Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 29


__ADS_3

"Astaga, dia lama sekali," gumam Zara.


Tak hentinya Zara berjalan mondar-mandir di tempat itu! Dia khawatir terhadap Abra yang sudah lebih dari satu jam belum keluar juga dari Clube malam itu.


"Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya? Jangan-jangan dia ketahuan oleh mereka?"


Zara tidak bisa tenang sebelum Abra keluar dari tempat itu.


*******


Di dalam Clube malam itu.


"Tuan, mari bersama ku saja. Besok baru kau bersama Medina atau Vera," ucap salah satu pekerja di sana.


"Maaf tapi aku hanya mau mereka berdua," sahut Abra dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Kenapa? Apa aku kurang cantik, atau tidak menarik?"


"Tidak, bukan begitu. Kau cantik dan juga sangat menarik hanya saja malam ini aku hanya ingin ditemani oleh mereka."


Di kamar khusus para tamu bersenang-senang dengan gadisnya.


"Kau yakin kau sudah selesai?" tanya Medina pada tamunya.


"Aku sudah selesai dan aku sudah puas. Terimakasih cantik. Ini ada sedikit tips untuk dirimu," ucap laki-laki itu sambil memberikan beberapa lembar uang kertas pada Medina.


"Terimakasih." Medina tersenyum sembari meraih uang itu dari tangan laki-laki itu.


"Aku mau pulang tapi aku akan kembali lagi besok malam."


Medina hanya tersenyum menanggapi perkataan tamunya itu.


Laki-laki itu pun keluar dari kamar itu sedangkan Medina masih tetap di sana karena dia harus merapikan dirinya sebelum dirinya menerima tamu selanjutnya.


Tok!


Tok!


Wilona mengetuk pintu kamar itu dan langsung masuk ke dalamnya!


"Medina ada tamu kedua untukmu," ucap Wilona.


Medina menatap Wilona, "Nona aku masih lelah. Apa boleh aku beristirahat dulu? Beberapa menit saja."


"Tidak ada kata istirahat. Tadi siang kau sudah beristirahat kan? Jadi sekarang waktunya kau bekerja."


Medina menundukkan kepalanya lalu memejamkan matanya untuk menghentikan air matanya yang sudah mengantri ingin keluar dari pelupuk nya.


"Medina, cepatlah!"


"Kau pergi saja dulu, aku harus merias wajahku lagi."


"Lima menit. Lebih dari itu, kau akan tahu akibatnya."


Wilona pun segera keluar dari kamar itu!

__ADS_1


*******


Drrt!


Drrt!


Ponsel Zara bergetar tanda adanya telpon masuk.


Zara segera mengambil ponselnya dari dari saku jaketnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


"Richard," gumam Zara.


"Mau apa dia menelpon ku malam-malam seperti ini?" sambung Zara.


*******


"Selamat malam Tuan. Saya Medina, ada yang bisa kulakukan untukmu?"


Abra yang sedang sibuk dengan ponselnya pun mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang sedang berdiri di depannya.


"Kau begitu cantik, Medina."


"Bagaimana, Anda setuju dengan penawaran yang kami berikan?" tanya Exel.


"Oke, aku akan bayar seharga yang kalian minta tapi seperti yang sudah aku bicarakan tadi. Aku ingin bermain di luar."


"Silahkan. Tapi tidak boleh lebih dari tiga jam."


"Deal!" Abra menjabat tangan Exel lalu menjabat tangan Wilona.


Abra melingkarkan tangannya di pinggang Medina demi menyempurnakan sandiwaranya.


Exel dan Wilona menatap kepergian Abra tentunya dengan menahan KTP milik Abra sebagai jaminannya.


Bukan tidak mungkin Abra bisa saja membawa kabur Medina dari mereka.


"Kita dapat uang dua kali lipat dari Tuan Abra," ucap Wilona.


"Jika saja setiap hari ada orang seperti Tuan Abra, kita bisa cepat kaya," timpal Exel.


Wilona dan Exel tersenyum sumringah karena mendapat tamu yang membuatnya untung banyak malam ini.


*******


"Lara!" Medina segera berlari menghampiri Zara saat melihat Zara yang berdiri dihadapannya.


Abra hanya diam di tempatnya sambil menatap dua gadis yang sedang berpelukan.


"Lara, aku yakin ini kamu. Kamu dokter yang bekerja di rumah sakit xxx itu kan?"


"Jangan bicara di sini. Kita cari tempat yang aman," ucap Abra.


"Tuan, kau kenal dengan dia?" tanya Medina.


"Akan aku jelaskan nanti. Waktu kita hanya tiga jam, jadi jangan buang-buang waktu."

__ADS_1


"Kita ketemu di hotel xxx. Aku sudah memesan untuk kalian mengobrol." Zara segera pergi dari tempat itu karena takut dicurigai oleh Exel dan kawanannya.


Setelah sepuluh menit berkendara akhirnya Abra dan Medina tiba di hotel yang mereka tuju sedangkan Zara sudah tiba lebih dahulu di hotel itu dan kini dia sudah berada di dalam kamar itu.


"Medina, duduklah di sini." Zara mengusap tempat tidur yang dia duduki.


"Tuan, aku tidak ingin bermain bertiga. Ini tidak sesuai dengan perjanjian kita."


"Medina, duduklah dulu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."


"Medina perkenalkan, aku Zara. Saudara kembarnya Lara." Zara menyodorkan tangannya di hadapan Medina.


"Saudara kembar Lara? Lalu apa urusanmu denganku?"


"Aku ingin tahu bagaimana wajah orang-orang yang terlibat dalam usaha kotor itu."


"Aku tidak bisa membantumu. Aku takut mereka tahu, aku belum siap untuk mati karena aku ingin bertemu dengan keluargaku dulu."


"Medina, aku akan membantumu keluar dari tempat itu tapi aku tidak tahu aku harus memulai dari siapa. Aku tahu ada orang yang bernama Exel, Endru, dokter Okta dan bos mereka yang bernama Sandress."


"Dari mana kau tahu dengan nama mereka? Kau pasti Lara, aku yakin kau adalah Lara."


"Medina dengar, aku hanya tahu nama mereka, aku tidak tahu bagaimana rupa wajah mereka. Tugas kamu adalah mengirim foto mereka padaku karena aku sudah tak sabar ingin menghabisi mereka."


"Jangan minta tolong padaku karena aku tidak bisa."


"Waktu kita tinggal satu jam lagi," ucap Abra.


"Medina, ini ponsel untuk kamu." Zara memperluas ponsel itu pada Medina.


"Di sini sudah ada nomor ponselku dan nomor ponsel Kak Abra. Kamu ambil gambar mereka lalu kirimkan ke aku atau kak Abra."


"Kami semua dilarang menggunakan ponsel."


"Aku tahu itu tapi kak Abra akan mengurus semuanya agar kau bisa menegang ponsel ini."


"Aku takut."


"Jangan takut Medina. Aku dan Zara akan terus memantau kalian semua, tadi aku sudah memasang CCTV tersembunyi di sana dan sekarang Zara akan pergi ke rumah tempat kalian tinggal dan dia juga akan memasang CCTV untuk memantau kalian semua."


"Jika Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk hidup dan bebas dari tempat itu. Aku yakin kalian akan berhasil, aku bersedia membantu kalian."


Abra dan Zara saling tatap lalu tersenyum bahagia mendengar perkataan Medina yang bersedia membantu mereka.


Bersambung


rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca dari author yang satu ini.


Judul: Hasrat Tuan Muda Arogan


Karya: Morata


Yuk teman-teman kepoin keseruannya!


__ADS_1


__ADS_2