
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 02.00wib pagi, tapi Gus Azmi masih belum bisa memejamkan matanya karena pikirannya masih belum berhenti memikirkan Najwa.
"Ya Allah...! Beri petunjuk Mu...." Ucap Gus Azmi penuh dengan kegelisahan.
Hari itu adalah hari dimana Gus Azmi mengajar kelas Najwa, beliau ingin mengatakan sesuatu pada Najwa tapi tidak mungkin, karena waktunya tidak tepat.
Kalau sampai ada yang curiga, Najwa bisa dapat masalah besar.
*Kelas 2 Tsanawiyah*
Hari itu adalah hari pengumpulan kitab, karena tidak menemukan cara yang aman untuk berbicara langsung dengan Najwa, akhirnya beliau mengambil jalan satu-satunya yaitu memberikan surat pada Najwa.
Beliau menyelipkan selembar kertas didalam kitab Najwa.
Gus Azmi terlihat lesu hari itu begitu pun dengan Najwa, usahanya memakai parfum pemberian gus Azmi gagal menarik perhatian beliau.
"Yaaaahhh.... Beliau sama sekali tidak merespon ku.... Bahkan memandang sekilas pun tidak.... Najwa..., Najwa..., kenapa sekarang kamu menyesal berbohong pada beliau.... Ya Allah...! Jagalah hati hamba...." Harap Najwa dalam hatinya.
Saat kitab dikembalikan, Gus Azmi berharap Najwa langsung bereaksi dengan apa yang ditulisnya, tapi ternyata tidak. Najwa sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Raut wajahnya datar dan malah terlihat lesu.
"Mungkinkah dia sakit?" Batin Gus Azmi kuatir.
"Najwa.... Aku kangen tingkah lucu mu...," Tambahnya.
Di dalam ndalem Gus Azmi tidak begitu berani mendekati Najwa, karena umi semakin ketat mengawasi gerak-gerik beliau, mungkin umi sedikit curiga karena Gus Azmi terlihat aneh saat Najwa berada di ndalem. Gus Azmi terlihat salah tingkah saat berpapasan dengan Najwa.
Tidak terasa bel madrasah berbunyi, tanda jam pelajaran selesai. Gus Azmi memberi salam dan langsung keluar kelas seperti biasanya. Saat itu Najwa memilih tinggal sebentar di kelas karena hatinya yang gundah memikirkan Gus Azmi semakin menjadi.
"Tidak balik wa?" Tanya teman sebangkunya(Reni).
"Nanti ren.... Masih mau disini dulu aku...," jawab Najwa.
__ADS_1
"Ya udah..., aku duluan ya...." Pamit Reni.
"Iya...." Jawab Najwa lengkap dengan senyumannnya.
Najwa sudah berusaha keras melupakan Gus Azmi, tapi semua usahanya sia-sia karena semakin hari, hatinya malah semakin kangen dengan beliau.
"Ya Allah...! Kenapa dengan ku...? Kenapa hatiku tidak bisa berhenti memikirkan beliau.... Padahal baru saja beliau mengajar di kelas ku, tapi kenapa serasa ada yang kurang..., kenapa hatiku belum puas kalau hanya dengan memandang nya saja.... Kapan perasaan ingin memiliki ini berhenti berharap...?" Gelisah hati Najwa.
"Ya Allaaaah...!" Desahnya.
"Najwa...! Jangan seperti ini terus..., tidak ada yang bisa kamu harapkan dari beliau, terlalu tinggi angan-anganmu. Najwa..., kumohon..., berhenti lah.... Cukup sampai disini..., jangan bermimpi lagi...!" Tegasnya dalam hati.
Tiba-tiba kitab Najwa terjatuh karena tanpa sengaja terkena sikutnya sendiri.
"Ya Allah...!" Najwa langsung mengambil kitabnya. Ada selembar kertas terlihat terselip di dalam kitab Najwa. Dia penasaran, dan akhirnya membaca kertas tersebut.
"Ini kertas siapa? Perasaan bukan milikku...." Najwa pun mulai membaca tulisan di kertas tersebut karena penasaran.
Najwa, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu, tapi aku takut jika hal tersebut bisa mendatangkan masalah buatmu.
Najwa...,
Sebenarnya aku sudah tahu semuanya tentang dirimu dan semua kebohongan mu tentang perjodohan yang kau katakan waktu itu.
Najwa...,
Ada satu hal yang ingin aku ungkapkan padamu, maaf hanya lewat sepucuk kertas. Tapi sungguh, aku sudah berusaha menemukan cara yang tepat untuk kita bisa berbicara langsung, tapi hanya jalan buntu yang aku temukan.
Kemarin aku sudah meminta Ziza, bibi aku. Tapi beliau menolak mengajak mu keluar agar aku bisa bertemu dengan mu.
Najwa...,
__ADS_1
Jauh dalam hati..., jujur, aku suka dengan mu.... Tapi aku butuh jawaban mu untuk kepastian semua ini..., sebelum aku bertindak lebih jauh untuk mendapatkan restu atas hubungan kita.
Najwa...,
Jujur padaku.... Apakah kau siap jika suatu hari nanti aku melamar mu dan meminta engkau jadi ibu dari calon anak-anak ku kelak?
Aku tunggu jawaban mu secepatnya...
Sudah hampir 2 bulan aku susah tidur gara-gara memikirkan dirimu... Jadi jangan membuatnya semakin lama...👍
"Alhamdulillah..., Gus Azmi? Ternyata beliau juga menyukai ku...? Alhamdulillah...."Najwa kembali sumringah dan tidak henti-hentinya bersyukur.
"Ziza...?" Najwa teringat Ziza.
"Kenapa dia sama sekali tidak bilang apa-apa tentang masalah ini...?" Tanya Najwa dalam hati.
"Apa Gus Azmi berbohong? Tapi kelihatannya tidak mungkin kalau beliau berbohong...."
"Tapi..., apakah mungkin kalau aku menerima cinta beliau, beliau akan benar-benar mengusahakan hubungan kita?" Najwa tidak bisa berhenti bertanya-tanya.
"Kalau pada akhirnya kami tidak direstui, aku harus bagaimana?" Najwa mulai ragu.
Cukup lama Najwa berfikir dengan apa yang akan diputuskan nya tentang pertanyaan Gus Azmi.
"Sudahlah! Kalau memang jodoh pasti kita akan bersama...." Tegas Najwa akhirnya.
Najwa menyimpan surat tersebut, saat membalikkan surat ada tulisan lagi yang tersirat di kertas tersebut.
Nb: ini rahasia kita berdua, kalau kamu sampai bohong lagi, awas saja!
"Iya-iya Gus.... Aku janji, kali ini aku akan jujur..." Jawab Najwa dengan senyumnya.
__ADS_1
#next