DUNIAKU DUNIAMU

DUNIAKU DUNIAMU
Shopping


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


"Aaaaaaaaa...!" Teriak Najwa kesal.


"Kenapa wa? Kena hukuman lagi dari Gus e...?" Tanya Eli penasaran.


"Kenapa sih selalu aku...? Padahal aku sudah berusaha keras.... Tapi tetap saja ada yang salah...." Protes Najwa.


"Hahahaha....🤣🤣🤣" Ziza dan Eli tertawa geli.


"Malah diketawain.... Lama-lama aku bisa depresi kalau seperti ini terus.... Capek...," ujar Najwa.


"Sudahlah..., nikmatin aja.... Kalau aku yang jadi kamu..., aku malah semangat bukannya menggerutu terus...!" Ejek Mala.


"Ya udah! Kamu jadi aku aja..., aku mau kok...!"


"yeeeee..., yang dihukum kamu kok bukan aku.... Ya ogah lah!" Mala menjulurkan lidahnya tanda mengejek.


"Tu kaaaa..., iiiiihhhh...! Aku cubit ya kamu...," Najwa mencubit temannya gemes.


"Aduh aduh..., sakit...!" Rintih Mala.


"Lagian kenapa tow kok kamu dihukum terus? Nantang Gus Fahmi apa kamu?" Tanya Ziza.


"Mana berani aku nantang beliau.... Aku tu selalu nurut..., menjaga sikap aku agar tidak dihukum.... Tapi tetap saja dapat hukuman. Apalagi kalau aku telat masuk Diniyah..., tanpa ada aba-aba beliau langsung berkata begini..., _najwa..., kamu tau kan kesalahan mu?_(berkata dengan logat Gus Fahmi). Kalau sudah dawuh seperti itu berarti aku harus langsung ke ndalem untuk bersih-bersih.... Sampai-sampai aku malu dengan Abah dan Ibu yai karena keseringan dihukum...?" curhat Najwa pada teman-temannya.


"Ya udah...! Nikmatin aja...," ucap Ziza cuek.


"Mau gimana lagi...," Najwa pasrah.


"Eh wa..., sudah berapa hari tow kamu disini?" Tanya Eli penasaran.


"Maksud nya?" Najwa bingung.


"Ayo izin keluar buat belanja..., siapa tahu stress mu berkurang kalau kita shopping shopping dulu..., hehehehe 😁"


"Ide bagus tu...! Aku juga mau ikut...!" Sambung Mala.


"Memang boleh?" Tanya Najwa.


"Boleh..., tapi 40 hari sekali. Itupun belum tentu diizinkan...," terang Ziza.


"Yeeeee..., kita kan belum nyoba...." Protes Mala.


"Ya makanya kalian coba izin kalau bisa...," tambah Ziza.


"Kamu gak mau ikut Ziza?" Tanya Najwa.


"Hmmm..., ayow kita izin sama-sama lusa. Kalau diizinkan boleh juga aku ikut...!" Ziza setuju.


*Hari ke40*


Akhirnya hari itu Mereka berempat bersama-sama menuju kantor untuk meminta izin keluar pondok. Seperti biasa di kantor pondok ada ustadz Qosim yang memang bertugas disana.


"Ada apa ini kok rame-rame?" Tanya ustadz Qosim penasaran.


"Mau izin Keluar pak...," ucap mereka bersamaan.


Sekilas Qosim tahu ada Najwa diantara mereka, Qosim pun langsung menghubungi Gus Fahmi karena beliau sudah berpesan apapun yang berhubungan dengan Najwa beliaulah yang menangani.


"Masuk dulu...!" Ustadz Qosim mencoba menghubungi Gus Fahmi.

__ADS_1


"Assalamualaikum.... Iya, anaknya disini..., iya..., iya.... Saya paham...." Ustadz Qosim tersenyum dalam telpon nya.


"Ngapain ustadz Qosim senyum-senyum...?" Bisik Eli.


"Tak tau...?" Jawab Mala.


"Tunggu ya...," ustadz Qosim melanjutkan pekerjaannya.


"Sudah berapa hari kalian di pondok? Kok sudah izin keluar?" Gumam ustadz Qosim.


"Sudah 40 hari lebih pak...," terang Mala.


"Kenapa kita harus menunggu pak...?" Protes Ziza.


"Bapak kan cuma tinggal tanda tangan saja di buku izin kami?" Tambahnya.


"Sudahlah tunggu saja..., ini sudah perintah atasan...." Canda ustadz Qosim menahan tawanya.


Kalau berhubungan dengan kegilaan Gus Fahmi yang mengincar Najwa, ustadz Qosim memang tidak bisa berhenti tertawa.


"Ada-ada saja Gus e...," batin ustadz Qosim.


Selang beberapa menit Gus Fahmi pun datang.


"Mati aku...! Gus Fahmi lagi...," batin Najwa.


"Pasti gak diizinkan nie...." Gumam lirih Najwa.


"Assalamualaikum...." Gus Fahmi masuk kantor.


"Waalaikumsalam...." Ustadz Qosim menjabat tangan Gus Fahmi.


"Gimana Gus..., mereka mau izin keluar ...." Lanjut ustadz Qosim.


"Mau belanja keperluan Gus...." Terang Eli.


Tanpa sadar Gus Fahmi mengenal salah satu santri.


"Ziza? Ngapain dia ikut?" Batin Gus Fahmi.


Ziza menatap Gus Fahmi tajam.


"Aku curiga ini cuma akal-akalan kamu Fahmi...." Batin Ziza geram.


"Mana buku izinnya...," Gus Fahmi mencoba santai menanggapi tatapan tajam Ziza.


"Ini Gus...." Mala menyodorkan buku izin.


"Dua diantara kalian harus tetap di pondok.... Aku izinkan Ziza dan Najwa yang keluar...."


Gus Fahmi menanda tangani buku tersebut.


"Jam 4 sore kalian harus sudah kembali.... Kalau telat ada takziran...!" Tegas Gus Fahmi.


"Takzir lagi takzir lagi..., udah kenyang aku dengan yang namanya takziran...." Keluh hati Najwa.


"Iya Gus.... Terima kasih...,"


setelah mengambil buku izin mereka bergegas keluar kantor.


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


***


"Najwa...! Aku titip ini ya..., ini catatan nya.... Hehehe 😁" Mala menyodorkan daftar kertas belanja.


"Ya Allah...! Banyak banget..., mana bisa kami nanti membawanya?" Protes Najwa.


"Itu sudah termasuk pesanan anak-anak dan Eli..., hehehe 😁 mau ya...?" Rayu Mala.


"Kalau gini mah bukan shopping tapi jadi kurir...." Canda Najwa.


"Ayolaaahhh...! Bisa-bisa...." Rengek Mala.


"Iya iya..., " ucap Najwa pasrah.


"Ayo wa..., nanti keburu sore...!" Ajak Ziza.


"Ayo...."


Akhirnya mereka keluar pondok berdua, Najwa sangat senang karena bisa jalan-jalan walaupun sebentar. Najwa sudah sangat penat dengan Gus Fahmi yang tidak berhenti memberikan hukuman padanya.


*Diluar pondok*


"Mau belanja kebutuhan anak-anak apa kita shopping dulu wa?" Tanya Ziza.


"Bagaimana kalau shopping dulu.... Mumpung ada uang lebih nie...!" Terang Najwa.


"Oke-oke...?" Rayu Najwa.


"Baiklah...." Ziza mengiyakan.


Sebenarnya Ziza tidak begitu suka shopping tapi untuk temannya satu ini dia mengalah, biasanya kalau dengan Eli maupun Mala Ziza mesti menolak.


"Disana ada toko baju syar'i bagus-bagus..., ayo...!" Ajak Ziza.


"Ayo!" Jawab Najwa penuh semangat.


Setelah shopping mereka sholat dhuhur kemudian duduk di warung membeli es campur kesukaan Ziza.


"Tau gak...? Ini nie es campur kesukaan aku.... Setiap keluar pondok aku, Mala maupun Eli msti aku ajak kemari...." Terang Ziza sambil menikmati es campur nya.


"Iya kah...? Memang es nya seger banget..., toping nya juga banyak...." Terang Najwa menikmati.


Tiba-tiba terbersit dipikiran Ziza tentang Gus Fahmi.


"Najwa..., kamu dan Fahmi tidak ada hubungan apa-apa kan?" Ziza penasaran.


"Eggh!" Najwa tersedak.


"Hubungan apa tow? Ya gak ada ..., beliau hanya mustahiq ku..., tidak lebih...!" Terang Najwa.


"Mustahiq paling jahat pokok!" Tambahnya.


"Benar..., Fahmi memang cuma iseng ngerjain Najwa.... Tidak mungkin setiap Minggu Najwa melakukan kesalahan kalau bukan akal-akalan nya.... Ustadz Qosim juga salah satu tangan kanannya...." Batin Ziza.


"Sudahlah...! Jangan bahas beliau..., nanti aku bad mood lagi...." Keluh Najwa.


"Kamu gak curiga kalau Fahmi suka padamu?" Tanya Ziza terang-terangan.


"Apa...? Suka...? Ziza..., kamu jangan berhayal dech...! Gak lucu!" Protes Najwa.

__ADS_1


"ayow lanjutkan minumnya..., kita belum belanja pesanan anak-anak low...." Najwa bergegas menghabiskan es campur nya.


"Memang sih Gus Fahmi tipe cowok idaman. Tapi..., mimpi aku kalau seorang Najwa disukai olehnya.... Pinter juga enggak...! Melanggar aturan itu jagonya." Gumam batin Najwa.


__ADS_2