
Di tempat kerjanya, Zara sedang mengecek pasiennya dengan teliti.
"Selamat siang Nyonya," ucap Zara pada pasiennya.
Pasien wanita yang umurnya sudah tidak muda lagi itu pun tersenyum ke arah dokter cantik dan baik itu.
"Aku akan memeriksa mu dulu," sambung Zara.
Zara pun mulai memeriksa kondisi perkembangan kesehatan pasien tersebut.
"Permisi Dokter, ada orang yang ingin bertemu," ucap seorang suster pada Zara.
"Siapa?" tanya Zara sambil menatap suster itu.
"Tidak tahu. Dia laki-laki."
Zara tidak bertanya lagi, dalam pikirannya dia terus bertanya-tanya 'siapa orang yang ingin bertemu dengannya' seingatnya hari ini dia tidak ada janji dengan siapa pun.
"Oke, akan aku temui dia setelah selesai mengecek pasien."
Di ruangan Zara, Wili duduk di kursi yang ada didepan meja kerja Zara.
Dia menunggu Zara di sana, entah kenapa tiba-tiba kepalanya sakit dan dia ingin Zara yang memeriksanya.
Selama Zara menjadi dokter dirinya tidak pernah diobati oleh adiknya itu. Bukan karena Zara tidak ingin mengobatinya dan juga bukan karena dirinya yang tidak ingin diobati oleh Zara tapi selama ini dia baik-baik saja dan tak pernah merasakan sakit.
"Kak Wili," ucap Zara saat melihat Wili yang sedang duduk di kursi itu.
"Zara tolong, kepalaku sakit sekali," ucap Wili.
"Ya ampun laki-laki! Kakak ayo ke ruang pemeriksaan." Zara membantu Wili berjalan menuju ruang pemeriksaan!
*******
Tak butuh waktu lama, orang-orangnya Exel sudah berhasil menemukan rekan mereka yang diduga melarikan diri.
Mereka menemukan laki-laki itu di dasar jurang didalam mobil yang dia kendarai malam itu.
Mobil itu sudah ringsek dan laki-laki yang didalamnya juga sudah terlihat tidak berbentuk lagi.
"Astaga, apa yang terjadi padanya?" ucap salah satu bodyguard itu.
Exel dan Wilona baru tiba di sana, setelah orang-orang itu menemukan laki-laki yang hilang mereka langsung mengabari Exel dan Wilona.
"Kami menemukannya sudah dalam keadaan seperti ini, Tuan."
"Tidak mungkin dia kecelakaan. Mau kemana dia melewati jalan ini?" ucap Exel.
"Dimana gadis itu? Kalian menemukannya?" tanya Wilona.
"Tidak. Kami tidak menemukan gadis itu mungkin dia kabur."
"Apa mungkin gadis itu yang melakukan ini?" ucap Bodyguard yang lainnya.
Exel dan Wilona menatap ke arah bodyguard itu.
"Mana mungkin dia kalah oleh seorang perempuan," ucap Exel.
__ADS_1
"Kita akan selidiki ini nanti. Sekarang bawa mayat ini dan kremasi kan," titah Wilona.
*******
"Kakak hanya kena migrain saja. Untunglah tidak ada penyakit yang serius," ucap Zara.
"Terimakasih, Zara."
"Untuk apa berterimakasih? Dalam hubungan kita tidak ada kata terimakasih, maaf dan tolong kan. Kakak sendiri yang mengatakan itu padaku."
"Kakak mau kembali ke tempat kerja."
"Katanya sakit, kenapa harus kembali bekerja?"
"Dokter cantik, kakak harus kembali bekerja kalau tidak, nanti bisa dipecat."
*******
Endru sedang dalam perjalanan menuju tempat dokter Okta. Saat itu dia ingin mengantarkan paket barang terlarang milik dokter Okta.
Selain berprofesi sebagai dokter, Okta juga menjadi pengedar obat-obatan terlarang yang diproduksi oleh perusahaan Sandress.
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam, akhirnya Endru tiba di tempat dokter Okta.
Dia turun dari mobilnya sambil membawa barang milik dokter Okta!
"Dokter Okta!" seru Endru sambil mengetuk pintu rumahnya.
Tak lama dokter itu membuka pintunya.
"Cepat sekali kau sampai," ucap dokter Okta.
"Masuklah!"
Endru berjalan memasuki rumah itu!
"Ini barang yang kau pesan." Endru meletakkan kardus kecil itu di atas meja
"Terimakasih."
"Kau tidak ada tugas?"
"Tugas apa? Saat ini tidak ada orang yang membutuhkan apapun dariku terkecuali ini." Dokter Okta menepuk kardus kecil yang ada di atas meja sebanyak beberapa kali.
*******
Di sebuah jalan yang terlihat sepi, sekelompok orang sedang mengawasi kondisi jalanan itu.
"Aku ingin dia mati hari ini," ucap seorang laki-laki pada orang suruhannya.
"Jangan khawatir Bos. Kami mendapat informasi bahwa hari ini Sandress akan pergi ke suatu tempat dan akan melewati jalan ini," ucap laki-laki berpakaian serba hitam itu.
Laki-laki yang menginginkan kematian Sandress itu adalah Jordan~ musuhnya Sandress sejak dari dulu.
Jordan adalah bos Mafia di wilayah lain, beberapa tahun terakhir dia menginginkan kekuasaan di wilayah yang dipimpin oleh Sandress.
"Bos, mobil Sandress akan datang," ucap asisten Jordan yang terus memantau keadaan jalanan.
__ADS_1
Dari tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berada, terlihat mobil Sandress akan melewati jalanan tersebut.
Di dalam mobil Sandress.
Sandress duduk dengan tenang dengan ditemani oleh dua orang bodyguard dan seorang sopir yang juga memiliki kemampuan yang sama dengan bodyguard lainnya.
Sandress memang tidak pernah pergi sendirian, banyaknya musuh membuat nyawanya selalu terancam.
Saat mereka melewati jalanan yang berbelok tiba-tiba ada seseorang yang menembak mobil yang ditumpangi Sandress.
Semua orang didalam mobil itu pun terhantam pada dinding mobil. Dengan terpaksa sang sopir menghentikan laju mobilnya.
"Siaga!" seru Sandress pada bodyguardnya.
Mereka pun turun dari mobilnya dengan memegang senjata masing-masing!
Tak lama terdengar letusan senjata api dan baku tembak pun terjadi di sana.
Beberapa orang terus menembaki Sandress dan anak buahnya.
"Tuan hati-hati!" seru seorang bodyguard pada Sandress yang diserang oleh beberapa orang.
Karena jumlah lawan lebih banyak, Sandress dan anak buahnya kalah dalam pertarungan itu, dua orang bodyguardnya dan satu sopirnya tewas ditempat sedangkan Sandress melarikan diri dengan menggunakan mobilnya dengan luka tembak dibagian sisi kanan perutnya.
Jordan tak menyuruh anak buahnya mengejar Sandress karena mobil yang dikendarai Sandress sudah memasuki jalanan ramai.
*******
"Davina, aku ingin keluar sebentar untuk mengecek pasien ku yang dirawat secara mandiri di rumahnya," jelas Zara pada temannya.
"Ya, pergilah tapi jangan lupa untuk kembali ya," ucap Davina.
Davina adalah seorang dokter dan juga teman baik Zara.
Zara pun pergi dari rumah sakit itu! Zara pergi dengan menggunakan motornya meski ada mobil dirinya lebih suka menggunakan motor.
Ditengah perjalanan Zara melihat sebuah mobil yang terparkir ditengah jalan dengan sigap dia menghentikan motornya dan memeriksa orang didalam mobil itu.
"Tuan!" Zara terkejut saat melihat seorang laki-laki yang berada di dalam mobil itu yang terluka parah dan sudah berlumuran darah.
Zara segera memindahkannya tubuh Sandress ke kursi sebelah dan dia mulai mengendarai mobil itu menuju rumah sakit!
Sebagai seorang dokter, Zara tidak bisa membiarkan orang yang terluka parah, tugasnya sebagai seorang dokter adalah mengobati orang yang sakit dan yang terluka karena itulah Zara segera membawa Sandress ke rumah sakit meski dirinya tidak mengetahui siapa orang yang ditolongnya.
"Tuan, bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Zara.
Zara mengemudikan mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Melihat kondisi Sandress yang sudah lemah membuatnya tak ingin telat tiba di rumah sakit.
Bersambung
Teman-teman, aku bawain rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca nih!
Judul: Penyesalan Suami: Pecah Seribu
Karya: Lusiana Anwar
yuk ah kepoin keseruan cerita ini!
__ADS_1