
"Aku masih berumur 15 tahun? Apakah tidak terlalu dini kalau beliau berniat menjalin hubungan serius dengan ku? Kita tidak tahu hari esok, kenapa beliau tidak melamar ku saat aku dewasa saja.... Sekarang aku masih terlalu kecil untuk diajak berbicara tentang cinta.... Di pondok ini juga begitu banyak santri yang menyukainya, tapi kenapa beliau memilihku? Gadis yang masih bau kencur yang pada akhirnya pasti akan merepotkan beliau.... Santri disini banyak yang lebih cantik, pintar, kaya, dan lebih terhormat dari pada aku.... Najwa yang sederhana, menurut ku aku bahkan tidak ada kelebihan yang bisa aku banggakan untuk nya.... Kenapa beliau suka padaku? Apakah beliau hanya ingin main-main denganku? Kalau memang itu benar, sanggupkah aku menerimanya dikemudian hari...? Jikalau ada kemungkinan beliau memutuskan hubungan ini.... " Batin Najwa tidak bisa berhenti bertanya selama perjalanan menuju kamar nya.
"Najwa...!" Eli mendekat tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Najwa.
"Eh kamu El..., ada apa?" Tanya Najwa lesu.
"Tadi diajar Gus Azmi kan?" Eli penasaran.
"Iya..., memang kenapa?" Najwa penasaran.
"Kamu pasti berhayal ya...?" Goda Eli.
"Berkhayal apa tow? Enggak tu...." Tanya Najwa sedikit gak paham maksud Eli.
"Berhayal bisa duduk berdua dengan beliau..., hehehe ๐โ๏ธ" tambah Eli dan Langsung berlari menjauh.
"Eeeeee...! Awas kamu Eli...! Aku jewer telinga kamu! Tungguuuuuu...!" Najwa mencoba mengejar Eli.
"Eliiiiiii...!" Teriaknya.
Najwa langsung menggelitik tubuh Eli gemas dengan tingkahnya. Eli meminta ampun, tapi Najwa masih belum berhenti menggelitiknya.
"Ampun wa...! Ampuuunnnn...! Gak lagi dech...! Janji...." Perut Eli sudah sakit karena menahan geli.
"Benar janjiii...!" Yakin Najwa.
"Janjiโ๏ธ ...! Ampun aku...," jawab Eli masih dalam menahan tawa karena melihat ekspresi Najwa yang lucu saat di goda olehnya.
"Ya udah...! Jangan diulangi lagi pokok!" Ancam Najwa.
"Iya-iya tuan putri..., janji...." Eli masih memegangi perutnya geli.
"Apakah Eli bisa aku ajak curhat ya dengan masalah Gus Azmi? Tapi dia selalu bercanda, mana mungkin bisa serius...." Tanya batin Najwa.
__ADS_1
"Dasar Eli...!" Keluh Najwa.
"Kenapa tow? Kok sensitif banget kalau aku goda masalah Gus Azmi?" Tanya Eli penasaran.
"Ya jelas sensitif..., ntar aku bisa di hukum kalau ada yang tahu, apalagi ini menyangkut beliau...." Jelas Najwa.
"Bercanda Najwa..., jangan dianggap serius.... Ngapain juga dari tadi gak balik-balik ke kamar? Ada kencan kamu?๐" Goda Eli lagi.
"Iya...! Kencan dengan angin! Sembarang aja kalau ngomong...!" Najwa masih sewot.
Tanpa sengaja kertas yang diberikan Gus Azmi terjatuh dan dibaca oleh Eli.
"Apa ini wa...?" Tanya Eli tanpa ekspresi.
"Apa tow?" Najwa penasaran.
"Kamu.... Beneran...?" Ucap Eli terheran-heran.
"Bukan! Ini cuma karangan ku...." Ujar Najwa bohong dan langsung mengambil kertas yang dipegang Eli.
"Dasar kamu! Aku beneran kaget low.... Aku kira beneran...." Jawab Eli lega.
"Ya enggak lah..., Mana mungkin...?" Najwa mencoba menyakinkan Eli.
"Mungkin saja..., sahabat ku yang satu ini kan memang suka menggoda...!"canda Eli tertawa terbahak-bahak.
"Tu kaaaaannnn mulai lagi..., mau aku gelitiki lagi?" Ancam Najwa.
"Enggak..., enggak...! Ampuuunnnn bosssss...! Ampuuunnnn...." Eli tersenyum puas.
Sehari semalam Najwa memikirkan Jawaban yang terbaik untuk Gus Azmi. Najwa bingung harus menjawab apa, sedangkan besok adalah saat ujian setelah koreksi kitab. Kemungkinan besar beliau pasti meminta jawaban di hari itu.
"Ya Allah...! Semoga keputusan ku tepat...." Yakin Najwa.
__ADS_1
Pagi-pagi Najwa sudah berangkat ke madrasah dan tiba lebih awal dari biasanya. Najwa berusaha menata hatinya yang semakin hari semakin tersiksa karena rasa tertariknya dengan Gus Azmi. Tepat pukul 07.00 WIB bel berbunyi, tidak lama Gus Azmi masuk kelas dan memulai pelajarannya.
"Hari ini kita ada ujian, saya harap kali ini hasilnya lebih baik dari yang kemarin." Jelasnya.
"Lia! Bagikan naskah soalnya." Pinta Gus Azmi.
"Baik Gus," Lia melaksanakan perintah Gus Azmi.
Satu jam sudah berlalu, Najwa masih serius mengerjakan ujiannya. Najwa tidak lupa memberikan jawaban tentang surat yang sudah diberikan beliau.
"Semoga jawaban tersebut bisa diterima oleh Gus Azmi." Harap Najwa.
***
_untuk Gus Azmi_
Semoga engkau selalu dalam perlindungan Allah, aamiin. Langsung Saja geh Gus, jujur dalam hati, saya senang njenengan(anda) menyatakan mencintai saya. Tapi tidak bisa dipungkiri, saya juga takut. Saya takut saat saya berharap lebih pada njenengan, ternyata orang tua njenengan tidak setuju dengan hubungan ini. Sementara semakin hari pasti cinta ini akan semakin berkembang. Bisakah njenengan memberi sedikit celah saja untuk menyakinkan hati saya bahwa masih ada harapan bahwa saya akan diterima di keluarga njenengan.
Gus Azmi,
Saya yakin kalau pun saya menolak, njenengan pasti tidak akan menyerah untuk mendapatkan saya. Jadi percuma saja kalau saya menjawab tidak untuk pernyataan njenengan.
Gus Azmi,
Mulai detik ini menit ini jam ini hari ini Minggu ini bulan ini sampai tahun ini, aku Najwa Qumaira dengan sepenuh hati menerima cinta njenengan. Tapi, tolong jaga hati njenengan untuk setia. Saya masih sangat polos untuk mengenal apa itu cinta dan kasih sayang, saya takut saat saya sudah memilih satu hati, njenengan memilih hati yang lain. Berjanjilah, hanya ada saya di hati njenengan. Saya akui saya begitu serakah memberikan syarat ini pada njenengan, tapi satu hal yang paling aku takutkan. Yaitu kehilangan njenengan.
Nb: maafkan saya atas kebohongan perjodohan itu.
_salam cinta, Najwa Qumaira_
"Alhamdulillah!" Syukur Gus Azmi setelah selesai membaca surat dari Najwa. Setelah berhari-hari, akhirnya semua terjawab. Gus Azmi sangat bahagia, tidak henti-hentinya beliau bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW mengucap syukur.
Tidak terasa air matanya menetes karena Najwa, seorang gadis belia dan polos yang sudah memutar balikkan dunianya.
__ADS_1
"Najwa, aku berjanji hanya ada kamu dihati ku. Percayalah, pasti hubungan kita akan disetujui. Kalau kamu sudah lulus, aku akan langsung melamar kamu. Aku janji." Tekadnya dalam hati.
#next