
Setelah berfikir sejenak tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan kecuali bertemu dengan Gus Azmi dan meminta maaf. Najwa segera ke ndalem berharap bisa bertemu dengan beliau. Tapi saat Najwa sampai, terdengar suara motor Gus Azmi keluar ndalem. Najwa terlambat mengejarnya, seketika badan nya lemas karena kecewa. Najwa tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meminta maaf pada beliau.
"Najwa? Ngapain disini? Bukankah hari ini jadwal kamu piket?"sapa Raisya mengejutkan Najwa yang masih melamun.
"e--mbak Raisya, iya mbak..., ini juga mau piket." Terang Najwa.
"Kenapa mata kamu bengkak? habis nangis ya?" tebak Raisya.
"Enggak kok mbak, mataku memang lagi sakit. Tapi sudah aku obati tadi pagi," ucap Najwa bohong.
"Kalau sakit istirahat saja dulu, nanti pingsan lagi kaya kemarin...," ingat Raisya.
"Cuma sakit mata biasa, tidak akan pingsan kok." Najwa mencoba menjelaskan.
"Ya udah, aku lanjutkan pekerjaan ku dulu ya ...," izin Raisya.
"Iya mbak, saya juga akan segera piket." Terang Najwa.
Najwa segera mengambil sapu dan membersihkan ruang tamu ndalem. Terlihat di halaman sudah ada Ziha dan Ijul yang sibuk menyapu dan menyiram bunga.
"Aku sendiri, tidak ada beliau yang menemani hari ini..., maafkan saya Gus Azmi telah menyakiti njenengan," air mata Najwa kembali menetes saat teringat beliau.
Ternyata tadi yang mengendarai motor bukan Gus Azmi, melainkan ustadz Qosim yang ada tugas ke pondok pusat. Lama sudah dari dalam ndalem Gus Azmi memperhatikan Najwa. Beliau tidak tega melihat Najwa yang sedih. Jujur, Gus Azmi masih marah dengan kata-kata Najwa di surat tersebut. Tapi, rasa cinta dan sayangnya lebih kuat dari amarahnya. Wajah Najwa terlihat sayu dan putus asa. Sesekali dia terlihat lesu dan kelelahan, seperti ada beban berat yang ditanggungnya. Karena tidak tahan melihat kekasihnya tersiksa, Gus Azmi segera menemui Najwa.
Terdengar suara langkah kaki menuju ruang tamu.
"Siapa? bukankah Abah dan umi sedang istirahat?" tanya batin Najwa.
Suara langkah tersebut semakin dekat dan ternyata apa yang diharapkan Najwa terwujud, Gus Azmi menemuinya. Raut wajah yang tadi terlihat sendu sekarang sudah kembali merekah saat memandang beliau. Beliau masih terlihat marah. Tapi, Najwa bersyukur beliau masih mau menemuinya.
"Dinda!" Panggil Gus Azmi.
"Iya Gus," Najwa senang Gus Azmi masih memanggil Dinda pada dirinya.
"Bakar surat ini sekarang, mataku sakit membacanya!" Perintah Gus Azmi sambil menaruh sepucuk surat dimeja.
"Baik Gus," Najwa mengambil surat tersebut dan ternyata surat dari Najwa. Gus Azmi menaruh korek api disampingnya dan memberi isyarat Najwa agar segera membakar surat tersebut.
"Maafkan saya Gus," batin Najwa.
Najwa pun bergegas membakar surat tersebut.
Setelah itu tanpa di minta ternyata Gus Azmi menemani nya piket seperti biasanya. Gus Azmi membuka laptop nya dan seperti biasa juga beliau berpura-pura tidak memperdulikan Najwa yang sibuk mengerjakan piket nya.
Ruang tamu ndalem sangat luas jadi walaupun mereka hanya berdua tapi tidak pernah berdekatan. Tidak pernah sedikitpun Najwa berani mendekati Gus Azmi kurang dari 3 meter, begitu pula Gus Azmi. Beliau selalu menjaga jarak dengan Najwa untuk menghindari godaan setan.
"Kamu jelek kalau matanya bengkak!" Ucap Gus Azmi tiba-tiba.
"Biarin! Salah sendiri membuat ku menangis." Gumam hati Najwa. "Gini-gini njenengan juga terpesona kan?" tambahnya.
"Sini aku obati! Biar gak jelek gitu," canda Gus Azmi.
__ADS_1
"Yeeeee..., ogah! Terima kasih sebelumnya," ceramah hatinya.
"Aku disini saja, sudah jadi obat ampuh kan? Ayo ngaku...," Gus Azmi tersenyum manis.
"Kok PD?" Najwa manyun menanggapi candaan Gus Azmi.
"Eeeee...! Jangan manyun gitu, tambah jelek ntar..., Hehehe 😁" Gus Azmi tertawa geli.
"Alhamdulillah..., terima kasih sudah memaafkan kebodohan saya Gus, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Setiap ada masalah, pasti saya akan bertanya langsung pada njenengan, bukan malah menyimpulkan nya sendiri." Sesalnya dalam hati.
"Dinda..., Ayo senyum...," bisik Gus Azmi.
"Aku kangen senyumanmu!" tambahnya.
Seketika wajah Najwa merona merah karena malu menanggapi ucapan beliau.
"Gus Azmi jaga sikap njenengan, jangan memancing hal yang tidak-tidak." Ungkapnya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa aku salah?" Gus Azmi bingung melihat ekspresi Najwa yang aneh.
"Tidak Gus," Najwa akhirnya hanya bisa menundukkan pandangannya.
"Manisnya..., padahal saat marah pun kamu masih terlihat cantik Dinda. Aku tidak bisa marah kepada mu karena aku terlalu mencintaimu." Jujur Gus Azmi dalam hati.
Dari jauh ibu yai mengamati pembicaraan Gus Azmi dan Najwa. Beliau mendengar semua perkataan Gus Azmi pada Najwa. Memang sudah lama ibu yai mengawasi mereka, karena sejak ada Najwa di ndalem, anaknya selalu bertingkah aneh. Bahkan Gus Azmi suka sekali menggoda Najwa yang masih sangat polos.
"Alhamdulillah, mereka sudah baikan." Syukur nya dalam hati.
Tapi sekarang sudah berbeda, mereka kembali bersama seperti biasanya. Najwa pun sudah terlihat lebih ceria dari biasanya. Gus Azmi juga sudah bisa tertawa karena Najwa tidak lagi menghindarinya.
"Dinda...," panggil Gus Azmi.
"Iya Gus,"
"Sudah selesai kan?" Tanya Gus Azmi.
"Selesai? Apa yang selesai?" Najwa bingung dengan maksud pertanyaan Gus Azmi.
"Piket nya," jelas nya.
"Ooo..., belum. Sedikit lagi Gus," terang Najwa sambil melanjutkan tugasnya.
Selang beberapa saat nada bicara Gus Azmi berubah, sepertinya ada yang beliau pikirkan.
"Sebentar lagi liburan pondok..., kita akan lama tidak bertemu...," terang Gus Azmi tiba-tiba.
"Iya Gus, sebenarnya saya juga memikirkan hal tersebut...,tapi...," gumamnya dalam hati.
"Hp ku kamu bawa ya...?" Pertanyaan beliau membuyarkan lamunan Najwa. Tapi Najwa masih belum merespon.
"Benar..., aku tidak punya hp. Abah sudah melarang ku untuk memegang hp sebelum aku lulus dari pondok." Gelisah Najwa dalam hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kamu bawa, masih ada kok hp yang satunya..., mau ya?" tawar Gus Azmi.
"Tidak Gus, terima kasih. Abah melarang saya menggunakan hp selama masih di pondok." Jujur Najwa.
"OOO gitu ya," Gus Azmi terdiam sejenak.
"Seharusnya kalau liburan, saya bisa ngobrol banyak lewat telepon dengan njenengan Gus, tapi saya tidak berani membantah perintah Abah." terang Najwa dalam hati.
"Memang sudah seharusnya Abah Najwa melarang Najwa bermain hp, kalau aku jadi beliau mungkin juga akan bersikap demikian. Apalagi anaknya seistimewa Najwa." Gus Azmi masih berdebat dengan angan-angannya sendiri.
"Maaf ya," ucapan Najwa mengagetkan Gus Azmi.
"Maaf kenapa?" Gus Azmi bingung.
"Maaf sudah membuat njenengan kangen." Canda Najwa berbisik pelan.
"Hehehe 😁" Gus Azmi langsung tertawa menanggapi candaan kekasihnya.
"Aku bisa datang langsung kok, tunggu saja!" Gus Azmi tidak mau kalah.
"Maksudnya? Njenengan mau berkunjung ke rumah ku gitu?" Batin Najwa bertanya-tanya.
Membayangkan nya saja Najwa sudah tidak berani.
"Tidaaaakkkkk...! ini orang kenapa nekat banget sih...?" celoteh nya dalam hati. Wajah Najwa langsung terlihat pucat setelah Gus Azmi mengatakan hal tersebut.
"Kenapa? Kamu takut aku lamar ya?" goda Gus Azmi sekali lagi. Melihat Najwa tanpa ekspresi membuat Gus Azmi semakin tertawa puas menggoda kekasihnya.
"Selalu saja demikian, antara bercanda dan serius tidak ada bedanya. Kalau aku anggap bercanda sepertinya tidak mungkin. Tapi kalau serius apa yang harus aku lakukan...? Abah..., maafkan putrimu yang terlanjur menjalin hubungan ini...." Najwa serasa ingin menangis membayangkan kemarahan Abah nya.
Saat Gus Azmi masih tertawa puas, tiba-tiba ibu yai mendekati mereka.
"Sudah..., sudah..., waktunya sholat Gus...," Ibu yai menginginkan.
"Eh umi, iya...," Gus Azmi sedikit terkejut mendapati ibunya telah mendekat. Beliau langsung membereskan laptopnya.
"Najwa, kalau sudah selesai segera kembali ke pondok." Tutur ibu yai.
"Iya umi," Najwa langsung menyelesaikan piket nya dan segera beranjak ke pondok.
"Gus," panggil ibu yai.
"Iya umi," Gus Azmi masih sibuk membereskan kabel laptop nya.
"Duduk sini dulu," pinta ibu yai. Gus Azmi pun menuruti kemauan ibunya.
"Sudah berapa lama kamu dekat dengan Najwa?" Tanya ibu yai langsung. Gus Azmi bingung sendiri harus menjawabnya.
"Pesan umi jangan terlalu dekat, kalian masih sama-sama belajar..., tekuni dulu pelajaran kalian. Jodoh ada di tangan Allah. Insyaallah kalau berjodoh pasti tidak akan kemana." Dawuh ibu yai.
"Iya umi, maaf..., Insyaallah tidak akan terulang kembali...." Gus Azmi sadar hari ini beliau terlalu banyak bicara dengan Najwa. Gus Azmi sendiri sudah menduga kalau ibunya sudah mengetahui hubungan mereka, jadi beliau tidak terlalu kaget saat ditegur beliau.
__ADS_1
#next