Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 31


__ADS_3

"Gimana nih, sudah satu minggu gadis ini di sini tapi gadis bercadar itu belum muncul juga," ucap Exel.


"Mungkin dia tidak tahu bahwa gadis ini di sini," ucap Endru.


"Kita berikan saja gadis ini pada pengunjung Clube kita," ucap Wilona.


"Aku sudah katakan pada kalian semua, aku tidak mengenali orang yang kalian maksud dan aku juga tidak memiliki hubungan saudara atau kerabat dengan gadis itu," ucap Samantha.


"Daripada gak dapat apa-apa lebih baik kita jadikan gadis ini pekerja di Clube kita. Wilona! Hubungi Tuan Takahiro dan katakan padanya ada barang baru."


"Tidak. Aku tidak mau melakukan itu, aku tidak mau memberikan diriku pada orang asing."


Endru menatap Samantha lalu mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu! "Bagaimana kalau denganku? Kau cukup menarik dan penampilan tubuhmu juga oke."


Samantha memalingkan wajahnya kearah lain, dirinya tak ingin melihat wajah Endru yang kian mendekati wajahnya.


Karena kaki dan tangannya terikat dengan tapi, Samantha tak bisa pergi dari tempat itu.


"Kau membuat diriku bergairah," ucap Endru pada Samantha.


"Exel, malam ini dia milikku. Jangan hubungi langganan kalian dulu karena aku ingin bermain dengannya satu malam saja," sambung Endru pada Exel.


"Terserah kau saja. Malam ini terserah kau mau apakan gadis ini."


"Bersiaplah Samantha, rekanku ini sangat perkasa, kau akan tak berdaya dibuatnya," ucap Wilona pada Samantha.


Mereka bertiga tertawa terbahak sambil pergi meninggalkan Samantha di ruangan itu.


*******


Di sebuah taman.


Zara dan Sandress sedang duduk di bangku taman.


Zara menyandarkan kepalanya di bahu Sandress dan Sandress melingkarkan tangannya di perut Zara.


"Aku tidak sabar menunggu hari pernikahan kita," ucap Sandress.


"Sabar, sebentar lagi."


"Kau tahu Zara? Betapa aku mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Demimu aku rela mengorbankan nyawaku."


"Jangan berlebihan seperti itu Richard, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita setelah hari ini."

__ADS_1


"Aku serius, aku tidak pernah berdusta pada perkataan aku sendiri."


Zara tersenyum lebar lalu mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Sandress.


"Richard, apa kau serius? Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan gombalan mu ini."


"Aku serius sayang. Aku sangat mencintai dirimu melebihi diriku sendiri."


"Kenapa kau ingin cepat-cepat menikah denganku? Padahal hubungan kita belum terjalin lama. Kau belum tahu siapa diriku."


"Aku yakin kau orang yang baik, orang yang bisa merubah diriku menjadi lebih baik lagi."


"Memangnya kau bukan orang baik?"


"Bukan begitu Zara, setiap orang pasti memiliki kekurangannya masing-masing. Aku harap kau adalah wanita yang dapat melengkapi kekuranganku itu."


Meski memutuskan untuk menikahi Zara, tapi Sandress tidak berniat memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya karena takut Zara akan meninggalkannya. Walaupun dirinya bisa mendapatkan yang dia inginkan meski harus menggunakan segala cara tapi untuk Zara, Sandress tak ingin menggunakan kekasaran dan pemaksaan. Dia lebih memilih menyembunyikan jati dirinya dari gadis yang sangat dia cintai itu.


*******


"Kesempatan terakhir. Kau pergilah ke rumah sakit tempat dokter itu bekerja dan pancing dia agar dia datang ke tempat penyekapan ini," ucap Exel pada salah satu bodyguardnya.


"Kau yakin, Exel?" tanya Endru.


"Kau jangan mengganggu malam indahku bersama gadis itu."


"Tidak akan Endru. Kau tenang saja, aku akan menyiapkan penyambutan yang spesial untuk gadis bercadar itu."


"Kenapa kau begitu penakut? Dimana kekuatanmu yang dulu?" tanya Wilona.


"Kalian baru akan tahu setelah gadis itu tiba."


"Omong kosong. Kita banyak orang yang bersedia mati demi melindungi kita semua. Kenapa harus takut? Lagipula gadis itu hanya sendirian sedangkan kita sepuluh kali lipat dari dirinya."


Bodyguard itu pun langsung pergi ke tempat yang diberitahukan oleh Exel. Dia akan memancing Zara agar pergi ke tempat yang sudah mereka siapkan.


*******


Di kursinya, Zara terus memperhatikan foto yang dikirim oleh Medina sejak dua minggu lalu.


"Aku yakin orang-orang ini adalah saudaranya Richard yang waktu itu pernah aku temui, tapi apa mungkin mereka bisa melakukan hal sekejam itu? Apa Richard tahu bahwa mereka melakukan bisnis haram itu?" ucap Zara didalam hatinya.


"Foto siapa itu?" tanya Davina yang tiba-tiba muncul di ruang pribadinya Zara.

__ADS_1


"Ini foto orang ganteng dan cantik." Tak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba jawaban konyol itu keluar begitu saja dari mulut Zara.


"Aku tahu. Maksudku siapa mereka?"


"Ini keluarganya Richard."


"Oh, udah mulai pengenalan dengan mereka."


"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Richard, jadi aku harus tahu pada siapa saja orang terdekatnya."


"Lakukan apa yang menurutmu perlu dilakukan. Aku sibuk, permisi Dokter Zara."


Davina pun langsung pergi meninggalkan Zara karena dirinya masih harus mengecek keadaan pasiennya!


Setelah Davina pergi, Zara keluar dari ruangannya untuk beristirahat karena kebetulan saat itu sudah waktunya makan siang.


Di depan rumah sakit itu, Zara berdiri menunggu seseorang.


"Halo, pastikan gadis itu tidak kabur karena kita akan mengirimnya nanti malam," ucap seorang laki-laki yang sedang menelpon


Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang sedang menelpon lewat di hadapan Zara dan tanpa sengaja Zara mendengar pembicaraan laki-laki itu.


Laki-laki itu terus berjalan menghampiri motornya dan Zara pun mengikuti kemana langkah laki-laki itu.


"Jangan-jangan laki-laki itu adalah orang jahat?" ucap Zara didalam hatinya sembari terus berjalan mengikuti laki-laki itu!


Setelah memastikan bahwa Zara sudah mengikutinya, laki-laki itu mengirim pesan pada Exel agar segera menyiapkan rencana selanjutnya karena Zara sudah terpancing.


Zara terus mengikuti laki-laki itu hingga sampai laki-laki itu mengendarai motornya dan Zara pun segera mengikutinya dengan menggunakan motor kesayangannya!


*******


"Dokter itu mengikuti agen kita. Cepat bersiap diposisi masing-masing dan jangan lupa senjata kalian," ucap Exel pada semua bodyguard itu.


"Serius?" ucap Endru.


"Berarti dokter itu memang Lara," ucap Wilona.


"Aku juga berpikir seperti itu."


"Oke, cepat kita bersiap aku tidak ingin gagal karena Ku tidak ingin mati ditangan gadis itu."


Mereka pun mulai berjalannya pada posisi masing-masing! Tak lupa mereka juga menyiapkan jaring untuk menangkap Zara kalau mereka tidak bisa melumpuhkan Zara dengan pukulan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2