DUNIAKU DUNIAMU

DUNIAKU DUNIAMU
Marah


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut, Najwa tidak pernah lagi menatap apalagi berbicara dengan beliau. Saat Gus Azmi menyapanya pun Najwa hanya mengangguk tanpa memandang beliau. Surat-surat kecil yang biasa beliau tulis pun tidak pernah digubris Najwa. Gus Azmi merasa tersiksa dengan sikap Najwa tersebut. Di kelas pun Najwa lebih banyak diam, padahal beliau selalu memancing pembicaraan dengan nya.


"Qosiiiimmm...! apa yang harus aku lakukan pada Najwa? Kelihatannya dia marah sekali denganku," keluh Gus Azmi.


"Memang Gus Azmi salah apa?" tanya ustadz Qosim cuek.


"Aku sendiri tidak tahu aku salah apa? Ini semua gara-gara pertemuan kemarin dengan Ziza, dia tidak bicara sepatah katapun saat itu." Jujur Gus Azmi.


"Ya wajar lah..., mungkin dia sadar kalau neng Ziza begitu dekat dengan njenengan. Makanya dia belajar menjauh," terang Gus Azmi.


"Maksud kamu? Najwa mencurigai ku berkhiyanat?" tanya Gus Azmi, tapi ustadz Qosim hanya mengerutkan keningnya tanda tidak tahu.


"Ziza itu kerabat aku, masih keluarga..., aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nya." Jujur Gus Azmi.


"Tapi sikap manja neng Ziza bisa membuat orang berfikir lain Gus, apalagi kalian sering jalan bareng kan dulu?" Ustadz Qosim mengingat kan.


"Iya sih, tapi dia sudah seperti adik aku sendiri, makanya aku sering ngajak dia jalan...," ujar Gus Azmi.


"Tapi neng Ziza halal untuk dinikahi njenengan Gus, karena sudah tidak ada hukum nasab nya." Terang ustadz Qosim.


Penjelasan ustadz Qosim menyadarkan Gus Azmi tentang sikap nya pada Ziza yang memang sedikit terlalu dekat. Apalagi Ziza sudah seumuran Najwa. Sudah baligh, sudah bukan anak-anak lagi seperti dulu saat beliau menjaganya.


"Memang benar sim, aku salah..., seharusnya aku menjaga sikap aku dengan Ziza, karena kita sudah sama-sama dewasa sekarang." Ucap Gus Azmi menyadari kesalahannya.


"Saran aku sebaiknya Gus Azmi meminta maaf pada mbak Najwa, kasihan dia! Mungkin tidak akan lama dia bertahan dengan sikapnya yang sekarang dan memulai membuka hatinya lagi untuk njenengan, tapi sakitnya akan terus membekas kalau njenengan tidak menjelaskan secara rinci hubungan njenengan dan neng Ziza." Terang ustadz Qosim.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ziza! Apa yang harus aku jelaskan?" protes Gus Azmi.


"Katakan apa yang njenengan rasa, jangan sampai mbak Najwa berfikir Gus Azmi mempermainkan cintanya hanya untuk dekat dengan neng Ziza." Terangnya.


"Perempuan tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, njenengan harus hati-hati. Diluruskan paksa bisa membuat nya patah." Tambahnya.


Gus Azmi berfikir sejenak merenungkan kata-kata ustadz Qosim. Memang semua ada benarnya kalau Najwa curiga dengan hubungan Gus Azmi dan Ziza, karena mereka memang sangat dekat. Bahkan seperti adik kakak yang saling menjaga satu sama lain. Tapi, saat orang lain melihat hubungan mereka, pasti akan berfikir mereka adalah sepasang kekasih.


Gus Azmi sangat menyesal tentang hubungannya dengan Ziza. Beliau lupa kalau mereka sudah beranjak dewasa dan kedekatan mereka bisa menimbulkan fitnah. Najwa memang tidak salah kalau dia curiga dengan hubungan mereka, tapi Najwa juga tidak punya hak untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa keputusan kedua belah pihak.


"Sebentar lagi libur pondok, aku akan lama tidak akan melihat dia lagi. Aku harus bagaimana qosiiiimmm...?" keluhnya.


"Sebaiknya Gus Azmi bergerak cepat, cari cara untuk menjelaskan semuanya pada mbak Najwa. Aku khawatir kalau sampai libur pondok njenengan belum menjelaskan semuanya, mbak Najwa akan berhenti mencintai njenengan."


"Kenapa seperti itu?" Gus Azmi protes.


"Semakin lama dia tidak melihat njenengan, pasti semakin mudah menghapus perasaannya pada njenengan..., apalagi belum lama kalian menjalin ikatan, pasti belum banyak kenangan yang memberatkan hubungan kalian." Terang ustadz Qosim.


"Kalau masalah hati kenapa kamu jago banget sim?" tanya Gus Azmi heran.


"Sudahlah..., memang kalau masalah ngaji aku kalah dari Gus Azmi. Tapi, kalau masalah cinta-cintaan jangan dilawan... hehehe 😁" ustadz Qosim tertawa bangga.


"Tapi kenapa gak laku-laku kamu!" Gus Azmi mengetok kepala ustadz Qosim.


"Maklum lah Gus..., kalah pamor!" sindir ustadz Qosim pada Gus Azmi.


"Dasar kamu!" Gus Azmi tersenyum ringan.


"Tapi..., kenapa?" Ustadz Qosim tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa?"tanya Gus Azmi.


"Kenapa njenengan lebih memilih mbak Najwa dari pada neng Ziza? Padahal dari segi apapun neng Ziza lebih unggul dari mbak Najwa, ya memang mungkin kalau masalah cantik, mbak Najwa memiliki lebih dari pada neng Ziza. Tapi, neng Ziza juga cukup cantik dari yang lain. Kenapa njenengan memilih mbak Najwa? Padahal sudah lama njenengan menjalin hubungan dengan beliau, karakter beliau pun njenengan sudah hafal. Tapi kenapa? Kenapa bukan neng Ziza?" Terang ustadz Qosim panjang lebar.


"Itulah yang tidak kau mengerti sim, kalau sudah waktunya pasti kamu akan tau alasannya." Gus Azmi tersenyum mendengar pernyataan sahabat nya tersebut.


"Tapi kenapa kamu perhatian sekali ya sama Ziza? Jangan-jangan selama ini kamu mengamatinya ya?" goda Gus Azmi.


"Ya tidak lah, mana berani aku?" Ustadz Qosim mencoba menyangkal.


"OOO ya, ini hp Ziza kamu pegang. Terserah kamu mau diapakan. Diberikan Ziza juga boleh, tapi tolong katakan padanya aku sudah tidak akan menemuinya lagi. Sampaikan maaf ku ya," pesan Gus Azmi.


"Kenapa harus saya?" Ustadz Qosim bingung


"Ziza kan sudah tahu kalau kamu adalah sahabat ku, jadi kalau dia mau marah biar kamu yang kena marah! Hahaha 😂" Gus Azmi tertawa lebar.


"Dasar! Selalu saja aku yang jadi korban,"keluh ustadz Qosim.


"Sebenarnya aku takut Najwa marah lagi, aku benar-benar tidak mau kehilangan dia sim! Sudahlah, kamu jadi perwakilan ku. Sampaikan padanya maafku,"paksa Gus Azmi.


"Tapi Gus, kalau neng Ziza menolak bagaimana?" tanya ustadz Qosim.


"Biarkan saja, terserah dia mau terima atau tidak. Yang penting aku tidak akan menemuinya lagi. Kalau dia memaksa untuk memanggil ku, bilang saja aku sedang kuliah. Pokok cari alasan agar aku tidak harus menemuinya." Tegas Gus Azmi.


"Baik Gus," jawab ustadz Qosim setuju.


Setelah percakapan tersebut, Gus Azmi melakukan satu-satunya cara jitu memberitahukan segalanya kepada Najwa yaitu dengan memberikannya surat saat koreksi kitab. Itu adalah kesempatan terakhir baginya, karena setelah itu sudah memasuki akhir semester dan kegiatan semakin padat.


"Semoga kamu tidak absen besok," harap Gus Azmi.

__ADS_1


***


Pagi-pagi Najwa sudah berangkat ke madrasah, ternyata Najwa juga berencana memberikan surat pada Gus Azmi. Sebelum beliau datang, Najwa menaruh secarik surat di atas meja beliau. Surat tersebut terbungkus surat izin dari madrasah, Najwa menaruhnya setelah semua santri masuk ke dalam kelas. Waktu itu kebetulan ada salah satu santri yang tidak masuk, jadi tidak aneh kalau ada surat izin di meja beliau.


Seperti biasa setelah salam mereka berdoa sebelum memulai pelajaran. Saat koreksi kitab, biasanya Gus Azmi meminta salah seorang santri untuk membaca makna di depan kelas dan belajar menerangkannya.


"Hari ini ada yang absen?" Tanya Gus Azmi sambil membuka surat izin yang ternyata berisikan surat berbeda.


"Ada Gus, Mila hari ini izin sakit!" jawab salah seorang santri.


"Apa ini?" batin Gus Azmi dan langsung memandang Najwa saat beliau membaca depan surat tersebut. Najwa yang mengetahui hal tersebut langsung bergetar hatinya.


"Ayow Rika baca dan terangkan di depan kelas." Perintah Gus Azmi.


"Iya Gus..., Aduuuhhh semoga saja lancar...," gerutu Rika teman sebangku Najwa.


Perlahan Gus Azmi membuka surat tersebut, beliau menarik nafas dalam-dalam karena berharap Najwa tidak menulis kata yang menyakitinya.


Untuk Gus Azmi,


Sebelumnya saya minta maaf Gus sudah tidak memperdulikan njenengan hari-hari ini. Tapi, jujur saya masih terlalu sakit mengingat kejadian waktu itu. Maaf sudah lancang hadir dalam hubungan kalian.


Aku tau njenengan dengan Ziza adalah kerabat dekat. Tapi saya tidak suka dengan sikap njenengan pada Ziza. Saya merasa berada di tempat yang salah saat ini. Seharusnya saya tidak begitu saja memendam rasa kepada njenengan.


Saya mundur Gus, Ziza lebih tepat mendampingi njenengan dari pada saya. Memang ada pikiran saya dimanfaatkan dalam hubungan kalian, tapi saya rasa itu tidak mungkin. Karena, selama ini njenengan sudah bersikap sangat perhatian kepada saya. Terima kasih atas segalanya. Atas harapan dan kenangan indah ini.


Saya mundur bukan karena Ziza, tapi berkat Ziza saya kembali sadar siapa saya dan kedudukan saya. Saya bukan siapa-siapa, dari awal sebenarnya saya sudah sadar. Tapi, indahnya cinta njenengan membuat saya buta akan hal tersebut.


Tapi kemarin saat njenengan begitu dekat dengan Ziza, saya sadar. Saya bukan siapa-siapa, saya malah akan menjadi jurang pemisah kalian karena cinta saya.


Maafkan saya Gus Azmi..., bukan maksud hati menolak cinta njenengan. Tapi, saya tidak pantas menerima semua ini.


Sebelum cinta ini semakin dalam, izinkan saya mundur Gus.


Sekali lagi Maafkan saya....


Salam takdim Najwa Qumaira.


"Astaghfirullah..., Najwa...," gumam Gus Azmi.


Waktu itu Rika masih menerangkan di depan kelas. Tiba-tiba Gus Azmi meminta nya berhenti dan kembali duduk.


" Najwa!" Panggil Gus Azmi.


"Lanjutkan keterangan Rika, yang lain tolong kumpulan kitab nya satu persatu." Perintah Gus Azmi.


Dengan hati gemetar Najwa maju di depan kelas. Matanya terlihat sedikit membengkak, mungkin karena menangis semalam setelah menulis surat untuk Gus Azmi.


Suaranya bergetar menahan luka dalam hatinya, Gus Azmi menyadari hal tersebut tapi, ada tujuan lain kenapa Najwa diminta menerangkan di depan kelas.


Tidak lama Gus Azmi selesai mengkoreksi kitab para santri, tapi Najwa masih belum diizinkan untuk duduk.


"Kamu tahu kesalahan kamu?" Tegur Gus Azmi tiba-tiba. Najwa tidak menjawab. Dia tertunduk karena takut Gus Azmi marah kepadanya.


"Kenapa dari tadi saya suruh menerangkan?" lanjut Gus Azmi.


"Tidak tahu Gus," jawab Najwa akhirnya.


"Kamu merasa salah tidak?" tanya Gus Azmi lagi. Najwa masih diam, tapi Gus Azmi tiba-tiba mendekat padanya. Najwa kaget karena mereka sedang berada di depan kelas, banyak santri yang berada di kelas tersebut.


"Maafkan saya Gus kalau saya salah," Najwa memohon.


"Gus Azmi marah nie..., gak biasanya beliau marah." Bisik-bisik para santri.


"Mana kitab kamu?" Gus Azmi meminta paksa.


Najwa pun tidak bisa menolaknya.


"Sudah saya katakan berulang kali pada kalian, pahami isinya..., jangan hanya baca terjemah saja! Kalau kalian tidak paham, percuma saya terangkan dari dulu! " Gus Azmi mulai emosi.


"Dan kamu Najwa!" Tambahnya.


"Iya Gus," Najwa semakin tertunduk.


"Dari tadi saya dengar keterangan kamu hanya baca dan baca! Tidak ada pemahaman sama sekali! Rubah semua itu...!" Gus Azmi semakin menaikkan intonasi bicaranya.


"Semester genap kalau kamu tidak berubah, tidak ada kata tololeransi lagi! Ini berlaku juga untuk kalian semua!"tegas Gus Azmi.


"Jangan galak seperti ini Gus, aku takut." Keluh hati Najwa.


"Najwa!" Bentak Gus Azmi.


"Iya Gus," Najwa begitu kaget karena sekali lagi dia dibentak Gus Azmi.


"Ingat kata-kata ku! Belajar itu bukan hanya membaca saja, tapi pahami isinya, dalami makna yang tersirat di dalamnya. Kalau kamu tidak mengerti apa maksud dan makna nya percuma kamu bilang belajar!" Ucap Gus Azmi tegas.

__ADS_1


"Sekarang duduk!" Perintah tegas beliau.


Najwa begitu takut saat Gus Azmi marah, hatinya sakit karena bentakan beliau. Tanpa sadar air matanya menetes karena terluka oleh kata-kata kasar beliau.


"Yang sabar ya wa, tidak apa-apa kok...," teman sebangku Najwa mencoba menenangkan Najwa.


"Iya aku tahu," Najwa mencoba menghapus air matanya tapi tidak bisa, air matanya kembali menetes karena teringat saat beliau bersama Ziza. Bercanda bersama nya dan tertawa bersama, bahkan Najwa terbayang saat beliau berjalan bersama Ziza bergandengan dengan montor nya.


Bel madrasah berbunyi tanda berakhirnya pelajaran. Kitab Najwa masih berada di atas meja Gus Azmi, ditinggal begitu saja setelah beliau mengucapkan salam.


Mata Najwa masih sangat sembab karena menangis. Kemarin dia terjebak antara Ziza dan Gus Azmi, sekarang karena beliau marah dengan keputusan Najwa, beliau tega membentaknya di depan kelas. Najwa benar-benar terluka dengan sikap beliau.


"Ini wa kitab kamu, ayo balik?" tawar Rika.


"Aku masih mau disini rik, kamu balik saja dulu." Terang Najwa.


"Mau aku temenin?" Rika ragu kalau harus meninggalkan Najwa dalam keadaan sedih seperti itu.


"Tidak usah, biar aku sendiri dulu rik. Aku ingin merenungkan semua kesalahanku." Jujur Najwa.


"Baiklah, kalau itu mau mu..., aku balik dulu ya," pamit Rika.


"Iya,"


Rika pun akhirnya meninggal kan Najwa sendiri di kelas tersebut. Cukup lama Najwa merenung, tapi yang ada hanya bayangan benci saat teringat Gus Azmi dengan Ziza. Najwa tidak terima dengan perlakuan Gus Azmi yang memanfaatkan dirinya untuk mendekati Ziza. Najwa yakin Gus Azmi sudah tahu kalau Ziza sekamar dengan nya dan mencoba mendekatinya hanya untuk membuat Ziza cemburu.


"Aku benci kamu Gus! Benciiiiiii...! " Tangis Najwa kembali pecah saat mengingat hal tersebut.


"Apa salahku sampai njenengan membentakku di depan kelas? Pahami makna dan isi? Semua itu hanya alasan njenengan untuk mempermalukan ku di depan teman-teman! Aku sudah terlalu sakit Gus..., Sakit...! Kenapa aku harus mengalami semua ini ya Allah...," keluh Najwa.


"Allah..., jika hamba punya salah ampuni hamba, tapi jangan siksa hamba dengan perasaan ini ya Allah..., hamba tidak kuat...," tangis Najwa semakin menjadi.


Cukup lama Najwa menangis mencoba menenangkan dirinya dan meredam perasaannya. Matanya kembali sembab setelah semalam Najwa menangis dan tidak tidur. Badannya terasa lemas dan lelah, tapi Najwa teringat hari itu adalah jadwal Najwa piket ndalem. Dia harus segera ke ndalem untuk melaksanakan tugasnya.


Najwa beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba dia teringat saat Gus Azmi menaruh selembar surat didalam kitab nya hanya untuk mengungkapkan cinta. Najwa merasa konyol kenapa dengan mudah dia menerima cinta tersebut.


Najwa mulai membuka lembaran kitabnya, dan ternyata ada lagi. Surat dari Gus Azmi, Najwa benar-benar kaget. Dan langsung membuka isi surat tersebut.


Untuk Dinda,


Najwa Qumaira.


Dinda, aku sudah berusaha keras untuk berbicara dengan mu, tapi kamu benar-benar sudah tidak peduli lagi denganku. Apakah begitu marahnya dirimu sampai sekilas pun kamu tidak bersedia memandangku.


Aku sadar aku salah tentang Ziza. Tidak seharusnya aku bersikap demikian dengan Ziza. Tapi kamu tidak tahu siapa Ziza dan kenapa aku sangat dekat dengannya.


Ziza adalah anak dari guruku yang sekaligus paman dari abahku. Sejak aku umur 7 tahun aku sudah merawat Ziza yang saat itu dia masih bayi. Aku sangat sayang pada Ziza karena dia sudah aku anggap sama seperti adikku sendiri. Memang aku salah, sampai sekarang aku masih menganggapnya sebagai anak kecil seperti dulu. Padahal dia sudah seumuran mu, sudah baligh dan dewasa.


Aku lupa tidak pernah membatasi kedekatan kami karena aku terlalu menyayanginya sebagai adik, tidak lebih.


Dinda, tolong jangan seperti ini. Aku tersiksa dengan sikapmu. Tiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak karena membayangkan betapa terlukanya dirimu karena ulahku.


Maafkan aku Dinda...,


Aku selalu berharap agar engkau tidak jenuh untuk mencintaiku. Jangan menyerah untuk tetap mencintaiku hanya karena Ziza. Dia tidak punya hak merusak hubungan kita.


Jangan menjauh dariku, pahami aku Dinda. Kalau aku punya hak lebih, ada banyak hal yang ingin aku ungkapkan padamu. Aku benar-benar serius dengan hubungan kita. Aku sudah berjanji tidak akan menemui Ziza setelah ini, dan merubah semua sikapku padanya. Kamu yang pertama Dinda, dan aku harap bisa jadi yang terakhir dalam hidupku.


Kita masih memulai hubungan ini, jangan hanya kesalahpahaman merusak semuanya. Dinda..., Maafkan aku....


Maafkan atas ketidaksempurnaanku tentang Ziza...,


Sekarang aku sadar, aku salah. Dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Dinda, walau apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan mu dan jangan harap bisa lepas dari ku. Sebelum aku mengusahakan hubungan kita, tetaplah disitu, mencintaiku dan menjaga hatiku agar selalu tertuju padamu....


Dinda, aku sayang kamu.


Calon ibu dari anak-anak ku kelak.


Semoga hubungan kita selalu terjaga dan diridhoi oleh Nya. Aamiin.


Seketika Najwa menjerit setelah membaca seluruh isi surat tersebut.


"Allahuakbar...!" Tangis Najwa kembali pecah.


"Gus Azmi..., Maafkan aku telah salah menilaimu.... Maaf...," Najwa tersungkur lemas.


"Ternyata inilah kenapa beliau membentakku hari ini, karena aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang beliau. Aku sudah begitu jahat pada beliau, maafkan hamba ya Allah...," rintihan hati Najwa.


"Aku harus bagaimana setelah ini? tidak mungkin aku bisa menemui beliau, pasti beliau sangat marah padaku karena surat yang aku tulis..., Ya Allah..., beri petunjuk Mu..., hamba tidak mau kehilangan dia, tolong kembalikan cintanya untuk hamba ya Allah...," pinta Najwa dalam hati.


Najwa merasa menyesal dengan semua perbuatannya. Segera Najwa berangkat untuk piket ndalem tanpa berganti pakaian. Dia sangat takut kehilangan Gus Azmi.


#next

__ADS_1


__ADS_2