
Dua Minggu liburan pondok telah selesai. Najwa kembali tepat waktu, begitu pula dengan Eli, Mala, dan Ziza. Najwa terlihat semakin kurus dan pucat. Eli yang memang sangat perhatian dengan Najwa langsung bertanya mengenai keadaan Najwa.
"Kenapa wa? Kok kelihatan kurus? Ada sesuatu yang kamu pikirkan?"tanya Eli penuh perhatian.
"Tidak ada El..., ini memang lagi program diet...," canda Najwa.
"Jangan bohong, kamu pasti ada masalah."
"Masalah apa? Semester kemarin lancar-lancar aja kan..., apa juga yang jadi masalah?"
"Apa karena cinta pada Gus Azmi ditolak?" canda Eli.
Karena setahu Eli Najwa memang ngefens dengan Gus Azmi.
"Bicara apa sih?" Najwa tersenyum geli menanggapi pertanyaan Eli.
"Atau karena beliau tidak ngajar dikelas mu lagi, terus kamu jadi ngidam pengen ketemu beliau?" Ucap Eli berhayal.
"Sudahlah...! Mesti aneh-aneh pikiran kamu tu," Najwa hanya tertawa sebentar dan kembali murung.
"Gus Azmi? Kenapa beliau begitu jahat...," gumam hati Najwa.
"Aku ingin berhenti memikirkan njenengan Gus," ucap Najwa pelan.
"Apa wa? Kamu bicara apa?" Eli penasaran karena hanya terdengar samar ditelinga nya.
"Apa tow? Ayo beres-beres dulu," ajak Najwa yang tidak mau menjelaskan lebih pada Eli.
"Dasar Najwa pelit...!" Protes Eli. Najwa hanya tersenyum tipis.
"Alhamdulillah..., aku punya teman-teman baik yang selalu bisa menghibur ku." Syukur Najwa dalam hati.
***
Memasuki kelas 3 Tsanawiyah ada dua mata pelajaran yang ustadz nya diganti. Pelajaran tasrif lughowi di ajar ustadz Haqi dan Alfiah di ajar ustadz Mansur. Sedangkan Gus Azmi yang mengajar Fatkhul Muin masih di gantikan oleh ustadz Yusuf.
Najwa memulai pelajaran nya seperti biasa, hari itu adalah jadwal ustadz Haqi. Ustadz Haqi ternyata diam-diam sudah mengawasi Najwa sejak Najwa kelas 2 Tsanawiyah. Ustadz Haqi memang tertarik dengan Najwa yang lugu dan cantik. Beliau sangat bersyukur karena bisa mengajar di kelas Najwa. Karena dengan mengajar kelas Najwa, beliau dengan mudah bisa mengenal Najwa.
Najwa tidak pernah tahu tentang ustadz Haqi apalagi mengenal beliau. Najwa baru sekali melihat ustadz Haqi, sejak awal mengajar memang Najwa merasa aneh. Karena hanya dia yang mendapat perhatian lebih dari beliau. Bahkan sempat jadi bahan gosip satu pondok. Tapi Najwa tidak ambil pusing karena dia tidak ada hubungan apa-apa dengan beliau.
Saat setoran hafalan di depan kelas pun tidak jarang ustadz Haqi menggoda Najwa. Berbeda dengan Gus Azmi, ustadz Haqi lebih terang-terangan mendekati Najwa. Sampai-sampai satu kelas menyoraki mereka karena perhatian ustadz Haqi yang berlebih.
Ustadz Haqi memang serius ingin mengenal Najwa. Tapi terlihat Najwa sama sekali tidak merespon beliau. Sampai-sampai beliau bertanya pada teman sebangkunya tentang kekasih Najwa, yang ternyata Najwa memang masih sendiri. Beliau semakin semangat mendekati Najwa yang terlihat sedih dan galau.
"Mikirin apa wa?" Tanya ustadz Haqi saat setoran, Najwa kaget setengah mati.
"Bukan apa-apa ustadz," tolak Najwa sembari menunggu lembaran kertas setoran hafalannya.
"Mikirin aku kan?"goda ustadz Haqi tapi Najwa tidak merespon.
"Gus Azmi..., kapan njenengan kembali?" bayang Najwa dalam hati.
"Najwa?" Tanya ustadz Haqi.
"i--Iya ustadz...," jawab Najwa kaget.
"Ini...." Ustadz Haqi menyerahkan kertas setoran tersebut, Najwa yang menerima nya langsung mundur ke bangkunya.
***
"Hari ini diajar ustadz Haqi kan wa?" Tanya Eli penasaran.
"Iya, memang ada apa?" Jawab Najwa malas.
"Pasti kamu di goda sama pak ustadz?" goda Eli.
"Biarlah...! Yang jelas aku tidak ada perasaan apa-apa dengan beliau, hanya sebatas murid dan guru." Tegas Najwa.
"Jangan gitu dong wa...," Eli mulai merayu Najwa.
"Kalau beliau memang suka dengan mu, kenapa tidak diterima saja? Dia kan juga pintar, gak kalah ganteng DECH sama Gus Azmi idolamu itu. Dari pada cinta bertepuk sebelah tangan." Terang Eli.
"Memang kamu dapat apa kalau aku menerima cinta beliau?" jawab Najwa asal.
"Gak dapat apa-apa sih...?" Eli mulai berfikir.
"Kalau gak dapat apa-apa, tidak usah maksa aku." Terang Najwa.
"Tapi wa,"
"Sudahlah..., aku piket ndalem dulu...." Najwa segera berangkat ke ndalem untuk menghindari omelan Eli yang tidak bermanfaat.
Tidak ada yang tau tentang hubungan Najwa dan Gus Azmi kecuali ustadz Qosim dan ibu yai. Mereka memang terlihat tidak pernah saling peduli kecuali saat di ndalem. Pernah suatu hari Raisya curiga, tapi dengan mudah Najwa memutar balikkan fakta sehingga Raisya tidak pernah curiga lagi.
Hari demi hari terlewati, Najwa masih diam menunggu waktu luang Gus Azmi untuk meminta penjelasan dari beliau. Sekali Najwa melihat Gus Azmi pulang sehari di rumah, tapi belum sempat Najwa bertanya beliau sudah pergi lagi keesokan harinya.
_aku harus kembali wa di tempat KKN, kamu yang semangat ya belajar nya_
Air mata tidak henti-hentinya menetes karena tersiksa dengan pikirannya sendiri. Berulang kali Najwa menyakinkan hatinya untuk selalu percaya dengan beliau, tapi terus saja wajah cantik wanita tersebut teringat dalam pikiran Najwa menggoda dan mendekati beliau. Ingin rasanya Najwa berteriak melepas keluh kesah nya tapi semua tertahan karena dia tidak ingin ada yang tahu sakit hatinya.
40 hari telah terlewati, tugas KKN Gus Azmi telah berakhir. Tapi tugas laporan KKN beliau masih belum selesai. Sekali lagi teman-teman beliau berkunjung ke rumah. Najwa masih melihat wanita tersebut sekali lagi, ternyata memang benar mereka satu kelompok KKN. Hati Najwa seakan dihantam batu karena mengetahui hal tersebut. Ternyata pikirannya tentang kebersamaan beliau dengan wanita tersebut adalah benar. Najwa yakin di masa KKN wanita tersebut selalu berusaha mendekati Gus Azmi. Najwa hanya bisa percaya pada kesetiaan beliau, yang entah itu bertahan atau tidak Najwa tidak pernah tahu.
"Kamu yang antar minuman lagi ya wa," tawar Raisya.
"Kenapa harus aku lagi mbak?" Protes Najwa.
"Antar minuman saja kok, mau ya?" rayu Raisya, akhirnya Najwa menuruti permintaan Raisya.
Sekali lagi dia harus melihat kedekatan wanita tersebut dengan Gus Azmi. Tapi hari ini beda, Gus Azmi mengetahui keberadaan Najwa yang tidak lekat memandang beliau bersanding dengan wanita tersebut.
"Mbak yang cantik kemarin ya?" tanya salah satu teman cowok Gus Azmi.
Najwa hanya bisa tertunduk diam sambil menurunkan minuman.
"Siapa namanya mbak? Boleh kenalan kan?" Tambahnya.
Najwa hanya bisa menahan air matanya yang sudah diujung mata.
"Dendi! Jangan ganggu dia, awas kalau macam-macam!" Ancam Gus Azmi.
"Iya-iya maaf..., bercanda kok." Ucap Dendi sambil tersenyum.
"Jangan gitu dong Gus, Dendi kan cuma minta kenalan...," ucap lembut wanita yang ada disamping beliau.
Gus Azmi baru sadar kalau dia begitu dekat dengannya dan mulai menghindar.
"Jangan dekat-dekat, aku gak suka!" Bentak beliau.
Memang Gus Azmi kalau sedang fokus sering tidak sadar dia berdekatan dengan siapa. Tidak jarang pula Gus Azmi membentak wanita tersebut tapi dia tidak pernah kapok mendekati beliau.
Air mata Najwa tidak bisa ditahan lagi, basah sudah pipinya yang kemerahan. Gus Azmi tidak mengetahui hal tersebut. Najwa segera mundur agar tidak terlihat oleh teman-teman beliau. Raisya yang melihat Najwa menangis mencoba menahan Najwa, tapi Najwa sudah berlari meninggalkan ndalem.
Sekali lagi jebol pertahanan hati Najwa mencoba memaafkan beliau. Najwa sudah tidak tahan lagi. Kesalahan yang sama sekali lagi diulang di depannya. Hatinya benar-benar sakit, tangisnya pecah mengisi kegaduhan para santri. Tidak ada yang tahu derita Najwa, sudah 3 bulan lebih Najwa menahannya. Berusaha sekuat hati memaafkan beliau. Tapi saat kejadian itu diulang lagi, Najwa seakan tidak mampu untuk memaafkan.
Setelah teman-teman Gus Azmi pulang. Segera Gus Azmi memanggil Najwa agar ke ndalem, tapi Najwa tidak kunjung datang. Gus Azmi benar-benar bingung harus berkata apa pada Najwa, beliau sadar sekali lagi beliau menyakiti hati kekasihnya. Dulu saat masalah dengan Ziza, Najwa sudah akan meninggalkannya. Gus Azmi takut sendiri membayangkan apa yang akan diputuskan Najwa karena melihat dirinya bersanding dengan wanita lain.
***
Wanita tersebut bernama Bella, memang sudah lama Bella menyukai beliau. Berulang kali Gus Azmi menolak Bella, tapi dia tetap tidak pernah menyerah mendekati beliau. Gus Azmi sudah berusaha keras menjauhi Bella, sampai-sampai beliau tidak segan membentak Bella jika dia sudah diluar batas. Tapi sialnya Gus Azmi selalu satu kelompok dengan Bella. Entah itu memang diatur atau sebuah kebetulan beliau tidak pernah tahu. Karena memang Bella adalah putri ketua rektor kampusnya.
Sama halnya di pondok, di kampus pun Gus Azmi sangat terkenal dan menjadi idaman para mahasiswa wanita. Dari semester awal sampai akhir hampir semua tahu dengan beliau. Gus Azmi sendiri juga heran kenapa hal tersebut bisa terjadi, padahal dia tidak pernah menganggap sedikit pun masalah tentang wanita. Bahkan beliau terlihat tidak butuh dengan mereka, tapi setiap dia berjalan tidak jarang yang terus memandang beliau. Pernah karena jengkel, Gus Azmi memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya yang memang menggoda wanita yang memandangnya.
Keesokan harinya Gus Azmi sudah aktif lagi mengajar. Dikelas Najwa terlihat diam dan enggan memandang beliau. Gus Azmi merasa tersiksa menanggapi sikap Najwa yang demikian. Belum sempat Gus Azmi menjelaskan kepada Najwa tentang semuanya. Terdengar kabar ustadz Haqi sedang mendekati Najwa. Gus Azmi seakan di bakar cemburu karena kekasihnya di dekati laki-laki lain. Beliau langsung mencari kebenaran kabar tersebut.
Pagi itu Gus Azmi bersama ustadz Haqi, dan ustadz yang lain berangkat ke madrasah. Kebetulan juga Najwa berangkat ke madrasah, santri-santri yang sudah mendengar gosip tentang Najwa dan ustadz Haqi serentak bersorak menggoda Najwa dan ustadz Haqi.
"Najwa! Najwa..., tu ada ustadz Haqi...." Bisik Eli riang.
__ADS_1
"Ciye... Ciye...! Ustadz Haqi...! Ada mbak Najwa tu," teriak salah satu santri.
Semua bersorak ramai. Najwa yang menyadari hanya bisa tersenyum malu.
"Apa to El...," Najwa mengetok kepala Eli pelan.
"Ada Gus Azmi juga," ucap Eli semangat.
Najwa langsung kaget dan tanpa sengaja melihat ekspresi Gus Azmi yang terlihat tidak suka.
"Gus Azmi?" ucap Najwa pelan.
Tatapan Gus Azmi tidak lepas dari Najwa. Beliau benar-benar marah melihat Najwa yang tadi tersenyum saat menanggapi sorakan teman-temannya. Najwa hanya bisa tertunduk karena hatinya masih sakit jika bertatapan dengan beliau. Ziza yang kebetulan juga berada di samping Najwa terlihat malu-malu karena dia menyangka Gus Azmi memandangnya.
"Tadi saat nama ustadz Haqi di sebut, kamu tersenyum manis. Tapi saat aku memandang mu kenapa kau menunduk Najwa? Apa memang kamu sudah ke lain hati? Segampang itu kah?" Tanya batin Gus Azmi.
Saat di dalam kelas Gus Azmi sama sekali tidak peduli dengan Najwa. Beliau benar-benar cemburu dengan gosip tersebut. Padahal beliau belum tahu kebenaran masalahnya. Beliau meminta ustadz Qosim mencari tahu sudah sejauh mana ustadz Haqi mendekati Najwa. Tapi belum ada jawaban setelah hampir satu minggu menunggu. Beliau sudah tidak tahan dengan Najwa, akhirnya Gus Azmi mencari tahu sendiri tentang kabar tersebut.
Tidak biasanya Gus Azmi keliling di madrasah putri saat tidak ada jadwal mengajar. Beliau ingin mengetahui kelas Najwa yang saat itu adalah jadwal ustadz Haqi mengajar. Dan ternyata benar, ustadz Haqi terus saja mencari perhatian Najwa. Terlihat Najwa hanya tersenyum malu-malu menanggapi candaan ustadz Haqi. Memang ustadz Haqi adalah tipe orang yang suka sekali bercanda, jadi tidak heran dia terus meledek Najwa yang memang menjadi incaran beliau.
Jantung Gus Azmi berdegup lebih kencang karena melihat hal tersebut. Amarahnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Ingin rasanya beliau membentak Najwa dan mengingatkan bahwa Najwa hanya miliknya tidak ada yang boleh mendekati Najwa sedikit pun kecuali dirinya. Tanpa terasa kertas absen yang dari tadi dipegang Gus Azmi remuk tidak berbentuk karena menahan emosi.
***
Malam itu setelah sorogan tiba-tiba Najwa di panggil ke kantor. Ustadz Qosim menyampaikan pesan Gus Azmi agar Najwa menemui beliau di aula madrasah lewat tengah malam nanti. Gus Azmi sudah kehilangan akal sehatnya karena cinta Najwa. Beliau merasa dikhiyanati oleh kekasihnya. Padahal Najwa sama sekali tidak melakukan apa-apa selama ini.
Najwa ragu-ragu menuruti permintaan Gus Azmi. Tapi Najwa juga ingin tahu kebenaran tentang wanita yang selama ini dekat dengan beliau. Wanita yang selama 3 bulan terakhir selalu mengganggu pikiran Najwa. Saat Najwa teringat wanita tersebut hati nya langsung bergetar dan sakit. Terbayang lah kembali saat Najwa melihat sendiri beliau dengan nyamannya bersanding dengan wanita tersebut.
Tengah malam saat semua sudah terlelap. Najwa beranjak menuju aula madrasah. Aula madrasah dekat dengan mushola pondok, jadi Najwa tidak takut walaupun harus ke sana sendirian. Di sana sudah ada ustadz Qosim yang menunggu diluar aula.
"Gus Azmi sudah ada di dalam mbak Najwa." Terang ustadz Qosim.
Najwa menarik nafas panjang sebelum masuk. Najwa mencoba mengatur emosinya yang sudah berbulan-bulan terpendam.
"Bismillah...," ucapnya pelan dan segera masuk ke aula.
Terlihat Gus Azmi duduk bersila dan menatap Najwa tajam. Pandangan beliau seakan ingin membunuh Najwa yang sudah menyakiti hati dan perasaannya.
"Duduk!" Ucap Gus Azmi tegas.
Najwa bergetar mendengar ucapan beliau yang sedikit membentak. Kembali air matanya ingin keluar karena setiap memandang Gus Azmi hanya wanita lain yang terlintas dipikiran Najwa. Najwa duduk sekitar 3 meter di depan Gus Azmi.
"Langsung saja...," Gus Azmi mendesah pelan.
"Sudah berapa lama kamu dekat dengan ustadz Haqi?" Tanya Gus Azmi langsung.
"Aku juga ingin tahu Gus, sudah berapa tahun njenengan dekat dengan wanita itu?" Najwa hanya bisa berkata dalam hatinya.
"Jawab!" Bentak beliau sambil menggebrak meja.
"Saya tidak tahu Gus," jawaban Najwa tidak nyambung dengan pertanyaan Gus Azmi.
"Kalau ditanya tu jawab yang benar!" Gus Azmi kembali menggebrak meja, kali ini terdengar lebih keras dari yang pertama.
"Saya benar-benar tidak tahu Gus," air mata Najwa tidak kuasa menetes.
Gus Azmi merasa geram dengan Najwa karena dia paling tidak tahan melihat wanita menangis. Akhirnya meja yang ada dihadapan beliau jadi sasaran beliau. Beliau membanting meja tersebut tepat dihadapan Najwa.
Tangis Najwa semakin menjadi, Najwa merasa dihakimi seperti sudah berselingkuh di hadapan beliau.
"Allah...," rintih Najwa dalam tangisnya.
"Jangan menangis!" Bentak Gus Azmi.
Beliau memang terkenal tegas dan tidak kenal ampun kepada orang yang bersalah.
"Kenapa njenengan tanya saya? Ustadz Haqi yang seharusnya njenengan tanya, sudah berapa lama beliau mengawasi saya!" Ucap Najwa akhirnya.
"Kamu mulai berani Najwa?" Gus Azmi berdiri dan mulai mendekati Najwa.
Najwa benar-benar takut dengan beliau, Najwa takut Gus Azmi berbuat nekat padanya.
"Dasar penghianat!" Teriak Gus Azmi pada Najwa. Kata-kata tersebut terdengar seperti kilat menyambar hati Najwa. Benar-benar sakit.
"Kalau aku penghianat, terus njenengan apa Gus? Berdekatan dengan wanita lain di depanku?" tanya batin Najwa yang membuat tangis Najwa semakin menjadi.
"Tidak aku awasi beberapa bulan saja kamu sudah berani tebar pesona dengan laki-laki lain, dasar wanita tidak tahu malu...! Aku jijik dengan mu Najwa! JIJIK...!" Ketus Gus Azmi.
"Jaga batasan njenengan Gus Azmi!" Najwa sudah tidak tahan dengan semua kata-kata Gus Azmi yang seakan-akan seperti silet menyayat hatinya.
Dengan berani Najwa menatap lekat ke arah Gus Azmi.
"Saya tidak pernah sedikitpun kurang dari 2 meter dekat dengan ustadz Haqi...! Saya selalu menjaga diri saya dari fitnah.... Dengan mudah njenengan bilang saya berkhiyanat? Terus apa yang harus saya lakukan kalau saya melihat sendiri njenengan dengan nyamannya berdekatan dengan wanita lain dengan jarak kurang dari 5 senti?" Jujur Najwa.
Gus Azmi hanya bisa diam membeku.
"JAWAB...!" Najwa tidak sadar menarik kemeja Gus Azmi karena begitu sakit hatinya di bilang penghianat.
"JAWAB SAYA GUS...," Najwa semakin terisak.
Gus Azmi langsung tersadar kesalahannya.
"Berbulan-bulan saya menahan perasaan ini, saya percaya dengan njenengan. Saya yakin njenengan akan tetap setia. Tapi kenapa saya yang tidak pernah melakukan apapun dibilang penghiyanat? JAWAB GUS AZMI! JAWAB...!"
Najwa tersungkur lemah di bawah telapak kaki Gus Azmi. Gus Azmi benar-benar tidak bisa berkata apapun karena ucapan Najwa.
"Aku benar-benar tidak tahu ustadz Haqi memiliki perhatian lebih kepada saya, saya juga tidak pernah menanggapi beliau. Berulang kali beliau mengajak bicara saya. Tapi tidak sedikit pun saya merespon beliau. Apakah saya salah kalau ada laki-laki lain yang tertarik dengan saya, sedangkan hubungan kita saja tidak pernah diketahui oleh siapa pun...?" Jujur Najwa.
"Sedangkan wanita itu...," Najwa tidak kuasa menahan air matanya. Ucapannya sendiri dirasa sangat menyayat hati.
"Njenengan begitu menikmati bersama dia! Berdekatan dengannya, berdiskusi tanpa jarak. Bahkan bergandengan dengannya menikmati pelukannya...."
"Najwa...," Gus Azmi mencoba meraih Najwa.
"Jangan sentuh saya!" Bentak Najwa.
Sebenarnya waktu itu karena Bella memeluk Gus Azmi . Gus Azmi langsung turun dan tidak mau menggandeng Bella. Semua karena teman-temannya yang memaksa untuk menggandeng Bella. Gus Azmi sendiri kaget karena tiba-tiba Bella memeluk erat dirinya. Seketika Gus Azmi mematikan motornya dan meminta Bella turun. Gus Azmi marah besar waktu itu, tapi Najwa sama sekali tidak tahu.
"Apakah saya kurang sabar menghadapi situasi ini Gus...? Saya sudah bertahan sejauh ini menunggu penjelasan njenengan, tapi kenapa njenengan berkata saya penghiyanat? Kurang apa lagi saya menjaga hubungan ini, kenapa dengan mudah njenengan terlena dengan gosip yang belum jelas kebenarannya...?" Ucap Najwa getir.
Tiba-tiba Najwa kembali berdiri tepat dihadapan Gus Azmi benar-benar dekat sampai nafas mereka saling bertemu. Ustadz Qosim yang melihat hal tersebut hanya bisa berpaling pura-pura tidak tahu.
"Siapa gadis itu Gus? Kenapa njenengan begitu dekat dengannya? Apakah saya kurang untuk njenengan? Inikah yang njenengan minta?" Najwa meraih tangan Gus Azmi, memegangnya erat.
"Tangan yang saya jaga agar tidak tersentuh oleh orang lain, sekarang njenengan sentuh Gus." Air mata Najwa tidak bisa berhenti menetes dihadapan Gus Azmi.
"Pipi yang seharusnya disentuh saat sudah halal. Sekarang njenengan sentuh...," Najwa meletakkan tangan lembut Gus Azmi di pipi merahnya.
"Saya tidak pernah berkhiyanat kepada njenengan, ini memang saya jaga untuk njenengan Gus...," Najwa terdiam sejenak.
"Apakah ada yang lebih yang diberikan wanita itu untuk njenengan Gus, saya siap melakukannya untuk njenengan walaupun saya harus melanggar batas...." Jujur Najwa.
Najwa sudah tidak bisa berfikir sehat karena sakit hatinya.
"Cukup..., berhenti menyakiti dirimu Dinda."
Ucap Gus Azmi yang ikut meneteskan air mata karena ucapan Najwa.
"Tidak Gus, kalau ini bisa membuat njenengan merasa memiliki saya seutuhnya. Saya siap!" Tegas Najwa. Tapi Gus Azmi masih tetap terdiam tertunduk.
"Apakah saya sudah begitu hina dihadapan njenengan Gus?" Najwa mundur perlahan.
"Wanita itu pasti sudah memiliki njenengan, satu bulan lebih njenengan bersama dengannya. Pasti saya sudah tidak ada ruang lagi bagi njenengan,"
"Tidak Najwa..., tidak...." Gus Azmi mencoba menjelaskan tapi beliau bingung harus berkata apa untuk menarik kata-katanya yang kasar.
"Maafkan saya Gus, saya akan lebih mengerti njenengan..., dengan sadar saya akan menghapus perasaan ini. Maaf sudah membuat njenengan jijik menyentuh saya. Saya memang tidak pantas menunggu njenengan...," Najwa perlahan mundur dan pergi meninggalkan aula tersebut.
__ADS_1
Najwa menangis sekeras-kerasnya karena begitu sakit ditolak oleh beliau. Najwa memang tidak pernah mengerti kalau Gus Azmi ternyata sudah melupakannya. 3 bulan lebih Najwa diam mencoba memahami beliau yang memang sibuk dengan kuliah nya. Tapi ternyata sikap Gus Azmi yang berubah bukan karena tugas, tapi karena dia sudah ke lain hati. Najwa merasa menyesal sudah menunggu beliau, yang kenyataannya sudah beranjak pergi dari hatinya.
***
"Gus, sudah hampir shubuh..., masih mau disini?" tanya ustadz Qosim yang sudah lelah menunggu Gus Azmi.
Karena dari tadi Gus Azmi hanya terdiam membisu melihat Najwa meninggalkannya. Berjam-jam Gus Azmi meratapi kesalahannya. Menyesal telah meragukan kesetiaan Najwa, menyesal telah melukai Najwa sekali lagi.
Malam itu Najwa tidak bisa memejamkan matanya karena perasaan Najwa yang hancur. Berulang kali Najwa bertekad menghapus perasaan tersebut agar dia bisa kembali hidup normal tanpa ada bayang-bayang beliau lagi. Tapi semua terasa perih dan sesak di dada. Najwa teringat tangan Gus Azmi lembut yang dengan sengaja dia genggam. Dan juga sentuhan di pipinya yang memang baru pertama kali Najwa dipegang oleh lain muhrim. Saat dirasakan waktu itu benar-benar indah, tapi Najwa sadar dia sudah melanggar batas. Malam itu Najwa segera melakukan sholat taubat dan puasa keesokan harinya untuk menghapus dosa kegilaan nya menyentuh Gus Azmi.
Sebelum teman-temannya bangun, Najwa sudah mandi membilas rambutnya yang panjang dan membersihkan semua bagian tubuhnya. Hampir satu jam Najwa di kamar mandi, karena memang hanya dia yang berada di kamar mandi sendirian. Saat santri-santri sudah mulai ramai, Najwa segera menyelesaikan mandinya dan segera ke mushola untuk berjamaah.
Terlihat Gus Azmi baru kembali dari aula seraya Najwa yang akan menuju mushola. Najwa kangen dengan wajah beliau. Sejenak Najwa memandangi wajah mantan kekasihnya. Begitu teduh dan bijaksana, rasanya beliau memang mantan terindah bagi Najwa. Tidak terasa air matanya kembali menetes membasahi pipinya yang memerah. Najwa memang masih belajar menerima kenyataan bahwa Gus Azmi sudah melepaskan nya. Baru semalam Najwa di tolak oleh Gus Azmi, rasa sakitnya masih sangat kuat di hati Najwa.
Tapi Najwa lega karena akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan Najwa tentang wanita yang selalu dekat dengan beliau. Najwa sudah sangat tersiksa karena perasaan penasaran tersebut.
"Mungkin memang wanita tersebut yang terbaik untuk njenengan Gus," ucapnya dalam hati sambil menghapus air matanya.
***
Hari itu berjalan seperti biasanya. Najwa kembali di ajar ustadz Haqi yang selalu mencari perhatiannya. Najwa tetap tidak menanggapi beliau. Hatinya masih terpaut pada Gus Azmi, yang kenyataannya masih menggantung hubungan mereka. Semalam Gus Azmi belum melepaskan Najwa, tapi Najwa yang melepaskan diri karena tuduhan jahat beliau.
Seperti biasa sepulang Diniyah Najwa bertugas di ndalem. Hari itu ibu yai memanggil Najwa, dan meminta Najwa mengobrol dengan beliau.
"Najwa, sudah makan nak?" Tanya ibu yai penuh perhatian.
Ibu yai memang suka dengan Najwa, beliau sudah menganggap Najwa seperti putrinya sendiri. Apalagi mengetahui Gus Azmi juga tertarik dengan Najwa, umi semakin menyayangi Najwa karena hal tersebut.
"Hari ini saya puasa umi," jawab Najwa ta'dzim.
"Sini Lo nak..., duduk di samping umi...." Paksa umi akhirnya Najwa menurut.
"Bagaimana hubungan mu dengan Azmi?" Tanya ibu yai tiba-tiba.
Sekilas Najwa langsung teringat pertengkaran beliau dengan nya. Hatinya kembali perih dan sakit.
"Pasti kamu kangen di godain kan? Azmi memang sibuk akhir-akhir ini, hari ini dia juga sudah berangkat ke kampus sejak pagi tadi." Terang ibu yai.
"Pasti menemui wanita itu...?" Batin Najwa, tidak terasa air matanya kembali akan jatuh.
"Najwa..., kenapa?" Ibu yai mengetahui Najwa sedang merebak akan menangis. Tiba-tiba Najwa memeluk erat ibu yai menangis di pelukan beliau.
"Kenapa nak? Kalian bertengkar lagi...,"
Najwa hanya bisa menggeleng dalam tangisnya.
Memang ibu yai sudah seperti ibu Najwa sendiri saat dia jauh dari ibu kandungnya. Beliau selalu perhatian dengan keadaan Najwa. Najwa juga sangat menghormati beliau, setiap hari ibu yai lah yang selalu menuntun Najwa agar tetap bersabar dengan Gus Azmi yang memang sibuk. Ibu yai tau berulang kali Najwa terlihat susah merindukan Gus Azmi yang akhir-akhir ini memang jarang menyapanya. Akhirnya ibu yai yang setia menghibur Najwa, sering mengajak Najwa mengobrol dan bercanda agar Najwa tidak jenuh dengan penantian nya.
Ibu yai membiarkan Najwa menangis melepaskan kegundahan hatinya. Sampai beberapa menit barulah ibu yai bertanya pada Najwa masalah apa yang menyebabkan Najwa begitu sedih.
"Kenapa nak? Azmi menyakitimu?" Ibu yai curiga.
"Tidak umi, beliau tidak berbuat apa-apa. Saya memang ada sedikit masalah dengan teman saya." Ucap Najwa mencoba berbohong.
"Kenapa harus berbohong, aku tadi lihat Azmi juga tidak tidur semalam. Sebenarnya kenapa nak?" Tanya ibu yai mencoba mencari tahu.
"Tidak apa-apa umi, mungkin Gus Azmi banyak pikiran makanya beliau tidak bisa tidur. Saya memang tidak ada hubungannya...," Air mata Najwa kembali menetes karena harus mengucapkan nama Gus Azmi lagi.
"Maafkan saya umi, saya tidak bisa jujur pada njenengan." Keluh hati Najwa.
"Sini nak sini...!" Ibu yai kembali memeluk Najwa erat. Kembali tangis Najwa pecah dipelukan beliau.
Tanpa sepengetahuan Najwa, Gus Azmi sudah berada dibalik pintu menguping pembicaraan ibu yai dan Najwa. Gus Azmi benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada Najwa untuk meminta maaf. Pikirannya buntu karena selain tugas kuliahnya yang menumpuk ditambah Najwa yang beliau sakiti dengan kata-kata kasarnya.
"Sudah pulang AZ...?" Tanya Abah Qomar mengagetkan Gus Azmi begitu pula ibu yai dan Najwa yang berada di teras.
"Sudah bah," Gus Azmi segera sungkem.
"Ayo cepat Makan dulu, baru istirahat." Perintah Abah Qomar.
"Iya bah," Gus Azmi segera menuju ruang makan.
"Najwa, temani Azmi di dapur ya..., Abah umi ajak keluar dulu, biar kalian leluasa mengobrol." Ucap ibu yai.
"Tapi umi," Najwa berusaha menolak karena dia tidak ingin menemui Gus Azmi yang sudah jijik dengannya.
"Sudahlah..., cepat ke sana." Ibu yai segera menghampiri Abah Qomar meminta di antar belanja.
Hari itu ndalem memang sepi, Raisya dan Mala tidak datang siang itu. Najwa dengar Raisya sakit dan Mala masih pulang karena ada urusan keluarga. Sekali lagi Najwa harus berhadapan dengan Gus Azmi yang sudah menyakitinya.
"Najwa...! Ambilkan lauk untuk Gus e...!" Perintah ibu yai yang sedang bersiap-siap keluar dengan Abah Qomar.
"Ayo bah," ajak ibu yai.
"Kenapa tidak besok saja umi...," tawar Abah Qomar.
"Sudahlah..., umi inginnya sekarang...," paksa ibu yai dan tidak lama mereka berangkat.
Najwa perlahan menuju dapur, terlihat Gus Azmi masih terduduk dengan piring kosong. Najwa segera melayani beliau, mengambilkan nasi dan lauk yang sudah tersedia. Tiba-tiba Gus Azmi meraih tangan Najwa dan menggenggamnya erat.
"Lepaskan Gus," pinta Najwa karena mereka hanya berdua. Najwa takut Gus Azmi berbuat nekat.
"Tidak..., sebelum kamu memaafkan ku." Jujur Gus Azmi. Seketika hati Najwa berdesir perih teringat kembali ucapan beliau.
_PENGHIYANAT_
"Apa yang harus saya maafkan? Njenengan tidak salah, saya yang salah Gus. Maafkan saya...," Ucap Najwa pelan.
Tiba-tiba Gus Azmi menariknya mendekat. Najwa benar-benar gugup karena mereka terasa begitu dekat.
"Gadis itu adalah Bella, teman sekampus denganku. Dia memang menyukaiku. Tapi dihatiku hanya ada kamu Dinda. Najwa Qumaira..., kekasihku."
Gus Azmi tiba-tiba menempelkan keningnya di kening Najwa.
Terasa hembusan nafas beliau yang tenang, harum wangi badan Gus Azmi membius Najwa.
"Kenapa aku tidak bisa menolak beliau..., apakah ini yang namanya setan? ya Allah..., sadarkan beliau. Hamba tidak sanggup menahan godaan syetan ini ya Allah...."
Keluh hati Najwa.
"Kamu ingin tahu kan apa saja yang dia lakukan untuk mendekati ku?" Gus Azmi menatap Najwa tajam.
"sebagai laki-laki aku akui, aku hampir terjerumus olehnya. Karena rayuan dan godaan lembutnya. Tapi aku masih bisa bertahan Dinda..., karena aku sama sekali tidak tertarik olehnya....Tapi, denganmu aku tidak bisa...."
Gus Azmi tiba-tiba meraih pinggul Najwa. Reflek Najwa mendorong Gus Azmi karena beliau hampir saja memeluknya.
"Jaga batasan njenengan Gus," Najwa tegas menolak Gus Azmi walaupun dia sangat ingin dipeluk beliau.
Gus Azmi tersenyum lega, karena beliau merasakan Najwa sudah kembali. Cintanya sudah kembali, beliau sangat yakin.
"Makanya aku menjauhimu, karena aku tidak mau merusak mu Dinda..., kalau kita berdekatan aku takut tidak bisa berhenti." Jujur Gus Azmi.
Najwa benar-benar takut, karena Gus Azmi terlihat seperti akan memangsanya. Pandangan Beliau terlihat bergairah olehnya.
Tidak seperti biasanya pandangan yang teduh dan berwibawa.
"Inilah laki-laki Dinda, jangan takut. Aku masih bisa bertahan. Asalkan kamu tetap menjaga jarak."
Gus Azmi kembali duduk meredam nafsu nya menyentuh Najwa. Beliau mengambil nafas dalam-dalam menenangkan diri.
Kaki Najwa terasa lemas karena hal tersebut, masih terbayang jelas Gus Azmi akan memeluknya bahkan mungkin berniat mencium Najwa.
"Ayo duduk, aku jelaskan semuanya. Semua tentang Bella." Najwa ragu-ragu untuk mengikuti perintah beliau.
"Jangan takut..., tidak apa-apa kok." Gus Azmi malah mencoba menggoda Najwa yang terlihat shock karena ulahnya.
"Calon istriku memang gemesin ya?" Canda Gus Azmi sambil tersenyum. Najwa langsung memerah karena malu.
__ADS_1
"Kamu memang menggoda Dinda. Makanya hati-hati denganku." Jujur Gus Azmi. Najwa tidak bisa berkata apa-apa menanggapi ucapan beliau.
Setelah tenang Gus Azmi menceritakan segalanya kepada Najwa agar Najwa tidak berfikir negatif tentangnya. Terutama tentang Bella, gadis yang selalu mencoba memikat Gus Azmi.