
Hari itu, Zara sudah mulai melakukan misi pertamanya. Dia sudah berada di suatu tempat untuk mencari tahu tentang kebenaran dari informasi yang ditulis oleh Lara.
"Kenapa rumah itu sangat dijaga ketat oleh banyak orang?" ucap Zara didalam hatinya.
Kini Zara sedang berada di depan rumah tempat para gadis disekap.
Zara berjalan santai melewati rumah itu untuk mengetahui apa saja yang ada didalam rumah itu! Sayangnya dia tak bisa menemukan apapun karena pintunya tertutup rapat, dia hanya bisa melihat beberapa orang yang berdiri didekat gerbang dan beberapa orang lagi didekat pintu masuk.
"Sial, rumah itu memang dijaga ketat oleh banyak bodyguard," umpat Zara didalam hatinya.
Zara memilih menjauh dari rumah itu karena dia takut menimbulkan kecurigaan pada orang-orang yang bertugas menjaga rumah itu.
"Permisi Paman," ucap Zara.
Saat Zara hendak pergi dari tempat itu, dia melihat ada seorang laki-laki paruh baya yang kebetulan lewat di sana.
"Ada apa, Nak?" tanya laki-laki itu.
"Paman, rumah itu rumah siapa ya?" Zara mengarahkan jari telunjuknya pada rumah itu.
"Untuk apa kamu menanyakan rumah itu? Pergilah dari sini, jauhi rumah itu dan jangan kembali lagi ke sini."
"Tapi kenapa Paman? Ada apa didalam rumah itu dan siapa pemiliknya?"
"Aku tidak tahu, jangan tanyakan itu padaku!" Laki-laki paruh baya itupun langsung berjalan dengan langkah cepat untuk meninggalkan Zara.
"Paman! Paman tunggu!" Zara mencoba memanggil laki-laki itu tapi sayangnya laki-laki itu tidak ingin bicara dengannya lagi.
"Ada apa dengan Paman itu? Aku hanya bertanya tapi dia malah ketakutan seperti itu."
Zara menatap rumah itu lagi lalu pergi dari tempat itu karena tak mungkin dia masuk ke dalam sana saat itu!
Zara menaiki motornya dan mulai pergi dari sana! Bersamaan dengan Zara yang pergi sebuah mobil hitam datang dan berhenti tepat didepan rumah itu.
Wilona turun dari mobil itu dengan memasang wajah bahagia!
"Urus gadis yang ku bawa itu. Pastikan dia nyaman di sini," ucap Wilona pada salah satu bodyguard yang berjaga didepan gerbang.
"Siap, Nona," sahut bodyguard itu.
Samantha turun dari mobil itu setelah seorang laki-laki bertubuh besar dan kekar itu membukakan pintu mobilnya!
"Terimakasih," ucap Samantha dengan senyuman ramah di bibirnya.
Laki-laki itu tak menyahut, dia hanya membalas senyuman Samantha dengan senyum tipis.
*******
__ADS_1
"Bos, Wilona membawa barang baru," ucap Exel pada Sandress.
"Bagus. Gajinya akan saya tambah setelah gadis itu menghasilkan uang," sahut Sandress.
"Saya datang bukan untuk membicarakan tentang uang."
"Lalu?"
"Anda sudah lama sendiri, mungkin Anda bersedia melihat gadis itu dulu? Siapa tahu cocok untuk Anda."
Exel memang selalu mengingatkan Sandress untuk mencari pasangan hidup karena hanya dirinya dan Endru lah orang terdekatnya sekarang ini.
Sandress adalah anak tunggal dari keluarganya, dia tidak memiliki adik ataupun kakak. Setelah kedua orang tua Sandress meninggal, laki-laki itu hanya tinggal sendiri di rumah mewahnya sesekali saat ada waktu senggang Endru dan Exel akan datang ke rumah itu untuk menemui Sandress.
"Jangan urusi hidupku. Kau urus saja pekerjaanmu," timpal Sandress.
*******
"Dengar, kirim barang ini dimalam hari dan ingat jangan sampai tertangkap petugas yang sedang bertugas berpatroli," jelas Endru pada orang yang dia tugaskan untuk mengirim barang hasil produksi perusahaan yang Sandress kelola.
Selain memiliki tempat hiburan tak berizin, Sandress juga memiliki pabrik pembuatan minuman keras dan barang terlarang lainnya.
Usaha haramnya itu tidak pernah terendus oleh polisi karena terletak di tempat yang jauh dan jarang disambangi manusia.
Mereka juga mempunyai cara yang berbeda-beda setiap kali mengirim barang pada pelanggan dan memiliki cara tersendiri untuk memasarkan hasil produk mereka agar barang yang mereka jual bisa dikenali oleh masyarakat luas.
"Saya akan kembali dalam beberapa hari lagi karena saya ada tugas lain dari Bos besar."
"Urusan di sini akan saya handle, Anda kerjakan saja tugas dari Bos besar," ucap laki-laki yang lain yang juga ada di tempat itu.
"Kalau gitu saya pergi. Kalau ada kendala segera hubungi saya," titah Endru pada beberapa orang bawahannya.
*******
Hari sudah mulai sore, Zara sedang mempersiapkan dirinya untuk menyelidiki lagi rumah yang tadi dia datangi itu.
Zara menyelipkan pisau kecil di ikatan rambutnya agar tidak ada orang yang mengetahui dirinya membawa senjata tajam.
"Jika benar rumah itu adalah rumah tempat Lara disekap dulu pasti di rumah itu juga ada gadis-gadis lainnya yang mengalami nasib yang sama dengan Lara," gumam Zara.
Zara menatap dirinya dari pantulan cermin dan melihat wajah Lara juga ada pada dirinya.
Dia menarik nafasnya panjang sambil memejamkan matanya.
"Aku tidak boleh menangis, Zara yang sekarang bukanlah Zara yang dulu," ucap Zara didalam hatinya. "Ayo Lara, kita musnahkan mereka bersama-sama. Kamu ada dalam diriku dan akan selalu ada sampai selamanya," sambung Zara.
"Zara, kamu sedang apa?" tanya Wili yang sedang berdiri diambang pintu sambil memegangi pegangan pintu kamar Zara.
__ADS_1
Zara sedikit terkejut karena mendengar suara Wili yang tiba-tiba. Dia menoleh ke arah Wili dengan wajah kaku.
"Kakak, bikin kaget aja," ucap Zara.
"Memangnya kamu sedang apa sampai kaget begitu? Biasanya juga gak apa-apa."
Zara nyengir kuda dan menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
"Kakak gak lihat, aku sedang berkaca. Jangan-jangan tadi kakak lihat aku sedang berlenggak-lenggok."
"Tidak. Kakak tidak melihat apa-apa."
"Kakak mau ngapain ke kamar aku?"
"Kakak mau ajak kamu makan di luar, kamu ada waktu tidak?"
"Yah, maaf kak. Aku ada janji sama teman ini saja aku lagi cari-cari pakaian yang cocok untuk aku pakai nanti malam," ucap Zara berbohong.
Zara tak ingin Wili tahu tentang misinya itu karena kalau Wili tahu Wili akan melarangnya untuk membalas dendam pada mereka.
"Temanmu kaki-laki atau perempuan? Sampai serba salah gitu milih baju."
"Teman aku ada laki-laki dan ada perempuan. Mereka dokter dan suster yang bekerja di tempat aku bekerja," jelas Zara.
"Oh jadi ketemu nya sama beberapa orang, bukan cuma satu orang saja."
"Iya, memangnya kenapa sih kak?"
"Kakak pikir kamu mau makan sama pacar kamu."
"Pacar. Pacar dari mana? Kakak aja yang udah mulai tua belum punya pacar apalagi aku."
"Hey kamu jangan bilang kakak ini sudah tua kamu gak lihat kakakmu ini masih muda dan masih tampan."
Zara tertawa lepas lalu menjadikan bahu Wili sebagai penopang kepalanya.
Dihadapan Wili, Zara selalu bersikap bahwa dirinya adalah Zara yang dulu, Zara yang tak memiliki kebencian terhadap siapapun dan yang tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun.
Bersambung
Teman-teman mampir yuk ke karya temanku yang satu ini.
Judul: Racun Cinta Arsenio
Karya: Crazy_Girls
__ADS_1