
Pukul 16.00 WIB mereka baru kembali ke pondok. Najwa masih diam saja sejak pertemuan tadi. Ziza berulang kali mengajak ngobrol Najwa, tapi Najwa hanya menyahut seperlunya saja. Hati Najwa masih sakit mengingat kejadian tadi, tentang Ziza dengan Gus Azmi yang begitu dekat.
"Istirahat ya wa, kamu kelihatan lelah." Ucap Ziza saat sudah kembali ke kamar mereka.
"Iya, aku capek banget." Jujur Najwa. "Capek hati capek badan, semua serasa berat...,"ucapnya dalam hati.
"Kalau tau begini, aku tidak akan ikut kamu." Tambahnya. Najwa langsung mengambil bantal dan rebahan.
"Alhamdulillah..., rasanya tenang kalau disini...." Jujur Najwa.
"Ya tenang lah! Anak-anak masih jama'ah semua," Ziza menyahut, tapi Najwa tidak menanggapi.
Tidak lama ada panggilan Najwa untuk segera ke ndalem.
"Iya kak, saya akan segera ke sana." Najwa beranjak mengambil kerudungnya.
***
"Kok sepi?" batin Najwa.
"Mbak Raisya dan mbak Mala, tolong siapkan makan malam ya!" Ucap Gus Azmi yang datang menghampiri Najwa.
"Kenapa ada beliau lagi..., masih kesal aku gara-gara kejadian tadi...." Najwa bergumam dalam hati.
Hari itu Abah dan umi sedang bepergian, jadi ndalem terlihat sepi. Tadi yang menjadi imam adalah ustadz Qosim, karena Gus Azmi ada janji menemui Ziza. Berharap bisa mengobrol dengan Najwa, tapi sepertinya semua tidak seperti angan-angannya. Najwa terlihat marah dan kesal karena sejak awal sampai akhir mereka sama sekali tidak bicara sepatah katapun. Hanya Ziza yang asyik mengobrol dengannya, bersikap seperti anak kecil saat bersama beliau. Gus Azmi juga kesal dengan sikap Najwa, karena dia bersedia menemui Ziza hanya karena Najwa. Tapi kenyataannya berbeda, Najwa tidak bereaksi sama sekali kepada beliau.
"Duduk sini...!" Gus Azmi meminta Najwa duduk di kursi, tapi Najwa masih tidak menanggapi.
"Mau apa beliau? aku masih kesal Gus, tolong jangan paksa aku...,"gumamnya dalam hati tanpa menatap beliau sedikit pun.
"Dengar tidak, aku bilang duduk!"ucapnya sedikit membentak.
Najwa sedikit kaget karena baru pertama kali ini Gus Azmi membentaknya, ada rasa sakit yang tersirat karena ucapan keras beliau.
Tapi Najwa tetap berusaha menuruti perintah beliau.
"Ambil ini..., tulis kalimat ini berulang kali sampai kamu sadar!" Gus Azmi memberikan dua lembar kertas folio.
"Aku tunggu disini! dan harus selesai hari ini juga!" Gus Azmi duduk diujung meja dihadapan Najwa. Gus Azmi juga meletakkan tisu di samping Najwa, karena beliau tahu sejak tadi Najwa sudah menahan air matanya. Sejak saat diluar pondok, mata Najwa terlihat berair dan memerah.
"Kenapa beliau selalu memaksaku? Aku tidak tahan dengan semua ini...," Najwa mulai merebak menahan emosinya.
_aku cinta Azmi_
_aku sayang Azmi_
_aku kangen Azmi_
Najwa kaget dengan kata-kata yang harus ditulisnya, seketika hatinya berdesir antara sakit dan ngilu karena sekali lagi Gus Azmi memaksa Najwa menulis kata yang saat itu tidak ingin Najwa ingat.
"Ayo cepat tulis!" paksa Gus Azmi karena Najwa terlihat belum memulai menulis.
__ADS_1
"Baik Gus," Najwa hanya bisa menyetujui permintaan Gus Azmi pasrah, diapun mulai menulisnya.
Setiap kata yang dia tulis membuat hati Najwa tersayat-sayat, gejolak hati yang membelenggu serasa merobek hatinya.
"Kenapa? Kalau beliau suka dengan Ziza, kenapa harus aku yang jadi korban? Aku sudah terlanjur menyukaimu Gus, kenapa beliau tega memanfaatkan hatiku hanya untuk lebih dekat dengan Ziza." Air mata Najwa tidak kuasa menetes.
"Sakit...! Aku tidak mau menulis kata-kata ini lagi, tapi aku tidak bisa. Kenapa kamu tega Gus Azmi...! Kamu menyakitiku!"
Dengan berlinang air mata, Najwa tetap melanjutkan tulisannya.
"Aku ingin berhenti dengan cinta ini, aku tidak mau semakin terluka karenanya. Sejak awal aku sudah menekan perasaan aku untuk beliau, tapi kenapa aku sebodoh ini dengan mudah menerima cinta beliau tanpa berpikir panjang...."
Gus Azmi tidak tega melihat Najwa menangis, ingin rasanya bertanya apa yang menjadi beban Najwa. Tapi beliau tidak bisa, karena sedikit pun Najwa tidak mau memandangnya.
"Najwa..., kamu tidak pantas dengan beliau. Kamu tidak akan sederajat dengan beliau, sekuat apapun kamu berfikir kamu akan dapat restu dari kedua orang tuanya. Tapi, kamu siapa? Kamu hanya seorang santri, yang kenyataannya santri yang dimanfaatkan beliau untuk mendapatkan cintanya. Kenapa kamu bodoh? Tidak mungkin seorang Gus pondok besar menyukai mu, tidak mungkin Najwa...! Kamu harus sadar itu!" tegasnya dalam hati.
"Sekuat apapun kamu mencintainya, maka akan sekuat itu beliau akan meninggalkanmu! Akan terasa sangat sakit kalau itu terjadi, apakah kamu siap Najwa? tidak, tidak ada gadis yang kuat saat dia berusaha menjaga hatinya tapi orang tersebut memanfaatkannya." Najwa berhenti menulis karena tubuhnya sudah semakin lemas karena menahan emosi.
"Najwa...," Gus Azmi mencoba memanggil Najwa, tapi Najwa masih tidak menyahut.
Mata Najwa sudah sangat sembab karena menangis. Tiba-tiba mata Najwa buram dan sedikit kabur, kemudian tiba-tiba gelap. Najwa pingsan, Gus Azmi benar-benar kaget dan takut. Beliau langsung mendekati Najwa.
"Mbak Raisya! Mbak Mala!" Gus Azmi langsung memanggil mbak ndalem yang sedang di dapur.
"Iya Gus," mereka langsung mendekat dan sedikit kaget karena melihat Najwa pingsan.
"Tolong ambilkan minyak dan air hangat!" Gus Azmi langsung membopong Najwa ke kamarnya. Gus Azmi lupa siapa Najwa, kenapa beliau tidak berfikir jernih saat membawanya masuk kedalam kamar. Masih ada kamar lain yang kosong, kenapa harus kamar beliau.
Beliau baru sadar saat Raisya dan Mala ragu untuk masuk kamarnya saat akan memberikan minyak angin dan air hangat.
Setelah menidurkan Najwa di ranjang, Gus Azmi segera membereskan kertas folio yang ditulis Najwa tadi, berharap tidak ada yang curiga.
"Maaf Gus, ini minyak dan air hangat nya." Ucap Raisya ragu-ragu.
"Bawa masuk saja!" perintah Gus Azmi.
"Tapi Gus," Raisya merasa malu kalau harus masuk ke dalam kamar laki-laki. Gus Azmi baru sadar karena panik, Najwa dibawa ke kamarnya.
"Ya sudah, taruh saja di meja." Ucap Gus Azmi akhirnya.
"Mbak Raisya! tunggu diluar kamar ya, saya tidak mau kalau ada fitnah." Jujur Gus Azmi.
"Iya Gus," Raisya mengikuti Gus Azmi.
Setelah itu Gus Azmi mendekati Najwa yang masih belum sadarkan diri. Sebisa mungkin Gus Azmi tidak memandang Najwa yang terpejam, tapi tidak bisa. Najwa terlalu menarik untuknya, bibir merah dan harum wangi Najwa membuat Gus Azmi tergoda.
"Astaghfirullah!" Gus Azmi mencoba menekan nafsu nya memandang Najwa dan mulai menyadarkannya.
Tidak lama Najwa mulai sadar dan membuka matanya. Najwa kaget karena saat membuka matanya yang terlihat adalah wajah Gus Azmi.
"Gus Azmi? Kenapa beliau ada di sampingku? Apakah aku mimpi? Dimana ini?" Najwa melihat sekitar.
__ADS_1
"Kamar? Kamar siapa? Kenapa aku tidak kenal? Tadi aku kan ...," Najwa mencoba mengingat kejadian terakhir yang dialaminya.
Terlihat Raisya sedang diluar kamar menunggu mereka.
"Mbak Raisya? Ini di mana sih?"Najwa masih bingung, tapi suara Gus Azmi menyadarkan nya.
"Ayow minum airnya, biar sedikit enakan," pinta Gus Azmi.
Najwa pun langsung bangun dan tersadar, ternyata ini bukan mimpi. Najwa sedikit grogi karena Ini pertama kalinya Najwa begitu dekat dengan Gus Azmi. Seluruh tubuhnya terasa merinding karena dekat dengan beliau.
"Ayo minum," pinta Gus Azmi sekali lagi karena Najwa terlihat masih linglung.
"Iya Gus," Najwa menerima gelas air pemberian beliau.
"Kalau tidak enak badan istirahat, jangan dipaksa ke ndalem walaupun perintah. Bilang saja kalau masuk sakit," Gus Azmi mencoba menasehati Najwa.
"Iya Gus," ucap Najwa pasrah.
"Kalau sudah enakan kembali ke pondok, aku tinggal dulu...," Gus Azmi segera keluar kamar takut ada syetan merasuk karena Najwa begitu menggoda untuknya.
Najwa hanya mengangguk menanggapi ucapan beliau. Mbak Raisya pun langsung masuk kamar menemui Najwa.
"Najwa! Kamu tidak apa-apa kan?" bisik Raisya dan Mala tiba-tiba juga mengikutinya.
"Tidak apa-apa, tadi aku kenapa tow?" tanya Najwa bingung.
"Tadi kami tu tiba-tiba pingsan, Gus Azmi yang menggendongmu kemari." Terang Raisya.
"Ini ada apa tow? Kok semua masuk kamar Gus Azmi?" Mala menyela pembicaraan.
"Sssst...! Kamu tu, nyelonong aja!" gerutu Raisya.
"Aku pingsan? Beliau yang menggendongku? jadi ini di ranjang Gus Azmi? Tidaaaakkkkk...! Ayow cepat keluar Najwa, sebelum kamu berfikir aneh-aneh." Ucap hati Najwa dan langsung turun dari tempat tidur.
"Ayo balik! Aku sudah baikan," ajak Najwa.
"Sebentar tow, jarang-jarang kan kita bisa masuk kamar beliau...," Raisya masih meneliti sekitar.
"Ayo mbak, kita cepat keluar." Najwa menarik tangan Raisya dan Mala.
"Lain kali aku pingsan di samping Gus Azmi ah...! Biar bisa dibaringkan di kamar beliau," canda Mala.
"Yeeeee! Dasar modus," Raisya tidak terima.
"Ayo mbak, sudah sore. Kita gak kebagian makan low nanti," terang Najwa mengingatkan.
"Ooo iya, ayo! " Mereka pun segera kembali ke pondok.
Dari jauh Gus Azmi masih memastikan keadaan Najwa, beliau takut Najwa masih sakit karena Ziza.
"Maafkan aku Dinda, aku tidak tahu kalau pertemuan kita tadi begitu menyakitimu...,"gumam Gus Azmi.
__ADS_1
"Aaaaahhhh...! Kenapa dia begitu menggoda sih? Aku bisa gila kalau ingat tadi!" Keluh Gus Azmi, karena masih tersirat di pikirannya wajah cantik Najwa yang tertidur di tempat tidurnya.
#next