Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 23


__ADS_3

Wili berjalan cepat agar segera tiba di ruangan Zara!


"Zara! Kamu mau kemana?" tanya Wili saat melihat Zara hendak keluar dari rumah sakit itu bersama dengan seorang laki-laki.


"Kakak," gumam Zara.


"Maaf, kau siapa ya?" tanya Sandress pada Wili.


"Aku kakaknya, Zara."


"Maaf, aku tidak tahu. Aku ingin mengajak Zara makan siang bersamaku. Apa kau mengizinkan aku untuk pergi bersamanya?"


"Kak, kakak pasti belum makan siang juga. Kakak ikut saja sama aku dan Richard," ucap Zara.


"Ya, Zara betul. Kau ikutlah dengan kami sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Sandress.


"Tapi aku ...."


"Aku mohon." Zara menatap Wili dengan sedikit memanyunkan bibirnya.


"Baiklah aku akan ikut. Aku tidak pernah bisa menolakmu kan."


Zara tersenyum lalu mereka bertiga pun mulai berjalan meninggalkan rumah sakit tempat Zara bekerja!


*******


"Aku yakin dia itu Lara," u untuk Vera.


"Aku juga yakin bahwa dokter itu adalah Lara tapi bagaimana caranya agar kita bisa membuktikannya bahwa dokter itu memang Lara," ucap Medina.


"Aku tidak tahu. Semoga saja dia cepat mengingat kita agar dia bisa menyelamatkan kita dari sini."


"Siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanya gadis lainnya pada Medina dan Vera.


"Lara. Kami bertemu dia di rumah sakit," sahut Vera.


"Lara? Lara Manis?" Gadis itu menatap Vera tak percaya.


"Iya, siapa lagi tapi sayangnya dia tidak mengenali kami."

__ADS_1


Gadis itu meneteskan air matanya lalu tersenyum tipis.


"Semoga saja dia memang Lara, aku ingin pulang, aku tidak ingin selamanya di sini."


"Kau jangan menangis, kita doakan saja semoga dia benar-benar Lara yang akan menolong kita."


*******


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Wilona saat bertemu dengan Endru.


"Aku tahu tau pasti tahu dengan keadaan diriku sekarang ini."


"Aku dengar kau kalah oleh seorang perempuan." Wilona tertawa kecil sambil menatap Endru.


"Dia bukan wanita. Dia wanita jadi-jadian, kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan sebelum kau sendiri yang mengalami apa yang aku alami."


"Terserah kamu. Sekarang pekerjaan mu dihentikan untuk sementara. Sementara pekerjaan dirimu digantikan oleh orang kepercayaan aku."


"Terserah kalian. Aku ingin fokus pada kakiku dulu, aku tidak ingin catat permanen."


"Sekarang tugas kita bertambah," ucap Exel yang baru tiba di tempat itu.


"Gadis yang menyerang mu itu pasti mengenali wajahmu. Jika dia melihatmu sekali lagi maka dia akan menyerangmu."


"Apa maksudmu?" Endru menatap Exel. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu.


"Kita akan memancing gadis itu dengan menggunakan dirimu."


"Exel, kau akan membahayakan keselamatan Endru," ucap Wilona.


"Tidak, kita akan mengadakan penjagaan ketat untuk Endru. Kita akan menangkap gadis itu dan kita akan mengetahui siapa yang ada dibalik cadar itu."


"Exel kau sudah gila? Keadaan diriku masih seperti ini dan kau ...."


"Tidak sekarang, kita akan melakukannya setelah kau sembuh."


*******


"Sebenarnya semenjak pertama aku bertemu denganmu, aku merasakan ada sesuatu yang aneh didalam hati ini," ucap Sandress pada Zara.

__ADS_1


Wili dan Zara menghentikan pergerakannya yang sedang mengunyah makanannya.


"Kau bicara padaku?"


"Ya, siapa lagi?"


"Didepan kakakku kau berani berkata seperti ini?"


"Aku tahu usiaku jauh lebih tua dari Zara, tapi apa aku salah jika mencintai Zara dan ingin menikahi adikmu itu?" Sandress berkata sembari menatap Wili dengan tatapan serius.


"Kau tidak salah tapi untuk cinta kau tidak bisa mengutarakannya padaku. Kau tanya saja pada Zara, dia bersedia menikah denganmu atau tidak?"


"Zara, aku tidak ada waktu untuk merayu karena aku tidak bisa melakukannya. Apa kau bersedia menjadi kekasihku dan apa kau bersedia menikah denganku?"


"Richard ini terlalu cepat, kita belum saling mengenal lebih dalam lagi."


"Jawab saja iya atau tidak. Kalian kan bisa saling mengenal setelah resmi berpacaran," ucap Wili.


"Memangnya kakak izinkan aku untuk–"


"Kenapa tidak. Kamu berhak bahagia."


"Jadi bagaimana, Za? Di sini ada kakakmu yang akan menjadi saksi atas cinta kita."


"Aku bersedia menjadi kekasihmu tapi aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat karena aku ingin fokus bekerja dulu."


Sandress tersenyum bahagia sambil menatap Zara lalu menatap Wili.


"Aku harus bilang apa? Mau mengucapkan selamat tapi kalian kan belum menikah."


"Kakak apa yang kamu katakan."


"Cie cie cie yang baru jadian," goda Wili.


Sandress hanya bisa diam karena Wili bicara dengan bahasa daerahnya. Sandress yang asli penduduk di sana tidak mengerti dengan bahasa daerah yang diucapkan oleh Wili pada Zara.


Siang itu Zara dan Sandress resmi berpacaran dengan Wili sebagai saksinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2