mengekor kemanapun Leah pergi.


"Plak." Tanpa buang-buang waktu, Tasan segera menampar wajah Leah hingga pipinya sedikit berdarah.


"Prince." Teriak Raye agar Tasan tidak terlalu kasar pada Leah.


"JANGAN IKUT CAMPUR." Perintah Tasan agar pada Raye tidak ikut campur dalam urusannya.


Raye kemudian terdiam sebentar kemudian menunduk meminta maaf. "Maafkan saya."


"Apa kau yang meminta Dwarf untuk menghabisi Rella?." Tanya Tasan to the point.


Leah membelalakkan matanya. Bagaimana bisa Tasan menuduhnya seperti itu. Ia memang membenci Rella dan ingin sekali membunuhnya. Tetapi ia tidak akan memakai cara licik seperti meminta Dwarf untuk menghabisi Rella. Jika dia mau, dia lebih baik membunuh dengan tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sepertinya ada kesalahan yang harus diluruskan.


"Apa maksud anda?. Aku tidak pernah....."


"Jangan mengelak!." Balas Tasan memotong penjelasan Leah.


"Aku tahu betapa bencinya dirimu pada Rella." Kata Tasan yang tidak percaya pada Leah. Ia tahu bahwa Leah akan menggunakan cara apapun untuk menghabisi Rella.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu berkali-kali kalau kau sampai menyakiti Rella, Maka kaulah yang akan kubunuh." Ancam Tasan memperingatkan Leah untuk menjauhi Rella.


"Jadi aku peringatkan kau untuk menjauhi dia." Ujar Tasan kemudian meninggalkan Mereka bertiga pergi.


"Hahahahahahhaha." Tawa Vera menggema setelah Tasan menghilang dari pandangan mereka.


"Apakah ini ulah anda?." Tanya Raye yang sedari awal curiga dengan Vera. Tidakkah mungkin untuk Leah meminta bantuan Dwarf yang bahkan bukan anak buahnya sendiri.


"Ups. Ketahuan rupanya." Balas Vera tidak merasa bersalah.


"Apa maksud anda sebenarnya, Nona Vera?." Tanya Raye yang merasa dirugikan dengan tindakan Vera. Bukan hanya tentang perasaan Leah, tetapi juga mengorbankan rekan mereka demi memancing amarah sang pangeran.


"Aku hanya memperingatkan dirimu, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan hati dari Pangeran." Jawab Vera sambil menunujuk Leah.

__ADS_1


"Tahu apa kau tentang perasaanku?." Kata Leah tidak terima bahwa ia telah dipermainkan.


"Kau tidak pantas bersanding dengan Pangeran. Meskipun kau adalah Elite. Anak seorang ksatria tidak pantas bersanding dengan Pangeran." Balas Vera mengingatkan Leah bahwa semua usahanya untuk mendapatkan cinta Tasan adalah sia-sia.


"Ditambah lagi, Dia cinta Tasan Prince hanya untuk Princess Rella seorang. Jangan berharap lebih." Sambung stuart yang tiba-tiba muncul.


"Lalu apa maksud anda dengan mengorbankan Dwarf?." Tanya Raye masih penasaran mengapa mereka mengorbankan Dwarf.


"Itu karena kebodohan dari Dwarf sendiri. Dia merasa bahwa kalian adalah penghambat bagi kami semua. Jadi dia ingin menyingkirkan kalian. maka dari itu, aku memberitahu dia solusinya. Dengan membunuh Rella dan mengatakan bahwa dia mendapatkan perintah tambahan dari Leah yang mengatas namakan diriku. Tetapi sayang sekali dia harus mati." Jelas Vera memberikan alasan.


"Hanya itu?. Kenapa kau begitu benci padaku?." Ucap Leah yang tidak mengerti kenapa semua Anggota The Ravens sangat membenci dirinya.


"Kau hanyalah bocah ingusan. Yang kau lakukan hanyalah mengharap cinta dari seseorang yang tidak pantas untukmu." Perkataan Stuart tadi menusuk ke hati Leah. membuat Leah semakin merasa sedih bahwa cintanya tidak dianggap layaknya sampah.


"Tidak seharusnya anda berdua menyakiti perasaan Nona Leah." Kata Raye yang masih tidak terima dengan cara Vera.


"Kami tidak menyakiti perasaannya." Elak Vera tidak ingin disalahkan.


"Dialah yang memilih untuk disakiti." Ujar Stuart membela ucapan Vera kemudian mereka meninggalkan Leah serta Raye pergi.


...****************...


Tasan berjalan kearah balkon istana miliknya sambil membawa elang pembawa pesan yang dikirimkan pada Kerajaan Angel.


"Serahkan ini pada Kerajaan Angel" Perintah Tasan pada burung tersebut. Kemudian Burung elang pembawa pesan itu terbang menuju Kerajaan Angel.


...****************...


"Kau terlambat Bara." Keluh Shawn yang menyayangkan keterlambatan Bara.


"Maaf. tetapi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian." Balas Bara menyatakan alasannya terlambat.


"Ada apa?." Tanya Shawn yang sedang terlibat pembicaraan dengan beberapa kepala pasukan serta Haruhi.


"Ada surat dari Kerajaan Deimos." Ujar Bara sambil menyerahkan surat yang ia bawa.


"Deklarasi perang?." Tanya Shawn saat dia membuka surat tersebut.


"Iya. mereka menyatakan bahwa mereka akan berperang pada kita secepatnya." Jawab Bara menjelaskan situasi yang terjadi.


"Mereka bilang bahwa mereka menunggu kita di padang Estelle dengan Kerajaan aliansi mereka yang lainnya." Lanjutnya memberitahu Shawn dimana Lokasi perang akan berlangsung.


"Aku tidak menyangka semua bisa secepat ini." Shawn yang mendengar hal ini, menyadarkan kepalanya seraya memijit kepalanya.


"Bagaimana dengan kerajaan-kerajaan aliansi. Apakah mereka sudah bersiap?." Tanya Shawn sambil memandang kearah Haruhi.


"Mereka sudah bersiap sejak dua tahun yang lalu." Jawab Haruhi menyatakan bahwa Kerajaan Aliansi telah siap.


"Apakah mereka memberi kita waktu untuk bersiap-siap?." Shawn kembali bertanya kepada Bara.


"Dua minggu." Jawab Bara singkat.

__ADS_1


"Itu adalah waktu yang diberikan oleh Kerajaan Deimos beserta aliansinya bagi kita semua untuk bersiap-siap." Lanjut Bara menambahkan.


Dua minggu bukanlah waktu yang lama. mereka harus segera bersiap-siap mulai dari sekarang.


"Kalau begitu, jangan buang-buang waktu lagi." Kata Shawn tiba-tiba membuat semua melihat kearahnya.


"Gunakan waktu sebaik mungkin." Perintah Shawn pada semua Kepala Pasukan agar mereka menyiapkan segala kebutuhan dari sekarang.


"Haruhi." Panggil Shawn pada Haruhi.


"Baik." Balas Haruhi.


"Beritahu aliansi agar mereka bersiap-siap dalam waktu dua minggu." Perintah Shawn pada Haruhi agar memberitahu Kerajaan aliansi untuk bersiap-siap.


"Aku mengerti." Ujar Haruhi kemudian meninggalkan ruangan dan melaksanakan perintah.


"Hikawa Perintahkan Kelas Margery untuk bersiap-siap karena ini perang pertama mereka." Perintah Shawn kini pada Hikawa yang berada di sampingnya.


"Aku mengerti." Ujar Hikawa mulai meninggalkan ruangan.


"Dan minta Mizumi untuk menangani persiapan tenaga medis." Sambung Shawn memohon Hikawa agar istrinya menangani masalah tenaga medis.


"Baik." Balas Hikawa membuka pintu dan meninggalkan ruangan.


"Lalu untuk yang lain, segera persiapkan hal-hal yang diperlukan bersama divisi kalian masing-masing." Perintah Shawn pada seluruh kepala pasukan yang lain.


"BAIK." Ucap mereka kemudian meninggalkan ruangan.


Setelah semua meninggalkan dia sendirian, Shawn kemudian terduduk di singgasananya sambil memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus dia pilih.


"Hari yang cukup melelahkan." Ujar Sylvia yang entah sejak kapan sudah berada diruangan.


"Sylvia." Ucap Shan saat melihat Sylvia yang berjalan kearahnya.


"Tak kusangka bisa secepat ini." Ucap Sylvia yang sepertinya mendengarkan apa yang telah terjadi.


"Begitulah." Balas Shawn singkat. Ia tidak menyangka bahwa Tasan sudah mulai bergerak dengan mengirimkan surat pernyataan perang.


"Kau tidak perlu Khawatir." Ujar seseorang yang membuat Shawn kaget dan menoleh ke sumber suara.


"Kalian...."


Shawn tidak percaya bahwa ke 18 orang Wonders datang menemui dirinya. dan menawarkan bantuan dalam perang ini.


"Kami akan selalu berjuang bersama kalian." Kata Pria bernama Luminous yang merupakan mentor pribadi Akiko.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kalian semua." Sambung Theressa yang membantu Sasuke sedikit demi sedikit melalui Thunder pendant yang diberikan oleh Kiku padanya.


"Aku mohon bantuannya, Wonders." Ujar Shawn menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat terbantu dengan tawaran yang diberikan oleh Wonders.


"Tidak perlu. Karena sudah menjadi tugas kami untuk menghentikan Tasan dan Diabolos." Balas Luminous dengan santai.

__ADS_1


TBC


__ADS_2