Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 7


__ADS_3

Zara dan Wikipedia sudah berada di luar negeri, mereka sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa.


"Zara, kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya Wili.


"Aku yakin. Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kakak," sahut Zara.


"Apa? Bicara saja sekarang."


"Aku ingin menyelidiki kasus Lara sendiri."


"Nggak-nggak, itu berbahaya. Kakak gak mau kamu kenapa-kenapa."


"Kak, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menemukan orang yang sudah menyebabkan kematian Lara."


"Kakak gak izinkan kamu melakukan itu. Kalau kamu mau, kita bisa meminta bantuan detektif atau pihak lain yang bersangkutan dengan masalah seperti ini."


"Kak, jujur sebelum Lara meninggal dia mengatakan kalau ada banyak gadis yang disekap di tempat itu."


"Tempat apa?"


"Aku tidak tahu tapi Lara mengatakan bahwa dirinya dan banyak gadis lainnya disekap dalam sebuah rumah dan dipekerjakan di tempat pel*****n mereka juga tidak diizinkan keluar dari tempat penyekapan itu tanpa pengawalan dari para bodyguard dan mereka juga tidak diizinkan memegang ponsel. Karena itulah Lara tidak dihubungi dan juga tidak bisa menghubungi kita," jelas Zara.


"Zara, jika kamu penasaran dengan orang-orang sudah berbuat jahat pada Lara, kakak akan membayar jasa detektif atau kalau mau, kita laporkan masalah ini ke polisi."


"Polisi tidak akan membantu."


"Jangan bicara sembarangan tentang kepolisian di sini."


"Apa yang aku ucapkan ini Fakta kak. Buktinya mereka tidak bisa menemukan Lara sampai akhirnya dia meninggalkan karena terus mendapatkan siksaan baik fisik maupun batin."


"Oke-oke jangan berdebat lagi kakak gak mau kita bertengkar. Sekarang kakak tanya sama kamu, bagaimana cara kamu menyelidiki kasus ini sementara polisi saja tidak bisa menemukan keberadaan Lara saat dia hilang beberapa bulan lalu?"


Zara terdiam, saat ini dia memang tidak tahu harus bagaimana dan dengan cara apa dia melakukan penyelidikan itu.


Zara mulai menangis, entah apa yang ada dalam perasaannya tapi gadis itu sangat bersedih.


"Kenapa kamu menangis? Zara kejarlah cita-cita kamu, jika kamu ingin Lara bahagia maka kamu harus bahagia juga."


"Oke, aku akan melupakan semua itu. Jadi kapan kakak mau pertemukan aku dengan teman kakak yang namanya Abra itu?" ucap Zara dengan penuh semangat.


"Kmu yakin? Kakak gak mau kegiatan ini membuat kamu jadi terganggu. Kamu masih ingin menjadi dokter bedah kan?"


"Kak, aku sudah bilang aku mau meraih cita-cita aku dan juga mengejar keinginan Lara. Aku ingin menjadi dokter dan Lara ingin menjadi wanita kuat yang tidak harus selalu bergantung pada orang lain. Aku akan meraih kedua cita-cita itu."


"Kalau gitu, besok kita temui dia."


*******


"Endru apa tidak ada polisi yang mencurigai dirimu?" tanya Sandress pada Endru.


Bukan tanpa alasan Sandress menanyakan itu pada Endru. Karena saat itu Endru lah orang yang terakhir bersama Lara sebelum Lara akhirnya menghilang dari genggaman mereka.


"Sejauh ini tidak ada Bos. Barang bukti sudah kami musnahkan untuk berjaga-jaga bila ada penyelidikan lanjutan," sahut Endru.


"Untuk sementara kau aku non aktifkan. Setelah semuanya aman baru kau bisa beraktivitas seperti biasa."

__ADS_1


"Baik Bos."


"Pergilah ke tempat yang jauh dari sini atau bila perlu pergilah ke luar negeri."


"Baik Bos, saya akan pergi ke luar negeri untuk satu bulan. Dan di sana saya akan mencari beberapa orang yang bisa kita pekerjakan dengan gratis. Anggap saja sebagai pengganti gadis yang hilang."


"Lakukan apa yang menurutmu benar. Untuk sementara tugasmu akan dipegang oleh Exel dan biar Wilona yang mengurus club."


"Mengerti Bos, kalau gitu saya izin pergi sekarang."


"Pergilah."


*******


Di club milik Sandress.


Beberapa gadis sudah berada di tempat khusus pekerja bersiap-siap. Mereka merias diri sebaik dan secantik mungkin dengan ditemani Wilona dan diawasi oleh beberapa bodyguard.


"Dengar, lakukan tugas kalian dengan baik kalau tidak ingin nasib kalian seperti Manis," ucap Wilona.


"Nona, selama ini kami sudah menuruti dirimu dan selalu mengerjakan pekerjaan kami dengan baik. Bisakah kau membiarkan aku pulang satu hari saja, hanya untuk menemui orang tuaku," ucap Medina.


"Kau pikir, aku percaya dengan semua perkataan dirimu? Bagaimana jika kau melarikan diri dari kami dan melaporkan kami pada polisi?"


"Nona kalau kau tidak percaya, kau bisa mengirim satu atau dua bodyguard untuk mengawasi diriku."


"Diamlah, bekerja lah dulu tentang permintaan dirimu, akan aku pertimbangan terlebih dahulu."


Medina dan beberapa gadis itu mulai keluar dari ruangan itu dan mulai menebar sejuta pesona pada tamu yang datang ke club malam itu.


*******


Dari celah jendela, sinar matahari menyinari pipi Zara yang masih tertidur. Setelah semalaman memikirkan tentang banyak hal, gadis yang biasanya bangun pagi itu kini kesiangan.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh waktu setempat namun gadis itu masih terbaring di atas tempat tidurnya.


Perlahan Zara membuka matanya karena tidurnya terganggu oleh sinar matahari yang menyorot wajahnya.


"Astaga, aku kesiangan," gumam Zara.


Dia segera bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya untuk mencari Wili!


"Kak! Kak Wili!" ucap Zara dengan sedikit menaikan volume suaranya.


Zara terus berjalan menuju dapur untuk mencari Wili!


"Ada apa, teriak-teriak?" tanya Wili yang sedang menikmati teh hangat dan roti dalam genggamannya itu.


"Maaf aku kesiangan," ucap Zara.


"Ini hari libur. Kau mau tidur seharian penuh pun tidak masalah."


Zara tersenyum tipis lalu duduk di samping Wili.


"Aku mau rotinya," ucap Zara sambil menatap roti yang dipegang oleh Wili.

__ADS_1


"Ini punya kakak, kalau mau kakak akan buatkan untuk mu."


"Jangan, aku bikin sendiri saja kalau gitu."


"Cepatlah, katanya kau ingin bertemu dengan Abra."


"Astaga." Zara menepuk jidatnya.


"Aku lupa. Kalau gitu kakak buatkan roti untuk aku ya!" Zara berlari menuju kamarnya.


"Kamu mau kemana?"


"Mau mandi dan bersiap untuk pergi," ucap Zara sambil terus berlari.


Wili menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis, dia berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan makanan untuk Zara!


Setelah selesai dengan semua urusan pribadinya, dan Zara juga sudah selesai sarapan. Mereka berdua pun langsung pergi menuju suatu tempat untuk menemui seseorang!


Tidak butuh waktu lama, Wili dan Zara sudah tiba di tempat yang mereka tuju.


Wili memarkirkan motornya dan Zara pun langsung turun dari motor itu!


"Waw, menakjubkan," gumam Zara.


Melihat ada banyak orang yang sedang berlatih ilmu bela diri membuat Zara terpana dengan banyaknya murid di sana.


"Ayo masuk! Jangan bengong terus," ucap Wili.


Zara berjalan mengekor dibelakang Wili. Saat akan memasuki pintu tempat itu, Zara terdiam sejenak sambil menutup matanya.


"Jika ini jalannya, semoga aku mendapatkan kemudahan dalam menerima semua pelajaran di sini," ucap Zara didalam hatinya.


Zara pun langsung mengikuti Wili lagi!


"Selamat datang di sekolah ini," ucap Abra pada Wili dan Zara.


Wili tersenyum lebar sambil menjabat tangan Abra.


"Siapa dia? Kekasihmu?" tanya Abra sembari menatap Zara.


"Ah ya, dia lah yang membawa diriku datang ke sini. Perkenalkan ini adikku, namanya Zara."


"Ow ternyata adik aku pikir dia ...."


"Hai," ucap Zara dengan senyuman terbaiknya.


"Dia ingin masuk sekolahmu," ucap Wili.


"Dia?" Abra menatap Wili tak percaya.


"Iya, aku ingin menimba ilmu di sini," ucap Zara.


"Oh, kalau gitu mari kita bicara di ruangan aku saja."


Abra mengarahkannya Wili dan Zara untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk membicarakan tentang Zara yang ingin masuk sekolah ilmu bela diri itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2