
Hari itu adalah hari terindah untuk Gus Azmi dan Najwa, karena akhirnya mereka jujur dengan perasaan mereka masing-masing bahwa hati mereka saling terhubung satu sama lain.
Memang begitu cepat mereka memutuskan jalan cinta mereka, tapi memang cinta tidak bisa ditebak. Dia datang tiba-tiba dan pergi pun dengan tiba-tiba. Dalam benak mereka hanya satu, Allah memberikan cinta pasti ada tujuan dan hikmah tersendiri yang tersirat. Jikalau berakhir bahagia, mereka akan sangat mensyukuri nya. Tapi jika berakhir derita dan luka, pasti ada pelajaran berharga yang dapat mereka ambil atas hubungan tersebut.
Pulang dari madrasah Najwa terlihat sumringah dan senyum-senyum sendiri. Mala dan Eli aneh sendiri melihat temannya yang satu itu.
"Kena sihir ya kamu? Senyum-senyum sendiri, aneh tau!" Timpal Mala.
"Enggak kok.... Gak kena apa-apa...," Najwa menyangkal.
"Orang lagi seneng banget, di kira kena sihir." Gumam hatinya.
"Pasti ini kena sindrom Gus Azmi, iya kan?" Eli menyahut.
"Apa tow El.... Sudah, kamu gak usah berhayal lagi, aku gak apa-apa, orang pengen senyum kalian yang sewot." Protes Najwa.
"Dasar Najwa ganjen, pasti berhayal tentang Gus Azmi lagi yaaaaa...?" goda Eli.
"Iiiiihhhh.... Aku gelitiki lagi low," ancam Najwa.
"Eeeee..., enggak, enggak..., cuma bercanda kok! Peace! ✌️" Jawab Eli terkekeh.
"Dasar Eli..., sini kamu! Sini...!" Najwa mengejar Eli berusaha menggelitiknya.
Ziza yang baru datang hanya bisa bengong saat melihat kejadian tersebut.
"Sudah! Jangan bercanda lagi, kalian tu sama saja, selalu saja gemerah sendiri!" Ucap Mala jengkel.
"Kenapa tu Mala kok suntuk banget?" tanya Najwa yang berhenti mengejar Eli.
"Makanya jangan jail!" gerutu Eli.
"Eh! Siapa yang jail, kamu juga yang salah!" protes Najwa.
"Kenapa Mal? Ada masalah?" tanya Ziza akhirnya.
"Gak ada apa-apa kok," tolak Mala.
"Udah, cerita saja." Paksa Eli.
"Tadi tu pak ustadz marah-marah, gara-gara kitab ku kosong. Gak ada maknan(arti kata) nya. Terus beliau bilang kalau Minggu depan tidak penuh, maka aku tidak di izinkan ikut ujian mingguan." Jujur Mala.
"Kenapa bisa kosong?"tanya Eli.
"Iya, kenapa bisa kosong Mal?" Lanjut Najwa.
"Habisnya aku sering ketiduran saat beliau ngajar, makanya kosong...." Keluh Mala.
"Makanya jangan tidur malam-malam biar gak ngantuk pagi nya...!" Ziza menasehati.
"Ziza jahat banget tow, aku kan lagi bersedih. Kok malah gitu...," rengek Mala.
"Sudah! Cepat dipenuhi kitab mu, jangan merengek saja!" Ziza jengkel.
"Iya-iya...." Mala pasrah.
"Kadang-kadang Ziza galak ya El... Takut aku," bisik Najwa.
__ADS_1
"Hust! Jangan keras-keras, nanti Ziza dengar." Jawab Eli.
"Kamu juga!" Najwa mengetok kepala Eli.
"Apaan sih?" Eli meringis menahan sakit.
"Jangan kait-kaitkan aku dengan Gus Azmi, nanti mereka berfikir macam-macam." Protes Najwa.
"Memang kamu ngefens kan sama Gus e," goda Eli.
"Eeeee...! Masih saja belum kapok, awas ya! Eliiiii...!" Najwa berteriak pada Eli, tapi Eli sudah lebih dulu kabur keluar kamar.
***
Seperti biasa ada pembagian tugas piket untuk bersih-bersih ndalem, hari itu adalah jadwal Najwa piket ndalem. Najwa ingin tukar jadwal dengan teman nya, karena Najwa masih canggung kalau harus bertemu dengan Gus Azmi. Apalagi baru tadi pagi Najwa menyatakan perasaannya.
"Kenapa harus hari ini sih piket nya? Aku kan belum siap kalau harus berpapasan dengan beliau," ucap Najwa gelisah.
"Ngapain masih disini wa? Hari ini kan jadwal kamu piket bersih-bersih ndalem," sapa Ziha.
"Iya, ini juga mau berangkat kak." Najwa segera beranjak pergi.
"Akhir-akhir ini dia aneh ya?" Gumam Ziha.
"Apanya yang aneh... ayow balik! Belum mandi aku, keburu antri nanti." Ajak Ijul.
"Iya-iya.... Ayo!" Ziha mengikuti.
Yang ditakutkan Najwa benar-benar terjadi, Gus Azmi sudah tersenyum manis diruang tamu menunggu dirinya. Seperti biasa, sambil memainkan hp kesukaannya.
Hati Najwa berdebar-debar karena laki-laki yang dicintainya sekarang sudah berada dihadapannya.
Najwa tidak bisa berkata sepatah kata pun, karena terlalu grogi bercakap dengan beliau. Rasanya hati nya mau meledak, bercampur antara perasaan senang dan takut. Akhirnya Najwa hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaan beliau.
Najwa memulai tugasnya dengan baik, dan Gus Azmi sendiri sibuk dengan pekerjaannya merekam semua aktivitas Najwa.
Cinta mereka memang aneh. Hanya dengan saling mengetahui satu sama lain saja, serasa sudah cukup hati mereka bahagia. Tanpa ada kata yang terucap, hari itu serasa sangat indah bagi Najwa maupun Gus Azmi.
"Ngapain kamu Gus?" sapa ibu yai.
"Eh umi, lagi nungguin Najwa!" ucap Gus Azmi tanpa sadar.
"Apa? nungguin Najwa?" Ibu yai bingung sendiri.
"Eeeee..., maksud saya, lagi sms an sama teman dan Najwa sedang piket ndalem...." Gus Azmi mencoba menjelaskan.
"Aduuuhhh..., Gus Azmi bicara apa tow? Kok gak nyambung gitu," batin Najwa gelisah.
"Ooow, Najwa lagi piket ndalem terus kamu kebetulan disini lagi sms an dengan teman kamu? Gitu maksudnya?" terang ibu yai.
"Hmm... Iya umi," jawab Gus Azmi sambil menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Umi kira kamu jahil lagi dengan Najwa,"
"Enggak lah mi, kan sudah umi larang untuk tidak mengganggu Najwa lagi...." Gus Azmi cengengesan.
"Iya-iya Gus...." Ibu yai tersenyum lega.
__ADS_1
"Alhamdulillah... Umi tidak curiga." Syukur Najwa dalam hati.
"Ya udah.... Cepat mandi! Hari ini kamu yang jadi imam ya Gus, umi sedikit gak enak badan." Keluh ibu yai.
"Umi sakit lagi?" tanya Gus Azmi penuh perhatian.
"Enggak, cuma masuk angin mungkin?" jelas ibu yai.
"Najwa! Buatkan jahe hangat untuk umi," pinta Gus Azmi.
"Iya Gus," Najwa langsung bergegas.
"Ayow umi istirahat dulu, biar nanti Najwa yang nemenin umi," jelas Gus Azmi.
"Iya-iya Gus...." Ibu yai menuruti perintah Gus Azmi.
Setelah itu Najwa menemani ibu yai sesuai permintaan Gus Azmi, dan Gus Azmi menggantikan ibu yai menjadi imam.
"Ini umi minumnya...." Zahra memberikan segelas air jahe hangat.
"Iya, terima kasih Najwa...." Ibu yai segera meminumnya.
Zahra tetap di samping ibu yai menunggu perintah.
"Ayo Najwa sini! Dekat umi," pinta ibu yai.
"Iya umi." Najwa segera mendekat dan memijat pergelangan kaki ibu yai.
"Sudah krasan(betah) kan nduk(nak)?" tanya ibu yai.
"Alhamdulillah sudah umi," Najwa tertunduk ta'dzim.
"Saya lihat Gus e senang sekali ganggu kamu," jelas ibu yai.
Najwa yang mendengar pernyataan ibu yai tersebut langsung bergetar hatinya, terlihat pipinya merona merah.
"Umi heran, padahal dulu sebelum-sebelumnya tidak pernah Gus e seperti itu. Dia terlihat cuek dan tidak peduli kalau berhubungan dengan perempuan. Tapi kenapa dengan mu Gus e berubah?" Ibu yai menunggu respon Najwa, tapi Najwa masih terdiam.
"Saya juga tidak tahu umi, kenapa Gus Azmi menyukaiku?" tanya batin Najwa.
"Najwa...." Panggil ibu yai.
"Iya umi..." Najwa kaget karena dia masih berdebat dengan angan-angannya sendiri.
"Kamu cantik, pintar, rajin, dan dari keluarga terhormat.... Kalau Gus e menyukaimu, terima lah.... Umi setuju kalau Gus e memilihmu." Ungkap ibu yai jujur.
"Ya Allah.... Aku harus jawab apa ini?" batin Najwa gusar.
"Tapi, selesaikan sekolah mu dulu.... Nanti kalau sudah waktunya, kami sekeluarga akan memintamu untuk jadi menantu di keluarga kami." Jelas ibu yai tapi Najwa masih terdiam. Najwa terlihat sedikit syok dengan penjelasan beliau.
"Memang Abah belum tahu tentang ini. Tapi beliau insyaallah setuju, karena Abah sudah tahu betul latar belakang keluarga kamu...," tambahnya.
"Kamu bersedia kan?" tanya ibu yai menyakinkan Najwa.
"Iya umi...." Jawab Najwa akhirnya karena bingung harus bersikap bagaimana menghadapi permintaan Bu yai nya.
Rasa senang dan gelisah sudah tidak dapat dibedakan lagi karena sudah jelas ibunda Gus Azmi menyetujui hubungan mereka. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Najwa lagi, karena keluarga Gus Azmi sudah menerima Najwa sepenuhnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah.... Engkau membukakan jalan lurus Mu untuk kami," syukur Najwa.
#next