Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 34


__ADS_3

"Kau ... ternyata kau datang juga," ucap Medina.


Beberapa bodyguard menodongkan senjata api pada Zara, namun tak sedikitpun dia takut pada mereka dan dengan senjata itu.


"Turunkan senjata kalian atau tua bangka ini akan mati ditanganku, dihadapan kalian semua."


Exel dan Wilona berlarian menghampiri kerumunan orang-orang itu!


"Ada apa ini? Kenapa musiknya berhenti?" ucap Exel dengan suara tinggi.


Endru yang baru akan memulai permainan dengan Samantha pun menghentikan pergerakannya karena mendengar keributan di luar kamarnya.


Dia pun keluar dari kamar itu untuk memeriksa apa yang terjadi di sana!


"Lara, apa yang kau lakukan?" tanya Wilona dengan raut wajahnya yang terkejut.


"Perlu kalian ketahui. Lara sudah mati dan aku datang untuk membalaskan kematiannya. Katakan padaku dimana bos kalian yang bernama Sandress?"


"Kau tidak akan menemukannya karena dia tidak berada di sini dan tidak akan pernah ke sini," ucap Endru yang baru tiba di tempat itu.


Dari belakang Endru, Samantha berlari menghampiri mereka!


"Zara, akhirnya kau ...." Samantha menangis sambil menutupi dadanya dengan tangannya karena bajunya sudah sobek karena dipaksa dibuka oleh Endru.


"Medina, ambil satu senjata itu dan berikan padaku," titah Zara.


Baru Medina akan mengambil senjata api yang tergeletak di lantai milik salah satu bodyguard itu, Exel menendang senjata api itu hingga terlempar ke tempat yang jauh dari sana.


Zara menekankan pisau yang masih menancap pada dada Takahiro hingga membuat laki-laki tua itu semakin kesakitan.


"Aaaa, lepaskan aku," lirih Takahiro.


"Jika ingin laki-laki itu tetap hidup, berikan satu senjata padaku. Medina ambil senjata itu!"


Medina pun kembali melangkah untuk mengambil senjata yang lainnya!


Setelah mendapatkan senjata itu, Zara mengarahkan senjatanya pada para gadis yang bekerja di sana.


"Kalian semua menyingkir lah dari tempat ini. Samantha, kamu juga," ucap Zara.


Tak ada kata protes, mereka semua berjalan kebelakang Zara dan berpisah dari kerumunan orang-orang itu.


"Katakan dimana bos kalian? Siapa diantara kalian yang bernama Sandress?"


"Kami tidak akan pernah memberitahu dirimu dimana dia berada," ucap Exel.


Dor!


Zara menembak tepat di bagian kaki Exel.


Exel menodongkan pistolnya pada Zara dan bersiap untuk menembak dokter cantik itu, namun sebelum itu terjadi, Abra melemparkan botol minuman je tangan Exel hingga pistolnya terlepas dari tangan Exel.


Mereka semua menatap ke arah pintu masuk dan sosok Abra pun langsung terlihat dan dia berjalan dengan gagahnya menghampiri mereka semua.


"Jika ada satu orang saja diantara kalian yang berani menyentuh Zara, nyawa kalian akan berakhir ditanganku," ucap Abra dengan mantap.


"Kau juga datang," ucap Medina dengan suara lirih.


Diam-diam Endru hendak menembak Abra namun Zara yang melihatnya tak memberikan kesempatan untuk Endru menarik pelatuk pistolnya. Zara sudah lebih dulu menembak Endru sebanyak dua kali hingga laki-laki itu tewas seketika.


Karena tak terima, Endru dihabisi oleh Zara. Para bodyguard itu pun menyerang Zara dengan tanpa senjata karena sebelumnya senjata mereka sudah disita oleh Zara.


Perkelahian pun tak bisa terhindarkan. Mereka pun menyerang Zara dan Abra secara bersama-sama!


Exel yang kakinya sudah tertembak berusaha mengambil pistol yang tadi dia tendang.


Dengan langkah yang tertatih, Exel mencoba menghampiri pistol yang tergeletak dibawah meja.


Melihat Exel yang sedang berusaha meraih senjata api itu, Medina langsung menghampiri Exel dan memukulnya dengan sepatunya!

__ADS_1


Exel mendorong Medina hingga gadis itu terjatuh!


Samantha, Vera dan semua gadis yang ada di sana pun beramai-ramai memukuli Exel!


"Kurangajar kau. Hari ini kami semua tidak akan mengampuni dirimu."


"Kurangajar!"


"Kurangajar!"


Mereka berucap sambil terus mengeroyok Exel!


Zara yang melihat mereka meski hanya sekilas, tersenyum lebar. Dia bahagia karena ternyata para gadis itu masih memiliki kekuatan dan keberanian untuk melakukan itu.


Setelah hampir sepuluh menit, semua bodyguard itu sudah terkapar di lantai, Exel pun sudah lemas tak berdaya.


Zara mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya dan juga dahinya lalu berjalan menghampiri para gadis itu!


"Kalian hebat," ucap Zara dengan senyum di bibirnya.


Abra hanya diam sambil menatap Zara yang masih terlihat segar meski dalam keadaan terluka.


Medina dan teman-temannya yang lain tersenyum ke arah Zara dengan air mata bahagia yang mengalir di pipi mereka.


Zara mengarahkan senjata api pada kepala Exel, dia harus membalaskan kematian Lara pada laki-laki itu.


"Jangan, Zara." Medina meraih senjata api dari tangan Zara.


Semua orang di sana menatap Medina tak percaya, kenapa Medina menghalangi Zara yang hendak menghabisi Exel.


"Biar aku saja," ucap Medina.


Dor!


Dor!


Zara menghampiri Takahiro yang masih bernafas itu!


"Bawa aku ke tempat Sandress," ucap Zara.


"Kak Abra, tolong bawa semua gadis ini pergi dari sini dan pastikan mereka pulang ke rumah orang tuanya. Aku harus menyelesaikan tugas terakhirku."


"Tapi Zara, kau hanya sendirian."


"Percayalah, aku akan baik-baik saja."


Abra mengangguk paham, dia tahu Zara pasti akan baik-baik saja selama dia mengingat Lara yang tiada karena mereka.


Abra pun mulai mengarahkan semua gadis itu keluar dari Clube malam itu!


"Hey wanita iblis. Kau akan menjadi sopir ku malam ini, cepat jalan jika kau masih mau hidup."


Tak bisa melawan, Wilona pun mengikuti perkataan Zara, dia berjalan keluar dan membukakan pintu mobil untuk Zara dan Takahiro.


"Jangan macam-macam denganku, kalau tidak aku akan menembak mu. Cepat jalankan mobilnya dan bawa aku ke tempat bos mu."


Wilona pun langsung melajukan mobilnya.


"Terlambat sedikit, tua bangka ini akan mati karena kehabisan darah, cepatlah!" sambung Zara.


Setelah berkendara hampir setengah jam akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah namun terlihat kosong, seperti tidak ada penghuninya.


Wilona turun dari mobil itu!


"Ini rumah Tuan Sandress, temui dia di dalam," ucap Wilona pada Zara.


"Bawa aku bertemu dengannya."


Sebelum mereka masuk ke dalam rumah itu, Zara menembak Takahiro terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bos, aku datang membawa tamu yang tak diinginkan," ucap Wilona.


Sandress yang berdiri membelakangi mereka hanya diam tanpa pergerakan.


"Kenapa suaramu terdengar seperti orang ketakutan?" tanya Sandress.


"Bos, kita kalah. Clube kita sudah hancur dan semua gadis itu sudah pergi. Semua orang-orang kita tewas termasuk Endru dan Exel."


Sandress membalikkan tubuhnya dan alangkah terkejutnya Zara saat melihat wajah orang itu.


"Richard. Kau ...." Zara menatap Richard dengan tatapan tak percaya.


"Zara, jadi kau tamunya."


"Ternyata kau yang membuat saudara kembar ku meninggal. Pantaslah sedari tadi aku mengenal suaramu."


Zara meneteskan air matanya, dia tak percaya dengan kenyataan yang kini sedang berada dihadapannya sendiri.


"Zara, aku mencintaimu. Kalau saja aku tahu dia itu adikmu dan kalau saja aku tahu bahwa kita akan bertemu, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan meninggalkan bisnis kotor itu asalkan aku tetap bersamamu."


"Kau. Aku tak menyangka." Zara menggelengkan kepalanya, dia tak bisa percaya ini terjadi pada kehidupannya.


"Haaaa!" Wilona berusaha menusuk Zara dari belakang dengan menggunakan pisau, namun Zara lebih cepat bergerak karena melihat gerak-gerik Wilona dari pantulan cermin dibelakang Sandress.


Zara pun menembak Wilona sampai wanita itu meregang nyawa.


"Aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu Richard. Tidak bisa."


Dor!


Zara menembak Richard dibagian dadanya.


"Aaah! Zara aku begitu mencintai dirimu."


Dengan berurai air mata, Zara kembali menembak kekasihnya itu hingga akhirnya dia juga tewas di tangannya.


Zara menangis dihadapan mayat sang kekasih, bahkan senjata api yang dia gunakan untuk menghabisi Sandress pun masih ada dalam genggamannya.


Abra dan Wili tiba di rumah mewah itu dan melihat Zara yang sedang menangis di samping Richard yang sudah tak bernyawa!


"Zara, apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini?" tanya Abra.


"Richard," gumam Wili.


Wili mengusap bahu Zara dengan lembut. "Zara, siapa yang melakukan ini pada Richard?"


"Aku yang membunuhnya, aku yang sudah menghilangkan nyawanya," sahut Zara.


"Apa kau gila Zara, sebentar lagi kalian akan menikah. Surat undangan sudah disebar kemana-mana. Kenapa kamu melakukan ini Zara?"


"Richard adalah Sandress dan Sandress adalah orang yang selama ini aku cari, aku menginginkan kematiannya sejak lama."


"Tapi kau mencintainya bukan?"


"Cinta itu sudah hilang sesaat setelah aku tahu bahwa dia adalah orang yang sudah menyebabkan Lara meninggal. Cintaku terhadap Lara lebih besar dibandingkan dengan cintaku pada Richard."


"Lalu pernikahan kalian? Kau akan mendapat malu karena tidak jadi menikah."


"Aku lebih malu jika aku mengingkari janjiku pada Lara."


"Zara, jika kau bersedia aku ingin menggantikan posisi Richard dihari pernikahan kalian. Aku sudah menyayangimu sejak lama," ucap Abra.


Zara dan Wili menatap Abra lalu mereka tersenyum tipis.


"Terimakasih sudah menyelamatkan aku, aku akan berusaha mencintaimu," ucap Zara.


"Kita akan tetap mengadakan pernikahan dengan mempelai laki-laki yang berbeda, aku turut bahagia. Ayo kita pulang ke negara kita dan mulai hidup baru," ucap Wili.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2