
Lima tahun berlalu, kini Zara sudah tumbuh menjadi gadis dewasa berusia dua puluh tiga tahun. Kini dia sudah menjadi dokter seperti yang dia inginkan dan dia juga sudah sangat lincah dalam melakukan gerakan ilmu bela diri yang dia pelajari, Zara sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh gurunya.
Di kamarnya, Zara duduk di tepi ranjang lalu dia membuka laci kecil yang ada di sampingnya! Diambilnya sebuah kotak kecil yang sengaja dia gembok itu.
Sudah empat tahun dia tidak membuka kotak itu dan kini untuk pertama kalinya dia akan membuka kotak itu.
"Lara," lirih Zara setelah membuka kotak itu.
Zara mengambil buku kecil yang didalamnya banyak coretan tangan Lara, air matanya mengalir begitu saja saat dia membaca buku itu.
Dia ikut merasakan pedihnya Lara saat itu.
"Maut ajan menyapa kalian mulai dari hari ini," gumam Zara.
Zara mengepalkan tangannya dan rahangnya juga mengerat hingga mengeluarkan suara gemeltuk giginya.
Zara yang kini merasa sudah siap balas dendam atas kematian Lara, membaca ulang buku itu untuk mendapatkan informasi dari dalam buku itu yang ditulis oleh Lara.
Dengan bantuan buku itulah Zara akan memulai balas dendamnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Zara apa kau ada didalam?" ucap Wili sembari mengetuk pintu kamar Zara.
Zara segera menghapus air matanya lalu menyembunyikan buku itu! Dia tidak ingin Wili tahu tentang buku itu dan dia juga tidak ingin kakaknya itu tahu kalau dia akan mencari para penjahat itu dan menghabisinya satu-persatu.
"Ada! Masuk saja pintunya tidak dikunci," ucap Zara.
Wili membuka pintu itu namun dia tidak melangkah memasuki kamar Zara.
"Zara boleh kakak masuk?"
"Tadi aku sudah bilang, masuk saja kak."
"Kamu yakin, sekarang kamu sudah dewasa lho, apa tidak ada rahasia didalam sini?"
"Kakak bicara apa? Masuk lah kak, kamar ini masih sama seperti dulu lagipula aku mau merahasiakan apa darimu?"
"Ya banyak, salah satunya tentang kekasih kamu atau hal-hal lain." Wili berjalan menghampiri Zara yang kini sedang duduk di tepi ranjang!
"Kamu menangis," ucap Wili.
"Sedikit," sahut Zara.
Wili melihat ada kotak kecil di samping Zara yang berisi foto Zara dan Lara.
__ADS_1
"Jadi ini yang membuat kamu menangis," ucap Wili sembari mengambil foto itu.
"Aku rindu pada Lara."
"Kalau rindu jangan menangis. Kamu ambil air wudhu lalu sholat dan berdoalah untuk Lara, sekarang sudah asar kamu pasti belum shalat."
Zara menatap Wili lalu melihat jam ditangannya.
"Oh iya, aku gak lihat jam."
"Kalau gitu kakak pergi dulu dan setelah kamu selesai tolong temani kakakmu ini nonton televisi ya."
"Iya deh, paling juga nonton berita."
Wili tersenyum lalu meninggalkan Zara di dalam kamarnya!
Setelah Wili pergi, Zara tak langsung memasuki kamar mandi. Dia menyimpan buku kecil itu ke tempat yang aman agar tidak ada orang lain yang bisa menemukan buku itu.
"Buku ini satu-satunya petunjuk untuk aku jangan sampai buku ini hilang," gumam Zara.
*******
Di suatu tempat, tepatnya di perkampungan.
Wilona sedang berkeliling di kampung tersebut untuk menemui para gadis atau siapapun yang bisa dia ajak bekerja.
Saat itu, Wilona duduk bergabung bersama beberapa warga yang sedang nongkrong disebuah warung.
"Saya memang baru pertama ke sini, saya ke sini mau mencari orang yang mau saya ajak bekerja," jelas Wilona.
"Bekerja apa? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki atau perempuan juga boleh tapi sebenarnya saat ini saya sedang butuh perempuan yang belum atau tidak berumahtangga. Untuk pekerjaannya, saya sedang mencari untuk menjadi asisten rumah tangga atau babysitter."
"Kebetulan di sini ada yang biasa bekerja seperti itu dan sekarang dia sudah berhenti dari tempat kerjanya yang lama. Coba Nona tanyakan saja pada dia."
"Apa dia masih gadis?"
"Iya, dia masih gadis usianya sekitar delapan belas tahun."
"Delapan belas tahun? Apa dia tidak bersekolah?"
"Jangan tanyakan tentang sekolah pada rakyat miskin seperti kami. Di sini memang hanya segelintir orang yang dapat membayar biaya sekolah yang mahal."
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kalian."
"Permisi semuanya," ucap seorang gadis yang lewat di sana.
"Samantha, kamu ingin bekerja tidak?" tanya seorang ibu-ibu yang ada di sana.
__ADS_1
"Kerja apa? Memangnya saya bisa kerja apa tanpa ijazah sarjana?" tanya gadis bernama Samantha itu.
"Ini ada yang mencari orang yang mau kerja, tanpa ijazah atau apapun."
Samantha tersenyum ke arah Wilona lalu ikut duduk bergabung bersama mereka!
"Memangnya kerjanya apa?" tanya Samantha pada Wilona.
"Kerjanya sebagai asisten rumah tangga atau babysitter. Kamu bisa menjadi pengasuh bayi kan?" ucap Wilona.
"Bisa. Saya bisa mengurus anak dan juga mengurus rumah. Itu pekerjaan saya sehari-hari di rumah."
"Tapi gajinya tidak besar hanya tiga sampai lima juta per bulan."
"Tiga juta? Itu uang yang besar. Saya mau bekerja dengan Anda," ucap Samantha dengan penuh semangat.
Gadis itu hanya lulus sekolah menengah pertama saja keadaan keluarga yang tak punya, membuatnya harus putus sekolah. Jadi dia kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Dengan adanya Wilona yang sedang mencari orang untuk dipekerjakan, membuat Samantha merasa terbantu ditambah lagi dengan diiming-imingi gaji yang lumayan besar, membuat gadis itu sangat bersemangat untuk bekerja tanpa mencaritahu siapa orang yang mengajaknya bekerja.
Wilona tersenyum, dalam hatinya dia merasa senang karena mulai mendapatkan mangsanya.
*******
Di rumah khusus para gadis disekap oleh Exel.
"Aku sudah mulai lelah, sampai kapan kita menunggu adanya orang yang akan menolong kita?" ucap Medina.
"Jangan berharap ada orang yang akan menolong kita. Kita akan mati tanpa adanya keluarga disisi kita," ucap Vera.
Sejak gadis itu bergabung bersama teman-temannya di tempat itu, dia tidak lagi berharap bisa keluar dari penjara mengerikan itu.
Melihat pengamanan yang ketat dan mereka yang tidak punya belas kasih, membuatnya tak berani berharap lebih.
Dia hanya berharap dirinya bisa selamat dari siksaan mereka dan tidak diharapkan dengan dokter yang bernama Okta.
"Aku rindu pada orang tuaku." Medina mulai menangis, sudah lama dia merindukan keluarganya tapi Exel dan Wilona tak mengizinkannya pulang.
Vera memeluk Medina dengan penuh kasih. "Aku juga rindu tapi di sini kita tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Vera.
Beberapa orang yang juga ada di tempat itu memeluk Medina dan Vera! Mereka semua menangis karena ingin keluar dari tempat yang sangat mengerikan itu.
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca. Yuk mampir ke karya temanku yang satu ini!
Judul: Pelangi tanpa warna
Karya: Ocybasoaci
__ADS_1