
Malam itu ternyata Najwa benar-benar sakit. Demamnya cukup tinggi, Eli dan Ziza takut karena demamnya tidak kunjung turun. Semalaman mereka bergantian menjaga Najwa karena Najwa terus saja merintih dan mengigau.
*Pagi harinya di ndalem*
Karena tahu Najwa jadi abdi ndalem, Gus Fahmi diam-diam mengawasi santri putri yang masak hari ini. Beliau berpura-pura mengambil minum di dapur pondok dengan tujuan bisa melihat Najwa.
"Ayooo ziha...! Semangat mengaduk sayurnya.... Wonder woman kan...!hehehe...," canda mereka.
"Enak aja...! Gantian...! Udah pegel nie tangan ku...." Ucap ziha protes.
Tiba-tiba Gus Fahmi datang.
"Eeee...,sssttttt...! Ada Gus e ..., diam...!"
Semua pun langsung diam.
Gus Fahmi segera mengambil minum lalu pergi.
Beliau berhenti sejenak di balik pintu menguping pembicaraan mereka.
"Kaget aku.... Siapa tadi hayoo yang teriak-teriak...? Pertanda ditolak Gus e tu...hehehehe," canda Ijul.
"Tidaaaakkkkk...!" Respon spontan Ziza menambah semangat mereka.
"Ada-ada aja mereka...," ucap pelan Gus Fahmi meninggalkan dapur.
"Dimana Najwa?" Batin Gus Fahmi.
Hari itu diniyah sudah mulai aktif, dan Gus Fahmi segera berangkat mengajar karena penasaran dengan Najwa kenapa hari itu dia tidak ikut masak kalau memang dia seorang abdi ndalem.
Saat memasuki kawasan madrasah pondok putri semua santri putri histeris kagum dengan keberadaan Gus Fahmi. Gus Fahmi merasa tidak nyaman dengan suasana tersebut tapi apa boleh buat, beliau ingin mengenal Najwa, wanita yang diam-diam membuat hatinya terpikat. Rasa tidak nyaman Gus Fahmi terkalahkan oleh rasa penasaran dirinya pada seorang Najwa Qumaira. Tapi saat memasuki kelas, beliau kecewa karena tidak menemukan tambatan hatinya. Najwa tidak masuk, surat izin menuliskan bahwa Najwa sakit.
"Sakit? Sakit apa? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
Dalam kegundahan hatinya, beliau memulai pelajarannya. Memberi makna kitab dan menerangkannya, sampai bel berbunyi tanda berakhirnya pelajaran. Selesai berdoa Gus Fahmi mengucapkan salam dan segera keluar meninggalkan kelas.
"Alhamdulillah..., senengnya...! Kita diajar Gus e caaaaahhh...!" Ucap santri lumayan keras.
"Bisa Tuing-tuing nie tiap pelajaran Fatkhul qorib... hehehe 😁," canda salah satu santri.
"Hehehe.... Pokok jangan sampe ngiler yaaaa 🤭🤭🤭...," mereka pun tertawa bersama.
*Kamar E-3*
"Najwaaaa..., Zizaaa...!" Teriak Eli dari luar.
"Apa tow teriak-teriak...?"
"Gus Fahmi ngajar kelas 2 Tsanawiyah..., kelas kamu wa...." Terang Eli terengah-engah karena habis berlari.
"Apa?" Najwa langsung bangun dari tidurnya.
"Kelas aku?"
"Semalam kamu bilang Gus Fahmi hanya ngajar santri putra? Kok ngajar kelasku?" Najwa bertanya-tanya.
__ADS_1
"Gak tau ..., ini kan tahun ajaran baru, kalau kemarin memang hanya santri putra...." Terang Eli.
"Udah deh...! jangan ribut sendiri, kamu belum sembuh Najwa. Istirahat aja dulu, gak usah nanggepin Eli yang ngefens berat sama Gus e." Terang Ziza.
"Ziza selalu gitu.... Cerewet tapi acuh kalau masalah Gus Fahmi." Ucap Eli jengkel.
"Lagian gak ada gunanya ngomongin beliau.... Mimpi kita kalau sampai dapat Gus e...." Jujur Ziza.
"Jangan gitu dong..., patah hati aku...." Eli kecewa.
Tapi memang benar, apalah arti santri buat Gus kalau bukan dari kalangan neng yang mempunyai pondok besar.
"Kamu benar Ziza..., jangan berharap." Ucap Najwa.
"Eh kamu, masih santri baru sudah terkena sihir Gus Fahmi..., ngaca dong...!" Canda Ziza.
"Iya-iya..., tidak berharap aku...." Jujur Najwa serius.
"Bercanda aku..., jangan dianggap serius...." Jelas Ziza.
"Eh...! Si paparazi Mala kok belum kembali? Mau dapat takzir dia dari Gus e...,"
"Tau tu..., dia kan msti molor.... Biar bisa cari perhatian sama Gus e...." Terang Eli.
"Mksd nya?" Najwa bingung.
"Kan takzirannya di teras ndalem.... Semangat banget dia kalau berhubungan dengan ndalem..., Karena paparazi nya sama Gus Fahmi sudah parah banget." Ucap Ziza gemes.
"Benarkah... hehehe 😁," Najwa tersenyum geli.
"Udah kok..., makasih ya teman-teman." Najwa tersenyum manis.
"Cantiknya..., kalau Gus e ketemu kamu, pasti langsung kecantol...." Jujur Ziza.
"Maksud kamu apa zi? Tadi dibilang jangan berharap sekarang bilang gitu...." Najwa bingung.
"Udah deh... Jangan difikirkan." Terang Ziza.
Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Ziza masih kerabat dekat dengan Gus Fahmi. Ayah Ziza adalah paman Abah kyai Qomarudin. Ziza sering bertemu Gus Fahmi saat lebaran dan mereka juga dekat, itu alasannya kalau Ziza tidak pernah tertarik dengan Gus Fahmi.
Tidak berselang lama tiba-tiba ada panggilan telepon dari kantor untuk Najwa.
"Abah? Mungkin Abah telepon?" Ucap Najwa bergegas karena gembira.
"Eeeee..., dasar santri baruuuu...! baru dua hari udah kangen dia." Canda Eli.
Sesampainya di kantor pondok, Najwa kaget karena hanya ada Gus Fahmi disana. Ada satu guru lain, tapi beliau pura-pura tidak tahu kedatangan Najwa.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam..., silahkan duduk...." Pinta Gus Fahmi.
"Iya Gus...," Najwa tidak berani menatap ke depan.
"Hmmm..., Najwa Qumaira kan? Kenapa kamu tidak masuk Diniyah hari ini?" Tanya Gus Fahmi terang-terangan.
__ADS_1
"Ehemmm...!" Gumam guru tersebut memecah keheningan.
"Dasar! Gus e modus...," batin guru tersebut.
"Awas kamu Qosim.... Tak tipuk kepala mu kalau laporan orang lain." Bisik Gus Fahmi.
"Ampun booosss...," ucapnya pelan.
Pak guru tersebut bernama ustadz Qosim, beliau adalah teman dekat Gus Fahmi.
"Ada apa ini? Aku di interogasi kah gara-gara tidak masuk Diniyah hari ini?" Batin Najwa.
"Kenapa diam? Ditanya tu jawab...." Suara Gus Fahmi pura-pura tegas.
"Saya sakit Gus..., beneran...! Gak bohong..., semalam panas tinggi." Terang Najwa jujur.
"Tapi sekarang terlihat sehat-sehat saja, kamu bohong ya?"
"Kalau tidak percaya njenengan (kamu) periksa...."
"Yeeeee..., periksa? Aku tidak percaya...." Tegas Gus Fahmi.
"Haloooo...! Kenapa ini? Apa cuma aku saja yang tidak masuk hari ini? Kenapa begini...?" Jerit hati Najwa.
"Kamu tahu...! Ini hari pertama Diniyah aktif dan kamu tidak masuk, mau cari gara-gara?" Ancam Gus Fahmi.
"Gombal amoh! Modus..., modus...." Ejek ustadz Qosim dalam hati.
"Saya tidak tau Gus peraturan disini.... Tolong maafkan kesalahan saya...," Najwa memelas.
"Tidak bisa! Besok sesudah Diniyah sebelum ngaji Abah yai kamu harus menyapu teras ndalem...." Perintah Gus Fahmi.
"Baiklah...," ucap Najwa pasrah.
"Enak aja membuat aku kecewa hari ini.... Itu hukuman nya hehehe," batin Fahmi merasa menang.
"Ya sudah kamu bisa kembali...."
"Iya Gus...," Najwa terdiam sejenak.
"Kenapa lagi?" Tanya Fahmi gemes.
"Tadi ada panggilan telepon buat saya kan Gus?" Najwa mencoba bersikap manis.
"Salah sambung...! Sudah cepat kembali...."
"Ya udah..., assalamualaikum...." Dengan nada kecewa Najwa keluar dari kantor.
"Tak disangka.... Seorang Gus Fahmi ternyata bisa modus juga ya.... Hahaha 😁" ucap ustadz Qosim sambil tertawa terbahak-bahak.
"Awas kamu Qosim...!"
***
Setelah hari itu hampir setiap Minggu, Najwa mendapat takziran dari Gus Fahmi. Najwa bingung sendiri dibuatnya, karena salah sedikit saja beliau langsung menghukumnya, mulai dari menyapu ndalem, menerangkan di depan kelas sampai diminta menuliskan kalimat syahadat di kertas folio berkali-kali. Tapi Najwa tidak dihukum sendiri, makanya dia tidak merasakan keanehan dengan sikap Gus Fahmi.
__ADS_1