Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 21


__ADS_3

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Exel pada Endru.


Saat ini Endru sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengangkat pekuru yang bersarang pada kaki kirinya.


"Dia seorang gadis, dia juga menghabisi semua orang-orang ku yang saat tadi sedang dalam misi," jelas Endru.


"Gadis? Kau kalah oleh seorang gadis?"


"Dia bukan gadis sembarangan. Dia membawa tiga tawanan ku pergi."


"Sudah terluka kau juga kehilangan gadis-gadis itu. Seperti apa wajah wanita ganas itu?"


"Diamlah, jangan banyak bertanya cepat tambah kecepatan laju mobilnya atau aku akan mati karena kehabisan darah."


Exel tak berucap lagi, dia langsung mempercepat laju mobilnya!


*******


Pagi sudah tiba matahari mulai menampakkan sinarnya.


Zara sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tempat dirinya bekerja.


"Zara, kamu yakin tidak ada yang kamu sembunyikan dari kakak?" tanya Wili.


Bukan tanpa sebab Wili bertanya seperti itu pada Zara. Melihat sikap Zara yang berubah tak seperti biasanya membuat Wili merasa tidak enak dengan perubahan Zara akhir-akhir ini.


Zara menatap Wili sambil terus mengunyah makanannya. "Maksud kakak apa? Aku tidak mengerti."


"Akhir-akhir ini kamu sering pulang terlambat dan jika sedang tidak bertugas malam kau selalu keluar malam dan selalu pulang dinihari bahkan menjelang pagi di hari libur."


"Kak, aku mulai beradaptasi dengan kebiasaan hidup di negara ini, aku mengikuti gaya hidup mereka."

__ADS_1


"Setelah bertahun-tahun kamu baru melakukan ini. Rasanya ini tidak masuk akal Zara, ada yang kamu sembunyikan. Apa yang kamu sembunyikan dari kakak?"


"Tidak ada yang aku sembunyikan dari kakak. Kakak berlebihan dalam memikirkan tentang diriku."


Wili menatap Zara dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kamu tidak bisa bohong pada kakakmu ini Zara."


"Kakak, aku harus bilang apa? Sebenarnya aku memiliki kekasih," ucap Zara dengan kepakarannya yang ia tundukkan ke bawah.


Terpaksa Zara berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Wili.


"Kekasih? Jadi sekarang kamu punya pacar?"


"Iya, makanya sekarang aku sering keluar malam."


"Zara, berpacaran boleh-boleh saja asal kamu tahu batasannya. Kamu ini kan perempuan kalau ada apa-apa nanti kamu yang rugi, kamu tahu kan kalau laki-laki tidak akan hamil meski melakukan–"


"Kakak apaan sih. Kakak pikir aku ini wanita seperti apa? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan keluarga dan merusak nama baik aku sebagai seorang dokter. Udah ya, aku berangkat duluan, udah siang nih," ucap Zara.


*******


Sandress sudah siap untuk pulang, kondisi tubuhnya sudah sehat dan sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit itu.


"Bos ada berita buruk," ucap Exel.


Saat itu Exel yang bertugas menjemput Sandress di rumah sakit. Dia tidak percaya pada orang lain karena diluar sana banyak sekali orang yang mengancam keselamatan bosnya itu.


"Berita apa?" tanya Sandress.


"Kita pulang saja dulu. Nanti aku ceritakan semuanya."

__ADS_1


"Selamat pagi Richard," ucap Zara yang baru tiba di ruangan itu.


"Dokter Zara, kau baru tiba?" ucap Sandress.


"Udah gak sabar ya pengen pulang?" Zara tersenyum manis pada pasiennya itu.


"Dokter Zara, apa boleh aku minta nomor ponselmu?"


"Untuk apa?"


"Aku pasti akan merindukan dokter cantik seperti dirimu."


"Ada-ada aja." Zara tertawa kecil sambil sesekali curi-curi pandang pada Sandress.


"Jadi kau mau ngasih nomor ponselmu atau tidak?"


"Yasudah. Mana ponselmu?" Zara menadahkan tangannya di hadapan Sandress.


Setelah Sandress memberikan ponselnya, Zara langsung mengetik nomor ponselnya tak lupa dia menyimpannya dengan nama Zara.


"Ini, sudah aku beri nama Zara."


"Terimakasih."


"Kalau gitu cepatlah pulang dari hotel menyebalkan ini karena aku juga harus bekerja."


Sandress tersenyum sambil menatap Zara dengan tatapan mata yang tanpa berkedip satu kali pun.


"Bos, bos yakin dia bukan gadis yang hilang lima tahun lalu?" tanya Exel setelah Zara pergi.


"Dia tidak memiliki tanda lahir pada lehernya. Aku sudah memeriksanya tapi aku tidak menemukannya."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang."


Bersambung


__ADS_2