
sama. Tiba-tiba hati Najwa sakit karena cemburu, dia takut selain hubungan keluarga, Ziza dan Gus Azmi memiliki hubungan khusus.
"Kenapa mereka kompak sekali? Apa mungkin aku hanya jadi jalan pintas saja untuk menutupi hubungan mereka? Tapi, tidak mungkin Gus Azmi menghiyanati aku? Tapi dalam cinta semua jalan menjadi benar, termasuk mengorbankan hati yang lain. Ya Allah..., lindungi hati hamba dari jalan yang salah. Hamba tulus mencintainya, kalau memang beliau jodoh hamba, tolong jaga hati hamba agar selalu mantap mempercayainya." Pinta Najwa dalam hati.
"Eh Najwa!" Panggilan Eli membuyarkan lamunan Najwa.
"Iya El..., ada apa?" jawab Najwa loyo.
"Kenapa tumben kok lesu gitu? Biasanya kan kamu senyum-senyum sendiri kaya orang gila...." Canda Eli tertawa geli.
"Enak aja...! Kamu tu yang gila...!" timpal Najwa tidak mau kalah.
"Enggak-enggak..., Bercanda aku..., Kenapa sih? Cerita sama aku!" Eli tiba-tiba sok peduli dengan Najwa.
"Kena sihir apa kamu kok tiba-tiba aneh?" Najwa heran dengan sikap Eli yang tiba-tiba berubah.
"Kena sihir apanya? Kamu tu yang kena sihir cinta, cinta dengan Gus Azmi...!" goda Eli lagi.
"Sudah aku bilang jangan kait-kaitkan aku dengan beliau... Gak ilok(baik)." Terang Najwa.
"Tapi kamu beneran suka kan, hayo hayo ngaku...," Eli tertawa terbahak-bahak.
"Awas ya kamu El!" Najwa mulai marah.
"Enggak-enggak..., bercanda kok! Habisnya masa ngarang surat khayalan dari beliau segala, dasar aneh kamu!" gerutu Eli.
"Mulai lagi aku cubit kamu El!" ancam Najwa bercanda.
"Iya-iya..., sensitif banget kalau aku bahas tentang beliau?" Eli heran sendiri dengan sikap Najwa kalau dikaitkan dengan Gus Azmi, tapi Najwa tidak menyahut malah mengganti topik pembicaraan mereka.
"Kalau dikhiyanati tu sakit gak El?" Najwa tiba-tiba memberikan pertanyaan yang menurut Eli aneh.
"Ya jelas lah! Namanya dikhiyanati tu pasti sakit, apalagi kalau pas cinta-cintanya." Eli terkekeh pelan.
"Aku serius El..., jangan bercanda." Najwa protes.
"Memang siapa tow yang mengkhianati kamu? Perasaan punya pacar aja enggak?" Eli masih bercanda menanggapi pernyataan Najwa.
"Kamu tu memang tidak bisa diajak bicara serius, udah ah! ngantuk, ayo tidur...," ajak Najwa.
"Aku serius....!" Protes Eli.
__ADS_1
"Sudah, ayow tidur..., Aku ngantuk...." Najwa beranjak masuk kamar.
"Dasar Najwa aneh!" gerutu Eli.
Keesokan paginya Najwa benar-benar keluar pondok dengan Ziza. Seperti biasa, sehabis belanja Ziza mengajak Najwa ke kedai es campur kesukaan Ziza.
Tidak lama Gus Azmi benar-benar datang menemui mereka, beliau sendirian tidak ada teman yang menemaninya.
"Azmi...!" panggil Ziza.
"Apa? Gus Azmi? Beneran beliau datang?" batin Najwa.
Gus Azmi melambaikan tangannya menuju meja Ziza.
"Sudah lama kah?" tanya Gus Azmi.
"Lumayan..., lama banget tow datangnya...," ucap Ziza memanja.
"Maaf," Gus Azmi melirik Najwa tapi Najwa sama sekali tidak memandangnya.
"Hari ini jalan-jalan gak kita?" Ziza memancing pembicaraan, karena biasanya Ziza memang diajak jalan dengan Gus Azmi sedangkan teman yang menemani Ziza ditinggal sebentar seraya menunggu mereka.
"Memang mau jalan-jalan kemana tow?" Gus Azmi menanggapi permintaan Ziza.
"Ya seperti biasa, kadang kan kamu ingin beli sesuatu?" ucap Ziza manja.
"Ini anak kalau dengan laki-laki genit juga ya..., padahal biasanya cuek bebek!" gerutu Najwa dalam hati.
"Dasar ganjen! Kalau bukan karena kamu kerabat Gus Azmi, sudah aku labrak kamu! Sabar Najwa..., Sabar...," redamnya dalam hati.
"Kasihan Najwa kalau ditinggal sendiri, lain kali saja ya...," tawar Gus Azmi.
"Kalian sudah kenal? Padahal belum aku kenalin low," Ziza pura-pura kaget.
"Jangan akting dech! Basi!" protes Najwa dalam hati.
"Najwa kan murid didikan ku, ya jelas tau lah aku." Jujur Gus Azmi.
"Ooowww..., Najwa! Kenapa diam saja? Bicara dong...," goda Ziza.
"Maaf, saya tidak biasa bicara dengan bukan muhrim...," jawab Najwa menohok.
__ADS_1
"Dinda? Kenapa dia bereaksi seperti itu sih? Lihat aku aja enggak? Kenapa dengan kekasihku?" tanya hati Gus Azmi gundah.
"Oooow..., gitu ya..., maaf...." Ziza merasa menang.
"Ayoow Azmi, jalan-jalan sebentar ya...," paksa Ziza lagi.
"Lain kali saja, ini hp kamu kalau ada yang mau dihubungi, sudah aku charge tadi...,"terang Gus Azmi.
"Aku ingin jalan sebentar...," Ziza masih merayu Gus Azmi agar mau mengajaknya jalan-jalan.
"Duuuucchhh...! Aku sudah tidak tahan, rasanya pengen teriak aku!" Gerutu Najwa dalam hati. Tidak terasa es campur yang dari tadi diaduk-aduk Najwa sudah seperti bubur ayam karena menahan emosi dengan apa yang ada dihadapannya.
"Hari ini main hp saja ya, lain kali aku ajak jalan." Terang Gus Azmi.
Mendengar keterangan tersebut Najwa langsung menatap Gus Azmi tajam tanda tidak setuju dengan keputusan beliau.
"Iya dech kalau gitu," Ziza menerima hp nya dan mulai memainkan hp nya.
"Kenapa Dinda? apa aku salah? Dia bibi ku Dinda..., tidak lebih, jangan salah paham." Jelasnya dalam hati.
"Meskipun kalian adalah kerabat, tapi aku jijik melihat kelakuan Ziza pada mu Gus," Najwa semakin geram dan tanpa sadar memukul-mukul mangkok es dengan sendok.
"Kenapa wa? Kenapa tidak diminum, enak low es campur disini...!" terang Ziza sambil meneguk es campur kesukaan nya.
"Eeeee..., iya...." Najwa mencoba tersenyum menanggapi pertanyaan Ziza.
"Sudah gak minat lagi za! Rasanya pengen aku siram wajah kalian berdua! Kerabat, tapi seperti sepasang kekasih! Najwa..., cobalah untuk bersabar menghadapi situasi ini...," pintanya dalam hati.
"Dinda..., Senyum sedikit saja...," pinta Gus Azmi dalam hati sambil menatap tajam Najwa.
"Kenapa Gus? jangan pandang aku seperti itu, lagi emosi nie...!" Najwa semakin geram. Tapi Gus Azmi malah tersenyum manis padanya, yang membuat Najwa meluluh.
"Maaf," ucap Gus Azmi tanpa suara.
"Pengen nangis aku...!" Najwa mencoba menutupi tetesan air matanya dari Gus Azmi.
"Apa aku menyakitinya? kenapa dia tidak merespon ku sama sekali...," Gus Azmi merasa gelisah dengan sikap Najwa yang berbeda dari biasanya.
Hampir 1 jam Najwa menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hatinya. Ziza terus saja nempel dan bersikap manja pada Gus Azmi. Tidak henti-hentinya Najwa beristighfar menahan amarahnya, tapi dia tidak bisa berkata sepatah katapun karena mereka masih bersikap wajar selayaknya kerabat. Tapi sikap manja Ziza yang sok mengenal Gus Azmi sepenuhnya membuat Najwa jengkel dan marah.
#next
__ADS_1