
Zara pun mulai berlatih dengan giat dan bersungguh-sungguh tidak hanya melakukan kegiatannya dalam berlatih ilmu bela diri, dia juga tetap melakukan tugasnya yaitu kuliah untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.
Setiap hari, Zara melakukan aktivitasnya dengan penuh semangat dan keceriaan yang tak pernah hilang dari dirinya.
Hidup bersama dengan orang-orang baru di asrama itu membuat Zara tidak merasa kesepian dan juga membuatnya jarang mengingat tentang Lara. Meski begitu tujuannya membalas dendam atas kematian Lara tidak pernah dia lupakan.
"Zara, kau mempelajari semuanya dengan cepat. Kau sangat berbeda dari murid-murid ku yang lain," ucap Abra.
"Terimakasih guru," ucap Zara tentunya dengan senyum ramah di bibirnya.
Belum genap satu tahun, Zara sudah mulai menguasai tehnik bela diri yang rumit dan jarang sekali ada murid yang menguasai gerakan serumit itu dalam waktu yang singkat.
"Tapi ada satu yang saya lihat dari dalam diri kamu," sambung Abra.
"Apa itu?" Zara menatap Abra dengan seksama.
"Dendam. Ada dendam yang membara didalam dirimu yang menyelimuti hatimu."
"Tidak ada." Zara menundukkan kepalanya mencobanya menyembunyikannya dari laki-laki yang dia sebut dengan nama 'guru' itu.
"Kau tidak bisa membohongi diriku. Aku melihatnya dengan jelas, sorot matamu memperlihatkan kebencian dan kemarahan yang begitu besar. Saat kau berlatih, emosimu tidak terkontrol dan juga sering memukul dengan tenaga yang cukup kuat."
"Tapi aku –“
"Kau sedang menyimpan dendam pada seseorang. Ingat Zara, ilmu bela diri yang aku ajarkan ini bukan untuk melakukan kekerasan apalagi kejahatan. Semua yang ku ajarkan padamu hanya untuk membela diri saat sedang dalam keadaan bahaya saja."
"Iya guru, aku tahu itu."
"Kalau begitu, hilangkan dendam yang ada dalam hatimu, dengan begitu kau akan merasa lebih tenang dalam berlatih dan kau akan lebih cepat menguasai beberapa jenis ilmu bela diri yang aku ajarkan disekolah ini."
*******
"Jangan buang waktu lebih lama lagi, pelanggan kita sudah menunggu," ucap Sandress.
"Bos, apa kau tidak ingin melihat gadis-gadis yang kubawa ini?" tanya Endru.
"Tidak perlu, aku tahu selera mu cukup baik."
"Yang ini berbeda dari yang lainnya Bos."
__ADS_1
"Berikan saja pada langganan kita. Aku tidak tertarik dengan gadis-gadis itu."
"Maaf Bos, apa kau tidak berniat untuk mencari pendamping? Kau sudah lama hidup sendri," ucap Exel.
"Jangan ikut campur masalah pribadi saya. Karena saya tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalamnya."
"Tapi Bos, wasiat orang tua Anda adalah Anda harus menikah dan hidup bahagia dengan keluarga Anda nantinya."
"Diamlah Exel, lakukan saja pekerjaanmu dan jangan khawatirkan tentang aku."
Exel dan Endru adalah orang kepercayaannya orang tuanya Sandress, hingga mereka meninggal pun mereka meminta pada Exel dan Endru untuk selalu mendampingi Sandress dalam menjalankan bisnis haramnya itu.
Orang tuanya Sandress juga sudah menganggap Endru dan Exel sebagai keluarga hubungan mereka sangat baik dan juga sangat dekat. Sandress juga sebenarnya sudah dekat pada mereka berdua hanya saja semenjak kedua orang tuanya meninggal, Sandress berubah menjadi sosok laki-laki dingin dan jarang sekali menemui orang.
Sandress menjadi lebih suka sendiri dibandingkan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekatnya.
"Baiklah Bos, padahal aku membawakan gadis yang sangat cantik untuk dirimu," ucap Exel.
Sandress memang seorang yang tidak tahu rasa kasihan dan juga dia tidak pernah mengasihani orang lain karena dirinya juga tidak pernah ingin dikasihani oleh orang lain. Selama ini dia memang hidup dengan banyak gadis yang mengelilingi hidupnya tapi tidak satupun yang berhasil memikat hatinya dan meski dia suka memperjual belikan seorang gadis tak satu pun yang pernah dia sentuh sedikitpun.
*******
Wili memang sering datang ke tempat itu untuk menjenguk Zara, dia tidak pernah tidak datang ke tempat itu walau sekali saja.
Pernah kehilangan satu adik yang dia sayangi, Wili tidak ingin itu terjadi lagi padanya. Tidak ada bosan-bosannya Wili menanyakan tentang Zara pada Abra dan juga tidak ada bosannya dia menjenguk Zara di sana.
"Adikmu itu sangat luar biasa. Murid lain belum pernah ada yang seperti dia," sahut Abra.
"Maksudnya?"
"Zara adalah satu-satunya murid yang pernah aku temui dan pernah aku miliki. Dia begitu cepat mempelajari semua gerakan-gerakan bahkan yang sulit dan rumit sekalipun."
"Dia menang istimewa." Wili tersenyum bangga pada adiknya itu.
"Apa dia pernah disakiti oleh orang lain?" tanya Abra.
"Tidak."
"Apa dia pernah memiliki musuh?"
__ADS_1
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Aku melihat ada kemarahan didalam hatinya dan itulah yang mendorongnya untuk berlatih keras."
"Zara pernah kehilangan saudara kembarnya dan dia meninggal karena ada orang yang menganiayanya. Kami sudah melaporkan kejadian itu pada polisi tapi tidak ada hasil apapun."
"Mungkin dia memiliki dendam pada orang yang menyakiti saudaranya itu."
"Mungkin saja, jangankan Zara diriku saja kalau boleh jujur masih menyimpan dendam pada mereka yang sudah berbuat jahat pada gadis malang itu tapi aku tidak bisa apa-apa karena menang kami tidak tahu siapa yang melakukan kejahatan itu padanya."
Wili terus menceritakan kejadian satu tahun lalu yang menimpa Lara dan Abra pun mendengarkan cerita itu dengan seksama.
"Kakak," ucap Zara dengan senyuman di bibirnya.
Wili dan Abra menoleh ke arah Zara dan tersenyum kepadanya.
"Kemarilah Zara," ucap Wili sambil melambaikan tangannya pada adik kesayangannya itu.
"Apa?" Zara berjalan menghampiri dua pemuda itu.
"Bagaimana kuliah mu hari ini?" tanya Wili.
"Baik, baik-baik saja."
"Zara, Wili kalian lanjutkan saja ngobrolnya ya, aku tinggal dulu sebentar," ucap Abra.
Abra pun langsung pergi meninggalkan Zara dan Wili di tempat itu!
Bersambung
Assalamu'alaikum, Teman-teman seperti biasa aku datang bawain rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Mampir juga ke sana ya teman-teman.
Judul: (bukan) anak diluar nikah
Karya: Dhevy Yuliana
__ADS_1