
Kelas Margery telihat begitu sepi dari biasanya. Semua murid masih ada disini. Tetapi, tak lama lagi mereka akan pergi meninggalkan sekolah.
"Aku sudah mendengar dari Kepala sekolah bahwa kalian akan berlatih disuatu tempat." Kata Kanade sambil melihat murid-muridnya yang kini duduk di bangku mereka masing-masing
"Miss Kanade." Gumam Kenichi
"Maaf kalau kami bertindak egois." Kata Igarashi agar guru mereka tidak marah akan sifat egois mereka.
"Kami tahu kalau Miss Kanade tidak rela membiarkan Kami untuk pergi." Ujar Akiko dengan hati-hati.
"Tapi kami sangat ingin menolong Sasuke, karena dia adalah sahabat kami." Sambung Arashi berusaha meyakinkan Kanade.
Kanade memandang mereka sekilas, kemudian ia berjalan kearah jendela dan kembali berucap. "Begitu berat rasanya bagiku untuk melepaskan kalian semua." Kata Kanade sedikit tidak rela bahwa semua muridnya akan pergi.
"Meskipun hanya lima bulan. Aku benar-benar merasa sangat senang bisa menjadi guru bagi kalian semua." Kanade tidak bisa menampik bahwa meskipun murid-muridnya ini adalah sekumpulan berandalan, Tetapi mereka selalu kompak dalam menjalankan apapun. Bahkan apabila satu orang anak mendapat masalah maka mereka rela untuk membantunya.
Jika dilihat-lihat, mereka yang awalnya hanya peduli akan diri mereka masing-masing, kini sudah berubah menjadi pribadi yang sosial.
"Miss Kanade?." Panggil Hanada lemah
""Ini bukanlah perpisahan." Ucap Kanade berusaha meneguhkan hatinya.
"Meskipun kita akan berpisah selama waktu yang ditentukan, tetapi kalian akan kita akan bertemu kembali." Lanjutnya.
"Miss Kanade benar." Kata Akiko membenarkan ucapan Kanade.
"Kita akan bertemu dalam kurun waktu yang tidak akan lama tapi juga tidak akan singkat" Lanjut Akiko berusaha menghibur guru serta teman-temannya.
"Selain itu, Kita juga kembali sekelas ketika kita memasuki Senior." Sambung Kurohana.
Memang benar, mereka akan menjadi Teman sekelas selama enam tahun dengan guru dan mentor yang sama.
"Benar. Meskipun kita terpisah, tetapi hati kita masih akan tetap menjadi satu." Kata Kanade membenarkan perkataan Akiko dan Kurohana.
Tak lama kemudian, Ichika berdiri dan mulai mengatakan apa yang ingin dia utarakan.
""Miss Kanade." Panggil Ichika
"Ya. Ichika-san." Ucap Kanade membalas panggilan Ichika.
"Kami akan berusaha lebih baik. Dan ketika kami kembali, Kami akan buktikan kalau kami telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan sebelumnya." Kata Ichika berusaha untuk meyakinkan Kanade agar ia mau mengizinkan mereka pergi.
"Aku akan selalu menunggu kalian kembali." Kata Kanade memberi restu pada semua murid-muridnya.
"Terima Kasih." Ucap seluruh Anggota Kelas Margery.
...****************...
"Tidak aku sangka akan seperti ini." Ujar Kanade setelah dia melepaskan seluruh murid-muridnya.
__ADS_1
"Maafkan aku." Ujar Azuna menyesal akibat ketidakmampuannya melindungi salah satu muridnya, Semua anak malah ikut berusaha untuk menyelamatkan teman mereka.
"Ini bukanlah salahmu." Balas Kanade agar Azuna tidak terus-terusan menyalahkan dirinya. Menjadi seorang mentor bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika murid mereka memiliki masa lalu yang sangat kelam.
"Andaikata aku lebih kuat dari saat ini, Hal seperti ini tidak akan terjadi." Lagi, Azuna masih menyalahkan dirinya atas kebangkitan Tasan
"Kau sudah berusaha sebisamu. Kalau kau memaksa maka itu akan menghancurkan dirimu sendiri."
"Nona Kanade." Panggil Azuna Pelan.
"Ada apa, Azuna?." Tanya Kanade menjawab panggilan Azuna.
"Seperti apakah aku di matamu ini?." Tanya Azuna meminta penilaian mengenai dirinya.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?." Tanya Kanade keheranan.
"Tolong jawab saja." Meskipun sedikit memaksa, Azuna hanya ingin tahu pendapat seseorang mengenai dirinya.
"Menurutku kau adalah seseorang yang misterius. Dari penglihatan murid lain, kau seperti wanita yang memiliki pendirian yang kuat dan pemberani. Tetapi dibalik itu semua, Kau adalah seorang wanita yang memiliki sifat inferior. Kau sebenarnya bisa menjadi seseorang yang seperti kebanyakan orang nilai, jika kau percaya pada dirimu sendiri." ya. Itulah yang Kanade nilai dari seorang Azuna.
Kanade melihat Azuna adalah seseorang yang selalu melihat kekurangannya sendiri ketimbang kelebihannya. Dia selalu melihat Azuna adalah seseorang yang tidak percaya diri meskipun dirinya adalah yang paling terbaik semasa saat dia sekolah.
...****************...
Setelah berbincang lama dengan Kanade, Azuna kini sedang berjalan menuju rumahnya. Tetapi dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang Penyihir berambut mint yang sangat misterius.
"Apakah kau yang bernama Azuna?." Tanya Sylvia saat dia bertemu secara langsung dengan Azuna.
"Perkenalkan, Namaku adalah Sylvia." Ujar Sylvia memperkenalkan dirinya
"Sylvia?." Azuna seperti pernah mendengar nama itu. Tetapi, entah kenapa dia merasa tidak yakin dia pernah memiliki hubungan dengan orang ini atau tidak.
"Aku ada perlu denganmu, Azuna." Kata Sylvia tanpa berbasa-basi.
"Apa maumu?." Tanya Azuna pada Sylvia.
"Bagaimana kalau kau ikut denganku untuk membuat dirimu lebih kuat?." Tawar Sylvia agar Azuna mau ikut dengannya.
"Apakah aku bisa percaya padamu?." Ujar Azuna tidak yakin.
"Kau bisa pegang kata-kataku ini." Kata Sylvia berusaha meyakinkan Azuna
"Sebelum aku memberikan jawabanku, Mengapa kau sangat ingin untuk mengajakku?." Tanya Azuna penasaran mengapa Sylvia ingin sekali mengajak dia untuk pergi.
"Apa kau mengingat bagaimana kau bisa kehilangan ingatanmu?." Ujar Sylvia menantang apakah Azuna mengingat kronologi bagaimana dia bisa hilang ingatan.
""Apa yang kau maksud sebenarnya?." Tanya Azuna yang kaget mengapa Sylvia bisa mengetahui bahwa ia hilang ingatan.
"Kau mau tahu kenapa?."
__ADS_1
Azuna tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Sylvia.
"Salah satu anggota The Ravens, Mereka dulu pernah menculik dan mengyegel ingatanmu." Lanjut Sylvia membuat Azuna membelalakan matanya. Dia tidak percaya bahwa orang yang menyebabkan Dia hilang ingatan merupakan anggota dari Kelompok orang yang telah menculik anak didiknya.
"Bagaimana kau bisa tahu akan hal seperti itu?." Selidik Azuna.
"Aku sangat tahu betul akan hal itu." Kata Sylvia membuat Azuna semakin penasaran dengannya.
"Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apakah kau mau ikut atau tidak?." Sylvia kembali bertanya.
"Kalau kau masih bimbang, Akan aku beri kau keuntungan?." Mengetahui bahwa Azuna bimbang, Sylvia mencoba memberi penawaran yang mungkin tidak akan ditolak oleh Azuna.
"Keuntungan apa yang kau maksud ini?." Tanya Azuna yang merasa bahwa Sylvia tidak akan melepaskan dia sebelum Azuna menjawab iya.
"Kau bisa mengalahkan dia dan membuka semua ingatanmu yang tersegel." Jika memang dengan mengalahkan orang tersebut mampu membuat ingatannya kembali.
"Baiklah aku terima tawaranmu ini." Kata Azuna menerima tawaran Sylvia.
"Terima kasih sudah mau percaya." Kata Sylvia berterima kasih.
...****************...
"Ada apa, King Regent?." Tanya Jake setelah dia, Thalia, Kanade, dan Hino dipanggil untuk menghadap Shawn.
"Aku minta kalian mencoba untuk mencari dimana pintu gerbang menuju Kerajaan Deimos." Perintah Shawn dengan tegas.
"Mengapa kami harus mencari pintu gerbang tersebut?." Tanya Thalia kebingungan. Dia pikir jika hanya mencari keberadaan Kerajaan, mereka bisa mencari lewat peta, bukan?.
"Itu karena Kerajaan Deimos ditutupi oleh delapan gerbang yang melindungi Kerajaan tersebut dari serangan dunia luar." Jawab Hino mewakili Shawn.
"Jaraknya beribu-ribu kilo dari Kerajaan Angel." Komentar Kanade menghitung jarak antara Kerajaan Angel dan Deimos.
"Selain itu, lihatlah ini." Ujar Shawn sambil menunjukkan peta Dunia Sihir.
"Eh. Dimana letaknya?." Tanya Thalia tidak menemukan letak keberadaan Kerajaan Deimos.
"Tempat itu dihapus dari peta dikarenakan tempat itu cukup mengerikan dan berbahaya." Jawab Jake memberi tahu alasan mengapa Kerajaan Deimos dihapus dari peta.
Shawn kemudian mensummon sebuah radar istimewa untuk dipakai oleh semua orang. "Terimalah benda itu."
"Benda itu adalah benda yang mampu membuat kalian menemukan tanda-tanda adanya sebuah Kota yang tidak bisa kalian dipeta." Jelas Shawn pada mereka berempat
"Aku harap disaat murid-murid kalian tengah berlatih, kalian bisa membantu mereka dengan mencari informasi mengenai Kerajaan Deimos." Sambungnya penuh harap.
Memahami maksud dari Shawn, mereka segera mengangguk paham. "Kami paham." Ujar Hino mewakili yang lainnya.
Tak lama kemudian, mereka segera meninggalkan tempat dan bersiap-siap untuk mencari tempat tersebut.
Setelah mereka pergi, Shawn kini memandang arah jendela sambil bergumam, "Semoga semua berjalan dengan baik."
__ADS_1
TBC