DUNIAKU DUNIAMU

DUNIAKU DUNIAMU
Pernikahan Ziza dan Gus Azmi


__ADS_3

Najwa sampai dirumahnya sekitar pukul 20.00 WIB. Najwa disambut hangat oleh ibunda tercinta. Ibu Najwa tidak henti-hentinya mencium Najwa, begitu juga memeluknya. Ibu Najwa merasa sangat kangen dengan anaknya, padahal baru dua bulan yang lalu Najwa liburan pondok. Ibu Najwa senang karena Najwa terlihat lebih tegar dan sabar menghadapi masalah pembatalan lamaran nya.


Ibu Najwa menuntun Najwa masuk kedalam rumah. Tertata rapi makanan yang memang sudah disiapkan untuk acara lamaran Najwa. Berdesir hati Najwa melihat pemandangan tersebut. Kembali air matanya tidak bisa terbendung. Tanpa suara air matanya menetes membasahi pipinya.


"Umi senang kamu benar-benar kuat Najwa," syukur ibu Najwa.


"Najwa kuat karena Abah dan umi selalu mendampingi Najwa. Terima kasih umi...," Najwa sungkem kepada ibunya sambil menangis.


"Maafkan Najwa telah lancang menjalin hubungan dengan Gus Azmi umi, maafkan Najwa...," ucap jujur Najwa.


"Tidak apa-apa nak, dulu Abah dan umi juga saling mengenal sebelum kita menikah."


Ibu Najwa tidak begitu paham bahwa sebenarnya Najwa sudah 4 tahun menjalin hubungan dengan Gus Azmi. Abah Najwa lah yang berjiwa besar menerima kejujuran putrinya. Beliau sama sekali tidak marah saat tahu bahwa Najwa sudah lama menjalin hubungan dengan Gus Azmi. Abah Najwa malah memberi nasehat agar berhati-hati dalam menjalin hubungan, karena apabila putus di tengah jalan maka akan semakin sakit.


Najwa menyakinkan Abahnya bahwa mereka sama sekali tidak berbuat apapun yang menyalahi aturan. Najwa masih suci, dan tidak pernah melakukan hubungan yang lebih jauh dengan Gus Azmi. Najwa jujur kalau beliau sudah pernah menyentuh tangan Najwa. Tapi hanya sekedar itu, tidak lebih. Abah Najwa benar-benar salut dengan jiwa kukuh Najwa yang selalu menjaga dirinya.


"Abah tidak menyangka nak kamu bisa secepat ini dewasa," puji Abah Najwa.


"Kalau sudah lulus jangan kuatir masalah jodoh, pasti Abah akan mencari yang terbaik untuk putri Abah." Tegas Abah Najwa.


Sekali lagi Najwa menangis dipangkuan kedua orang tuanya. Jujur Najwa masih sangat mencintai Gus Azmi. Bagi Najwa akan sangat sulit untuk melupakan beliau, apalagi terlalu banyak kenangan yang harus dihapus bersama Gus Azmi.


***


Hari ini adalah acara ijab qobul Gus Azmi. Acara tersebut dilaksanakan di rumah Ziza Bojonegoro. Seluruh keluarga hadir dalam acara tersebut, kecuali kakak Gus Azmi yang belum bisa pulang karena acara pernikahan beliau yang mendadak.


Dua kali Gus Azmi mengulang ijab qobul nya karena beliau tidak fokus. Berulang kali juga Gus Azmi menarik nafas panjang karena hatinya belum sepenuh hati menerima pernikahan tersebut. Dalam bayangan nya selalu terlihat wajah Najwa yang menangis karenanya. Gus Azmi benar-benar tidak tahan dengan acara tersebut, rasanya beliau ingin berlari meninggalkan acara tersebut. Kalau bukan karena surat dari Najwa yang memaksa beliau untuk menerima pernikahan tersebut, beliau memilih untuk pergi meninggalkan keluarganya tidak peduli apa yang akan terjadi. Karena hatinya terlalu sakit kalau harus menikahi Ziza yang sama sekali bukan tujuan hidupnya.


"Sudah siap Gus, kalau ketiga kalinya masih belum bisa. Harus diulang dihari lain." Tegas penghulu pada Gus Azmi.


"Iya pak," Gus Azmi kembali menarik nafas panjang.


"Bismillah anakku..., kuatkan hatimu." Bisik Abah Qomar pada Gus Azmi.


Gus Azmi sekuat hati menahan hati dan perasaannya mengucapkan ijab qobul tersebut. Beliau membayangkan Najwa saat mengucapkannya, membayangkan Najwa lah yang dinikahinya.


"Alhamdulillah..., sah!"


Para saksi semua menyatakan sah.


Air mata Gus Azmi tidak bisa tertahan lagi. Najwa lah sumber kekuatannya untuk mengucapkan ijab qobul tersebut. Tapi kenyataannya beliau tidak bisa mengucapkan nya untuk Najwa. Tapi malah wanita lain yang dinikahinya.

__ADS_1


Hancur hati Gus Azmi harus bersanding dengan Ziza. Sebenarnya beliau masih belum bisa menerima Najwa mengikhlaskan nya bersanding dengan wanita lain. Tapi apalah daya, Najwa sudah memilih tujuan hidupnya. Gus Azmi hanya bisa melaksanakan keinginan Najwa untuk hidupnya.


***


Satu minggu Najwa berada di rumah, hatinya sudah lebih tenang dari kemarin. Akhirnya Abah Najwa mengantarkan Najwa kembali ke pondok. Sesampainya di pondok ternyata acara sambutan pengantin akan dilaksanakan. Akan ada acara besar disana, Abah Najwa mencoba menyakinkan Najwa untuk tetap sabar dan ikhlas. Najwa selalu berusaha menjaga pesan beliau.


Saat memasuki pondok hati Najwa kembali sakit. Terbayang kembali masa-masa yang sudah Najwa lalui bersama Gus Azmi. Tapi Najwa mencoba menyakinkan hatinya bahwa Gus Azmi sudah menjadi milik orang lain. Beliau sudah tidak menghiraukan Najwa. Itu terbukti saat Najwa meminta nya untuk menolak pernikahan tersebut, tapi beliau tetap melangkah maju tanpa menghiraukan perasaan Najwa sedikit pun.


Sampai dikamar Eli dan Mala menyambut Najwa dengan senyuman. Mereka tidak ingin Najwa kembali menangis teringat kenangan bersama Gus Azmi.


"Alhamdulillah..., kamu sudah kembali Najwa!" Ucap Eli penuh syukur.


"Iya El..., aku kan harus menyelesaikan sekolah ku." Jujur Najwa.


"Tapi nanti malam," Eli ragu melanjutkan kata-katanya.


"Tidak apa-apa..., nanti malam acara sambutan beliau dengan Ziza kan? aku sudah tahu kok," Najwa berusaha tegar.


"Ayo kita makan bareng, kebetulan aku bawa makanan enak nie. Khas buatan ku low...," ucap Najwa mencoba menutupi kesedihannya.


"Memang sudah bisa masak kamu wa?" Tanya Eli mengejek.


"Enak aja! Kalau buat sambal saja aku sudah bisa to. Gus Azmi saja suka banget masakanku...," tanpa sadar Najwa mengucapkan kata yang seharusnya tidak dikatakan Najwa.


"Bukan apa-apa...! Ayo kita makan...," tanpa terasa air mata Najwa kembali menetes. Najwa berusaha menutupi dari teman-temannya karena Najwa tidak ingin melihat mereka bersedih karenanya.


Malam itu ada acara besar-besaran di ndalem. Semua santri diminta berkumpul di aula memeriahkan pesta pernikahan Gus Azmi dan neng Ziza. Najwa menolak untuk ke sana karena takut hatinya tidak akan sanggup melihat Gus Azmi bersanding dengan Ziza. Najwa ditemani Eli berdua di kamar sedangkan Mala memang diminta Ziza untuk menemaninya di ndalem.


Najwa membakar semua surat dan kenangan tentang Gus Azmi. Satu persatu kenangan tersebut terbakar di makan api. Air mata Najwa tidak henti-hentinya menetes merasakan hatinya yang hancur karena harapan dan masa depannya hilang dalam sekejap. Gus Azmi yang sejak awal mengisi hari-harinya dan menjadi motivasi nya untuk menjadi santri yang lebih baik kini telah menjadi milik orang lain. Seminggu yang lalu beliau resmi meminang Ziza sebagai istrinya. Masih teringat jelas janji Gus Azmi bahwa beliau akan menikah dengan Najwa. Tapi semua itu ternyata hanya bualan semata. Yang tersisa hanyalah kalung emas pemberian beliau, Najwa berencana mengembalikan kalung tersebut kepada beliau.


***


"Mana Najwa dan Eli Mal?" Tanya Ziza yang sangat cantik dengan riasannya.


"Najwa sedang tidak enak badan za, makanya Eli menemaninya." Terang Eli.


"Aku cantik gak?" Tanya Mala semangat.


"Cantik..., cantik banget...." Puji Mala.


Memang Ziza terlihat sangat cantik malam hari itu. Tapi Mala merasa Ziza sangat jahat karena telah merebut Gus Azmi dari Najwa. Ziza terlihat senang dengan kemenangannya. Mala juga ragu tentang kebenaran Ziza, apakah memang benar Ziza menjalin hubungan dengan Gus Azmi. Sementara bukti kedekatan Najwa dan Gus Azmi sangat jelas. Mala ragu diantara mereka berdua pasti ada yang sengaja berbohong.

__ADS_1


"Kenapa Mal? Jangan melamun dong, ayo senyum! Sahabatku harus bahagia dalam pernikahan ku." Goda Ziza dalam senyumnya.


"Aku tidak bisa bahagia kalau sahabatku ada yang menderita." Ketus Mala yang langsung pergi meninggalkan Ziza.


"Siapa yang menderita? Mala...? Mala mau kemana sih tu anak?" Gerutu Ziza.


Acara berlangsung dengan sangat meriah. Pukul 23.00 WIB para santri sudah diminta kembali ke pondok karena sudah larut malam. Najwa yang dari tadi di kamar hanya bisa melamun, sementara Eli sudah tertidur karena lelah seharian bersih-bersih menyiapkan acara ndalem.


"Kenapa belum tidur wa?" Tanya Mala yang baru kembali dari acara.


"Belum ngantuk, sudah selesai acaranya?" Tanya Najwa.


"Sudah, tapi kelihatannya tamu Gus Azmi masih banyak jadi santri-santri diminta kembali ke pondok, karena sudah larut." Terang Mala.


"Ayo tidur wa, sudah malam ini. Besok biar gak kena takzir saat jama'ah shubuh." Ajak Mala karena merasa kasian dengan Najwa yang masih larut dalam kesedihannya.


"Iya, kamu tidur saja dulu..., nanti aku juga tidur kok." Najwa mencoba tersenyum dihadapan Mala.


"Beneran ya?..., jangan tidur terlampau larut. Nanti bisa sakit kamu kalau terus-terusan begini." Mala mencoba menasehati.


"Siap!" Najwa mencoba untuk tegar.


Rasanya Mala tidak tega melihat Najwa yang terlihat masih sangat sedih. Tanpa terasa air matanya juga menetes merasakan penderitaan sahabatnya. Mala langsung berbalik mencoba menutupi kesedihannya.


"Aku tidur dulu wa,"


Mala langsung mengambil bantal dan memeluk guling nya erat. Mala menangis dalam diamnya.


***


Di ndalem Ziza yang sudah lelah diarahkan oleh Raisya dan Mala menuju kamar Gus Azmi. Ziza benar-benar tidak sabar ingin masuk kamar beliau. Selama di rumah Ziza, Gus Azmi selalu tidur di luar. Tidak sekalipun Gus Azmi masuk ke kamar Ziza. Keluarga Ziza merasa aneh dengan sikap Gus Azmi tersebut. Tapi karena masih pengantin baru mereka tidak begitu ambil pusing dengan sikap aneh beliau.


Ziza juga merasa aneh dengan perubahan sikap Gus Azmi, padahal selama ini di telepon beliau sangat perhatian pada Ziza. Hampir setiap hari mereka selalu saling sapa, pagi , siang , sore bahkan malam hari. Tidak ada waktu tanpa mendengar suara beliau. Hari-hari yang sangat indah bagi Ziza, tapi saat mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri kenapa beliau berubah 100%. Tidak sekali pun Gus Azmi menyapanya, bahkan memandang Ziza pun tidak pernah. Saat Ziza mendekat, beliau selalu menolak bahkan kadang membentak karena tidak suka dengan tindakan Ziza.


Malam itu di kediaman Gus Azmi, Ziza berharap akan mendapatkan malam pertamanya yang indah. Ziza membayangkan saat beliau mencium dan memeluknya penuh cinta dan kasih sayang. Membayangkan hal tersebut membuat Ziza malu sendiri. Ziza benar-benar bahagia dengan pernikahan tersebut.


Tapi sudah lewat tengah malam Gus Azmi tidak kunjung masuk ke kamar. Ziza kembali dikecewakan beliau, seharusnya malam ini beliau menemuinya dan menikmati indahnya malam pertama mereka. Tapi itu semua hanya menjadi harapan semu bagi Ziza. Karena malam demi malam terlewati tetap saja Gus Azmi tidak pernah masuk ke kamarnya.


Hari itu Najwa kembali bertugas di ndalem. Saat tidak sengaja berpapasan dengan Gus Azmi, beliau sama sekali tidak menganggap Najwa. Padahal bagi Najwa urusan mereka belum selesai. Tidak ada penjelasan dari Gus Azmi kenapa tiba-tiba beliau harus menikah dengan Ziza. Dan kenapa Najwa sudah melarang beliau setuju dengan pernikahan tersebut, beliau malah memilih maju dan melupakan Najwa begitu saja. Hati Najwa kembali perih. Hanya sholawat yang sering diucapkan Najwa saat sakit hatinya kambuh.


Dengan kejadian tersebut Najwa juga semakin rajin membaca Al-Qur'an. Najwa mengalunkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengobati sakit hatinya. Sering berulang-ulang Najwa melantunkan surat yang sama. Tanpa disadari Najwa, dia hafal satu demi satu ayat-ayat tersebut. Najwa tau betul setiap ayat Al-Qur'an yang telah meredam sakit hatinya. Sambil melantunkan ayat Al-Qur'an air matanya juga tidak bisa berhenti mengalir. Derita yang di torehkan oleh Gus Azmi diadukan Najwa lewat lantunan ayat suci yang sering di bacanya.

__ADS_1


"Allah...," Berulang kali Najwa juga bersholawat kepada Nabi Muhammad saw.


Saat pelajaran Fatkhul Muin, Gus Azmi tetap mengajar di kelas Najwa. Beliau terlihat lebih banyak diam dan sering kali menegur santrinya. Tapi sejak pernikahan tersebut Gus Azmi tidak berani meminta Najwa membaca ataupun menerangkan di depan kelas. Najwa mencoba mengalihkan parhatiannya dengan Al-Qur'an kecil yang selalu dibawanya kemanapun. Mendengar suara beliau hati Najwa masih saja berdesir sakit, untuk mencegah air mata yang kembali jatuh, Najwa melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an saat beliau menerangkan. Najwa memilih belajar sendiri semampunya, karena keterangan Gus Azmi malah akan semakin melukainya jika dia memperhatikan beliau.


__ADS_2