
Keesokan paginya saat Gus Azmi membagikan kertas ujian, Najwa belum juga masuk kelas.
"Gawat...! Telat waktu ujian, ampuuunnnn...!" Najwa ngeri sendiri membayangkan Gus Azmi akan menghukumnya, Najwa pun segera berlari ke kelas nya.
"Assalamualaikum...," Najwa masuk kelas.
"Waalaikumsalam...." Jawab Gus Azmi tanpa menghiraukan Najwa.
"Berdiri di depan kelas...! Lalar(alunkan) nadzom (baris ayat) Al-fiyah yang sudah kamu hafalkan, ulangi 10 kali baru kamu boleh duduk." Terang Gus Azmi.
"Baik Gus...," jawab Najwa pasrah dan segera memulai hafalannya.
Hampir 15 menit Najwa baru bisa duduk dan mengerjakan ujiannya.
"Ayo semangat Najwa.... Semangat!" Suport Najwa dalam hati.
Saat Najwa melihat soal yang diberikan Gus Azmi, Najwa terbelalak kaget.
"Soal apa ini?" Tanya Najwa pelan.
"Sssst! Jangan bicara wa..., nanti kita di kira nyontek...." Ucap teman sebangkunya pelan.
"Iya-iya..., maaf!"
***
Soal yang diberikan Gus Azmi pada Najwa memang berbeda dengan teman-temannya. Saat Najwa akan meminta penjelasan pada Gus Azmi, di bagian atas kertas tertulis kata-kata yang ditulis lumayan besar.
_jangan banyak tanya dan jawab jujur semua pertanyaan nya, ini perintah!_
"Perintah apa an...? Ini namanya pemaksaan...!" Protes dalam hati nya.
Siapa nama ayah dan ibu Najwa Qumaira?
Dimana alamat lengkap Najwa?
Berapa saudara kandung Najwa?
Berapa nomor hp Najwa?
Masih jomblo kah? 😁
Tuliskan apa yang kamu sukai dari aku?
Nb: kalau kamu bohong selama sebulan nikmati takziran mu.
Najwa menatap Gus Azmi, beliau tersenyum kemenangan walaupun tidak melihat kearah Najwa.
"Gus azmiiiii...! Sebenarnya apa mau mu...!" Batin Najwa jengkel.
Setelah menjawab pertanyaan Gus Azmi dengan penuh kejengkelan. Ternyata di lembar kedua masih ada soal lagi. Soal ujian Fatkhul qorib.
"Apa? Kalau tau soalnya ada di belakang ..., Tidak akan aku jawab pertanyaan aneh beliau.... Mana waktunya sudah mepet...!" Najwa sedikit gelisah.
"Najwa..., kamu bisa...! Yakin..., yakin...." Najwa mencoba mengembalikan semangat nya setelah cukup jengkel dengan pertanyaan konyol Gus Azmi.
1 jam kemudian bel berbunyi, tanda jam pelajaran berakhir. Najwa masih berusaha menyelesaikan ujiannya.
__ADS_1
"Semua kertas ujian dan jawabannya segera dikumpulkan...!" Perintah Gus Azmi dan mereka mulai mengumpulkannya.
"Eeeee...! Aku tanya nomer 2 dong...? Belum nie...!" Gerutu salah satu santri.
"Ayoow Najwa..., sedikit lagi...." Najwa segera menyelesaikan jawabannya.
"Saya hitung...! 1...,2...,"
"Tunggu...!" Najwa mengumpulkan yang terakhir.
"3...." Gus Azmi tersenyum geli melihat tingkah Najwa.
"Lain kali kalau ujian jangan telat!" Ucap Gus Azmi pada Najwa.
"Baik Gus...," Najwa pun kembali ketempat duduknya.
"Baiklah..., assalamualaikum wr.wb."
"Waalaikumsalam wr.wb." Jawab semua santri.
"Alhamdulillah...," Najwa bernafas lega.
Hari itu sehabis dhuhur adalah jadwal Najwa piket ndalem. Sebelum berangkat ke ndalem, Tidak lupa Najwa membawa oleh-oleh dari ibunya untuk ibu yai.
"Apa itu wa?" Tanya Eli penasaran.
"Ini..., titipan ibuku buat umi...." Terang Najwa.
"Oow iya lupa..., yang ada di meja buat kamu dan teman yang lain ya.... Tadi malam semua sudah tidur saat aku kembali ke kamar."
"Oke...! Terima kasih ya wa...," jawab Eli senang.
Sebelum piket Najwa sowan umi untuk memberikan oleh-oleh dari ibunya.
"Terima kasih Najwa...,"
"Iya..., sama-sama umi.... Najwa piket dulu umi...." Pamit Najwa.
"Apa itu mi?" Gus Azmi tiba-tiba menyela pembicaraan ibu yai dan Najwa.
"Oleh-oleh dari ibu Najwa...," Ibu yai memberikan oleh-oleh tersebut pada Gus Azmi.
"Apa ini Najwa?" Tanya Gus Azmi pada Najwa.
"Kripik tempe Gus..., khas kota Trenggalek...." Terang Najwa.
"Jengkel banget kalau ketemu beliau..., nyebelin banget soalnya .... Pasti ada apa-apanya nie kalau beliau tiba-tiba nongol...," ceramah hati Najwa.
"Pasti enak nie mi... Aku mau makan dulu lah..., pakai lauk ini...." Ucap Gus Azmi pada ibunya.
"Ya udah..., cepat makan.... Umi minta satu tapi...," pinta ibu yai dan mulai mencicipinya.
"Alhamdulillah..., ibu yai suka...." Syukur hati Najwa.
"Najwa...!" Panggil Gus Azmi.
"Eee..., iya Gus...," panggilan Gus Azmi membuyarkan lamunannya.
"Siapkan makanan di dapur...." Pinta Gus Azmi.
"Iya gus...," Najwa beranjak ke dapur ndalem.
__ADS_1
"Tu kan..., beliau menyuruh ku.... Padahal kan sudah ada mbak Raisya dan mbak Mala di dapur...," keluh hati Najwa.
"Enak ya mi..., gurih...." Puji Gus Azmi.
"Iya...! Enak nie kalau dibuat lauk dengan sambal...," terang ibu yai.
"Najwa...! Buatkan sambal juga ya...," tambah Gus Azmi.
Najwa hanya mengangguk penuh ta'dzim.
"Najwa..., Najwa.... Apes banget tow kamu ketemu Gus yang suka ngerjain kamu.... Usil banget lagi..., mesti ada aja maunya.... Nyesel aku tidak mengkritik nya saat beliau memberikan pertanyaan aneh di kertas ujian ku tadi...." Keluh Najwa dalam hati.
"Aku ke dapur dulu ya mi...," Pamit Gus Azmi.
"Iya..., jangan usil dengan Najwa.... Kasihan..., dia masih santri baru. .." Pesan ibu yai.
"Siap umiii...!" Gus Azmi menyusul Najwa ke dapur.
Najwa semakin jengkel saat dia tahu kalau Gus Azmi lagi-lagi mengawasinya.
"Ngapain sih beliau kemari...? Memang tidak ada kerjaan lain apa...?" Gumam hati Najwa.
"Cepat ya..., udah lapar nie...!" Pinta Gus Azmi. Najwa tidak menjawab dan masih sibuk dengan pekerjaannya.
Seperti biasa Gus Azmi menemani Najwa melakukan pekerjaannya. Tapi saat itu Gus Azmi Sudah siap dengan amunisinya, yaitu kertas jawaban Najwa saat dikelas tadi pagi. Beliau pun mulai membacanya satu persatu.
"Najwa Qumaira..., Abah Abdullah, umi Salsabila...." Gus Azmi mulai bersuara.
"Asal kota Tulungagung...," lanjut nya.
Tapi Najwa masih belum menoleh karena masih fokus dengan pekerjaannya.
"Alamat lengkap desa Tenggur kecamatan Sumbergempol kabupaten Tulungagung...." Najwa mulai bereaksi.
"Itu kan...?" Najwa pun menoleh ke arah Gus Azmi.
" RT 02 RW 02...." Lanjutnya.
"Jangan Gus...," Najwa bingung harus bereaksi seperti apa. Antara malu dan takut, karena jawaban yang terakhir dia jawab asal-asalan.
"Saudara kandung 4..., anak pertama. 2 laki-laki 2 perempuan...."
"Nomer HP tidak punya..., dan...," Gus Azmi menghentikan kata-kata nya. Tertulis di kertas tersebut.
_sudah punya calon suami, dan tidak mau mengenal yang lain_
"Benar ini wa?" Gus Azmi protes karena menganggap benar jawaban Najwa di kertas tersebut.
"Benar Gus...." Jawab Najwa lega karena Gus Azmi terlihat percaya dengan jawaban tersebut.
"Setidaknya aku bisa terbebas dari jeratan sikap anehnya...." Batin Najwa.
" Sudahlah! kalau kamu mau piket lanjutkan piket mu..., aku sudah tidak nafsu makan...."
Gus Azmi pergi begitu saja dan menghentikan makan kripik yang dari tadi sudah di makannya. Najwa sendiri bingung kenapa beliau bersikap demikian.
"Sepertinya beliau kecewa...," gumam Najwa.
"Tapi kenapa kecewa? Apa aku salah berbohong padanya tentang jawaban pertanyaan nya?" Najwa tiba-tiba merasa gelisah dan merasa bersalah sudah berbohong pada Gus Azmi.
#next
__ADS_1