DUNIAKU DUNIAMU

DUNIAKU DUNIAMU
Tahtiman


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut, Gus Azmi berusaha lebih menjaga jarak dengan Najwa. Najwa pun menyetujui hal tersebut. Mereka sepakat tidak akan mengecewakan ibu yai.


"Tidak apa-apa kan?" tanya Gus Azmi ragu.


"Tidak apa-apa Gus, saya setuju. Ini memang yang terbaik." Najwa menanggapi positif permintaan Gus Azmi.


"Selama kita belum halal tolong saling mengingatkan ya," pinta Gus Azmi.


"Insyaallah...," ucap Najwa mantap.


Percakapan tersebut terjadi saat setoran mukhafadzoh (hafalan) akhir semester. Memang bukan hal yang kebetulan kalau Gus Azmi mendapat bagian di kelompok kelas Najwa. Tapi, Gus Azmi memang sengaja mengambil bagian pada kelompok kelas Najwa agar beliau bisa menyampaikan pesan tersebut. Agar menjaga hati Najwa untuk tidak berprasangka buruk perihal perubahan sikap nya.


Tidak terasa sudah mendekati akhir semester. Mulai dari koreksi kitab, mukhafadzoh (hafalan) dan baca kitab, Najwa jalani dengan lancar. Alhamdulillah semuanya lulus. Sesuai arahan Gus Azmi, Najwa belajar lebih giat lagi. Najwa berusaha memahami pelajaran nya bukan hanya sekedar membaca dan menterjemah. Tapi juga merumuskan agar lebih mudah dia pahami.


Kelihatannya Ziza juga lancar dalam ujiannya. Memang Ziza adalah anak yang cerdas, kadang Najwa iri padanya. Karena tidak perlu waktu lama belajar, dia sudah paham maksud pelajarannya. Najwa dan Ziza bersaing ketat mendapat nilai terbaik, karena mereka berada di jenjang yang sama kelas 2 Tsanawiyah tapi kelas berbeda.


Berbeda dengan Eli dan Mala yang sudah bingung dengan masalah nya sendiri-sendiri.


Eli setoran hafalannya kurang dan Mala tidak lolos dalam koreksi kitab.


"Bagaimana ini wa, padahal sudah tinggal 3 hari ujian tapi hafalan ku masih kurang 50 nadzom?" rengek Eli.


"Sudahlah..., ayo yang serius hafalannya.... 25 nadzom mungkin sudah diluluskan kamu. Semangat yaaa...!" Najwa memberi motivasi.


"Najwaaaaaa...!" Eli kembali merengek sambil memeluk bantalnya.


"Sudah-sudah...! Jangan seperti anak kecil, salah sendiri dari kemarin gak serius!" Ucap Ziza menohok.


"Kamu jahat banget za...," protes Eli.


"Biarin! makanya yang serius..., Najwa saja bisa kok yang masih termasuk santri baru. Masa santri lama masih saja ngeluh...," terang Ziza.


"Ziza jahat...!" Eli langsung pergi keluar kamar.


"Mau kemana El...?" tanya Najwa tapi Eli tidak merespon.


Beda Eli beda pula dengan Mala. Setelah Eli pergi sekarang giliran Mala yang merengek menceritakan masalahnya.


"Ziza...! Bagaimana ini..., kitab ku masih banyak yang kosong..., padahal sudah aku tambal, tapi belum kelar juga..., bantu aku Ziza...," rengek Mala.


Di sekolah memang Ziza terkenal unggul dari pada Najwa. Makanya Mala lebih percaya pada Ziza dari pada Najwa untuk menolong menyelesaikan masalahnya.


"Ini juga! Sama saja dengan Eli. Makanya jangan begadang mulu, malam-malam keluyuran gak jelas! gosip sana sini..., untung kamu gak pernah dapat takzir...," protes Ziza.


"Ziza..., jangan gitu dong...," Mala mencoba merayu Ziza.


"Kalau dengan teman-teman Ziza kelihatan tegas dan galak. Tapi dengan Gus Azmi dia sangat manja dan lebay. Dia punya kepribadian ganda mungkin ya?" gumam hati Najwa.


"Please...! Tolong bantu ya," Mala masih mencoba merayu Ziza.


"Najwa...!" Panggil Ziza tiba-tiba.


"i--iya...," Najwa kaget dengan panggilan Ziza yang keras.

__ADS_1


"Kamu bantu Mala, aku malas kalau dia tidak mau berubah! Dari kemarin masih saja masalah yang sama..., males!" Ucap Ziza ketus.


Mala terlihat kecewa dengan tanggapan Ziza yang memang sedikit berlebihan.


"Aku bantu ya Mal, jangan kuatir..., lusa pasti sudah selesai...," Najwa mencoba mendukung Mala.


"Terima kasih ya wa...," ucap Mala akhirnya.


Dua hari dua malam, pagi, siang, sore Najwa membagi waktunya membantu Mala. Tapi kitabnya masih banyak yang kosong. Sedangkan Eli tetap fokus pada hafalannya karena besok adalah hari terakhir setoran.


"Masih banyak ya Mal?" tanya Najwa yang sudah sangat lelah karena jenuh memandang kitab terus.


"Masih wa..., ayo Najwa..., semangat..., besok adalah malam terakhir pengumpulan kitab...," harap Mala.


"Please..., bantu aku...." Tambahnya.


"Iya...," Najwa kembali membantu Mala.


Ziza tidak tega melihat Najwa terlihat lelah membantu Mala. Karena pagi, sore dan malam selain sekolah dia juga harus pergi ke ndalem. Di sela-sela kegiatannya Najwa masih bersedia membantu Mala. Akhirnya karena rasa iba nya pada Najwa, Ziza bersedia membantu. Alhamdulillah berkat bantuan Ziza semua selesai tepat pada waktunya. Eli pun bisa mendapatkan kartu ujian, meskipun dia hanya bisa menambah 20 nadzom Alfiah sebagai tambahan hafalan sebelumnya.


"Alhamdulillah..., lega rasanya...," syukur Najwa.


"Lain kali kalian harus lebih serius..., jangan sampai terulang kembali!" Tegas Ziza.


"Iya-iya neng Ziza...," canda Mala.


"Neng ning neng nong...!" celoteh Eli sambil tertawa.


"Eliiiii...!" Ziza menggelitik Eli gemes.


"Ternyata mereka juga sudah tau kalau Ziza adalah seorang neng..., hanya aku yang belum mengenal Ziza sepenuhnya, karena sikapnya yang dingin." Gumam Najwa dalam hati.


"Najwa...! kenapa bengong?" panggilan Mala membuyarkan lamunannya.


"t--Tidaak...,"


Setelah ujian semester para santri mengadakan banyak lomba-lomba untuk setiap himpunan santri(HS). Seperti lomba balap karung, tarik tambang, baca berita dan juga festival sholawat sebelum malam penutupan pondok. Ziza dan Eli mendapat tugas mengikuti lomba baca berita, lomba tersebut diadakan di malam hari dan acaranya begitu meriah. Banyak santri yang antusias mengikuti lomba tersebut.


Ziza memang ahli dalam segala hal. Saat dia harus berlagak lucu dan kocak tidak membuatnya kehilangan ide. Padahal melucu bukan kepribadian nya. Sedangkan Eli memang dari awal anaknya lucu, kalau diminta melucu malah semakin membuat orang lain tertawa.


"Selamat siang para pemirsa setia Miftahul Ulum... Telah di terima kabar yang menggoncang kan dunia. Si Temon, dengan perjuangan dan kegigihannya telah melawan si garang memperebutkan si Loha...(bla...bla...bla...maaf author nya gak bisa nglawak wkwkwk 😁)."


Semua santri terhibur dengan lawakan mereka. Ada sekitar 10 HS(Himpunan Santri) yang mengikuti lomba dengan kreativitas mereka masih-masing. Ini adalah pengalaman pertama bagi Najwa, benar-benar indah dan berkesan. Pengumuman hasil lomba-lomba akan diumumkan besok saat akhir penutupan pondok. Jurinya adalah para ustadz dan ustadzah.


Besok adalah giliran Najwa dan kawan-kawan yang tampil. Sekaligus acara penutupan pondok. Gus Azmi tidak tahu menahu tentang Najwa yang menjadi vocalis sholawat perwakilan HS nya. Najwa pun tidak izin pada beliau karena takut dilarang oleh beliau.


Disela-sela tugasnya, Najwa tertib berlatih dengan teman-temannya. Najwa sangat hobi bersholawat didukung juga dengan suaranya yang merdu.


"Gladi bersih dulu teman-teman...! Nanti malam semua yang semangat ya...," Ucap Mala semangat.


"Siaapppp...!" Jawab mereka serentak.


***

__ADS_1


Malam pun akhirnya tiba, acara dimulai lebih awal karena setelah festival sholawat para santri sudah di izinkan pulang bagi yang dijemput. Abah yai qomar juga hadir dalam festival tersebut, ditemani ibu yai. Najwa meneliti apakah kekasihnya hadir apa tidak, dan Alhamdulillah Gus Azmi tidak terlihat ikut serta. Najwa takut dapat Omelan beliau karena tidak izin mengikuti lomba. Awalnya Najwa ingin izin, tapi sejak ibu yai mengawasi mereka jadi semakin sulit Najwa bertemu dengan beliau. Sedangkan kelas Diniyah sudah tidak aktif sejak selesai ujian semester. Akhirnya karena hobinya, Najwa memutuskan sendiri ikut festival tersebut.


"Hari ini dandan yang cantik wa, siapa tahu Gus e melirikmu! Hehehe, 😁" goda Eli.


"Yeeeee..., dasar! Masih saja usil kamu...!" Protes Najwa.


Najwa memakai riasan tipis diwajahnya, membuatnya semakin terlihat cantik. Tidak banyak, cukup menggunakan lipstik tipis, alis mata, pensil mata, air leaner dan bless on. Sungguh cantik, membuat teman-temannya iri padanya.


"Dapat ilmu dari mana wa belajar make up?" Eli penasaran.


"Ibuku..., beliau sering mengajari cara memakai make up ringan kalau di rumah." Terang Najwa.


"Ziza! Ayo coba pakai make up kaya Najwa..., kamu low cantik..., pasti tambah cantik ntar...."


Eli menggoda Ziza yang memang tidak pernah memakai riasan tapi tetap terlihat cantik. Ziza memang cantik dan Najwa pun iri dengan kecantikannya.


"Sudahlah Eliiii..., jangan banyak bicara..., cepat siap-siap sana!" gumam Ziza santai.


"Kalau mau aku rias boleh kok!" Najwa langsung mendekati Ziza.


"Iya za..., ayow coba make up dikit...," rayu Mala.


"Enggak!" Tolak tegas Ziza.


"Memang anak ini selalu berlagak...!" batin Najwa.


"Eli..., Mala..., kalau begitu ayo...," Najwa memberi isyarat mereka untuk memegangi Ziza agar mau di make up.


"Hey...! Kalian mau apa...," Ziza mencoba menolak. Tapi terlambat Najwa sudah menindihnya dan membuat Ziza tidak bisa bergerak, sedangkan Mala dan Eli memegang kedua tangannya.


"Sudahlah..., ayo nurut..., gini-gini kalau soal make up aku juga sedikit-sedikit ahli...hehehe😁" Najwa tersenyum menang.


"Tapi jangan gini dong...! Ayo turun Najwa!" Bentak Ziza. Najwa pun langsung turun karena Ziza sudah mulai emosi.


"Ya sudah kalau kalian memaksa..., cepat gih rias aku..., 😁" Ziza tersenyum genit.


"Yeeeee...! Dasar Ziza..., malu-malu mau!" Canda Eli. Mereka pun semua tertawa bersama.


Tidak perlu waktu lama mereka selesai bersiap-siap. 4 bidadari terlihat cantik dan mempesona, Ziza terlihat cocok dengan riasannya.


"Siap menggoda lelaki teman-teman...?" Canda Mala.


"Apaan sih kamu!" Ziza langsung mengetok kepala Mala.


"Aduh! Sakit za...," Mala memegangi kepalanya.


"Bukan kita yang menggoda tapi laki-laki yang bakal tergoda... hahaha πŸ˜‚" Ziza tertawa puas.


"Dasar Ziza...! Lagi kumat ya?" Ejek Eli.


"Biarin!" ucap Ziza cuek.


"Sudahlah...! Ayo berangkat ke aula, mentang-mentang giliran terakhir enak-enakan di kamar..., Ayo!" Ajak Najwa yang melaju duluan.

__ADS_1


"Eh tunggu wa...!" Panggil Eli mengikuti. Ziza dan Mala pun segera menyusul.


__ADS_2