
Di sebuah kamar, Zara tersadar dari pingsannya dalam keadaan kaki dan tangannya yang terikat tali.
Zara membuka matanya dan dengan pandangan terlihat suram dia melihat seorang laki-laki sedang berdiri sambil menatap keadaan.
"Aaah," lirih Zara saat merasakan pusing dikepalanya.
"Akhirnya kau sadar juga," ucap Exel.
Ya, laki-laki yang berdiri sambil menatapnya itu adalah Exel, laki-laki yang sudah menjebaknya di bangunan tua itu.
"Kau ... brengsek." Zara menatap Exel dengan tatapan tajamnya.
"Sudah dalam keadaan seperti ini pun, kau masih terlihat ganas. Kau tahu Lara, saat pertama kali kita bertemu di rumah sakit itu, aku sudah tahu bahwa kau adalah Lara, gadis yang hilang sejak lima tahun lalu."
"Kau tak lebih dari seekor hewan liar yang seharusnya diburu. Kalian akan menanggung akibatnya karena sudah melakukan ini."
"Oh manis, aku suka denganmu yang sekarang." Exel mendekati Zara yang sedang meringkuk di atas tempat tidur!
"Ingin sekali aku bermain denganmu tapi Tuan Takahiro sangat merindukanmu. Kita atur jadwal untuk bermain setelah Tuan Takahiro selesai denganmu."
"Kurangajar! Aku tidak akan mengampuni kau dan juga mereka. Aku akan menghabisi kalian semua."
Exel membelai pipi Zara dengan lembut, matanya menatap wajah cantik Zara dengan tatapan mata yang dipenuhi hasrat setan.
Zara menggeliat agar Exel menjauhkan tangannya dari pipinya.
Exel tersenyum sambil terus menatap Zara, tangannya yang semula mengelus pipi kini turun ke bawah dan menuju dada!
Zara membenturkan kepalanya ke kepala Exel agar Exel menjauh dari dirinya dan menghentikannya pergerakan tangannya.
Zara tak ingin sesuatu yang dia jaga terjamah oleh laki-laki yang bukan mukhrim nya, dia ingin semua yang ada dalam dirinya hanya menjadi milik laki-laki yang menjadi suaminya.
"Aaah," Exel meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Kau, lihat saja. Setelah Tuan Takahiro, aku akan melanjutkan permainkan malam ini. Aku tidak akan memberimu waktu istirahat."
Exel segera keluar dari kamar itu tanpa menatap lagi kepada Zara yang kini sudah duduk sambil menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal dibelakangnya!
__ADS_1
Setelah Exel keluar dari kamar itu, Dari mengambil pisau kecil yang dia selipkan pada sepatunya dan mulai membuka tali yang mengikat tangannya dengan pisau itu!
"Aku tidak boleh gagal. Ini kesempatan terakhirku sebelum aku menikah," gumam Zara.
*******
"Zara, aku harap kau baik-baik saja. Kenapa kau tak menerima telpon dariku?" ucap Abra sambil terus mengemudikan motornya.
Abra terus memutar pedal gas motornya sama batas kecepatan maksimal, dia harus cepat sampai ke tempat Zara berada!
"Aku tidak akan memaafkannya diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu Zara."
*******
Setelah berhasil membuka tali yang mengikat tangannya, Zara tidak langsung membuka tali yang mengikat kakinya. Dia lebih memilih mengambil ponselnya dari dalam saku celananya karena dia harus menelpon Abra secepat mungkin.
[Halo kak Abra, sekarang sepertinya aku sedang berada di sebuah tempa hiburan tapi aku tidak tahu letaknya dimana soalnya tadi aku pingsan dan setelah aku tersadar aku sudah ada dalam suatu kamar. Kaki dan tanganku terikat dengan taki, untunglah aku bisa melepaskan tali itu dari tanganku.]
[Aku sedang menuju tempat kau berada, Zara kau hati-hati ya. Aku akan segera sampai.]
Zara segera mematikan telponnya saat mendengar suara derap langkah yang menuju kamarnya.
Dia pun segera mengebelakangkan tangannya dan berpura-pura masih terikat oleh tali itu tak lupa untuk berjaga-jaga, Zara terus menggenggam pisau kecil itu.
Cklek!
Suara pintu yang terbuka.
Zara menatap ke arah pintu itu dan dia langsung melihat ada seorang laki-laki yang kira-kira usianya sudah menginjak lima puluh tahunan itu.
Laki-laki itu berjalan menghampiri Zara dengan senyuman mempesona, tak bisa dipungkiri laki-laki tua itu terlihat tampan meski usianya sudah tak muda lagi.
"Selamat malam Lara ku, kau dari mana saja? Selama ini aku sangat merindukan dirimu," ucap Takahiro.
Takahiro lah, laki-laki tua yang memasuki kamar penyekapan Zara.
"Siapa kau?" tanya Zara dengan mata yang terus menatap laki-laki itu.
__ADS_1
Takahiro duduk di samping Zara! Dia tersenyum lagi namun kali ini senyumannya begitu misterius.
"Mau apa kau?" tanya Zara lagi saat Takahiro mulai membuka jasnya.
"Lara, apa kau lupa? Dulu kita sering bermain di sini dan dikamar ini aku mendapatkan kepuasan yang tak terkira saat pertama kali aku melakukannya denganmu. Waktu itu kau baru pertama kali melakukannya dan itu sungguh kenikmatan yang tiada duanya, sejak saat itulah aku dan kau sering berhubungan. Kau tau? Aku sangat suka dengan kau yang memberontak waktu itu, kau begitu membuatku ingin lagi, lagi dan lagi."
Mendengar perkataan Takahiro membuat Zara geram, dirinya semakin diselimuti amarah dan kebencian. Dendam yang lama dia simpan kini sangat bergejolak bak air yang sedang mendidih.
"Brengsek! Rupanya kau laki-laki yang menodai Lara."
"Aku sudah membayar dengan harga mah pada mereka, jadi tunggu apa lagi. Ayo kita lakukan sayang."
Tak kuat menahan amarahnya, Zara bergerak cepat, dia menusuk dada sebelah kanan Takahiro dengan pisau yang dia pegang lalu memutar pisau itu agar lukanya lumayan parah!
"Aaaa, kau ...." Takahiro meringis kesakitan sambil memegangi pisau yang masih menancap di dadanya.
Dia berusaha mencabut pisau itu namun dirinya tak kuasa menahan sakitnya.
Zara membiarkan Takahiro sejenak dan dia segera membuka tali yang mengikat kakinya, setelah itu dia berdiri tegak dihadapan laki-laki biadab itu.
"Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu. Kau telah membuat adikku meninggal." Zara mencengkram kerah jas yang Takahiro kenakan lalu menariknya agar berdiri sejajar dengannya, Zara juga memegangi pisau itu sambil terus menekannya masuk ke dalam tubuh Takahiro.
"K_kau. Siapa kau?" tanya Takahiro sambil menahan sakitnya.
"Aku adalah saudara kembar dari gadis yang kau ceritakan. Hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini. Ayo jalan!"
Zara memaksa Takahiro berjalan keluar dari kamar itu.
Dengan langkah yang tertatih, Takahiro terus berjalan mengikuti arahan dari Zara!
Dalam cahaya remang-remang dan dengan musik yang kencang, Zara dan Takahiro terus berjalan menuju keramaian.
"Hentikan musiknya!" seru Zara dengan sekeras suaranya.
Semua orang di sana menatap ke arah suara. Musik itupun tak bergema lagi dan cahaya di sana mulai berganti menjadi terang.
Bersambung
__ADS_1