
Eli membaca satu persatu surat dari Gus Azmi. Terlihat jelas beliau sangat mencintai Najwa, tapi Eli tidak habis pikir kenapa Gus Azmi beralih akan menikah dengan Ziza. Mala yang semakin bingung hanya bisa menyetujui apa yang mereka katakan.
"Ini apa wa?" Kalung indah berada ditangan Eli.
"Itu pemberian beliau, tapi tadi tiba-tiba putus padahal baru satu bulan aku memakainya. Mungkin itu pertanda putusnya hubungan kita." Ucap Najwa terdengar menyayat hati.
"Najwa..., kenapa selama ini kamu hanya diam tentang semua ini? Kenapa kamu tidak pernah cerita pada kami?" Tanya Eli penasaran.
"Apakah pantas seorang Gus menjalin cinta dengan santrinya sementara beliau sudah memberi aturan bahwa kita dilarang untuk berhubungan dengan laki-laki. Aku menjaga nama baik beliau El..., aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan begini...."
Najwa kembali meneruskan air mata.
"Kami sudah berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun tentang hubungan ini.... Aku pun menyetujuinya..., mungkin aku bodoh El sudah lancang menerima cinta beliau. Berulang kali aku merasa tidak pantas untuk beliau, tapi Gus Azmi selalu mendukung ku dan meminta aku untuk tetap bertahan. Sampai ibu yai pun mengetahui hal ini, beliau sudah merestui kami sejak awal. Restu ibu yai membuat ku semakin kukuh dan kuat untuk berharap pada beliau." Jujur Najwa panjang lebar.
Najwa memang sudah merasa hancur, karena itu dia menceritakan segalanya pada kedua temannya untuk mengurangi sakit hati yang Najwa rasakan. Najwa tidak tahu bagaimana perasaan kedua orang tuanya kalau mereka dikabari tentang pembatalan lamaran ini.
"Tapi aku tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi. Setelah orang tua ku menerima lamaran beliau, ternyata beliau malah akan menikah dengan Ziza. Hancur hatiku El..., aku tidak tega melihat orang tua ku di sakiti. Besok adalah acara lamaran kami, tapi semua harus batal karena beliau malah akan menikahi Ziza. Pasti di rumah sudah siap, keluarga sudah banyak yang diundang. Betapa malunya keluarga ku El.... Membayangkan nya saja aku sudah tidak sanggup. Abah..., Umi..., maafkan Najwa telah menyakiti njenengan...." Rintih Najwa dalam tangisnya.
"Sudaaaahhhhh Najwa..., jangan buat hatimu semakin tersiksa." Mala mencoba menenangkan Najwa.
Mala sendiri tidak tega melihat Najwa yang terpuruk dalam kesedihan.
"Buat surat untuk Gus Azmi wa, itu satu-satunya cara memberi tahu beliau perasaanmu." Eli mencoba memberi ide.
"Tapi beliau tidak ada di rumah, umi juga tidak tahu kemana beliau pergi." Terang Najwa.
"Setidaknya kamu sudah mencoba wa, walaupun surat itu diterima setelah pernikahan setidaknya beliau tahu bahwa kamu tidak pernah setuju beliau menikah dengan Ziza." Tegas Eli.
"Iya wa, yang semangat! Ini memang cara satu-satunya..., kalaupun akhirnya beliau tetap menikah dengan Ziza, kamu sudah menyatakan perasaan mu pada beliau." Mala juga memberikan motivasi kepada Najwa.
Akhirnya atas dukungan kedua temannya Najwa mulai menulis surat untuk Gus Azmi. Najwa berharap surat tersebut akan dibaca beliau sebelum acara pernikahan.
Untuk calon imamku.
Azmi Muhammad.
Rasanya baru kemarin aku sangat bahagia mendengar keluarga njenengan akan berkunjung ke rumah untuk acara lamaran kita. Sekian lama penantian ini akhirnya berbuah pernikahan. Tapi hari ini semua berubah, pelangi yang aku harapkan tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat yang tidak kunjung berhenti. Aku mendengar njenengan akan segera menikah dengan Ziza, sahabat ku sendiri.
Umi sudah mengatakan bahwa lamaran ku dibatalkan karena njenengan akan menikah dengan Ziza. Dalam sekejap duniaku hancur berantakan karena nya. Aku tidak akan pernah menyalahkan njenengan atas semua ini, aku hanya berharap njenengan masih memandang ku. Apakah aku tidak ada artinya untuk njenengan selama ini. Empat tahun kita menjalin hubungan ini, tapi kenapa dengan mudah njenengan memutuskan untuk menikah dengan Ziza. Apa salahku? Apa dosa ku? Gus Azmi..., aku butuh penjelasan njenengan.
Jujur aku tidak akan pernah setuju apalagi merestui pernikahan njenengan dengan Ziza. Tidak akan pernah.
__ADS_1
Aku ingin kita bersama, bukan ini yang aku harapkan. Gus Azmi hanya untuk Najwa. Tidak untuk wanita lain. Bertahun-tahun aku menjaga hubungan ini, maka aku juga tidak akan mudah melepaskan njenengan untuk wanita lain.
Aku tidak akan pernah ikhlas Gus. Tolong tolak pernikahan ini, lihatlah aku disini menunggu njenengan. Aku berharap njenengan memilihku Gus, bukan orang lain. Aku mohon dengan sangat, tolak pernikahan ini. Lihatlah Najwa Qumaira yang sudah setia menemani njenengan selama 4 tahun ini. Lihatlah aku Gus Azmi....
Salam cinta dan kasih Dinda.
Najwa Qumaira.
Tolong tolak pernikahan ini.
Aku mohon dengan sangat.
Najwa menitipkan surat tersebut pada ustadz Qosim karena biasanya beliau lah yang jadi jembatan penghubung antara Gus Azmi dan Najwa. Najwa berharap surat tersebut bisa diterima oleh Gus Azmi. Tapi ternyata tidak, ada yang sengaja mengganti surat Najwa. Surat Najwa tidak pernah diterima oleh Gus Azmi. Tapi yang diterima Gus Azmi adalah surat lain yang membuat Gus Azmi semakin tersiksa.
Untuk Gus Azmi.
Kekasihku.
Aku ikhlas menerima kenyataan bahwa njenengan akan menikah dengan Ziza. Aku tidak apa-apa Gus, yakinlah semua memang sudah jalan takdir hubungan kita. Menikah lah dengan Ziza. Dia sangat mencintai mu, engkau pasti akan bahagia hidup bersamanya.
Jangan pernah lagi mencoba menghubungi ku atau mencoba berbicara dengan ku. Aku akan secepatnya melupakan semua rasa ini Gus. Aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupku. Cobalah untuk mengerti Gus Azmi.
Dari Najwa Qumaira.
***
Satu hari telah berlalu, Najwa tidak juga mendapat jawaban dari Gus Azmi. Tapi yang Najwa tahu saat Gus Azmi sampai di rumah beliau sama sekali tidak memandang apalagi ingin bicara pada Najwa. Hati Najwa sangat tersiksa dengan sikap beliau. Air mata Najwa kembali jatuh meratapi hubungan nya yang ternyata sudah hancur. Hari itu sebenarnya adalah hari lamaran Gus Azmi kepada Najwa. Besar harapan Najwa keluarga Gus Azmi akan tetap berkunjung ke rumahnya untuk tetap melaksanakan lamaran. Tapi ternyata tidak. Hantaran lamaran yang seharusnya di antar ke rumah Najwa beralih diantar ke rumah Ziza.
"Aku akan melaksanakan pernikahan ini umi," ucap Gus Azmi terlihat putus harapan.
"Kenapa Azmi?" ibu yai segera mendekati anaknya.
"Bagaimana dengan Najwa? Apakah kamu rela melepas kan Najwa," tanya ibu yai kuatir.
Gus Azmi menyerahkan surat Najwa kepada ibu yai. Beliau benar-benar syok membaca surat tersebut. Ibu yai langsung berkunang-kunang dan akhirnya jatuh pingsan. Beliau juga kecewa dengan Najwa karena sudah menyerah sebelum berperang.
Hari itu juga Abah Qomar yang sudah mendapat jawaban Gus Azmi akhirnya berkunjung ke rumah Najwa untuk membatalkan lamaran dan meminta maaf sudah membuat malu keluarga Najwa.
Saat Abah Qomar berkunjung ke rumah Najwa, Abah Najwa heran kenapa beliau hanya sendiri bersama dengan sopir pribadinya. Ternyata kabar gembira yang mereka harapkan berubah jadi kabar buruk. Ibu Najwa benar-benar kaget mendengar pembatalan lamaran tersebut, sampai-sampai beliau tidak sadarkan diri karena kaget.
"Maafkan anak saya yang bodoh pak Abdullah," terang Abah Qomar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bah, jodoh memang tidak bisa dipaksa." Abah Najwa mencoba ikhlas mendengar kabar tersebut.
"Mungkin ini akan jadi pelajaran buat keluarga kami untuk lebih menjaga putri kami." Ucap Abah Najwa tulus.
"Sekali lagi saya minta maaf pak..., saya juga tidak menyangka semua akan terjadi saat kita sudah sepakat untuk menikahkan mereka." Jujur Abah Qomar.
"Boleh saya menjemput anak saya bah? Saya tidak tega melihatnya bersedih," izin Abah Najwa dengan menahan air matanya.
"Baiklah, pak Abdullah sama saya saja. Nanti biar diantar sopir saat kembali." Tawar Abah Qomar dan Abah Najwa pun menyetujuinya.
Abah Najwa pamit dengan istrinya. Ibu Najwa terlihat sangat terpukul menerima kabar tersebut.
"Bawa Najwa kembali bah, umi ingin memeluk anak kita." Rintih ibu Najwa dalam tangisnya.
"Iya umi, hari ini juga Abah akan menjemput Najwa. Umi yang sabar ya...," Abah Najwa juga ikut meneteskan air mata.
Menjelang sore Abah Qomar dan Abah Najwa sudah sampai di pondok. Abah Qomar segera berkemas karena akan melaksanakan lamaran ke rumah Ziza. Besok adalah acara pernikahan Gus Azmi dan Ziza.
Abah Najwa langsung menuju kantor meminta memanggil anaknya Najwa. Dengan gelisah Abah Najwa menunggu, dari jauh Abah Najwa melihat wajah anaknya yang sayu berhias duka. Tidak seperti biasanya Najwa yang ceria telah berubah menjadi Najwa yang murung. Matanya bengkak karena menangis. Abah Najwa tidak tega melihat anaknya yang sedih.
"Ayo nak kita pulang dulu, tenangkan hati dan perasaan mu." Tawar Abah Najwa.
"Iya Abah...,"
Najwa yang tidak kuasa menahan tangisnya langsung memeluk Abahnya erat. Najwa kembali menangis menjadi.
"Maafkan Najwa Abah... Maafkan sudah membuat Abah dan umi malu," sesal Najwa.
"Tidak nak, Abah tidak malu. Abah merasa bangga anak Abah sudah semakin kuat dan dewasa." Jujur Abah Najwa.
"Abah..., kita pulang sekarang. Najwa ingin bertemu umi dan adik-adik." Jujur Najwa.
"Iya, kita pulang sekarang. Umi sudah menunggu di rumah." Terang Abah Najwa.
Najwa memang sudah membawa baju ganti untuk izin pulang hari itu. Karena Najwa tau keluarga adalah obat yang paling ampuh saat kita terjatuh. Besok adalah acara pernikahan Gus Azmi dan Ziza, Najwa takut dia tidak kuat mengetahui hal tersebut. Walaupun acara berlangsung di kediaman Ziza tetap saja rasa sakitnya pasti akan menyiksa Najwa.
Abah Najwa memang ayah yang kuat dan bijaksana. Beliau sama sekali tidak marah kepada Najwa karena sudah berbohong tentang hubungannya dengan Gus Azmi yang sudah terjalin cukup lama.
"Maafkan Najwa Abah," ucap Najwa sekali lagi dengan menatap wajah Abahnya mendalam.
"Tidak apa-apa nak, asal engkau bahagia Abah akan lakukan segalanya." Abah Najwa memeluk anaknya erat.
__ADS_1
Abah Najwa tidak pernah menyangka putri nya akan mengalami hal seberat ini dalam hidupnya. Padahal banyak sekali pemuda yang antri ingin mempersunting Najwa. Tapi kenapa pemuda yang menjadi pilihan Najwa malah akan menyakitinya sejauh ini. Goresan noda besar sudah membekas di kehidupan putri tercintanya. Najwa ditolak oleh seorang Gus pondok Miftahul Ulum. Pasti kabar tersebut sudah tersebar luas di lingkungannya.