
Dengan seksama Najwa mendengarkan cerita Gus Azmi. Ternyata Gus Azmi memang jadi idola perempuan di manapun dia berada. Banyak perempuan cantik yang berusaha mendapatkan cinta beliau termasuk Bella. Tapi Najwa heran kenapa dia yang masih belia dan polos bisa menarik hati beliau. Padahal menurutnya, Najwa masih sangat muda dan tidak begitu menarik dimata laki-laki.
"Aku juga heran kenapa kamu bisa dengan mudah mendapatkan perhatian ku? Padahal selama ini tidak ada yang bisa meluluhkan hatiku...?" Tanya Gus Azmi.
"Saya sendiri juga heran Gus, padahal saya tidak pernah minta kenalan apalagi cari perhatian dengan njenengan. Tapi njenengan sendiri yang sudah terpikat oleh saya...." batin Najwa.
"Jangan-jangan kamu pakai sihir ya?" Goda Gus Azmi.
"Siapa juga yang pakai sihir...? enak aja...!" Protes Najwa tidak terima.
Gus Azmi malah tertawa melihat tingkah Najwa yang lucu menurutnya.
"Apanya yang lucu? Saya tegaskan ya Gus, saya tidak pernah pakai yang namanya sihir, tidak pula seperti mbak Bella yang genit dekat dengan njenengan. Njenengan sendiri kan yang mendekati saya...." Terang Najwa.
"Iya-iya..., aku yang sudah memilihmu. Jadi jangan sampai berpaling ya wa...," pesan Gus Azmi.
"Insyaallah..., tapi njenengan jangan selingkuh!" Ucap Najwa tegas.
"Memang aku ada wajah-wajah gampang selingkuh?" Gus Azmi tidak terima.
"Bukan begitu Gus, njenengan kan yang suka banyak. Nanti ada yang lebih, njenengan campakkan saya..., jangan ya...?" pinta Najwa jujur.
"Insyaallah..., pintar-pintar kamu kan yang harus menjaga agar kita tetap bersama." Ucap Gus Azmi tidak mau kalah.
"Tolong jangan bilang saya berkhiyanat geh Gus, sakit...," jujur Najwa akhirnya.
"Maafkan tentang itu, aku akan secepatnya menemui ustadz Haqi...."
"Untuk apa?" Najwa bingung.
"Untuk mengatakan yang sebenarnya tow, aku tidak suka kekasihku di goda terus sama laki-laki lain." Jujur Gus Azmi.
"Aku juga tidak suka digoda terus sama ustadz Haqi." Ucap Najwa dalam hati.
"Memang njenengan sudah siap kalau hubungan kita terbongkar di kalangan santri?"
"Ustadz Haqi itu amanah, tidak mungkin menyebarkan rahasia!" Najwa hanya bergumam menanggapi keterangan beliau.
"Ayo makan, sudah lapar aku." Gus Azmi mulai mengambil makanan yang ada dihadapannya.
"Kamu tidak makan Dinda?" Tanya Gus Azmi.
"Saya puasa Gus," jujur Najwa.
"Puasa apa?" Gus Azmi penasaran.
"Puasa taubat, karena sudah melanggar batas bersentuhan dengan njenengan!" Celoteh Najwa.
Gus Azmi hanya terkekeh geli.
"Ya udah, lanjutkan! Tapi temenin aku ya, jangan pengen...," goda Gus Azmi.
Hari itu Najwa menemani Gus Azmi makan siang. Najwa terus memandangi beliau yang lahap makan sambal terong yang dibuatnya.
"Ini orang lapar atau enak sih sambalnya? Kok lahap banget...," batin Najwa heran.
"Kenapa Dinda? Mau?" Tawar Gus Azmi.
"Enggak..." Najwa menggeleng menolak.
Setelah selesai makan Gus Azmi meminta Najwa kembali ke pondok, sekali lagi beliau menggoda Najwa yang memang sangat mengundang hasrat Gus Azmi untuk menyentuhnya.
"Ayo cepat balik wa," pinta Gus Azmi.
"Iya Gus,"
Najwa beranjak dari kursinya tapi sekali lagi Gus Azmi menggenggam tangan Najwa. Najwa reflek langsung menolak. Gus Azmi hanya tersenyum menanggapi sikap Najwa tersebut, tanpa rasa tersinggung karena penolakan Najwa.
"Hati-hati ya..., jangan sampai aku menerkam dari belakang." Goda Gus Azmi.
"Tu kan ..., mulai lagi. Jangan buat aku takut Gus," batin Najwa.
Saat Gus Azmi mulai berdiri, Najwa langsung bergegas tapi terlambat. Gus Azmi sudah menghalangi jalannya.
"Saya mau kembali ke pondok Gus," Najwa tertunduk takut kalau Gus Azmi berubah ganas padanya.
"Tunggu sebentar to," Gus Azmi mulai merengek.
"Jangan macam-macam ya Gus," ancam Najwa.
"Mumpung berdua kan?" Canda Gus Azmi.
"Tidaaaakkkkk...!" Ucap Najwa reflek. Gus Azmi tertawa geli.
"Ayo minggir saya mau balik."
Najwa mencoba mendorong Gus Azmi, tapi dia lupa Gus Azmi lebih kuat dari nya. Alhasil Najwa malah berada dalam perangkap beliau.
"Aku ingin segera menikah denganmu Dinda." Bisikan Gus Azmi mendebarkan hati Najwa.
Tepat di samping telinga Najwa beliau berbisik, seketika tubuhnya merinding dan gemetar merasakan sensasi tersebut. Najwa terdiam sejenak tapi saat dia sadar langsung Najwa mendorong jauh Gus Azmi dan beranjak pergi. Gus Azmi memang sudah gila hari itu, cintanya pada Najwa sudah membuatnya hilang kendali. Apalagi semalam Najwa lah yang sudah memulai berani menyentuh tangan beliau. Sehingga membuat beliau juga mulai berani mendekati Najwa lebih dekat.
***
Sejak hari itu Najwa kembali menjaga jarak dengan Gus Azmi. Karena kejadian kemarin sudah membuat Najwa kapok untuk berdekatan dengan beliau. Najwa juga merasa Gus Azmi juga berusaha menjaga jarak dengannya, tapi tidak masalah. Semua demi kebaikan mereka berdua. Gus Azmi sudah memasuki masa-masa pembuatan skripsi, jadi beliau kembali jarang menemani Najwa. Tapi karena penjelasan beliau, jadi Najwa sudah tidak pernah berfikir macam-macam tentang beliau. Apalagi masalah tentang Bella.
Ustadz Haqi pun sudah tidak lagi menggoda Najwa. Mungkin Gus Azmi sudah menjelaskan semua pada beliau, sehingga beliau mundur dengan hormat. Pernah sekali beliau meminta maaf pada Najwa tapi Najwa tidak terlalu menanggapi dan hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan beliau.
Hari-hari dijalani Najwa dengan baik, semua berjalan lancar Alhamdulillah. Prestasi Najwa pun semakin meningkat walaupun belum bisa menyaingi Ziza. Gus Azmi yang sibuk pun masih sempat sesekali menemani Najwa.
"Najwa..., bagaimana sekolahmu?" Tanya Gus Azmi sambil berbaring di karpet.
__ADS_1
Najwa memang saat itu sedang piket membersihkan ruang tamu.
"Alhamdulillah lancar, sekripsi njenengan bagaimana Gus?" Tanya Najwa balik.
"Masih jenuh, makanya aku nemenin kamu...," jujur Gus Azmi.
Najwa hanya bergumam pelan, karena dia tidak tahu apa itu sekripsi jadi dia hanya bisa diam kalau Gus Azmi bicara tentang sekripsi.
"Ayo jalan-jalan Dinda," ucap Gus Azmi ngelantur.
"Maksudnya? Njenengan bilang apa to Gus, kalau jenuh tu jangan bicara asal dech!" Ucap Najwa dalam hati.
"Azmi...! Kamu bicara apa tow? Kok ruwet," Gus Azmi berdebat dengan dirinya sendiri.
"Aaaaahhhh...! kapan selesainya sekripsi ku, sudah jenuh aku." Keluh Gus Azmi.
"Allah...," Gus Azmi akhirnya memejamkan matanya dan tidak lama tertidur.
Najwa hanya bisa tersenyum melihat kekasihnya yang aneh bin ajaib. Kadang beliau menakutkan kadang lucu kadang juga aneh, sungguh lengkap sikap beliau yang membuat Najwa semakin cinta.
***
Tidak terasa masa-masa berjalan dengan cepat, kejadian demi kejadian yang terjadi menjadi kenangan tersendiri bagi setiap insan di dunia. Mulai dari khataman, mukhafadzoh, koreksi kitab sampai acara wisuda untuk kelas 3 Tsanawiyah telah berjalan lancar. Sekripsi Gus Azmi pun sudah kelar. Beliau lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
2 tahun telah berlalu, sekarang Najwa sudah kelas 2 Aliyah dan Gus Azmi selain selalu mendampingi kelas Najwa dia juga sibuk menjalankan usaha online nya. Berjualan motor dan mobil bekas, dengan modal yang diberikan Abahnya Gus Azmi mengembangkan usahanya. Modal untuk nikah, itu yang selalu dikatakan Gus Azmi pada Najwa. Karena sebentar lagi Najwa akan lulus dari madrasah dan siap untuk dipinang beliau.
Kalung monel yang selalu digunakan Najwa telah diganti dengan emas hasil kerja keras beliau. Awalnya Najwa menolak pemberian beliau tersebut tapi Gus Azmi terus memaksa sehingga Najwa terpaksa menerima hadiah tersebut.
Gus Azmi sudah meminta izin pada Abah untuk meminang Najwa, dengan bantuan ibu yai akhirnya Abah Qomar setuju dengan hubungan mereka. Najwa benar-benar bersyukur mendengar kabar tersebut. Karena sudah lama mereka menjalin hubungan dan akhirnya semua setuju. Sekarang tinggal keluarga Najwa yang belum mengetahui semuanya. Akhirnya Gus Azmi meminta Sulton yang meminta Najwa pada Abah Najwa sebelum keluarganya berkunjung melaksanakan lamaran. Abah Najwa benar-benar terkejut mendengar kabar tersebut, karena beliau tidak menyangka anaknya akan di lamar oleh putra kyai Qomar. Beliau menyetujui lamaran tersebut penuh dengan rasa bahagia.
Sudah ditetapkan tanggal 6 Dzulhijjah keluarga Gus Azmi akan berkunjung ke rumah Najwa untuk melaksanakan lamaran. Tapi ada hal yang menunda semua itu. Abah Ziza sakit parah, Ziza terpaksa harus pulang karena Abahnya sudah kritis.
Tiba di rumah Ziza menangis menjadi mendapati Abahnya sedang terbaring lemah di ranjang. Keluarga Gus Azmi diminta datang secepatnya ke rumah Ziza. Karena Abah Ziza adalah guru Gus Azmi maka dengan segera mereka berangkat ke Bojonegoro ke rumah Ziza.
Sesampainya di sana abah Ziza langsung memanggil Gus Azmi meminta bicara serius dengan beliau. Gus Azmi penuh ta'dzim sowan kepada beliau.
"Azmi..., kamu sudah lama kenal Ziza kan? Tolong jaga Ziza dengan baik," ucap Abah Ziza pelan.
"Baik bah, pasti bibi Ziza akan saya jaga." Ucap Gus Azmi yakin.
"Aku tahu kalian sudah sangat dekat, sebaiknya segera lah resmikan hubungan kalian." Tegas Abah Ziza.
"Maksud Abah? Aku tidak mengerti...," Tanya batin Gus Azmi.
"Ziza...," Panggil Abah pada Ziza.
"Mendekat sini nak," Ziza langsung sungkem menciumi tangan Abahnya.
"Abah..., Abah cepat sembuh ya...." Ziza terisak.
"Kamu suka dengan Gus Azmi kan? Kalau memang kalian sama-sama suka segera lah menikah..."
Ucapan Abah Ziza terasa seperti guntur di telinga Gus Azmi. Bagaimana bisa Ziza dekat dengan beliau kalau selama ini mereka sama sekali tidak menjalin hubungan hampir 3 tahun.
Semua persiapan juga sudah siap, keluarga juga sudah menyetujui permintaan tersebut. Abah Qomar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga Najwa kalau ternyata Gus Azmi mempermainkan putrinya.
"Iya bah..., Ziza ngerti..., Gus Azmi juga sudah berjanji akan menikahi Ziza setelah lulus Abah...," terang Ziza dalam tangisnya.
"Kebohongan apa yang kau bicarakan Ziza? Aku akan menikah dengan Najwa? Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya batin Gus Azmi.
"Tidak usah menunggu lulus, Abah ingin kalian menikah sekarang..., Abah ingin melihat pernikahan kalian nak, sebelum Abah pergi."
"Abah..., jangan berkata seperti itu..., baik..., Ziza akan menikah sesuai kemauan Abah..." Ziza larut dalam tangisnya.
Gus Azmi seakan membeku mendengar penjelasan Ziza pada Abahnya. Beliau benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Ziza. Bagaimana dengan Najwa, wanita yang selama ini selalu di nantinya. Gus Azmi seperti dihantam beribu masalah karena ucapan Ziza tersebut.
Setelah itu mereka antar keluarga membicarakan pernikahan Ziza dan Gus Azmi secepatnya. Karena keadaan Abah Ziza sudah sangat parah. Akhirnya mereka memutuskan pernikahan akan dilaksanakan tanggal 7 Dzulhijjah. Ijab Sirri karena tidak ada waktu kalau harus izin ke KUA. Gus Azmi tidak bisa berkata sepatah katapun menanggapi masalah tersebut, beliau terbayang senyum Najwa yang tidak akan lama berubah jadi tangis darah karena perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukan Gus Azmi. Gus Azmi memang tidak pernah berhubungan lagi dengan Ziza sejak Najwa cemburu dengan hubungan mereka. Tapi kenapa seluruh keluarga Ziza bilang, beliau sering bercakap telepon dengan Ziza selama ini. Bahkan Abah Ziza pun sering menerima telepon beliau. Gus Azmi benar-benar tidak mengerti.
***
Sampai di Jombang kediaman Gus Azmi. Abah Qomar langsung marah besar dengan Gus Azmi karena sudah bertindak bodoh mempermainkan hubungan antar keluarga. Ibu yai mencoba menenangkan beliau, tapi tidak bisa. Abah Qomar sampai menampar Gus Azmi karena kebodohannya. Ibu yai menangis melihat suami dan anaknya bertengkar hebat karena masalah pernikahan.
"Abah...," Gus Azmi segera sujud di kaki Abah Qomar.
"Azmi benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, Azmi tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan bibi Ziza." Jujur Gus Azmi dalam tangisnya.
"Kalau begitu tunjukkan tanggung jawabmu menghadapi masalah ini." Tegas Abah Qomar.
"Waktumu hanya 3 hari, jelaskan semuanya! Kalau tidak ada bukti, menikah lah dengan Ziza! Masalah keluarga Najwa biar Abah sendiri yang sowan ke sana." Ucap Abah Qomar yang langsung pergi.
"Azmiiiii...!" Ibu yai segera memeluk erat putranya sambil menangis.
"Aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Ziza umi..., siapa orang yang tega menggunakan namaku untuk merayu Ziza." Ucap Gus Azmi pasrah.
"Sudahlah nak..., mungkin memang ini sudah jalannya. Tidak mungkin dalam 3 hari kamu bisa menemukan orang tersebut." Jelas Gus Azmi.
"Bagaimana dengan Najwa umi? Najwa akan sangat hancur karena pernikahan ini, begitu pula aku yang akan terus merasa bersalah kepadanya."
"Biarkan umi yang bicara dengan Najwa, pasti dia akan mengerti Gus." Ibu yai mencoba menenangkan Gus Azmi.
"Aku tidak akan melaksanakan pernikahan ini kalau Najwa tidak menyetujuinya." Tegas Gus Azmi yang kemudian meninggalkan ibunya.
Ternyata diluar ndalem ada seseorang yang menguping pembicaraan Gus Azmi dan ibunya. Dialah orang yang selama ini mengaku sebagai Gus Azmi pada Ziza. Yang menjalin hubungan dekat dengan Ziza. Sampai-sampai berjanji akan menikahi Ziza atas nama Gus Azmi.
"Azmiiiii...!" Rintih ibu yai.
Beliau tidak menyangka pernikahan indah di depan mata berubah jadi derita dalam sekejap. Harapan Gus Azmi dan Najwa hancur di tangan Ziza.
***
Pagi itu tiba-tiba Najwa dipanggil ibu yai untuk segera sowan. Karena tergesa-gesa kalung pemberian gus Azmi putus, Najwa benar-benar kaget. Karena baru bulan kemarin beliau membelikan kalung tersebut tapi kenapa bisa putus. Tanpa berpikir panjang Najwa segera menyimpan kalung tersebut dan segera ke ndalem memenuhi panggilan ibu yai.
__ADS_1
Sampai di ndalem Najwa segera mencari ibu yai yang ternyata berada di kamar sholat tempat biasa beliau bertafakur.
Perlahan Najwa mendekat, tiba-tiba ibu yai berbalik padanya dan langsung memeluk Najwa erat. Suara beliau serak, seakan habis menangis. Dan ternyata benar, beliau menangis dihadapan Najwa.
"Ada apa umi? Kenapa umi menangis? Ada masalah apa?" Najwa bingung kenapa calon mertuanya menangis padahal 2 hari lagi mereka akan melamar Najwa.
"Kamu yang sabar ya nak...," Ucap ibu yai akhirnya.
"Kenapa umi?" Najwa bingung.
"Azmi nak..., Azmiiiii...." Ibu yai kembali larut dalam tangisnya.
"Kenapa dengan Gus Azmi? Beliau tidak apa-apa kan umi?" Najwa terus bertanya karena takut ada apa-apa dengan beliau.
Sejenak ibu yai mencoba menenangkan diri. Beliau tidak kuasa menjelaskan semuanya pada Najwa, tapi itu harus beliau katakan karena ibu yai takut Najwa salah paham dengan Gus Azmi.
"Gus Azmi akan menikah dengan Ziza...," Suara umi pelan tapi terdengar jelas ditelinga Najwa.
Semua terasa seperti mimpi. Najwa tidak percaya begitu saja. Tapi air matanya tidak bisa dibendung.
"Umi bicara apa? Besok kan lamaran beliau pada ku?" Najwa mencoba menjelaskan.
"Umi berkata jujur nak, Azmi memang akan menikahi Ziza tanggal 7 lusa." Terang ibu yai.
Seketika Najwa lemas dan tidak berdaya. Hatinya hancur mendengar kenyataan tersebut.
"Sabar ya nak..., mungkin kalian memang tidak berjodoh. Cobalah menerima kenyataan ini...,"
Nasehat ibu yai terasa seperti pisau menyayat hatinya. Tidak ada kata yang bisa diucapkan Najwa saat itu. Dibenaknya Najwa hanya ingin bertemu dengan Gus Azmi mendengar penjelasan beliau tentang hal tersebut.
"Azmi sudah pergi dari tadi malam, Abah Qomar pun belum juga kembali. Umi benar-benar bingung nak...," Ibu yai tertunduk dihadapan Najwa.
Najwa perlahan mundur beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada ibu yai.
Mungkin itulah yang bisa dilakukan Najwa, karena dia sudah tidak bisa membendung tangisnya. Najwa tidak ingin menangis dihadapan ibu yai karena hal tersebut pasti akan menambah pikiran beliau kalau beliau mengetahui kesedihannya.
Najwa berlari menuju pondok langsung masuk kamar mandi dan menangis menjadi. Seluruh pakaian Najwa basah terkena semprotan air yang memang dengan sengaja dibuka Najwa. Najwa tidak kuasa menahan sedihnya, tidak lama Najwa pingsan tidak sadarkan diri. Untunglah ada yang curiga karena pintu kamar mandi tidak dibuka-buka saat mereka antri mandi. Akhirnya pintu kamar mandi di dobrak dan disana sudah ada Najwa yang tergolek lemah dan membiru karena kedinginan. Seketika seluruh pondok gempar karena kejadian Najwa tersebut. Mereka bergotong royong menggendong Najwa sampai ke kamarnya dan segera mengganti pakaian Najwa yang basah kuyup.
Mereka segera menyelimuti Najwa dan mengoleskan minyak ke sekujur tubuh Najwa. Tidak lama Najwa akhirnya sadar, banyak yang mengira Najwa bunuh diri. Tapi tidak ada yang menduga kejadian tersebut karena lamaran Najwa yang gagal.
"Najwa...? Kamu sudah sadar...," Eli terlihat panik dengan keadaan Najwa yang memprihatinkan.
"Tidak ada yang sakit kan?" Tanya Eli penuh perhatian.
Terlihat Eli habis menangis karena Najwa.
Najwa menggeleng pelan.
"Kenapa kamu bertindak bodoh! Kami semua kuatir tau...!" Ketus Eli sambil mengusap air matanya.
Terlihat banyak santri yang memenuhi kamarnya.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Najwa pelan.
"Ayo semua bubar, biarkan Najwa istirahat." Ucap ziha yang merawat Najwa.
"Jangan nangis, aku tidak apa-apa." Najwa mencoba tersenyum.
Eli dan Mala langsung memeluk Najwa erat. Seketika tangis Najwa kembali tumpah. Sakit itu berdesir kembali di hati Najwa.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi Najwa, kami takut sekali tadi..." Ucap Mala jujur.
Najwa hanya mengangguk pelan.
***
Setelah semua bubar meninggal kan kamar E-3. Barulah Eli dan Mala bertanya masalah apa yang sedang dialami Najwa, karena baru kemarin Najwa bilang akan mendapat lamaran dari seseorang dan Najwa terlihat sangat bahagia. Tapi kenapa hari ini dia berubah.
"Cerita pada kami wa, jangan di pendam sendiri." Ucap Eli.
"Lamaran ku dibatalkan El..., bagaimana aku bisa memberitahu orang tua ku masalah ini." Jujur Najwa.
"Dari mana kamu tau lamarannya dibatalkan?" Eli penasaran.
Karena Najwa dari kemarin tidak keluar pondok sama sekali.
"Kamu tau siapa yang akan melamar aku?" Ucap Najwa hampa.
"Siapa?"
"Gus Azmi..., Azmi Muhammad putra Abah yai Qomar." Jujur Najwa.
Eli benar-benar kaget mendengar pengakuan Najwa yang memang selama ini dia tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan Gus Azmi.
"Jangan mimpi wa," ucap Eli tidak percaya.
"Aku tidak bermimpi, memang beliau yang akan melamar ku." Tegas Najwa, air matanya pun kembali jatuh.
"Jadi selama ini...?" Eli bertanya-tanya.
"Iya, sudah 4 tahun kami menjalin hubungan. Dan ternyata hari ini semua kandas karena beliau harus menikah dengan Ziza."
Eli bertambah kaget dengan penjelasan Najwa tersebut.
"Teman sekamar kita. Rania aziza." Tangis Najwa kembali pecah karenanya.
"Apa buktinya kamu menjalin ikatan dengan Gus Azmi?" Eli tidak mudah percaya dengan penjelasan Najwa.
"Ada di dalam almari, semua surat dan pesan-pesan beliau aku simpan rapi di dalam map warna merah." Terang Najwa, Eli pun langsung mencari map tersebut.
Mala yang mendengar percakapan mereka hanya bisa diam terkejut dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
Mala tahu bahwa Ziza memang dekat dengan Gus Azmi. Dulu waktu mereka masih ibtidaiyah, Ziza sering sekali di ajak keluar Gus Azmi. Begitu pun waktu Tsanawiyah dan juga Aliyah. Mala tahu bahwa saat liburan Gus Azmi selalu menelepon Ziza. Mereka memang mempunyai hubungan khusus, Ziza juga cerita demikian. Tapi Mala tidak mengerti kenapa Gus Azmi akan melamar Najwa. Sedangkan beliau menjalin ikatan dengan Ziza.
Mala yang penasaran juga melihat dan membaca semua surat-surat yang beliau berikan kepada Najwa. Mala benar-benar bingung sebenarnya apa yang terjadi. Mala tidak menduga kalau Gus Azmi akan menduakan Ziza ataupun Najwa. Karena Mala juga bingung siapa yang benar. Akhirnya Mala memilih diam tidak memberi komentar apapun tentang masalah Najwa.