
Samantha terus menangis sambil duduk di sebuah kursi dengan keadaan kaki dan tangannya yang terikat pada kursi itu.
"Kalian jahat, kalian bukan manusia. Lepaskan aku!" Samantha berteriak pada Exel dan Endru yang sedang berdiri di depannya.
"Sayang, kau jangan berteriak seperti itu. Tunggu yaya sebentar lagi. Kau sudah tidak sabar ya ingin mencoba keperkasaan ku," ucap Endru sembari mencengkram dagu Samantha.
Exel tersenyum sembari menatap Endru. "Kau bersikap seperti ini didepan gadis ini tapi tiba-tiba kau berubah menjadi ciut saat berhadapan dengan gadis bercadar."
"Kau hadapi dia sendiri saat dia datang nanti," ucap Endru.
"Dia tidak akan datang karena dia tidak mengenal diriku dan tidak memiliki hubungan apa pun denganku," ucap Samantha.
Exel dan Endru menatap Samantha lalu mereka berdua meninggalkan Samantha di ruangan itu!
Sementara itu, orang-orang kepercayaannya Exel sudah bersiap di posisi masing-masing. Ada dua orang yang berjaga di samping kiri bangunan itu dan ada dua orang yang berjaga di samping kanan bangunan itu, di atas genting bangunan itu ada empat orang yang sudah bersiap melepas jaring untuk menangkap Zara jika orang-orang dibawah bangunan itu tidak bisa mengalahkan gadis itu.
*******
Di jalanan yang sudah tidak terlalu jauh lagi dari tempat itu, agen suruhan Exel terus mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang agar orang yang mengikutinya tidak kehilangan jejaknya.
Sementara itu Zara menelpon Abra untuk berjaga-jaga jika nanti dia membutuhkan pertolongan.
[Halo, Zara ada apa kau menelpon ku di siang hari seperti ini? Apa kau ingin mengajakku makan siang?] tanya Abra dari sebrang telpon.
[Aku sedang mengikuti orang yang sudah menculik seorang gadis. Aku ingin membebaskan gadis itu. Tolong ikuti aku.]
[Baiklah Zara, nyalakan GPS pada ponselmu agar aku tahu dimana lokasi dirimu berada. Aku pergi sekarang.]
[Terimakasih kak.]
Zara langsung mematikan sambungan telponnya lalu dia kembali fokus pada laki-laki yang sedang diikutinya.
*******
"Abra, aku ikut," ucap Wili.
"Tidak. Ini berbahaya."
"Tapi aku khawatir dengan Zara. Aku takut terjadi apa-apa kepadanya."
"Zara bukan gadis biasa, kau tenang saja dan lagi aku akan menjaganya. Aku janji." Abra menepuk pundak Wili beberapa kali lalu dia mulai pergi meninggalkan Wili.
"Abra aku tidak bisa tenang, dia adikku."
"Tunggu saja kabar dariku, aku akan mengabari dirimu jika terjadi sesuatu padaku dan juga Zara tapi aku yakin, adikmu itu tidak akan kenapa-kenapa." Abra berbicara sambil terus berjalan dengan tanpa melihat ke belakang.
__ADS_1
Wili menatap kepergian kepergian Abra sampai temannya itu sudah tak terlihat lagi.
"Semoga kamu berhasil Zara, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk dirimu," gumam Wili.
*******
Sesampainya di tempat yang sudah mereka siapkan, laki-laki itu turun dari motornya lalu berjalan memasuki bangun itu!
Zara menghentikan motornya lalu mulai berjalan menghampiri bangun itu! Tidak sedikitpun ada rasa curiga dalam hatinya bahwa kini dirinya sedang dijebak mereka.
Melihat keadaan tempat itu yang sepi, Zara langsung masuk ke dalam bangunan itu dan dia langsung melihat Samantha yang terikat tali.
"Samantha," ucap Zara sembari berlari menghampiri Samantha.
"Pergi dari sini Zara. Pergi! Jangan hiraukan aku," ucap Samantha.
"Aku tidak bisa pergi tanpa membawa dirimu." Zara terus berusaha membuka tali yang mengikat Samantha.
"Pergi Zara, mereka menjebak mu, mereka ingin menangkap mu."
Zara menatap Samantha namun tangannya terus berusaha membuka tali itu!
Belum selesai Zara membuka tali itu, beberapa orang muncul dan langsung menyerang Zara.
**********
Abra mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi, dia harus menemukan lokasi Zara berada sebelum terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Aku tidak boleh terlambat sedikitpun, nyawa Zara sedang dalam bahaya," u untuk Abra didalam hatinya sembari terus fokus mengemudikan motornya.
*******
Tak ingin buang-buang waktu. Zara merebut senjata api milik salah satu orang itu dan langsung menembaki orang-orang itu sampai tewas.
Zara pun kembali membuka tali yang mengikat Samantha.
"Pergilah Zara. Jangan hiraukan aku."
"Kau akan selamat Samantha, jangan takut."
Setelah berhasil membuka tali itu, Zara membawa Samantha keluar dari ruangan itu dan sampai di ruangan tengah datang lagi dua orang yang menodongkan pistol yang mengarah pada Zara dan Samantha.
"Berhenti kau! Atau aku akan menembak mu."
Zara menghentikan langkahnya namun tak melepaskan pegangan tangannya dari Samantha.
__ADS_1
"Menyerah lah gadis bercadar. Kau sudah kami kepung."
"Tidak akan."
Zara menarik tangan Samantha dengan keras lalu mendorongnya agar menabrak laki-laki itu dan dengan sigap, dia menembak dua laki-laki itu tanpa jeda.
"Zara kau ...." Samantha merasa tubuhnya kaku sampai sulit untuk bergerak. Selama hidupnya baru kali ini dia mengalami kejadian menegangkan seperti itu.
"Ayo!" Zara kembali membawa Samantha pergi meninggalkan tempat itu namun kini dengan sedikit berlari!
Sesampainya didekat pintu keluar, tiba-tiba sebuah jaring terjatuh dari atas dan mengurung Samantha dan Zara di dalamnya.
"Aaaa!" Seru Samantha.
Zara terus memberontak dan berusaha untuk keluar dari jaring itu namun usahanya gagal karena jaring itu terlalu kuat dan sulit untuk dilepaskan.
Exel dan Wilona pun keluar dari tempat persembunyiannya, mereka mulai berjalan menghampiri Zara yang sudah terperangkap dalam jaring itu!
"Selamat datang gadis bercadar," ucap Exel.
"Pengecut! Kau membuat perangkap untuk menangkap ku. Kalian pengecut, kalau berani hadapi aku."
"Kau galak sekali gadis misterius. Aku jadi takut," ucap Wilona.
"Suntik mereka dengan obat bius," titah Exel pada orang-orang yang masih tersisa.
Beberapa orang itu pun langsung menusuk lengan Zara dan Samantha dengan jarum suntik yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Setelah beberapa menit obat bius itu pun mulai bekerja. Zara dan Samantha pun mulai tak sadarkan diri.
"Buka jaringnya. Kita harus membawa mereka ke Clube untuk selanjutnya dipasarkan," ucap Exel.
Setelah mereka membuka jaring itu, Wilona membuka cadar yang menutupi sebagian wajah Zara!
Wilona dan Exel menatap Zara dengan tatapan mata yang tidak berkedip satu kali pun.
"Gadis itu," ucap Endru.
"Sudah kuduga, dokter itu memang Lara," ucap Exel.
"Ayo kita bawa mereka sebelum mereka tersadar kembali."
Mereka pun langsung membawa Zara dan Samantha ke Clube tempat mereka menjajakan para gadis yang berhasil mereka culik!
Bersambung
__ADS_1