
H. Abdullah dan ibu Salsabila
Mereka adalah orang tua Najwa. H. Abdullah adalah seorang pengasuh madrasah diniyah yang merupakan warisan kakek Najwa. Kakek Najwa dulu adalah seorang pendiri sebuah madrasah diniyah yang sekarang dikembangkan oleh ayah Najwa. Madrasah diniyah Toriqusalam merupakan madrasah yang cukup ramai, ada sekitar 25 santri (putra) yang setiap sore belajar Alquran dan 100 santri (putri) sekolah Diniyah. Untuk malam hari sekitar 30 santri (putri) belajar Al-qur'an dan 100 lebih santri (putra) sekolah diniyah.
Selain seorang ustadz, ayah Najwa adalah seorang pedagang baju dan setiap pagi ayah dan ibu Najwa pergi ke pasar untuk berjualan. Mereka mempunyai ruko yang lumayan besar di sana. Setiap sore setelah selesai berjualan ayah Najwa langsung mengajar di madrasah. Ada mushola kecil di samping madrasah yang digunakan santri untuk berjamaah setiap hari setelah sekolah dan mengaji. Madrasah dan mushola tersebut berada di pelataran depan rumah Najwa dan keluarga.
Ayah Najwa memiliki 3 bersaudara tapi semua berada di lain daerah dan yang menetap mengurus madrasah adalah ayah Najwa.
Ibu Najwa seorang ibu rumah tangga yang selalu setia membantu ayah Najwa. Ibu Najwa juga membuat online shop untuk menambah penghasilan yang selebihnya dibantu Najwa saat Najwa belum belajar di pondok pesantren.
Kyai H. Qomarudin dan ibu nyai Marfu'ah
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum Jombang yang merupakan tempat ayah Najwa belajar sebelum menikah. Kyai Qomarudin memiliki santri yang cukup banyak. Ada sekitar hampir 400 santri yang mukim di sana, 200 lebih santri putri dan 100 lebih santri putra. Tidak ada pembelajaran formal di pondok tersebut tapi ijasah nya sudah mendapatkan sertifikat resmi pemerintah yang menyatakan kesetaraan dengan pembelajaran di tingkat SMA jika lulus sampai tingkat Aliyah. Ijasah tersebut bisa di buat daftar ke perguruan tinggi Islam ataupun di buat daftar kerja di perusahaan.
Semua pembelajaran adalah bidang keagamaan dan pelatihan ketrampilan seperti menjahit, komputer, sepak bola dan hadroh.
Santri putra dikepalai oleh kyai Qomarudin sendiri dan santri putri diasuh oleh istrinya ibu yai Marfu'ah.
Najwa Qumaira
Najwa adalah seorang gadis cantik dan cukup terkenal dikampungnya . Tinggi semampai, berkulit bersih, mata indah dan senyum yang mengembang. Secara fisik Najwa adalah gadis yang sempurna. Najwa memiliki 3 saudara, 2 adik laki-laki (Hasan dan Abil) dan satu adik perempuan (Zahra). Sebelum mondok, keseharian Najwa adalah membantu ayah dan ibunya mengajar di madrasah. Najwa bertugas mengajar Al Quran. Setiap sore dan malam. Anak didiknya sangat suka diajar Najwa karena Najwa begitu sabar dan telaten mengajar satu persatu anak didiknya.
Az**mi Muhammad**
Gus Azmi adalah anak kedua dari kyai Qomarudin. Sekarang beliau menempuh kuliah semester 4 dan juga membantu mengajar di madrasah pondok ayahnya (untuk putra). Sebelumnya Gus Azmi mondok di pondok pesantren Langitan Tuban, tapi setelah lulus di sana Abah nya meminta Azmi kembali dan membantu mengajar di pesantrennya sendiri. Dengan berat hati Azmi menuruti perintah abah nya karena sebenarnya Azmi masih ingin melanjutkan belajarnya di pesantren. Tapi abah nya sudah semakin sepuh (berumur) dan ibunya juga merindukan Azmi, karena sejak umur 7 tahun Azmi sudah di pesantren.
Pondok Miftahul Ulum adalah pondok yang memiliki 3 cabang yang semuanya di asuh oleh kakak dan adik kyai Qomarudin. Dua cabang yang lain adalah pondok salaf tapi ada sekolah formal nya. Tingkat SMP dan SMA untuk putra dan putri. Jika dijumlah keseluruhan santri pondok Miftahul Ulum ada sekitar 1500 lebih santri.
Gus Azmi sangat tampan dan berwibawa, sejak sepulang dari pondok seluruh santri putri asuhan kyai Qomarudin gempar karena tidak pernah sekalipun mereka tahu kalau Gus mereka sangat tampan. Azmi tidak pernah pulang kalau santri di pondoknya belum libur. Mbak ndalem pun tidak pernah tahu kalau laki-laki tampan yang kadang mereka lihat saat di ndalem adalah putra kedua kyai Qomarudin.
Dulu sebelum Azmi pulang, kakaknya lah yang jadi idaman seluruh santri.
Gus Azmi sudah meminta pengurus asatidz (guru-guru madrasah) untuk tidak memintanya mengajar di pondok putri dan mereka pun menyetujuinya.
*Di pondok putri*
"Aduuuhhh gugupnya aku...," gerutu Ziha pelan.
"Kenapa mbak?" Tanya Najwa penasaran.
"Eeehh..., gak apa-apa kok...." Jawab Ziha malu-malu, tapi Najwa tidak membahas itu lagi dan mengalihkan pembicaraan.
"Kalau di ndalem biasanya kita masak dibantu santri putra gak mbak?" Tanya Najwa penasaran.
"Ya enggak lah, tugas santri ndalem putri cuma nyiapin sayur untuk semua santri dan masak untuk keluarga ndalem. Biasanya untuk masakan keluarga ndalem mbak Raisya dan Mala yang nyiapin. Kita yang bagian porsi besarnya, untuk sayur semua santri hehehe". Ucap Ziha terkekeh.
"OOO gitu, kita berapa orang mbak?"
"Nanti ada 8 orang termasuk kita...," terang Ziha. Najwa pun berfikir sejenak.
__ADS_1
"Jangan kuatir, gak berat kok.... Nanti yang menyiapkan sayur dan menghidangkan adalah santri putra. Kita cuma kebagian nyiapin bumbu dan memasaknya. Kalau sudah selesai semua ditangani pondok putra, karena yang masak nasi santri putra." Terang Ziha.
"Hmmm ..., gitu ya mbak.... Eh besok aq di panggil mbak ya....Takut kesiangan, kan baru pertama." Bujuk Najwa.
"Iya dong! Kita berjuang bersama pokok. Gak usah di rasakan penting happy aja..., anak-anak yang lain gokil semua kok. Kita selalu happy walaupun ya kadang berat juga harus bangun pagi setelah itu harus belajar di madrasah. Ngantuk kadang...hehehe".
" Iya mbak..., o iya mbak kita belum kenalan.... Namaku Najwa...,"
"Aku Ziha..., salam kenal seperjuangan!" Ucap Ziha semangat.
"Oke deh! Semangat!" Jawab Najwa mengimbangi.
Merekapun melangkah bersama menuju kamar masing-masing.
*Kamar E-3*
"Najwaaaaaa...!" Sambut Eli penasaran.
"Ada apa tow?" Jawab Najwa dengan logat jawanya.
"Ketemu Gus Azmi gak?"
"Ketemu..., memang kenapa?"
"Aduuucchh..., kalau tau gitu aku ikut tadi...."
"Tadi katanya gak mau dikira caper sama Gus e..., kok jadi berubah?"
"Eh ya..., Gus Azmi tu putra kyai qomar kah?"
"Iya, ganteng banget kaaaannn...," ucap Eli semangat.
" Iya ganteng.... Terus kenapa kok kamu histeris seperti itu?"
"Ya aku ngefans lah.... Semua santri disini low semua suka sama Gus e. Sayang, Gus e gak mau ngajar pondok putri. Kalau ngajar pondok putri pasti kami seneng banget!"
"Gus e gak mau ngajar pondok putri tu karena takut kalian pelototi terus. Memang ya santri putri tu mesti malu-maluin." Gurau Najwa.
"Enak aja!" Ucap Eli tak terima.
"Kalau nanti kamu kecantol cinta Gus Azmi tak cium kamu!"
"Ya ogahlah..., emang aku jeruk makan jeruk?" Bayang Najwa ngeri.
Suara iqomah sholat isya sudah terdengar waktunya jama'ah bagi para santri.
"Ayow jama'ah dulu, nanti kena takzir(hukuman) low...,"
"Iya-iya..., ini juga udah siap-siap...." Eli mengambil mukenanya.
__ADS_1
"Kalau saja yang jadi imam Gus Azmi ..., aduuuhhh semangat nya akuuuu...." Eli senyum-senyum sendiri.
"Eeee..., masih saja berhayal.... Ayow budal....!" Tegas Najwa sambil menarik Eli berangkat jama'ah.
*Kantor pengurus asatidz pondok Miftahul Ulum*
Rapat dimulai pukul 19.30 setelah sholat isya. Seperti biasa rapat dipimpin oleh Gus Azmi selaku wakil pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum. Rapat malam itu membahas kurikulum madrasah dan pembagian pelajaran siapa saja ustadz yang berwenang mengajar santri. Seperti biasa asatidz tidak memasukkan nama Gus Azmi di daftar pengajar santri putri. Tapi malam itu berbeda, tiba-tiba Gus Azmi meminta dimasukkan mengajar di madrasah putri kelas 2 Tsanawiyah. Semua kaget dan bingung karena ini tidak seperti biasanya.
"Saya minta kelas 2 Tsanawiyah putri untuk pelajaran Fatkhul qorib pak...." Ucap Gus Azmi memecah keriuhan diskusi.
"Gus Azmi meminta mengajar santri putri?" Tanya salah satu ustadz bingung.
"Iya, sekali-kali .... Biar tambah ilmu...."
"Baiklah.... Untuk putra nya Gus Azmi minta gimana?"
"Untuk putra saya minta bagian seksi ketertiban saja. Nanti saya yang akan menertibkan mereka."
"Baiklah.... " Para ustadz melanjutkan pekerjaannya.
Pukul 24.00 wib rapat baru selesai,
"Alhamdulillah..., jadi lusa sudah aktif ya pondoknya.... Untuk seksi ketertiban, kalau ada santri yang belum kembali ke pondok dicatat dan di takzir. Nanti takzirannya membaca surat Yasin di depan ndalem sebanyak 20 kali." Tegas Gus Azmi.
"Bukankah itu terlalu banyak Gus?" Tanya salah satu ustadz.
"Tidak..., biar nanti umi yang menertibkan."
"Molor sehari 20 kali, dua hari 40 kali dan seterusnya...."
Seluruh asatidz yang hadir mematuhi anjuran Gus Azmi dan pukul 24.15 wib rapat dibubarkan.
Malam itu begitu sepi, Gus Azmi berjalan menuju ndalem. Tiba-tiba ditengah keheningan malam ada suara gurauan dua santri memecah keheningan. Gus Azmi mendekati arah suara, tepat didepan gerbang pondok putri suara itu semakin jelas. Gus Azmi menghiraukannya, tapi tampaknya gerbang pondok lupa belum dikunci malam itu jadi beliau bergegas menutup pintu gerbang. Saat akan menutup pintu tanpa sengaja Gus Azmi melihat dua santri yang masih asyik mengobrol tepat dilantai dua, saat santri itu menyadari Gus Azmi melihat kearah mereka, mereka langsung sembunyi dibawah pagar tertutup handuk yang mereka jemur.
"Aduuuh gawat.... Bisa kena takzir kita.... " Ujar Eli.
"Memang kenapa El?" Tanya Najwa bingung.
"Disini apabila sudah lebih dari jam 12 wajib tidur, kalau tidak maka akan kena takzir menyapu di depan kantor madrasah...."
"La terus masalah nya?"
"Masalahnya tu..., kantor madrasah tepat bersebrangan pondok putra.... Malu dong kalau ketahuan di hukum sama santri putra..., banyak ustadz juga...." Terang Eli.
"La kamu kok gak bilang dari tadi..., kalau tau gitu aku gak bakalan ikut-ikutan kamu nongkrong di luar gini...." Jawab Najwa.
"Sebenarnya ini masih belum aktif pondoknya..., tapi masalah nya lagi yang tadi melihat kita Gus Azmi.... Beliau terkenal tertib banget, kalau ustadz lain masih ditelorisir kita. Siap-siap saja besok dapat panggilan...."
"Iya kah? Mati kita.... " Najwa pusing sendiri karena dia masih santri baru. Dan santri baru yang berbuat ulah di awal mondok nya.
__ADS_1
"Ayoow nangis bareng aja...,haaaaaa...!" mereka pun merengek bersama.
Jodoh memang tidak kemana, tapi kalau kita tidak berusaha mendapatkannya apakah dia akan datang dengan sendirinya. Tidak, sebuah usaha itu ada berbagai macam jenis nya tergantung kita memilih jalan yang mana.