DUNIAKU DUNIAMU

DUNIAKU DUNIAMU
Permintaan Ziza


__ADS_3

Tanpa ragu Gus Azmi segera menuju ke kamarnya. Gus Azmi tidak tahu menahu kalau Ziza memang sengaja memancingnya masuk ke kamar. Terlihat kamar Gus Azmi gelap.


"Kenapa gelap?" Gus Azmi berusaha mencari tombol lampu berniat menyalakannya.


Tapi tiba-tiba pintu kamar tertutup dan ada cahaya lilin kecil yang dinyalakan Ziza. Samar-samar Gus Azmi melihat Ziza yang berpakaian sexi.


"Kenapa lampunya dimatikan?" Tanya Gus Azmi.


"Tidak apa-apa, biar semakin romantis Gus." Bisik Ziza yang ternyata sudah didekat beliau.


"Katanya kamu sakit?"


"Iya sakit, yang sakit di sini Gus." Ziza mencoba meraih tangan Gus Azmi agar bisa menyentuh dadanya. Tapi dengan cepat beliau menolak.


"Kenapa?" Tanya Ziza, tapi Gus Azmi tidak menjawab.


"Malam ini aku minta hak ku suamiku," desah Ziza menggoda Gus Azmi.


"Jangan malam ini, aku belum siap." Jawab Gus Azmi jujur.


"Njenengan tidak ingin kah?" Ziza mencoba mencium Gus Azmi tapi sekali lagi beliau menolaknya.


"Aku sudah ingin mempunyai anak Gus, buah cinta kita." Bisik Ziza ditelinga Gus Azmi.


Kembali bayangan Najwa mengisi pikiran beliau. Najwa terus menghantui pikiran Gus Azmi yang membuat Gus Azmi tidak bisa menerima Ziza sebagai istrinya.


"Aku tahu," jawab singkat Gus Azmi.


"Kalau begitu lakukan malam ini Gus, saya sudah siap." Ucap Ziza dengan senyum manisnya.


Gus Azmi akhirnya memandang wajah Ziza mendalam. Memang Ziza adalah wanita yang sempurna tapi Najwa sudah cukup mengisi hati Gus Azmi, tidak ada lagi ruang untuk Ziza. Sekuat apapun Gus Azmi mencoba menerima Ziza, tapi hati dan perasaannya tidak bisa berbohong. Najwa memang hanya satu-satunya wanita yang berada di hati.


"Lakukan Gus," Ziza kembali menggenggam tangan suaminya.


"Maafkan aku za, aku benar-benar tidak bisa...," Jujur Gus Azmi.


"Kenapa?" Tanya Ziza yang kecewa dengan jawaban Gus Azmi.

__ADS_1


"Apakah ada wanita lain di hatimu Gus?" Ziza mencoba membuka aib suaminya. Tapi Gus Azmi tidak menjawab, beliau hanya memalingkan wajahnya.


"Tatap aku Gus Azmi...!" Ziza memegang wajah suaminya.


"Apakah aku belum cukup mengisi hati njenengan?" Ziza mulai menangis.


"Ada hal yang tidak ingin aku ceritakan padamu,"


"Apa? Apa itu?" Paksa Ziza.


"Setelah 4 tahun kita menjalin ikatan kenapa sekarang njenengan berubah?" Jujur Ziza.


"Aku tidak pernah menjalin ikatan denganmu za, tidak pernah sekalipun!" Tegas Gus Azmi.


"Apa? Njenengan bilang 4 tahun ini bukan ikatan? Njenengan sendiri Gus yang meminta saya untuk menikah dengan njenengan," terang Ziza.


"Abah umi kakak-kakakku ..., semua tahu bahwa kita menjalin hubungan, kenapa sekarang dengan mudah njenengan bilang tidak pernah menjalin hubungan denganku?" Ziza mulai menaikkan intonasi bicaranya.


"Aku tidak mengerti semua kata-kata mu! Aku sendiri juga bingung, aku tidak pernah merasa berhubungan denganmu selama ini. Tapi kenapa semua bilang kita ada hubungan khusus? Aku tidak mengerti Ziza!" Gus Azmi juga mulai emosi menanggapi istrinya.


Gus Azmi benar-benar kaget dengan ucapan Ziza. Beliau tidak menyangka Ziza akan tahu hubungan khususnya dengan Najwa.


"Njenengan ingat kan Gus, kita pernah semalaman tidak tidur hanya karena menahan rindu setelah selama 6 bulan aku di pondok..., Masih teringat jelas kata-kata manis itu Gus..., Kenapa sekarang dengan mudah njenengan bilang kita tidak pernah ada ikatan? Apa hebatnya wanita itu sehingga bisa dengan cepat melebur perasaanmu padaku Gus Azmi...," Ziza tidak kuasa menahan air matanya.


"Sudah cukup!" Bentak Gus Azmi.


"Jangan kait-kaitkan Najwa dalam masalah kita, dia tidak tahu apa-apa za!" Ucap tegas Gus Azmi.


"Tidak..., Njenengan adalah milikku Gus, dan akan tetap jadi milikku. Aku tidak rela Najwa memenangkan hatimu!" Teriak Ziza.


"Terserah! Aku sudah tidak peduli, karena sampai sekarang hanya ada Najwa disini. Dan hanya dia!" Gus Azmi menepuk dadanya bangga.


"Aku punya hak lebih dari pada Najwa! Njenengan wajib memberikan hak itu Gus!" Ziza tiba-tiba mendekat.


Memeluk Gus Azmi.


Mencoba mencium beliau dan merengkuh tubuhnya, tapi Gus Azmi dengan kuat mendorong Ziza sampai terjatuh. Ziza menangis menjadi.

__ADS_1


"Jangan sekali-kali mencoba menyentuhku! Ingat itu!" Tegas Gus Azmi yang akan beranjak pergi.


Tapi tiba-tiba Ziza berteriak menghentikan beliau.


"Gus Azmi! Ini adalah dosa besar Gus! Njenengan melanggar janji pernikahan kita, seorang suami wajib memberikan nafkah lahir batin pada istrinya dan istri mempunyai hak untuk meminta pada suaminya. Apakah ini akan njenengan langgar Gus Azmi? Sedangkan njenengan sendiri sangat mengetahui dasar-dasar hukum pernikahan," terang Ziza panjang lebar.


Hati Gus Azmi tiba-tiba terpukul. Najwa memang sudah tidak punya hak atas dirinya, sekarang Ziza lah yang menjadi tanggungannya. Beliau wajib mendidik dan mengayomi Ziza. Tidak terasa air matanya menetes teringat dengan janji-janji yang sudah beliau ucapkan pada Najwa.


Ziza kembali berdiri mencoba merengkuh suaminya. Ziza memeluk erat tubuh Gus Azmi dari belakang. Tapi Ziza benar-benar kaget saat mengetahui Gus Azmi menangis. Beliau menangis karena merasa bersalah pada Najwa.


"Gus Azmi?" Ziza melepas pelukannya saat mengetahui suaminya menangis.


"Beri aku waktu Ziza, aku masih belum siap menerima kenyataan ini." Jujur Gus Azmi.


Ziza menangis menjadi karena Ziza merasa suaminya benar-benar lebih mencintai Najwa dari pada dirinya.


"Maafkan aku...," Ucap terakhir Gus Azmi sebelum meninggalkan kamarnya.


Malam itu Gus Azmi tidur di kamar ustadz Qosim, sudah lama beliau tidak melihat ustadz Qosim padahal dulu beliau selalu bersamanya. Kemanapun Gus Azmi pergi pasti ustadz Qosim selalu di ajak.


"Kenapa tidur di sini Gus?" Tanya ustadz Qosim.


"Biasanya kan aku juga tidur disini? Masa lupa?" Canda Gus Azmi.


"Tapi sekarang kan Gus Azmi sudah menikah, masa tidur terpisah dengan istri tercinta." Goda ustadz Qosim.


"Biarlah! Malam ini saja kok," jawab Gus Azmi sambil menutup kedua matanya.


"Kalian bertengkar ya," ustadz Qosim curiga.


"Sudahlah! Ayo tidur, sudah malam." Gus Azmi langsung memeluk guling nya.


"Yeeeee dasar kebiasaan! Kalau ada masalah larinya pasti kemari," gerutu ustadz Qosim.


"Ayo tidur qosiiiimmm...," Sahut Gus Azmi.


"Iya-iya...,"

__ADS_1


__ADS_2