
kamu tergoda dengan keindahan sesaat.... Beliau adalah guru mu, kamu harus menghormatinya.... Jangan sampai cinta membutakan mu.... Selalu ingat posisi mu sebagai santri.... Hentikan kegilaan dalam
"Ayow dong Sim! Cari cara agar aku bisa dekat dengan dia...." Keluh Gus Azmi.
"Mana aku tau Gus caranya...," sambung ustadz Qosim.
"Situ yang buat aturan, situ juga yang bingung mau melanggarnya.... Dasar...! Cinta..., cinta.... Mumet aku(pusing aku)...." Keluh hati ustadz Qosim.
"Aku sudah satu bulan lebih tidak bicara dengannya... Kalau diterus-terusin bisa sia-sia usahaku yang kemarin dekatin dia...,"
"Ya tinggal dipanggil saja tow mbak Najwa nya ke kantor.... Bilang saja Gus Azmi cinta mbak Najwa.... Sayang mbak Najwa..., gitu...," terang ustadz Qosim asal-asalan.
"Cinta gundol(kepala botak) mu!" Gus Azmi menipuk kepala ustadz Qosim.
"Memang cinta tow...? Sayang tow...?" Candanya.
"Dasar! Qosim Qosim..., tetap konyol saja kamu dari dulu...." Gus Azmi tertawa lepas.
"Seingat saya di pondok Abah(ayah Gus Azmi), ada keluarga Gus Azmi kan?" Ustadz Qosim mencoba mengingat seseorang.
"Siapa ya namanya? Lupa aku?".
"Siapa tow?"Gus Azmi bingung sendiri.
"Dulu Gus e sering nemuin dia kan..., saat keluar pondok.... Gus e bilang masih saudara...?" Ustadz Qosim mencoba mengingatkan Gus Azmi.
Beliau pun mencoba mengingat.
"Iya! Aki ingat.... Bibi Ziza kan?" Ucap Gus Azmi akhirnya.
"Naaahhh..., iya! Neng Ziza..., yang anak nya cantik banget...." Puji ustadz Qosim.
"Yeeeee dasar! Jangan mata keranjang.... Aku tipuk lagi mau?!" Ancam Gus Azmi.
"Jangan dong Gus..., tapi Kalau ditipuk neng Ziza mau.... Hehehe 😁✌️" Canda ustadz Qosim.
"Qosiiiimmm...." Jawab Gus Azmi geregetan dengan sifat ustadz Qosim yang gokil.
Akhirnya setelah berfikir merancang rencana menemui Ziza, Gus Azmi memanggil Ziza untuk ke kantor.
"Kalau neng Ziza tidak apa-apa.... Kan masih kerabat Gus e.... Jadi gak ada yang akan curiga...." Terang ustadz Qosim.
"Iya-iya.... Pintar juga kamu Sim!" Gus Azmi tersenyum.
***
"Panggilan sambang untuk Ziza dari Bojonegoro, ditunggu dikantor."
"Ziza .... Sambang...!" Teriak Eli dari lantai bawah.
__ADS_1
"Aku sambang? Siapa yang nyambang? Abah dan ibu kayaknya gak mungkin?" Hati Ziza bertanya-tanya.
"Ziza..., sambang.... Jangan bengong...." Mala menyenggol pundak Ziza.
"Hmm..., iya...." Ziza bergegas ke kantor.
"Tumben Ziza sambang? Seingatku dari dulu sejak aku disini dia tidak pernah di sambang...." Terang Mala heran.
"Iya kah? Semoga tidak ada apa-apa kalau memang begitu...," sahut Najwa.
"Iya.... Eh! Wa..., belum sambang lagi kamu?" Tanya Mala.
"Belum.... Kangen sebenarnya sama Abah, umi..., adik-adikku...." Jujur Najwa.
"Enak kamu masih disambang sekali-kali..., bapak ibuku tidak bisa ninggalin pekerjaannya, jadi mereka hanya mentransfer kan uang buat aku...." Terang Mala.
"Sudahlah...!Jangan sedih..., kan ada aku, Eli, dan Ziza yang selalu nemenin kamu.... " Najwa mencoba menenangkan.
"Kadang..., aku iri pada kalian...."
"Gak usah iri.... Besok kalau aku sambang, ikut ya! Aku kenalin dengan keluargaku...," tawar Najwa.
"Benarkah...? Boleh..., boleh...." Jawab Mala senang.
*Dikantor pondok*
"Waalaikumsalam...." Jawab Gus Azmi.
"Ngapain nie Azmi tiba-tiba jaga kantor...?" Batin Ziza.
"Bibi..., silahkan masuk...." Pinta Gus Azmi ramah.
"Iya...," jawab Ziza.
"Maaf ya kemarin saat bibi keluar pondok aku gak bisa nemuin bibi, ada urusan mendadak soalnya...." Terang Gus Azmi
"Ngapain dia baru bilang sekarang.... Kenapa gak kemarin-kemarin...?" Ziza semakin jengkel.
"Ini hp bibi..., mungkin ada yang ingin bibi telepon?" Tawar Gus Azmi.
"Gak ada...!" Jawab Ziza ketus.
"Kenapa sih formal banget...? Pake panggil bibi-bibi terus.... Biasanya kan kamu gak gitu Azmi?" Protes Ziza dalam hati.
"Jangan galak gitu dong bi..., sekali lagi maaf ya...," rayu Gus Azmi.
"Iya-iya...! Aku maafkan...."Jawab Ziza akhirnya.
"Ada perlu apa tiba-tiba manggil aku?" Tanya Ziza spontan.
__ADS_1
"Jangan marah bibi Ziza...." Sahut ustadz Qosim yang dari tadi duduk di seberang Gus Azmi.
"Bang Qosim gak usah ikut campur!" Ucap Ziza sedikit membentak.
"Galak banget tow...? Cantik-cantik galak...," gerutu ustadz Qosim dalam hati.
"Sudah...!" Lerai Gus Azmi yang melihat Ziza semakin emosi.
"Ya udah aku minta Maaf..., aku sudah tiba-tiba manggil bibi...," ucap Gus Azmi menyesali perbuatannya.
"Apa yang kamu inginkan Azmi?" Tanya Ziza.
"Langsung saja..., apa bibi kenal dengan Najwa? Najwa Qumaira? Yang ngabdi di ndalem...," terang Gus Azmi.
"Dasar laki-laki sama saja...! Najwa sudah dijodohkan, masih saja diganggu...." Tebak Ziza yang langsung menyindir Gus Azmi.
"Yang aku tanyakan hanya kenal apa tidak? Tidak ada hubungannya dengan dijodohkan!" Gus Azmi berubah jengkel dengan sikap Ziza yang tidak seperti sebelumnya saat mereka sering berbincang dulu.
"Kenal.... Dia satu kamar denganku, ada apa?" Tanya Ziza galak.
"Alhamdulillah..., apa aku bisa minta tolong ajak Najwa keluar pondok?" Tawar Gus Azmi.
"Tidak! " Jawab Ziza cepat.
"Aku tidak mau keluar dengan Najwa kalau hanya untuk mempertemukan mu dengan dia!" Tegas Ziza.
"Assalamualaikum!" Ziza pun langsung keluar kantor pondok.
"Waalaikumsalam...." Jawab Gus Azmi sedikit kecewa dengan sikap Ziza.
"Kenapa dia marah sekali saat Gus e bilang nama Najwa? Bibi Ziza tidak suka dengan njenengan(anda) kan Gus?" Tebak ustadz Qosim.
"Pertanyaan apa itu? Aku menganggap Ziza sudah seperti adikku sendiri, mana mungkin aku ada rasa dengan dia! Jangan menebak macam-macam!" Terang Gus Azmi.
"Habisnya dulu saat Gus e sering menemuinya.... Dia manja banget dan manis, kenapa sekarang galak seperti macan? Masa Gus e gak curiga?" Ustadz Qosim mencoba menyadarkan Gus Azmi tentang perubahan sikap Ziza.
"Sudahlah! Sekarang yang ada di pikiranku hanya Najwa.... Masalah Ziza, terserah dia mau bersikap gimana, itu urusan dia! Aku gak peduli...." Ucap Gus Azmi cuek.
"Iya-iya Gus..., mbak Najwa kan? Yang cantik dan imut itu...." Goda ustadz Qosim.
"Awas ya! Jangan jelalatan dengan Najwa ku.... Dia incaran ku sekarang!" Tegas Gus Azmi.
"Siap komandan...!" Jawab ustadz Qosim sigap.
" Selanjutnya, kita harus gimana Gus? Kalau neng Ziza saja menolak permintaan njenengan...?" Tanya ustadz Qosim.
"Belum ada ide...." Jujur Gus Azmi.
#next
__ADS_1