
Setelah kejadian tersebut Najwa tidak pernah diganggu Gus Azmi lagi. Saat dia piket pun Gus Azmi tidak pernah terlihat di ndalem. Dijodohkan memang satu jawaban pasti yang membuat Gus Azmi berhenti mengganggunya. Najwa memang merasa lega, tapi dia merasa bersalah karena telah berbohong.
Sebenarnya Najwa tidak yakin alasan Gus Azmi sering mengganggunya, tapi kalaupun ada maksud tertentu setidaknya jawaban Najwa tersebut bisa menghentikan hati Najwa untuk berharap lebih karena perbedaan nasab mereka.
"Pasti menyakitkan kalau sudah terlanjur suka tapi tidak direstui..." Batin Najwa.
Oleh karena itu sebelum benteng pertahanan hati Najwa jebol, maka Najwa sudah menghilangkan pupus nya agar tidak berkembang menjadi bunga.
Seminggu kemudian adalah jadwal beliau mengajar dikelas Najwa. Saat itu tidak sama sekali Gus Azmi memandang Najwa. Bahkan saat Najwa bertanya diwaktu beliau menerangkan, beliau bersikap dingin seakan tidak pernah mengenalnya. Gus Azmi memang sudah berhenti terobsesi mendekatinya. Rasa nya lega, tapi juga sakit karena Najwa sudah terlanjur mendapatkan perhatian beliau walaupun dengan cara yang aneh.
Satu bulan telah berlalu, Najwa menjalani hari-hari nya dengan baik, begitupun Gus Azmi. Saat akan berangkat kuliah Gus Azmi tiba-tiba menemukan kembali kertas pertanyaan konyol yang beliau ajukan pada Najwa. Membaca nya membuat Gus Azmi tertawa sendiri dan teringat pada Najwa yang unik.
"Sayang..., kamu sudah jadi milik orang lain Najwa.... Kalau tidak, aku tidak akan pernah melepaskan mu...." Jujur Gus Azmi.
Saat membaca pertanyaan yang terakhir beliau penasaran dengan jawaban Najwa karena kemarin Gus Azmi belum sempat membacanya.
_tidak ada yang aku suka dari njenengan (anda). Kalau aku suka berarti aku bodoh karena sudah berharap lebih dari njenengan. Seorang santri tidak akan pernah pantas untuk Gus e. Apalagi santri seperti aku_
Dari pernyataan tersebut tiba-tiba Gus Azmi berfikir bahwa jawaban Najwa di pertanyaan nomor 5 adalah bohong. Gus Azmi merasa Najwa memang sengaja menjawab sudah dijodohkan karena merasa tidak pantas untuk nya.
"Kenapa kamu terburu-buru Azmi menyimpulkan tentang Najwa.... Awas kamu! Kalau terbukti kamu bohong..., awas saja...!" Tekad Gus Azmi.
Setelah itu Gus Azmi mencari ustadz Qosim untuk diajaknya mencari rumah asal Najwa. Gus Azmi ingin mengetahui kebenaran fakta yang sudah Najwa ungkapkan.
"Bukankah hari ini ada kuliah Gus?" Tanya ustadz Qosim Sambil memakai helm nya.
"Tenang saja..., aku udah izin.... Bolos sehari gak apa-apa kan...." Terang Gus Azmi yang mulai melajukan motornya.
Hari itu tanpa pikir panjang Gus Azmi segera berangkat ke Tulungagung. Hanya bermodalkan GPS dengan berdasar keterangan alamat yang ditulis Najwa, beliau nekat ke Tulungagung, padahal beliau belum pernah sama sekali pergi ke sana.
"Semoga saja dia tidak bohong dengan alamat rumahnya." Pintanya dalam hati.
Kebetulan ada salah seorang teman Gus Azmi di pondok Langitan yang beralamat kan di kota Tulungagung. Sambil berkendara, Gus Azmi meminta ustadz Qosim untuk mencari nomor telepon santri tersebut. Namanya adalah Sulton, seorang santri yang sangat menghormati Gus Azmi. Dan Alhamdulillah mereka menemukan nomer teleponnya begitu pula alamat rumahnya. Memang kalau sudah rezeki tidak kemana. Ternyata alamat yang mereka tuju tidak jauh dari rumah Najwa. Dan Alhamdulillah dia juga sudah mengenal dekat keluarga Najwa.
Pukul 19.00 wib mereka baru sampai dikediaman Sulton.
"Alhamdulillah...! Gus Azmi...," temannya langsung sungkem ta'dzim.
"Terima kasih sudah berkenan berkunjung...." Ucapnya penuh syukur.
"Iya.... Alhamdulillah..., kalau tidak begini, aku juga tidak tahu rumah kamu...." Jujur Gus Azmi.
"Monggo pinarak...,(silahkan masuk)"
"Iya...," Gus Azmi dan ustadz Qosim masuk ke dalam rumah. Mereka langsung disambut hangat oleh keluarga. Setelah bercengkrama sebentar, Gus Azmi diminta untuk makan.
"Monggo...! Seadanya Gus...," ucap Sulton ta'dzim.
"Iya..., ayow makan bersama, biasa saja seperti di pondok dulu...." Ajak Gus Azmi.
Sulton ragu-ragu untuk menyetujuinya karena sungkan dengan beliau.
"Ayow...!" Paksa Gus Azmi.
__ADS_1
Dan mereka pun akhirnya makan bersama satu nampan seperti di pondok dulu.
Setelah makan, akhirnya Gus Azmi menjelaskan tujuan nya datang ke Tulungagung.
"Bagaimana Gus.... Ada yang bisa saya bantu gus?" Tanya temannya langsung.
"Bagaimana ya...," Gus Azmi bingung memulainya. Beliau pun akhirnya memberi isyarat ustadz Qosim untuk menjelaskannya.
"Akhirnya aku juga yang ngomong." Desah ustadz Qosim.
"Kamu kan yang lebih ahli...,😁" canda Gus Azmi.
"Bigini mas..., sebenarnya gini.... Maksud kedatangan Gus Azmi jauh-jauh kemari tu hanya untuk mencari tahu tentang anak bapak Abdullah dan ibu Salsabila yang bernama Najwa Qumaira ...." Ustadz Qosim sampai hafal dengan nama-nama yang sering Gus Azmi ceritakan.
"Ooowww..., gadis itu. .." Gumam Sulton.
"Setahu saya..., putri ustadz Abdullah sedang di pondok Gus...." Terang Sulton.
"Bukan itu intinya...,"Gus Azmi ragu-ragu untuk melanjutkan.
"Langsung saja Gus...," paksa ustadz Qosim.
"Iya-iya...!" Jawab Gus Azmi sedikit gerogi.
"Gus Azmi ingin tahu apa benar putri ustadz Abdullah memang sudah dijodohkan?" Tanya ustadz Qosim akhirnya.
" Kalau nunggu Gus Azmi ngomong bisa sampai pagi aku disini...," batin ustadz Qosim.
"Ooow begitu..., kalau dari sepengetahuan keluarga saya, tidak ada yang dijodohkan dari keluarga ustadz Abdullah...." Terang Sulton mantab.
"Yakin...! Karena sering ada yang menanyakan putri beliau tersebut tapi ustadz Abdullah secara halus menolak nya, karena putri beliau masih dalam masa pendidikan."
"Sudah lega kan Gus...?" Tanya ustadz Qosim. Tapi masih tampak Gus Azmi ragu-ragu tentang penjelasan tersebut.
"Baru sekitar satu bulan yang lalu ada berita, ada keluarga yang meminta perjodohan dengan putri beliau, tapi beliau masih menolak.... Beliau bilang biarlah putrinya yang memilih yang terbaik untuk pasangannya.... Beliau tidak pernah menyetujui perjodohan Gus..., karena beliau sangat sayang pada putrinya tersebut dan itu sudah diketahui semua warga disini...." Terang Sulton panjang lebar.
"Alhamdulillah...," ucap Gus Azmi lega.
"Memang kenapa tow Gus?" Tanya Sulton penasaran.
"Bukan apa-apa kok...," Gus Azmi tersenyum.
"Ini tu Gus e lagi terkena virus cinta mas...! Makanya malam-malam sampai kesini karena mau melamar mbak Najwa...," canda ustadz Qosim.
"Apa tow sim!" Ucap Gus Azmi spontan.
"Tidak usah marah Gus... Memang itu kenyataan nya kan?" Goda ustadz Qosim yang membuat Gus Azmi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Memang Gus Azmi kenal mbak Najwa dimana?" Tanya Sulton penasaran.
Malam itu mereka mengobrol sampai malam. Sampai ibu yai Marfu'ah menelepon Gus Azmi karena beliau tidak kunjung pulang.
"Maaf umi , tadi Azmi tidak pamit umi.... Buru-buru soalnya."
__ADS_1
"Lain kali kalau hendak bepergian pamit dulu Gus..., biar Abah dan umi tidak kuatir...." Pesan umi.
"Iya umi..., maaf...." Jawab Gus Azmi menyesali perbuatannya.
"Ya udah, hati-hati...! Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam...," umi menutup telepon nya.
"Kenapa Gus?" Tanya ustadz Qosim.
"Kita pamit dulu Sulton, lain kali disambung lagi...." Ucap Gus Azmi akhirnya.
"Iya Gus..., Gus Azmi Tidak ingin tahu rumah keluarga mbak Najwa? Mumpung di sini...," terang Sulton.
Setelah berunding sebentar, akhirnya Gus Azmi memutuskan untuk mampir ke mushola rumah Najwa.
"Terima kasih semuanya Sulton.... Maaf merepotkan..., salam buat bapak ibu kamu...." Pesan Gus Azmi.
"Iya gus..., kalau sering-sering berkunjung kemari malah alhamdulillah saya...," jawab Sulton dengan senyumnya.
"Insyaallah..., assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam...."
Akhirnya malam itu pukul 23.00 WIB mereka baru kembali ke Jombang. Tapi sebelumnya mereka mampir ke mushola rumah Najwa. Berdasarkan keterangan Sulton, dengan mudah Gus Azmi dan ustadz Qosim menemukan rumah Najwa. Saat itu terlihat ayah Najwa masih mengobrol di mushola dengan teman-teman nya. Gus Azmi memakai masker, jadi beliau tidak kuatir ayah Najwa mengenalinya.
"Permisi.... Mau numpang ke kamar mandi pak...." Izin ustadz Qosim.
"Iya..., silahkan...! Kamar mandinya dibelakang mas...," jawab ayah Najwa sopan.
Ustadz Qosim langsung ke kamar mandi seperti arahan ayah Najwa.
"Permisi pak...," Gus Azmi turun dari motornya dan kemudian duduk di teras mushola.
"Dari mana mas? Kok malam-malam?" Tanya ayah Najwa akhirnya.
"Dari rumah teman pak, ngobrol sampai lupa waktu, ternyata sudah malam...." Jujur Gus Azmi yang sedikit grogi berbincang dengan orang tua Najwa.
"Rumah temannya mana?" Tanya salah satu teman ayah Najwa.
"Itu pak..., rumah Sulton putra bapak Yasin...." Terangnya.
"Ooow...,"
Gus Azmi dan ayah Najwa mengobrol sebentar sambil menunggu ustadz Qosim dari kamar mandi.
"Ayo Gus...!" Sapa ustadz Qosim.
"Iya..., kami permisi dulu pak.... Terima kasih..., assalamualaikum" Pamit Gus Azmi.
"Waalaikumsalam....."
Hari itu Gus Azmi benar-benar senang mengetahui kebenaran tentang Najwa. Dia juga bersyukur karena Najwa adalah anak dari keluarga terhormat, jadi kalau sewaktu-waktu Gus Azmi meminta izin ayah dan ibunya untuk meminang Najwa, mereka tidak akan ragu dengan latar belakang keluarga Najwa. Najwa memang bukan putri seorang kyai yang memiliki pondok besar seperti beliau, tapi Najwa adalah wanita Sholehah. Gus Azmi yakin orang tua Najwa pasti memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Entah itu tentang pendidikan agama, akhlak, maupun etika bersosialisasi dengan orang lain. Gus Azmi yakin orang tuanya akan setuju kalau beliau meminang Najwa.
__ADS_1
"Insyaallah..., aku serius dengan kamu Najwa.... Semoga kita berjodoh.... Aamiin." Do'a nya dalam hati.
#next