
Aku masih berusia 15 tahun, baru saja lulus Mts dan sekarang aku melanjutkan ke pondok pesantren. Pertemuan ku dengan putra Abah yai membuat ku mengenal cinta dan kesetiaan. Di usiaku yang masih belia, aku diam-diam berharap bisa menikah dengan beliau. Meskipun itu serasa seperti mimpi buatku.
***
Hari itu Gus Azmi mengajak ustadz Qosim untuk pergi ke Tulungagung menemui temannya Sulton. Sekaligus ingin mengetahui kabar berita kekasih tercinta, Najwa Qumaira.
"Sudah izin Bu nyai Gus?" Ingat Qosim sebelum berangkat.
"Sudah, beliau sudah mengizinkan kok." Jujur Gus Azmi.
Tanpa banyak tanya mereka pun segera berangkat. Pukul 07.00 WIB mereka berangkat dan tiba sudah lumayan siang. Hp Qosim terus saja berbunyi, kadang nada SMS kadang nada telpon.
"Siapa sim, dari tadi bunyi mulu hp mu?" tanya Gus Azmi penasaran.
"Siapa tow Gus? Hanya teman...," jawab ustadz Qosim santai.
"Hayoooo..., jangan-jangan sudah punya pacar ya kamu?" canda Gus Azmi.
"Bukan..., hanya teman Gus..., sebentar ya...," pamit Qosim karena ingin menghubungi temannya tersebut.
Gus Azmi tidak memperdulikan nya dan langsung memberi salam pada Sulton yang dari tadi sudah menunggu beliau di depan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum Sulton...,"
"Waalaikumsalam..., ayo Gus masuk..., monggo (mari)...."
"Iya terima kasih...," Gus Azmi mengikuti Sulton.
"Ustadz Qosim tidak masuk Gus?"
"Dia masih telpon seseorang, nanti juga masuk...," terang Gus Azmi.
"OOO..., iya...,"
***
Setelah cukup lama Gus Azmi dan Sulton mengobrol barulah ustadz Qosim masuk rumah.
"Lama banget teleponnya?" Sindir Gus Azmi.
"Ada yang penting tadi," ucap ustadz Qosim tanpa ekspresi.
"Ayo Gus, kita jama'ah dulu..., sudah masuk nduhur..., mau di sini apa jama'ah di mushola mbak Najwa?" goda Sulton sambil tersenyum.
"La enaknya gimana?" Gus Azmi ganti bertanya.
"Terserah njenengan..., saya nderek (ikut) saja." Terangnya.
"Ayo jama'ah sim, mumpung disini...." Ajak Gus Azmi.
"Monggo...," Ustadz Qosim mengiyakan usulan Gus Azmi.
"Dasar Gus Azmi kecantol cinta..., aku sampai di ajak kemari hanya untuk melihat wajah kekasihnya." Gerutu ustadz Qosim dalam hati.
Mushola rumah Najwa memang tidak jauh dari rumah Sulton, jadi mereka hanya berjalan kaki. Hati Gus Azmi sangat gugup bercampur senang karena akhirnya setelah seminggu kangen yang tertahan, Gus Azmi bisa kembali melihat wajah Najwa. Sulton bilang semua anggota keluarga Najwa diwajibkan Abah nya untuk berjamaah setiap sholat 5 waktu. Jadi besar kemungkinan Najwa ikut jama'ah di waktu sholat dhuhur tersebut.
Besar harapan Gus Azmi untuk bisa melihat Najwa. Karena beliau sangat tersiksa saat tidak bisa mengetahui kabar kekasihnya. Untungnya kuliah beliau sudah libur semester bersamaan dengan liburan pondok kemarin. Sehingga tidak terganggu dengan penyakit cinta yang beliau alami.
Hari-hari beliau hanya melamun, berdiam diri dikamar sambil melihat video-vidio Najwa yang beliau simpan di laptop dan hp nya. Sekali ibu yai meminta Gus Azmi mengantarkan bingkisan ke rumah Ziza, dan meminta beliau untuk sowan pada Abah Ziza.
Seperti biasa Gus Azmi mengajak ustadz Qosim yang memang sudah seperti kakaknya sendiri. Kemana pun beliau pergi, asalkan tidak ada keperluan, pasti beliau mengajak ustadz Qosim. Tapi saat di sana Gus Azmi merasa risih dengan pandangan Ziza yang malu-malu dan sikapnya yang berbeda. Ziza bersikap seakan menemui kekasihnya, padahal Gus Azmi tidak pernah sekalipun menghubungi Ziza sejak Najwa cemburu. Nomer Ziza pun beliau blokir untuk menghindari fitnah dari Najwa. Hanya ustadz Qosim yang bersikap baik pada Ziza, dan menyambut hangat sambutan Ziza. Sesekali ustadz Qosim mengingatkan Gus Azmi untuk tidak cemberut terus dihadapan Ziza, tapi tidak bisa. Benar kata Najwa, untuk seorang kerabat Ziza terlalu bebas dengan beliau, dan menurutnya terlalu lancang. Sedangkan mereka tidak ada hubungan lebih.
***
__ADS_1
Sembari menunggu iqomah, Gus Azmi kembali memainkan hp nya obat galau. Tiba-tiba harum wangi Najwa tercium di indra penciumannya, dia menuju mushola. Beliau tahu hal tersebut, seketika beliau meneliti sekitar mencari keberadaan Najwa. Dan terlihat lah wajah Najwa yang cantik sedang mencari sandal nya untuk berangkat ke mushola. Dari jauh Gus Azmi mengamati kekasihnya, benar-benar cantik. Wajahnya yang bersinar, bibirnya yang merekah, dan langkahnya yang anggun. Seketika hatinya berdebar, jantung nya berdegup kencang dan bibirnya diam seperti dikunci. Najwa, akhirnya beliau melihat kekasihnya yang sudah lama beliau rindukan.
Najwa sendiri tidak tahu kalau Gus Azmi ada di mushola keluarganya. Tapi dia merasa ada yang memperhatikannya dari tadi. Saat Najwa melihat ke depan dia benar-benar kaget.
"Gus Azmi...? Apakah ini halusinasi lagi? Ya Allah..., kenapa aku jadi eror gini gara-gara cinta. Tapi dia sangat mirip dengan beliau...?" gumam hatinya.
Najwa mencoba mengucek matanya dan melihat lebih jelas.
"Tapi kenapa benar-benar mirip ya?" Najwa semakin mendekat mencoba meneliti.
"Ini mimpi atau apa sih? Kok seperti beneran?" Najwa mencubit pipinya dan sakit.
"Aduh!"
Gus Azmi yang melihat tingkah aneh Najwa tersenyum sendiri.
"Assalamualaikum...," ucap Gus Azmi mengisyaratkan kepada Najwa karena mereka berjarak cukup jauh.
"Allah...!" Teriakan kecil Najwa mengagetkan ibu nya.
"Apa wa? Kenapa?" Ibu Najwa bingung.
"Bukan apa-apa umi, ada semut gigit kaki ku..., sakit...," ucapnya bohong.
"Ayo, sudah mau iqomah." Ajak ibu Najwa.
"Iya umi," Najwa mengikuti.
Di teras mushola Gus Azmi mengamati posisi duduk Najwa dan Alhamdulillah, dia berada tepat diperbatasan satir makmum laki-laki dan perempuan. Jadi Gus Azmi segera mencari tempat dimana bersebrangan dengan Najwa.
Harum wangi yang sering Najwa cium sekarang berada disampingnya. Najwa sadar betul Gus Azmi berada di sampingnya berbatasan dengan satir mushola.
Badannya bergetar dan hatinya merinding entah karena bahagia atau takut, semua bercampur menjadi satu. Tiba-tiba beliau meletakkan sesuatu di samping Najwa. Kado kecil yang imut. Najwa mengambil kado tersebut dan menyimpannya.
"Alhamdulillah..., terima kasih engkau telah membawanya kemari ya Allah..., obat hatiku telah datang...." syukur Najwa dalam hati.
"Tunggu sebentar saja...," pinta Gus Azmi.
Gus Azmi terus saja memandang Najwa, sejak keluar mushola sampai masuk ke dalam rumahnya. Najwa tidak berani menatap beliau karena takut dan malu, semua bercampur jadi satu.
"Dasar, cinta memang gila!" ejek ustadz Qosim dalam hati.
"Ayo Gus, mbak Najwa nya sudah masuk..., ayo kembali." Ajak Sulton.
Gus Azmi mendesah lega.
"Ayo," Gus Azmi beranjak dari tempat duduknya. Tapi tiba-tiba Abah Najwa menyapa mereka.
"Ini kalian yang kemarin kan?" Tanya Abah Najwa.
"Eh bapak, iya pak...," jawab ustadz Qosim.
"Mereka teman saya ustadz, dari Jombang." Terang Sulton.
"Ooo..., Monggo pinarak...!" Tawar Abah Najwa.
"Terima kasih pak...," jawab ustadz Qosim.
Gus Azmi hanya terdiam takut Abah Najwa mengenalinya sebagai putra kyai Qomarudin.
"Ayolah...," paksa Abah Najwa akhirnya mereka mengikuti.
***
__ADS_1
"Umi...! Ada tamu...!" Panggil beliau.
"Iya bah...,"
"Ayo monggo..., silahkan duduk...."
"Siapa Abah?" Ibu Najwa mendekat.
"Ini low teman Sulton, yang kemarin umi tanyakan malam-malam...," terang Abah Najwa.
"OOO...," Ibu Najwa menyalami mereka sambil mengingat-ingat. Kemudian pergi kebelakang.
"Sulton itu adalah santri bapak, sekaligus masih kerabat." Terang Abah Najwa memecah keheningan.
"Iya ustadz...," jawab Sulton ta'dzim.
"Setelah kembali dari Langitan, dia juga saya ajak ngajar disini...," Tambahnya.
"Kalian teman dari pondok Langitan juga?" tanya Abah Najwa.
"Iya pak, saya alumni Langitan." jawab Gus Azmi kalem.
"Sekarang ngajar dimana mas?"
"Saya masih belajar pak, ngajar anak-anak...," jawab Gus Azmi merendah.
"Anak-anak apanya? Aku saja kalah sama njenengan Gus, padahal sudah lama aku ngajar dari pada njenengan." gerutu ustadz Qosim dalam hati.
"Bagus itu, kalau tidak digunakan malah bahaya ilmu itu. Setidaknya gunakan untuk mengajar anak kita kelak, seperti saya ini. Anak saya 4 dan sampai sekarang masih belajar mengajar juga...," ujar Abah Najwa tidak kalah merendahkan diri.
"Aah ustadz bisa saja...,"Sulton tersenyum menanggapi guyonan beliau.
"Alhamdulillah..., beliau tidak mengenaliku." Syukur Gus Azmi dalam hati.
***
Di dalam kamar Najwa segera membuka kado kecil dari beliau, yang ternyata isinya adalah kalung. Memang hanya terbuat dari monel aluminium, tapi kado kecil tersebut sudah membuat Najwa bahagia. Gus Azmi memang masih belum bekerja, jadi tidak heran kalau beliau memberikan kado semampunya.
"Najwa...! Bantu ibu nak, ada tamu...," Panggil ibu Najwa.
"Iya umi...! Tunggu sebentar...," Najwa langsung memakai kalung tersebut dan menyimpannya dibalik bajunya. Kemudian segera menemui ibunya.
"Siapa mi tamunya?" Tanya Najwa sambil membantu umi menyiapkan air panas.
"Teman ustadz Sulton, tetangga seberang...," terang ibu Najwa.
"OOO..., mas Sulton tow?" Najwa memang sudah mengenal Sulton karena dulu sebelum ke pondok mereka sama-sama mengajar di madrasah.
Najwa akan mengantar minuman yang sudah mereka buat, tapi tidak biasanya ibu melarangnya.
"Biar ibu saja, kamu jaga Zahra ya...," perintah ibu Najwa dan ibu nya bergegas pergi.
"Aneh? Biasanya ibu selalu memintaku yang menyajikan, kenapa tiba-tiba dilarang?" tanya hati Najwa.
Karena penasaran Najwa diam-diam mengintip dari dalam rumah.
Najwa benar-benar kaget dibuatnya, ternyata Gus Azmi dan ustadz Qosim ikut bersama Sulton bertamu kerumahnya.
Terlihat Abah mengobrol banyak dengan mereka, Najwa memandangi wajah Gus Azmi dari dalam rumah sambil menggendong adiknya.
"Beliau benar-benar tampan dan sopan, wajahnya terlihat teduh dan bijaksana..., mungkinkah kami berjodoh ya Allah.... Tunjukkan jalan terbaikmu...." Pinta Najwa dalam hati sambil memegang liontin kalung yang diberikan beliau tadi.
Tidak lama mereka berpamitan. Najwa ingin melarang nya karena masih kangen dengan beliau. Tapi semua itu tidak mungkin, beliau bukan siapa-siapa dan belum menjadi siapa-siapa bagi Najwa. Dengan berat hati Najwa hanya bisa mengucapkan salam dari dalam rumah.
__ADS_1
"Hati-hati Gus, terima kasih sudah mengobati rasa rinduku.... Aku sayang njenengan Gus Azmi." Ucap Najwa dalam hati.
#next