
Setelah mereka berpamitan Najwa segera menemui kedua orang tuanya.
"Siapa bah tamunya?" Tanya Najwa pura-pura penasaran.
"Sulton dan teman-temannya...," jawab Abah Najwa.
"Yang tadi kelihatan dewasa ya bah?" Puji ibu Najwa.
"Yang mana tow mi?" Tanya Abah penasaran.
Najwa pun mendengarkan seksama berharap orang tuanya menyukai Gus Azmi.
"Yang pakai kemeja biru, yang putih kelihatan masih muda banget." Terang ibu Najwa.
Kemeja biru adalah ustadz Qosim. Memang dia lebih tua dari Gus Azmi, makanya lebih kelihatan dewasa.
"Apa? Ustadz Qosim? ...., idiiiihhhhh...! Kalau dia sih ogah, mending Gus Azmi yang dewasa dan bijaksana. Walaupun masih muda, tapi beliau orang yang baik dan setia..., kuharap." Celoteh hati Najwa.
"Dia memang kelihatan lebih dewasa, tapi Abah kok malah penasaran sama yang kemeja putih tadi. Lebih sopan dan kalem...."
Terang Abah Najwa.
"Iya kan wa?" Goda Abah pada Najwa.
"Apa bah?" Najwa bingung menjawabnya.
"Hati-hati kalau memandang lelaki..., ingat kamu masih sekolah, nanti dia kepincut kamu yang bingung...." Tutur Abah nya.
Ternyata Abah Najwa mengawasi Najwa saat dia salah tingkah saat saling memandang dengan Gus Azmi di mushola tadi.
"Iya bah, maaf...." Najwa tertunduk merasa bersalah.
"Ini adalah kali kedua anak-anak tadi kemari, pasti ada sesuatu...," Abah Najwa curiga.
"Kedua? Berarti Gus Azmi pernah kemari sebelumnya...," tanya batin Najwa.
***
Tidak terasa liburan pondok sudah berakhir, waktu yang ditunggu-tunggu Gus Azmi akhirnya tiba. Beliau tidak sabar menanti kabar kembalinya Najwa ke pondok. Tapi setelah akhir batas kembali, Najwa belum juga kembali. Ada apa gerangan? Gus Azmi pun langsung menghubungi Sulton.
"Assalamualaikum...,"
"Waalaikumsalam..., ada apa Gus?" Tanya Sulton.
"Najwa sehat kan di rumah? Kok belum kembali ke pondok?" Tanya Gus Azmi tanpa basa-basi.
"Tenang dulu Gus, tarik nafas dalam-dalam...," canda Sulton.
"Aku serius Sulton...," ucap Gus Azmi geram.
Karena sudah 3 hari lebih Najwa tidak kunjung kembali.
"Mbak Najwa tidak apa-apa, tapi mungkin karena Abah nya baru kecelakaan, makanya belum ada yang mengantarnya kembali ke pondok." Terang Sulton.
"Kecelakaan di mana?" Gus Azmi penasaran.
"Kemarin saya dengar waktu akan mengantar mbak Najwa kembali ke pondok, di jalan mereka diserempet motor. Tapi Alhamdulillah semua selamat..., mungkin karena tidak ada yang mengantar makanya mbak Najwa nya belum kembali." Sulton mencoba menjelaskan pada Gus Azmi.
"Tapi semua sudah sehat kan?" Gus Azmi menyakinkan.
"Alhamdulillah..., sudah."
"Apa aku jemput saja ya?" Ucap Gus Azmi spontan.
"Mau jemput gimana maksudnya Gus? Njenengan angan-angan tow...," Sulton geleng-geleng sendiri mendapati anehnya orang yang lagi dimabuk cinta.
"Njenengan tunggu saja, sebentar lagi pasti balik mbak Najwa...," jelas Sulton menenangkan Gus Azmi.
***
Dua hari kemudian akhirnya Najwa kembali ke pondok, bekas luka kecelakaan nya pun masih belum kering, di siku dan lutut. Abah Najwa mencoba menjelaskan kronologi sebab Najwa baru kembali ke pondok. Tapi semua tidak diterima, Najwa memang harus menjalani takzirannya. Membaca surat Yasin di teras ndalem, sholat hajat dan piket menyapu didepan kantor pondok.
"Najwa...!" Eli riang menyambut kedatangan Najwa.
"Kenapa baru balik sekarang?" tanya Eli penasaran.
"Ada halangan dikit, makanya baru balik sekarang...." Jelas Najwa.
"Halangan apa? Kamu kan tau kalau telat balik bakalan di takzir...,"celoteh Eli.
"Iya..., tapi mau gimana lagi..., kemarin memang belum bisa balik." Najwa mencoba menjelaskan.
"Ada apa sih?" Eli semakin penasaran, tanpa sengaja Eli menarik tangan Najwa yang masih terluka.
"Aduh...!" rintih Najwa.
"Kenapa wa?" Eli melepaskan tarikannya.
"Tidak apa-apa kok, hanya lecet dikit...,"
Najwa berusaha menutupi kecelakaan tersebut tapi Eli memaksa melihat luka nya.
__ADS_1
"Kamu kecelakaan? Kok luka nya gini," cerca Eli.
"Hehehe..., cuma luka kecil kok
Alhamdulillah...," jujur Najwa akhirnya.
Eli langsung membantu Najwa membawa barang-barangnya ke kamar dan mulai bertanya kronologi kejadian kecelakaan tersebut.
"Sudah tau kecelakaan masih ditakzir kamu wa?" Ucap Eli menahan emosi. Najwa hanya bisa mengangguk menanggapi Eli.
"Keterlaluan Gus Azmi! Kenapa sih beliau tidak bisa toleransi sama sekali..., jengkel aku!" Protes Eli.
Tiba-tiba Ziza yang baru sampai dari madrasah ikutan ngomel membela Gus Azmi.
"Yang namanya telat ya harus dihukum dong..., biar tertib!" Sambung Ziza.
"Apaan sih za..., dari kemarin belain beliau mulu!" Ucap Eli jengkel.
"Siapa juga yang belain..., memang sudah seharusnya tow, yang telat ditakzir...." ucap Ziza tidak mau kalah, Eli tidak bisa berkata apapun karenanya.
"Sudah lama wa sampai nya...?" Sapa Ziza akhirnya.
"Baru saja...," jawab Najwa singkat.
"Ya udah istirahat saja dulu..., jangan ditanggapin tu Eli yang dari kemarin ngomel-ngomel karena Gus Azmi." Terang Ziza.
"Enak aja! Siapa juga yang ngomel, kamu tu yang aneh! Sejak kembali, yang dibicarakan Gus Azmi mulu...! Lebay...!" Ucap ketus Eli.
"Sudah-sudah...!" Mala melerai.
"Dari kemarin ribut aja kalian, gak malu apa...? Najwa, tidak usah peduli sama mereka. Aku juga heran kok, tiap hari ada aja yang di perdebatkan...," keluh Mala.
Ditengah-tengah perdebatan mereka, tiba-tiba Najwa ada panggilan ke ndalem. Najwa kira yang memanggil Gus Azmi ternyata bukan.
***
"Assalamualaikum...," Najwa sungkem sowan ibu yai sembari menahan lututnya yang masih sakit.
"Waalaikumsalam...," Ibu yai terlihat senang melihat Najwa akhirnya kembali.
"Sudah kembali nak," tanya ibu yai perhatian.
"Sudah umi, ngapunten molor sebentar." Terang Najwa.
"Tidak apa-apa, ayo sini dekat umi!" Ibu yai meminta Najwa duduk disampingnya.
Najwa ragu untuk menuruti perintah beliau karena tidak berani. Tapi ibu yai tetap memaksanya.
"Tidak apa-apa kok umi, hanya lecet sedikit." Najwa tertunduk ta'dzim.
"Coba umi lihat," paksa ibu yai, akhirnya Najwa memperlihatkan luka-lukanya.
"Jangan ikut piket dulu ya, biar sembuh dulu luka-lukanya, baru ikut bantu-bantu ndalem." Terang ibu yai.
"Iya umi,"
Najwa sebenarnya mencari-cari sosok Gus Azmi saat itu, tapi kelihatannya beliau tidak di ndalem. Akhirnya hanya kecewa yang dirasakan Najwa.
"Gus Azmi masih di kampus," ibu yai mencoba menjelaskan karena pendangan Najwa terlihat mencari-cari putranya.
Najwa benar-benar kaget karena beliau ternyata mengetahui gelagat mata nakalnya.
"Aduuuhhh..., malu aku..., ayo Najwa jangan malu-maluin." Keluhnya dalam hati.
Najwa hanya bisa semakin tertunduk karena malu.
"Dari kemarin dia juga nunggu-nunggu kamu, tapi hari ini memang ada sesuatu di kampus. Makanya tadi buru-buru berangkat." Terang ibu yai.
"Aku harus jawab apa umiiiii...?" Jerit hatinya.
Memang umi sudah mengetahui hubungan Najwa dan Gus Azmi, bahkan beliau menyetujui hubungan tersebut, asalkan bisa menjaga jarak dan sikap agar tidak tergoda oleh rayuan setan.
"Umi telpon Gus e apa gimana wa?" goda ibu yai sambil tersenyum.
"Tidak umi, tidak usah...," tolak Najwa tapi ibu yai langsung menelepon Gus Azmi.
"Ya Allah..., aku harus bagaimana iniiiii...?" Najwa merasa gelisah.
"Assalamualaikum Gus," sapa ibu yai.
"Waalaikumsalam..., ada apa umi? umi sehat kan?" Tanya Gus Azmi perhatian, karena ibundanya memang sering tidak enak badan.
"Umi tidak apa-apa..., masih lama Gus kuliah nya?" tanya ibu yai.
"Sebentar juga selesai umi, ini masih ngurus SKS dan IP...," terangnya.
"Umi mau nitip apa? Nanti Azmi belikan,"
"Cepat balik saja, Najwa sudah di pondok...," goda ibu yai sambil tersenyum.
"Mati akuuuuuu..., kalau beliau pulang aku harus bagaimana? Kenapa rasanya seperti mau dijodohin siiihhh...? Gugup bangeeeeetttt...!" celoteh hati Najwa.
__ADS_1
"Kenapa diam?" Tanya ibu yai karena Gus Azmi tidak menyahut kata-kata ibundanya.
"Iya umi, kalau sudah selesai Azmi akan segera kembali." Terang Gus Azmi.
"Baiklah..., lanjutkan Gus pekerjaannya.
"Assalamualaikum...,"
"Waalaikumsalam...." Gus Azmi segera menutup telepon karena ingin segera pulang.
"Najwa..., kamu makan dulu, tunggu Gus e sampai. Gak lama kok..., boleh ya?" tawar ibu yai.
"Iya umi," jawab Najwa pasrah.
"Sudah 5 hari ini dia mondar-mandir kaya orang linglung karena kamu belum kembali...," ucap ibu yai sambil tersenyum.
"Benarkah...? Beliau kuatir menunggu kedatanganku?" Batin Najwa senang.
"Pokoknya kamu tunggu saja, ayo makan dulu! Mbak Raisya...! tolong antar Najwa makan mbak...," pinta umi.
"Iya umi," Raisya segera mendekat.
"Umi tinggal dulu ya wa, kamu sama mbak Raisya dan Mala...." Pamit ibu yai.
"Iya umi...." Ibu yai beranjak meninggalkan mereka.
"Eh Najwa! Kenapa aku merasa umi memperlakukan mu istimewa ya?" Bisik Raisya.
"Itu cuma perasaan mbak Raisya aja, ayo mbak! Aku sudah lapar..., baru balik nie soalnya...."
Keluh Najwa sambil memegang perutnya yang memang sudah keroncongan.
"Enak aja! Sana ambil sendiri...," ketus Raisya nyelonong pergi.
"Yeeeee..., dasar!" Akhirnya Najwa mencari makanan di dapur sendiri.
Setelah selesai makan dan mencuci piring, Najwa mendesah lelah. Memang badannya masih sakit semua karena kecelakaan itu. Lukanya pun belum kering, masih terasa perih saat terkena air.
"Gus Azmi..., kapan njenengan sampai nya?" Desahnya pelan karena Najwa sudah ingin istirahat.
"Aku sudah disini kok,"
"Allah...!" Najwa kaget bukan main karena tiba-tiba Gus Azmi sudah berada di belakangnya mengambil air minum. Langsung Najwa tertunduk ta'dzim.
"Maafkan saya Gus...," ucap Najwa akhirnya.
"Memang kamu harus minta maaf! meminta maaf karena sudah membuat aku menunggu...," jelas Gus Azmi.
"Saya tidak ada maksud demikian Gus, sumpah! Saya juga tidak menyangka kecelakaan itu bisa terjadi...." Jawab Najwa dalam hati.
"Sudah sehat kan? Mana yang sakit?" Tanya Gus Azmi penuh perhatian.
"Sudah tidak apa-apa Gus, hanya luka lecet biasa Alhamdulillah...," terang Najwa.
Gus Azmi tiba-tiba mendekat, Najwa langsung berpindah posisi.
"Aku kangen Dinda..., syukurlah kamu tidak apa-apa." Ucap Gus Azmi pelan di samping Najwa.
"Sama Gus, aku juga kangen. Ingin rasanya memeluk njenengan. Tapi jangan, tolong menjauh Gus Azmi...! Aku tidak tahan dengan harum badan njenengan," gejolak Najwa dalam hatinya.
"Najwa!"
"Iya!" Najwa berusaha bergerak menjaga jarak dengan Gus Azmi.
"Jaga perasaan njenengan Gus, jangan tergoda oleh ku.... Ingat! Kita masih belum halal...."
Ucap Najwa dalam hati karena takut dengan tatapan Gus Azmi yang terlihat seakan-akan ingin menerkam Najwa.
"Sudahlah...," Gus Azmi menarik nafas panjang.
"Alhamdulillah...." Syukur Najwa dalam hati.
"Kamu sudah makan kan?" tanya Gus Azmi.
"Sudah...,"
"Kalau begitu segera istirahat, maaf ya sudah menunggu lama..., tadi masih ada urusan di kampus." Terang Gus Azmi.
"Iya Gus, tidak apa-apa...," jawab Najwa tertunduk malu karena Gus Azmi sangat peduli dengan nya.
"Kamu boleh kembali...," pinta Gus Azmi.
"Iya Gus," Najwa beranjak untuk pergi.
"Aku ingin menikah denganmu wa..., secepatnya!" Ucap Gus Azmi tiba-tiba.
Najwa kaget dan langsung menatap beliau.
"Sabar geh Gus," jawabnya dalam hati dengan tersenyum manis pada Gus Azmi.
#next
__ADS_1