Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 28


__ADS_3

Malam itu sekitar pukul dua puluh satu malam, Zara dan Abra sedang berada didepan Clube milik Sandress.


"Zara, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang ini?" tanya Abra saat mereka akan memulai aksinya.


"Guru, apa kau yakin akan melakukan ini untukku?" Bukan menjawab pertanyaan Abra, Zara malah balik bertanya pada laki-laki itu.


"Kenapa tidak. Wili adalah teman baikku dan kau juga pernah menjadi partner ku dalam berlatih bela diri. Oh ya Zara, apa kau bisa memanggilku Abra saja? Aku tidak nyaman dengan panggilan yang berikan padaku."


"Baik Guru. M_maksudku kak Abra. Aku panggil dirimu kakak saja."


"Oke, bagaimana nyamannya kamu saja. Jadi sekarang apa bisa kita bahas tujuan utama kita?"


"Oke. Kakak masuk ke sana dan cari orang yang bernama Medina atau Vera. Usahakan bawa salah satu dari mereka kencan di luar agar aku bisa bertanya-tanya padanya."


"Cuma itu? Tidak ada aksi yang menantang gitu?"


"Kakak, aku belum tahu dengan wajah orang-orang yang terlibat dalam bisnis kotor itu jadi aku butuh Medina dan Vera untuk mengetahui rupa wajah mereka."


"Medina dan Vera ini siapa? Aku harus tahu tentang mereka lebih banyak agar tidak melakukan kesalahan."


"Mereka adalah wanita penghibur di Clube malam itu dan mereka adalah orang terdekatnya Lara saat Lara berada di tempat bak neraka itu."


"Mereka bekerja dengan sukarela di tempat itu?"


"Sukarela dengan terpaksa. Mereka terpaksa bekerja seperti itu karena terus mendapat ancaman dari orang yang bernama Wilona dan Exel."


"Cukup dengan penjelasan malam ini. Sekarang aku akan melakukan tugasku dan kalau aku berhasil membawa mereka keluar, kita akan bertemu di mana?"


"Kakak tentukan saja kita akan bertemu di mana. Setahuku mereka akan merekomendasikan tempat-tempat biasa mereka melakukan hal menjijikkan itu."


"Doakan aku semoga aku berhasil."


Zara tersenyum lalu mengangguk pelan.


Abra berjalan memasuki tempat itu! Sementara Zara menunggu di tempat yang lumayan jauh dari tempat itu.


*******


Di kediaman Richard Sandress.

__ADS_1


Sandress duduk di kursi sambil menatap kalung yang dia beli untuk dihadiahkan pada Zara.


"Zara, aku ingin kau satu-satunya perempuan yang akan menemani aku selama hidupku, sampai maut yang memisahkan kita nanti," gumam Sandress.


Tak terasa senyum tipis terukir di bibir Sandress.


Seorang pelayan wanita yang sudah bekerja di rumah itu sejak puluhan tahun lalu itu merasa bahagia melihat Tuan mudanya bahagia.


"Sudah lama aku tidak melihat Tuan Muda tersenyum seperti ini. Ada apa Tuan Muda, apa kau sedang jatuh cinta?" ucap pelayan yang sudah menua itu.


"Kau mengganggu saja. Dia menjadi hilang saat kau datang," ucap Sandress.


"Apa yang hilang?" Pelayan itu duduk di dekat Sandress sambil terus menatap pemuda itu.


Sandress memang sudah menganggap pelayan itu seperti Ibunya karena dari kecil sampai sekarang dia hidup dengan diurus oleh pelayan itu.


Karena orang tuanya Sandress sibuk dengan urusan mereka masing-masing jadinya Sandress hidup dengan pelayan saja di rumahnya.


"Dia. Bayangan dia yang mulai terus melintas dipikiranku."


"Dia? Dia siapa?"


"Akhirnya ada gadis yang kau sukai. Aku bahagia sekali. Cepatlah nikahi gadis itu sebelum kau lebih tua lagi."


Sandress menatap pelayan tua itu lalu tersenyum.


"Apa aku setua itu untuk seorang pemuda?"


"Tentu saja. Berapa umurmu sekarang?"


"Setidaknya belum sampai tiga puluh."


"Kau ini."


*******


"Selamat datang di tempat kami Tuan," ucap Wilona pada Abra.


"Ada yang bisa kami bantu?" ucap Exel.

__ADS_1


"Aku dengar dari temanku katanya di sini ada seorang yang bisa membuatku bahagia dan sangat-sangat puas," ucap Abra.


"Semua pekerja di sini memiliki kemampuan berbeda untuk memuaskan pelanggannya."


"Aku mau gadis bernama Medina. Katanya dia yang paling wah di sini."


"Maaf Tuan, sekarang Medina sedang ada jadwal bersama orang lain," ucap Wilona.


"Apa semalaman? Apa aku tidak bisa menunggu?"


"Tuan yang lain juga masih ada."


"Kalau begitu aku mau Vera."


"Maaf tapi Vera juga sudah bersama yang lain. Tuan, kalau diingat-ingat Anda ini baru pertama datang ke sini tapi Anda sudah tahu siapa saja yang ingin kau ajak bermain."


"Aku memang baru pertama ke sini. Ada temanku yang sering datang ke sini dan dia merekomendasikan mereka padaku."


"Begitu rupanya. Tapi Tuan sekarang mereka sudah bersama yang lain jika Anda sudi menunggumu maka silahkan saja tapi jika tidak Anda bisa datang lagi ke sini besok malam."


Abra melihat jam ditangannya masih menunjukkan pukul dua puluh satu lewat tiga puluh menit, masih ada waktu beberapa jam lagi menuju dinihari.


"Sampai kapan aku harus menunggu dua gadis itu? Kalau kalian mengizinkan aku ingin mereka berdua yang menemaniku malam ini dan aku juga ingin mengajak mereka bermain di luar."


"Sekitar pukul dua puluh tiga mereka baru selesai. Anda boleh mengajak mereka ke luar tapi Anda harus mengeluarkan bajet yang lumayan besar untuk dua gadis itu."


"Tidak masalah, asalkan mereka bisa membuat saya puas."


"Silahkan minum dulu, Tuan."


Exel mengajak Abra duduk di kursi yang memang mereka sediakan untuk para pengunjung.


Bersambung


Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.


Judul: Cinta Kedua


Karya: Nia Sumania

__ADS_1



__ADS_2