
Beberapa minggu berlalu akhirnya kini tiba di hari kelulusan Elzara dan Elara.
Zara menjadi siswa yang lulus dengan nilai terbaik dan Lara berada di tingkat ke dua setelah Zara.
Setelah seharian mereka melakukan acara kelulusan itu kini mereka sudah selesai dengan acaranya bersama guru dan teman-temannya.
Zara dan Lara sudah berada didalam mobil untuk segera pulang karena mereka sudah merasa kelelahan.
"Paman, Bibi boleh kita langsung pulang saja? Aku lelah," ucap Zara.
"Iya, aku juga," sambung Lara.
"Baiklah. Kita langsung pulang saja," ucap Fitri.
Mario pun langsung melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang.
Malam hari, mereka langsung berkemas karena besok mereka akan langsung berangkat ke luar negeri untuk menemui Wiliam.
"Seneng banget kayaknya," ucap Fitri yang melihat Lara sedang mengemas pakaiannya dengan penuh semangat.
"Bibi, aku udah gak sabar ingin bertemu dengan kak Wili. Aku kangen banget sama dia," ucap Lara dengan wajah yang berbinar.
Zara datang ke kamar Lara untuk melihat sudah seberapa persen persiapan Lara untuk pergi besok.
"Ada Bibi rupanya." Zara berjalan memasuki kamar Lara dengan terus mengukir senyuman di bibirnya.
"Lihat adikmu. Dia begitu bersemangat padahal besok kita perginya sore hari," ucap Fitri.
"Bi, Lara sudah rindu berat sama kak Wili. Bibi tahu kan selama ini dia yang paling disayang sama kak wili."
"Apa sih, bukannya kak Wili juga sayang padamu?" ucap Lara.
"Iya, aku tahu itu tapi sayangnya lebih besar ke kamu dibandingkan ke aku."
"Sama kok."
"Nggak."
"Sudah-sudah, kalian malah berantem," ucap Fitri.
Zara dan Lara menatap Fitri secara bersamaan lalu mereka tersenyum lebar.
"Maaf, Bibi. Tidak sengaja," ucap Zara.
"Bukan tidak sengaja, kalian emang selalu berdebat kan," ucap Mario yang baru tiba di kamar Lara.
Tiga wanita yang sedang duduk di atas tempat tidur itu pun menoleh ke arah pintu secara bersama-sama!
Mereka saling menatap lalu tertawa bersama.
*******
Dua hari berlalu sejak saat itu. Kini Zara, Lara dan Paman juga Bibinya sudah ada di Jerman.
Saat itu Wiliam sedang mengajak keluarganya berkunjung ke tempat favoritnya di sana.
"Ini tempat kesukaan kakak dari awal kakak kesini sampai saat ini," jelas Wili pada Zara dan Lara.
Dua gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Waw tempat ini indah kak," gumam Lara.
"Tapi gak ada yang lebih indah dari kalian berdua," ucap Wili pada Zara dan Lara.
"Dan gak ada yang terbaik selain kak Wili," sambung Zara.
Wili tersenyum lalu ke arah Zara.
"Kamu paling bisa membuat kakak terbang," ucapnya.
"Kakak paling bisa membuat kita berdua bahagia," ucap Lara.
Mereka menghabiskan waktu bersama setelah lama tidak berjumpa.
Fitri dan Mario duduk di sebuah pohon yang tumbang sambil mengenang kenangan indah mereka di tempat itu.
Dulu Fitri dan Mario menang pernah tinggal di negara itu tapi karena orang tuanya Mario meninggal dunia mereka pindah ke Indonesia, tempat kelahirannya Fitri.
"Ma, akhirnya kita bisa duduk di sini lagi setelah dua puluh tahun kita meninggalkan negara ini," ucap Mario.
"Iya Pa, Mama senang banget hari ini. Semoga selamanya kita seperti ini ya Pa. Tanpa masalah dan tanpa beban."
Mario menatap putranya dan dua putri angkatnya. Sebuah senyuman terukir di bibirnya.
"Keluarga kita sudah lengkap, Ma. Ada anak laki-laki dan perempuan, apa lagi yang menjadi beban dan masalah kita."
"Papa benar, kita tidak punya beban lagi."
Mario dan Fitri pun menatap tiga anaknya yang terlihat sedang bercengkrama.
"Aku haus. Aku mau beli minum dulu ya ke sana," ucap Lara sembari mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah toko kecil yang ada tak jauh dari tempat itu.
"Iya hati-hati ya. Sekalian buat aku juga," ucap Zara.
Wili dan Zara membiarkan Lara pergi sendirian di tempat yang tidak dirinya kenal.
*******
__ADS_1
Saat Lara sedang berjalan untuk kembali pada Wili dan Zara tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang.
"Mmmph! Mmph!" Lara mencoba memberontak agar dia terlepas dari orang yang tak dikenalnya itu.
Namun obat biasanya bereaksi dengan cepat dan akhirnya dia pun tak sadarkan diri.
Lara pingsan dan beberapa orang itu langsung membawa Lara pergi dari tempat itu dengan menggunakan mobil!
*******
Lama menunggu Wiliam dan Zara mulai bosan, mereka memutuskan untuk mencari Lara ke toko kecil itu.
Mereka berdua berjalan menghampiri toko yang tadi di tunjuk oleh Lara untuk mencari keberadaan Lara
"Permisi Bu, apa tadi ada gadis yang mirip dia ke sini untuk membeli minuman?" tanya Wili pada pemilik toko itu.
"Ada tapi dia sudah pergi sejak tadi," sahutnya.
Zara dan Wili saling tatap, mereka berdua kebingungan kenapa Lara tidak kembali pada mereka.
Mereka memutuskan untuk menemui Ayah dan Ibunya Wili untuk menanyakan apakah Lara ada bersama mereka!
*******
Didalam sebuah mobil, Lara tersadar dari pingsannya. Perlahan dia membuka matanya, pandangannya suram dan kepalanya terasa sangat pusing.
"Siapa kalian?" tanyanya lirih.
"Diamlah Nona, kami akan membawamu ke syurga dunia," ucap laki-laki bertubuh besar itu.
"Siapa kalian? Turunkan saya dari mobil ini! Saya ingin kembali!"
Tiga laki-laki yang bersamanya dan satu wanita itu tertawa terbahak-bahak sambil menatap Lara.
"Gadis manis, dengan susah payah kami menculikmu dan kamu meminta kami melepaskan dirimu begitu saja. Tidak Nona manis," ucap wanita itu.
Mendengar perkataan wanita itu, Lara baru sadar bahwa dirinya tengah diculik oleh orang-orang itu. Lara mulai panik dan ketakutan, dia berteriak sekeras suara yang dimilikinya untuk meminta tolong pada siapapun yang mendengarnya, sayangnya di sana tidak ada yang mendengar teriakannya.
*******
Zara, Wili dan kedua orang tuanya Wili sedang sibuk mencari dimana keberadaan Lara, mereka semua panik dan sangat khawatir terhadap Lara karena Lara orang baru di negara itu mereka takut Lara tersasar dan tak bisa menemukan mereka lagi.
"Pama, Bibi bagaimana jika Lara tidak bisa ditemukan?" Zara sudah menangis sejak tadi karena takut kehilangan Lara.
"Kau jangan bicara seperti itu, Lara akan ditemukan. Kita akan terus berusaha mencari dia bahkan bila perlu kita akan meminta bantuan dari kepolisian di sini," ucap Fitri.
Mereka terus berjalan menyusuri tempat itu untuk mencari Lara. Wili yang sudah tahu banyak tempat di sana memilih pergi ke tempat lain dan menanyakan pada orang-orang di sana apakah ada yang melihat Lara di sana.
Flashback Off.
"Zara, kamu harus kuat. Kakak yakin siapapun yang melakukan ini pada Lara, mereka akan menerima balasannya," ucap Wili sambil mengelus punggung Zara.
"Mereka akan menerima akibatnya mereka akan menerima hukuman atas apa yang mereka lakukan pada Lara. Nyawa harus dibayar dengan nyawa," ucap Zara disela tangisnya.
"Zara, sekarang kamu harus ikhlas. Kepergian Lara yang begitu cepat ini akan membuat dirimu semakin kuat dari dalam."
*******
Di Indonesia.
Fitri dan Mario sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyambut kedatangan jenazahnya Lara. Mereka langsung diberi kabar oleh Wili saat mereka mengetahui bahwa Lara sudah ditemukan meski dalam keadaan tidak bernyawa.
"Pa, kenapa begini. Kenapa Lara harus ditemukan dalam keadaan meninggal," ucap Fitri.
Fitri terus menangis karena kenyataan yang harus diterimanya. Fitri sudah mengurus Lara sejak dari dia kecil tapi sebelum dirinya melihat kebahagiaan yang sempurna dalam hidup Lara, Lara sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
"Papa tidak menyangka Lara bernasib seperti ini Ma. Mama yang sabar ya. Mungkin Tuhan lebih menyayangi dia," ucap Mario.
"Lara, Pa. Dia anak gadis kita."
"Mama jangan menangis. Lara akan ikut sedih jika melihat Mama sedih, sekarang tugas kita adalah menjaga dan melindungi Zara karena hanya dia anak gadis yang kita miliki sekarang."
*******
Di luar negeri.
Endru balik lagi ke jalan tempat dia meninggalkan Lara untuk memastikan keadaan gadis itu. Namun saat dirinya tiba di tempat itu, dirinya tidak bisa menemukan Lara di manapun disekitaran tempat itu.
Endru dan beberapa orang bodyguardnya sudah mencari Lara dengan menyisir tempat-tempat di dekat sana namun mereka tak kunjung menemukan Lara.
"Apakah orang yang semalam membawa gadis itu pergi?" gumam Endru.
"Tuan, gadis itu tidak ada di semua tempat yang sudah kami datangi," ucap salah satu bodyguard itu.
"Kalian sudah mencarinya dengan teliti? Mungkin saja dia ada dibalik semak-semak."
"Tidak ada Tuan. Kami semua sudah menyebar untuk menyisir tempat ini tapi gadis itu tidak ditemukan, dia tidak ada. Mungkin ada yang membawanya pergi, mungkin juga dimakan hewan buas karena kami menemukan darah yang mengering di sana tepatnya dibawah pohon besar itu," jelas bodyguard yang lainnya.
"Sial," gumam Endru.
Ini kali pertamanya Endru gagal dalam melakukan tugasnya dan mungkin saja hal ini akan terulang lagi.
Selama ini, Endru tidak pernah melakukan kesalahan karena dirinya selalu berhati-hati dalam mengerjakan pekerjaannya.
Malam itu, karena melihat Lara yang sudah lemah tak berdaya, dia berpikir kalau gadis itu tidak akan bisa lari darinya namun ternyata untuk pertama kalinya Endru kehilangan tawanannya.
__ADS_1
"Tuan, kita pergi dari sini atau kita akan tetap mencari gadis itu ke tempat lain?"
"Kita kembali ke markas saja. Kita tidak tahu siapa yang menemukan dia tadi malam, bagaimana kalau yang menemukannya itu adalah seorang polisi? Kita bisa terancam bahaya."
*******
"Bodoh! Kenapa gadis itu bisa hilang?" ucap Exel sambil memukul tembok ruangan itu.
"Ada apa kau marah-marah seperti itu?" tanya Wilona.
"Gadis itu hilang di jalan. Dia melarikan diri."
"Apa! Gadis itu sudah hampir mati. Kenapa bisa melarikan diri?"
"Kemungkinan besar ada yang membawa gadis itu."
"Siapa? Cepat kerahkan orang-orang terbaikmu untuk mencari gadis itu, bagaimana kalau dia selamat dan memberitahukan kepada kepolisian tentang kita, tentang tempat ini? Kita bisa ditebas habis oleh Bos."
"Endru yang akan bertanggungjawab atas kejadian ini karena dia yang sudah lalai dan akhirnya menghilangkan gadis yang harganya fantastis itu."
"Kau bilang apa?" Wilona menatap Exel, dia tak mengerti dengan perkataan laki-laki itu.
"Kau akan tahu nanti."
*******
"Ada apa kau datang padaku?" tanya Sandress.
Endru menundukkan kepalanya dihadapan bos besarnya itu.
Saat ini Endru sedang berada di rumah Sandress untuk melaporkan tentang Lara yang hilang saat dalam perjalanan menuju tempat dokter Okta.
"Gadis itu hilang," ucap Endru dengan volume bicaranya yang kecil.
"Apa! Kenapa kau begitu bodoh? Apa kau tidak tahu jika gadis itu selamat, dia bisa melaporkan kita ke polisi." Sandress memukul meja dan berbicara dengan nada tinggi.
Dia sangat marah saat tahu ada tawanannya yang hilang.
"Maaf Bos. Tapi saya pastikan gadis itu tewas di tempat karena saat saya tinggal pergi, gadis itu sudah tidak bergerak dan tidak bersuara."
"Kerahkan orang-orang terbaik kita untuk mencari dimana keberadaan gadis itu! Datangi semua rumah sakit yang terdapat di tempat terdekat dari tempat kejadian dan ingat, jangan menimbulkan kecurigaan."
"Baik Bos, kalau begitu saya pamit undur diri."
Sandress tak menyahut dia hanya mengibaskan tangannya mengisyaratkan kalau dia meminta Endru segera pergi dari hadapannya.
*******
Wili dan Zara sudah berada di tanah air. Mereka tiba sore ini dan Lara pun langsung dimakamkan karena sebelum mereka tiba, Mario dan Fitri sudah menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman Lara.
Hari sudah mulai gelap, jam sudah menunjukkan pukul delapan belas lewat lima belas menit namun Zara enggan meninggalkan makam Lara.
Zara terus menangis sambil memeluk nisan yang bertuliskan nama saudara kembarnya itu.
"Lara, kenapa begini? Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Dengan susah payah diriku mencari dirimu dan setelah aku menemukan dirimu malah kau pergi meninggalkan diriku."
Fitri dan Mario sudah membujuk Zara untuk pulang tapi Zara menolak, dia malah meminta Paman dan Bibinya itu pulang lebih dahulu.
Wili meraih kedua belah lengan Zara lalu membawanya beranjak dari tempat itu.
"Zara, jika kamu terus seperti ini, Lara akan sedih melihatmu. Dia tidak akan tenang di alam sana," ucap Wili.
Fitri dan Mario berjalan mendekati Zara!
Fitri menghapus air mata Zara dan Mario mengusap kepala Zara.
"Nak, sudah ya. Mari kita pulang!" ajak Mario.
"Kita doakan saja semoga Lara tenang di alam sana," sambung Fitri.
Perlahan Zara melangkahkan kakinya! Begitu berat dirinya meninggalkan Lara meski saudara kembarnya itu sudah tak bernyawa dan kini sudah dikubur dalam perut bumi.
"Mama, Papa kalian pulang duluan saja, biar aku bersama Zara pulang belakangan," ucap Wili pada kedua orang tuanya.
"Kamu yakin?"
"Iya Pa, kalian pasti capek. Pulanglah dan beristirahatlah."
Mario dan Fitri pun pulang lebih dahulu dengan menggunakan mobilnya sementara Wili dan Zara pulang menggunakan mobil lain!
"Zara, kau mau makan dulu?" tanya Wili yang sedang menyetir mobilnya.
Zara tak berucap, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu boleh bersedih tapi jangan terlalu lama, jangan sampai kamu kehilangan nafsu makan karena itu tidak baik untuk kesehatan."
"Kak, aku ingin menemui teman kakak yang bernama Abra," ucap Zara.
"Abra? Untuk apa?"
"Aku tidak ingin larut dalam kesedihan, aku ingin menyibukkan diri dengan berlatih ilmu bela diri."
Zara berniat membalas dendam pada orang-orang yang sudah menyebabkan Lara meninggalkan dunia karena itulah dia ingin bersungguh-sungguh mempelajari ilmu bela diri.
"Kalau begitu kita harus kembali ke luar negeri untuk menemui dia." Wili tersenyum lebar karena Zara lebih cepat bangkit dari yang dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung