
Malam itu, setelah mencari tahu lebih dalam tentang orang-orang yang tertulis dalam buku harian milik Lara. Zara sedang dalam misi menggagalkan pengiriman para gadis yang kini sedang dijalankan oleh Endru dan beberapa orang kepercayaannya.
"Cepat! Cepat jalan!" ucap laki-laki Bertubuh besar itu pada tiga orang gadis yang akan mereka kirim ke tempat yang akan menjadi neraka bagi tiga gadis itu.
"Kalian mau bawa kami kemana? Lepaskan kami," ucap salah satu gadis itu.
Mereka menculik tiga gadis itu untuk selanjutnya mereka pekerjakan di Clube malam milik Sandress.
Selain mendapat keuntungan lebih besar mereka juga akan mendapatkan bonus lebih dari Sandress karena mendapatkan pekerja tanpa harus mengeluarkan modal besar.
"Diam! Tutup mulutmu dan teruslah berjalan!"
Tiga gadis itu sudah kelelahan karena sudah berjalan jauh melewati hutan dalam keadaan tangan yang terikat dan kaki yang tanpa menggunakan sandal atau sepatu.
Di atas pohon besar yang berada di tempat itu, Zara terus mendengarkan apa yang mereka ucapkan dan terus memperhatikan mereka.
"Sialan ternyata mereka banyak sekali," ucap Zara didalam hatinya.
Meski dirinya hanya sendirian dengan banyaknya lawan yang harus dia lumpuhkan, sedikitpun Zara tidak memiliki rasa takut. Bayangan wajah Lara saat malam dirinya menemukannya terus terbayang dipikirannya dan menjadi kekuatan utamanya.
"Sebentar lagi kita akan sampai," ucap laki-laki yang berjalan didepan tiga gadis itu.
"Kau lanjutkan saja perjalanannya, aku akan buang air kecil," ucap laki-laki yang berjalan dibelakang gadis-gadis itu.
"Aku akan menunggumu di sini," ucap rekannya yang lain.
Dua laki-laki yang bertugas di belakang menghentikan langkahnya sedangkan empat orang lagi melanjutkan perjalanan mereka menuju tepi pantai tempat mereka akan melakukan perjalanan menuju Sandress.
Setelah rombongan orang-orang itu mulai menjauh, Zara mengayun dari atas pohon itu dengan menggunakan tali untuk sampai pada seorang laki-laki yang sedang menunggu rekannya!
"Hey siapa kau!" seru laki-laki itu.
Tanpa berucap, Zara mengikat tali yang dia pegang pada leher laki-laki itu lalu menariknya dengan sangat keras hingga tanpa ada perlawanan laki-laki itu tewas ditangannya.
__ADS_1
Setelah memastikan laki-laki itu sudah tak bernyawa, Zara menyeret tubuh laki-laki itu ke semak-semak agar kawanannya tidak menemukan mayat laki-laki itu!
Selesai dengan mangsa pertama, Zara lanjut dengan mangsa yang ke dua.
Bugh!
Zara memukul punggung laki-laki itu dengan menggunakan kayu.
Laki-laki yang dengan buang air kecil di balik pohon itu tiba-tiba mendapat serangan dari belakang.
"Aaaa, siapa kau?" ucap laki-laki itu dengan tubuh yang sudah tergeletak di atas rerumputan.
"Kalian akan membawa gadis-gadis itu kemana?" tanya Zara.
"Tidak akan pernah aku katakan."
Zara meraih rambut laki-laki itu lalu mencengkram nya dengan kuat.
"Ke tempat Bos besar, untuk dipekerjakan di tempat hiburan malam di kota lain," ucap laki-laki itu dengan suara yang terbata-bata.
Zara mengeratkan rahangnya lalu membanting kepala laki-laki itu pada pohon besar hingga laki-laki itu tewas!
"Aku tidak akan membiarkan mereka berhasil malam ini," gumam Zara.
Zara segera bergegas menyusul orang-orang yang tadi sudah lebih dahulu menuju bibir pantai! Tak lupa dia mengambil senjata api milik dua laki-laki yang sudah dihabisinya.
"Aku sudah lama menunggu kalian," ucap Endru.
"Maaf Tuan, gadis-gadis ini jalannya tidak bisa cepat karena mereka tidak menggunakan alas kaki," jelas salah satu dari empat laki-laki itu.
"Dimana rekan kalian dua orang lagi? Bukankah kalian ada enam orang?"
"Mereka sedang buang air kecil. Lanjutkan saja perjalanannya."
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dor!
Zara langsung menyerang mereka dengan menembak beberapa kali.
Tiga orang sudah lumpuh terkena peluru yang Zara tembakkan sementara Endru dan beberapa orang yang masih tersisa mencoba melakukan penyerangan balik.
Selain jago bela diri, Zara juga memiliki kemampuan yang baik dalam menembak, dia selalu berlatih menembak, memanah dan melempar pisau karena dia tahu dia pasti membutuhkan ilmu itu.
Baku tembak antara Zara dan beberapa orang di sana pun terjadi selama beberapa menit hingga orang-orang Endru sudah habis barulah baku tembak itu berhenti.
Zara segera melepaskan tali yang mengikat tangan ke tiga gadis itu lalu menyuruh mereka pergi ke tempat yang aman.
"Terimakasih."
"Terimakasih."
Gadis-gadis itu langsung berlari ke tempat yang aman.
Kini ditempat itu hanya ada Zara, Endru dan satu orang yang bertugas sebagai Nakhoda kapal yang akan mereka gunakan untuk mengirim gadis-gadis itu.
"Siapa kau? Beraninya ikut campur dalam urusanku," ucap Endru.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku yang pasti aku tidak akan membiarkan kalian membawa gadis-gadis itu," sahut Zara.
"Perempuan. Beraninya kau mengusik ketenanganku," ucap Endru dengan sedikit senyum meremehkan setelah tahu orang yang menyerangnya adalah seorang perempuan.
Mereka pun mulai bertanding dengan dua lawan satu.
Bersambung
__ADS_1